IMG-LOGO
Warta

Tantangan NU Kemiskinan dan Kekerasan

Senin 12 Maret 2012 22:51 WIB
Bagikan:
Tantangan NU Kemiskinan dan Kekerasan

Jakarta, NU Online
Nahdliyin harus sadar benar menjadi orang Indonesia. Dengan kesadaran ini, nahdliyin bertanggungjawab atas keselamatan dan keberlangsungan negara Indonesia dari segala kelompok yang merongrongnya, termasuk para teroris.<>

“Kita nahdliyin sangat bersyukur terlahir sebagai orang Indonesia. Kita minum, bernafas, makan dan hidup dari tanah air Indonesia. Karenanya, kita harus mempertahankan rust en orde, keamanan dan ketertiban tanah air Indonesia,” ujar KH. Said Aqil Siroj dalam Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW 1433, di Kantor MENPERA Jl. Raden Fatah Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Ahad (11/3).

Menurut Kang Said -sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, dengan segala bentuk kekerasan yang ditiupkan, para teroris dapat merusak ketertiban umum. 

"Jadi teroris adalah musuh kita bersama, walau mengatasnamakan agama sekalipun. Karena, kehadiran mereka menganggu laju politik, ekonomi, sosial, dan budaya di tanah air tercinta. Gangguan yang ditimbulkan, membuat macet segala aspek kehidupan," tandasnya.

Lebih lanjut, Kang Said menjelaskan, Sebab kemunculan terorisme, tidak satu. Beberapa di antaranya adalah ketimpangan sosial, kepincangan kesejahteraan, dan kegagalan pendidikan. Ketidakpuasan atas semuanya, menghadirkan keputusasaan. 

Orang yang putus harapan dengan modal pendidikan yang minim, mengambil kekerasan sebagai bentuk penyelesaian kompleksitas masalah. Dalam keadaan demikian, bibit teorisme menemukan tanahnya yang subur.

“Karenanya, pejabat harus mengabdi pada kepentingan rakyat kecil,” imbau Kang Said. 

 


Redaktur  : Syaifullah Amin
Penulis     : Alhafiz Kurniawan

Bagikan:
Senin 12 Maret 2012 23:45 WIB
Islamic Book Fair (IBF) 2012, Ajang Pameran Buku Islami Terbesar se-Asia Tenggara
Islamic Book Fair (IBF) 2012, Ajang Pameran Buku Islami Terbesar se-Asia Tenggara

Jakarta, NU Online
Kita patut berbangga dan bersyukur, karena event sekaliber Islamic Book Fair (IBF) itu bisa terselenggara di negeri tercinta ini. IBF diklaim sebagai ajang pameran buku Islam terbesar se-Asia Tenggara. Hal ini cukup beralasan, mengingat pameran buku Islam terbesar di dunia sampai saat ini masih diampu oleh Cairo International Book Fair, Pameran Buku Internasional Kairo, Frankfurt, Mesir. <>

Konon, pameran buku internasional Kairo mampu menyedot lebih dari dua juta pengunjung setiap penyelenggaraannya. Secara rutin, pameran buku Islam di Mesir itu diselenggarakan setiap tahunnya pada akhir Januari, dan menjadi ajang promosi, silaturrahim antar penerbit, serta bertemunya para penulis Islam dunia. 

IBF 2012 yang diadakan pada 9-18 Maret 2012, di Istora Senayan Jakarta itu mengusung tema "Kuat dan Mandiri dengan Pendidikan Qur'ani". Sekaligus merupakan IBF yang ke-12 sejak pertama kali diselenggarakan pada 2001. 

IBF tahun ini dirasa paling mewah, karena kali ini dalam penyelenggaraannya dimeriahkan oleh beberapa negara partisipan, seperti Arab Saudi, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Turki. Berdasarkan list panitia, tercatat 350 penerbit yang terbagi ke dalam 396 stand ikut serta dan menyukseskan kegiatan ini. Panitia menargetkan 400 ribu pengunjung dan 2600 buku laku terjual dalam IBF tahun ini.

Dalam perkembangannya, IBF selalu mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Sebagai perbandingan, pada saat mula IBF diselenggarakan sebelas tahun silam, yang ikut berpartisipasi hanya 60 penerbit, dan pada tahun ini, meningkat lima kali lipat lebih. Ini patut dicatat sebagai salah satu prestasi dalam sejarah perjalanan IBF. 

Prestasi tersebut diraih bukanlah tanpa usaha, sebab panitia sudah berjibaku dalam merangkul dan mengajak para penerbit buku Islam di Indonesia agar meramaikan perhelatan ini. Di samping itu, promosi dan kerja sama dengan pelbagai pihak, terutama pemerintah dan intern Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), juga menjadi indikator penentu dalam prestasi penyelenggaraan IBF tahun ini.

Inisiatif penyelenggaraan IBF di Indonesia dilatarbelakangi oleh keterpurukan industri perbukuan yang diakibatkan badai krisis moneter pada 1998. Hingga tahun 2000, imbas krisis itu masih belum pula reda, bahkan menurut data keanggotaan IKAPI, 30% lebih dari anggotanya gulung tikar alias tidak beroperasi lagi. Sisanya masih bertahan, dan yang masih bertahan itu mayoritas ialah para penerbit buku Islam. Atas dasar itu, kemudian muncul ide untuk diselenggarakannya pameran buku Islami. Ide ini lahir dari diskusi kelompok kerja Buku Agama Islam di IKAPI Jakarta.

Jargon "dari penerbit, oleh penerbit, untuk masyarakat buku Indonesia" seolah menjadi spirit dan ruh bagi hidupnya IBF, dulu dan kini. Awalnya hanya bertujuan untuk mengejar profit semata dengan cara mengintensifkan promosi dan perluasan pemasaran. Akan tetapi, kini IBF menjelma menjadi payung raksasa yang memiliki tujuan mulia, menyediakan buku-buku Islami berkualitas, dan ikut mengawal Indonesia pada budaya baca menuju kemandirian, keunggulan bangsa di masa depan. 

Tidak salah kiranya, jika kemudian Prof M Nuh, Menteri Pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud), menyebut bahwa pagelaran IBF itu membangun empat pilar budaya, yaitu budaya baca, menulis, berbagi, dan menghargai. Hal itu disampaikan Mendikbud sesaat sebelum beliau membuka secara resmi IBF 2012 padaJumat (9/3) lalu. Lebih lanjut, Mendikbud juga mendukung sepenuhnya wacana Jakarta Internasional Book Fair yang rencananya mulai digelar tahun depan.

IBF, dengan demikian, bukanlah ajang pameran buku semata, akan tetapi momentum bagi para penerbit untuk saling memperkenalkan dirinya kepada masyarakat, ajang untuk terus berinovasi menjadi yang terbaik dan menelurkan produk-produk berkualitas, serta wadah bagi bersilaturrahimnya antar penulis buku Islam, dan antara penulis dan pembacanya. Acara yang dibuka Jumat (9/3) lalu itu berlangsung meriah, dipandu host Agus Idwar dan Arzetti, serta berbagai hiburan seperti Rampak Bedug, Fatimah Voice, dan Opick.

Kita berharap, penyelenggaraan IBF tahun ini yang masih terbuka hingga Minggu (18/3) yang akan datang, berjalan dengan sukses dan mampu menjadi daya tarik dan barometer buku-buku Islam, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Bagi Anda yang mukim di Jakarta dan sekitarnya, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, jangan ketinggalan untuk berkunjung ke stand-stand penerbit yang Anda inginkan, guna memburu buku-buku dengan diskon yang bervariatif. Anda juga akan dimanjakan oleh berbagai kegiatan berhadiah.Di samping itu, Anda pun berkesempatan bertemu dengan para penulis buku Islam secara face to face dan mendapatkan tanda tangannya. 

Sederet fasilitas lain yang sudah disiapkan oleh para penerbit pun siap menyambut Anda. Salah satunya, mendapatkan 10 e-book gratis dari salah satu penerbit, hanya dengan membawa smartphone sebagai media penyimpanan, atau alat penyimpanan lain seperti flashdisk. 

Tidak hanya sampai di situ, karena IBF dari tahun ke tahun selalu didisain dengan konsep yang padu antara religi, wisata, dan edukasi. Dengan demikian, tidak ada salahnya Anda datang ke Istora Senayan, dengan mengajak putra-putri Anda, beserta teman, dan handai taulan. Selamat berburu buku!





Redaktur : Syaifullah Amin 
Sumber   : Republika 

Senin 12 Maret 2012 21:48 WIB
Asrama Haji Akan Dibangun di Padang Pariaman
Asrama Haji Akan Dibangun di Padang Pariaman

Jakarta, NU Online
Kementerian Agama (Kemenag) dalam waktu dekat akan membangun asrama haji embarkasi baru di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengatakan, asrama haji yang seluas 10 hektar tersebut rencananya akan digunakan untuk embarkasi baru.<>

“Sebenarnya sudah ada asrama haji di Padang. Akan tetapi, sudah tidak mampu menampung jamaah haji dari Sumatera Barat. Oleh karena itu, terima kasih kepada Bupati dan masyarakat Padang Pariaman yang telah mewakafkan tanah untuk digunakan sebagai asrama haji-embarkasi yang baru,” ungkap Menag, Suryadharma Ali, di dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (12/3).

Menag menjelaskan, dengan adanya asrama haji yang baru ini diharapkan akan mampu meningkatkan pelayanan haji di daerah setempat. Namun, lajut Menag, asrama haji ini tidak hanya untuk melayani kebutuhan haji, tetapi juga masyarakat luas, khususnya masyarakat Padang Pariaman dan sekitarnya.

“Bangunan asrama haji ini akan didesain secara khusus sehingga nantinya tidak hanya dapat digunakan untuk asrama haji saja, melainkan juga dapat dimanfaatkan untuk masyarakat. Misalnya, untuk pesta pernikahan, pertemuan, musyawarah dan lainnya,” ujar Menag.

Untuk diketahui, pembangunan asrama haji di Padang Pariaman ini sudah direncanakan sejak tahun 2002 oleh Bupati terdahulu. Titik lokasi asrama haji ini pun juga terbilang dekat dengan Bandara Internasional Minangkabau, yakni hanya sekitar 2,5 KM. (cha/jpnn)



Redaktur : Syaifullah Amin

Senin 12 Maret 2012 20:20 WIB
Kang Said: Orang Anti Ziarah Kubur Tidak Akan Berhasil
Kang Said: Orang Anti Ziarah Kubur Tidak Akan Berhasil

Jakarta, NU Online - Tradisi ziarah kubur yang menjadi salah satu ciri khas Nahdlatul Ulama, dijaga oleh Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj saat melakukan kunjungan kerja ke Aljazair. Kang Said, demikian Kiai Said biasa disapa, menegaskan seseorang yang anti ziarah kubur tidak akan mendapatkan keberhasilan.

Di Aljazair di sela kegiatan seminar internasional yang diadakan oleh Kementerian Agama dan Wakaf setempat, Kang Said menyempatkan berziarah ke makam waliyullah yang bergelar al ghauts (penolong), yakni Syaikh Syuaib Abu Madiyan guru dari Syaikh Abdussalam bin Masyisy (dimakamkan di Maroko), yang memiliki murid Imam Abil Hasan As Syadzili.

"Syaikh Syuaib Abu Madiyan itu seorang ulama yang diberi kharomah luar biasa. Beliau dikenal mampu mengislamkan daerah yang dikunjunginya dengan cepat," ungkap Kang Said di Jakarta, Senin (12/3). <>

Kang Said juga mengatakan, Syaikh Syuaib Abu Madiyan dikenal sangat dihormati oleh masyarakat daerah yang disinggahinya. Sifatnya yang pemurah dan tak kenal pamrih dalam memberikan pertolongan menjadikannya mendapatkan gelar Al Ghauts.

Tradisi ziarah kubur, masih kata Kang Said, merupakan ciri khas NU yang tetap harus dilestarikan. Di Afrika, khususnya di Aljazair dan Maroko, tradisi yang sama diakuinya tetap dipertahankan dan dijalankan oleh masyarakat setempat.

"Di sana masjidnya kecil, tapi tidak pernah sepi. Peziarah terus mengalir. Saya tegaskan ziarah bukan bid'ah. Barang siapa tidak kenal ziarah kubur dia tidak akan menemukan keberhasilan, sudah banyak buktinya,"  pungkas Kang Said tegas.


Penulis: Emha Nabil Haroen

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG