IMG-LOGO
Daerah

MWCNU Pegantenan Kuatkan Ukhuwah Islamiyah

Kamis 29 Maret 2012 10:13 WIB
Bagikan:
MWCNU Pegantenan Kuatkan Ukhuwah Islamiyah

Pamekasan, NU Online
Sejak berdirinya, Nahdlatul Ulama menjadi motor penggerak pemberdayaan masyarakat. Ungkapan organisasi keagamaan-kemasyarakatan nyaris selalu disematkan padanya. Inilah yang dijadikan landasan pemahaman utama oleh, salah satunya, MWCNU Pegantenan Pamekasan.

Demikian garis besar pernyataan ketua MWCNU Pegantenan K Moh Syaiful Qorik saat ditemui NU Online di rumahnya, Desa Bulangan Haji, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Rabu (28/3) pagi.
<>
Menurutnya, MWCNU Pegantenan selalu berupaya agar ikatan ukhuwah islamiyah dalam kehidupan masyarakat Pegantenan kian kuat dari waktu ke waktu. Untuk itu, dirinya memprogramkan pertemuan bulanan yang ditempatkan di masing-masing rumah pengurus MWCNU Pegantenan, secara bergiliran.

“Dalam pertemuan itu, kami tetap memelihara budaya Islami NU,” kata Kiai Syaiful.

Budaya yang dimaksud ialah istighasah, tahlil bersama, dan dilanjutkan dengan rapat konsolidasi antarpengurus di internal MWC dan antarpengurus MWC dengan para pengurus 13 Pimpinan Ranting yang ada di Kecamatan Pegantenan.

Selain itu, tambah Kiai yang memimpin MWCNU Pegantenan sejak 2005 itu, pertemuan tersebut juga memberi kesempatan seluas-luasnya kepada segenap hadirin, khusunya kepada masing-masing Pimpinan Ranting, untuk menyampaikan persoalan hukum kehidupan masyarakat di desanya.

“Jadi kami membuka forum hukum, masing-masing pengurus Pimpinan Ranting berkesempatan mengajukan pertanyaan hukum berdasarkan permasalahan masyarakat di desanya,” kata Kiai Syaiful.

Pertanyaan hukum tersebut nantinya dijawab oleh pengurus MWCNU yang memang sudah dipandang kompeten atau punya wawasan tinggi dalam bidang hukum Islam.

“Bila tidak ada pertanyaan hukum, maka diganti dengan membacakan hasil bahtsul masail PCNU atau PWNU atau bahkan PBNU sendiri. Sifatnya kontekstual sesuai kebutuhan masyarakat,” ujar Kiai Syaiful dengan santainya. “Diselaraskan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.”

Intinya, tegas Kiai Syaiful, persoalan hidup masyarakat mesti dikawal dan dipecahkan oleh pengurus Pimpinan Ranting NU.

“Kalah Pimpinan Tanting tidak mampu, bisa dilanjugkan ke MWC dan atau PW. Muaranya, persoalan tersebut mesti dipecahkan secara utuh di kepengurusan PBNU Jakarta Pusat,” tandasnya.



Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Hairul Anam
 

Bagikan:
Kamis 29 Maret 2012 7:20 WIB
Bahtsul Masail Bahas Uang Tip untuk Pengedar Proposal
Bahtsul Masail Bahas Uang Tip untuk Pengedar Proposal

Kudus, NU Online
Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gebog, Kudus, mengadakan kegiatan Bahtsul Masail Diniyyah Waqi’iyyah pada Selasa (27/3) malam kemarin di Masjid At-Taqwa dukuh Kemasan Karangmalang Gebog Kudus. Bahtsul masail dibuka Katib MWC NU Gebog Kudus ini membahas dua persoalan kekinian (waqiiyyah), salah satunya mengenai halal atau tidaknya upah yang diterima oleh perantara (pengedar) proposal.<>

Dalam sambutannya Katib Syuriyah MWCNU Gebog KH Noor Hadi mengajak warga NU untuk selalu tafaqquh fiddin (memperdalam ilmu agama Islam). Ia mengimbau warga NU untuk selalu mementingkan hadir dalam setiap kegiatan bahtsul masail sehingga warga tidak mudah terpengaruh dengan faham yang disebarkan oleh golongan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam ahlussunnahwaljama’ah.

“Kita tidak akan mampu melaksanakan shalat dengan baik dan benar tanpa mempelajari kitab-kitab fiqih dan mengikuti para ulama salaf karena di Al-Qur’an dan Hadits belum dijelaskan secara rinci gerakan demi gerakan dan bacaan dalam shalat,” jelasnya.

Agenda rutin selapanan Rebo Leginan tersebut membahas dua permasalahan, yang pertama, tentang halal atau tidaknya upah yang diterima oleh perantara (pengedar) proposal permohonan bantuan dana pendirian tempat ibadah atau tempat pendidikan jika upah tersebut diambilkan dari prosentase hasil pendapatan penggalian dana. Kedua, tentang hukum shalat hajat  yang menjadi amaliyah wirid yang diberikan oleh seorang kyai yang harus dilakukan menjelang maghrib secara kontinyu.

Untuk masail (soal) yang pertama, sempat terjadi silang pendapat yang cukup seru antar mubahits (peserta diskusia) antara yang membolehkan dengan syarat dan yang mengharamkannya dengan masing-masing berpedoman kepada ma’khadz (sumber pengambilan hukum) dari kitab- kitab salaf mu’atabar yang bervariasi.

Sampai tanpa terasa pembahasan tersebut berlangsung lebih dari dua jam. Akhirnya KH Amin Yasin, moderator pada diskusi tersebut memutuskan untuk memauqufkan (menghentikan) pertanyaan tersebut karena belum ada kesepakatan antar para pembahas.

“Karena pengambilan keputusan suatu hukum itu tidak boleh dipaksakan, maka kami memutuskan untuk memauqufkan permasalahan bagi hasil perantara proposal bantuan,” katanya.

Adapun permasalahan yang kedua akan dilanjutkan pembahasannya pada bahtsul masail putaran berikutya di Ranting Klumpit Gebog Kudus karena waktu telah larut malam.

“Kita melanjutkan pembahasan persoalan yang kedua pada pertemuan yang akan datang dan mohon para mubahis untuk mencari ma’khodz yang lebih menyasar dan lengkap untuk digunakan sebagai hujjah yang tepat dan dapat diterima semua mubahitsin,” ujarnya member kesimpulan.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 200 warga NU ini diakhiri dengan do’a yang dipimpin oleh KH AkhmadBadawi. 


Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Mahfudz Nahrowi-Qomarul Adib

Selasa 27 Maret 2012 18:17 WIB
PCNU Salatiga: Mensyukuri Hasil, Menggapai Impian
PCNU Salatiga: Mensyukuri Hasil, Menggapai Impian

Salatiga, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Salatiga yang tinggal setahun lagi menjabat menggelar Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab), Sabtu (24/3) lalu dalam rangka mengevaluasi program-program kerja dan amanah yang diemban, sekaligus membuka harapan-harapan baru yang diharapkan terwujud hingga akhir 2013 nanti.<>

Acara ini dihadiri oleh puluhan Ulama dan Kyai, ratusan peserta dari perwakilan pengurus seluruh MWC, ranting, Banom, lembaga, dan lajnah. Tidak ketinggalan Walikota Salatiga, Yulianto, turut hadir bersama istri dan memberikan sambutan. Yulianto yang juga warga nahdliyin ini menyampaikan selamat bagi NU yang sedang mengadakan kegiatan Muskercab.

KH Sonwasi Ridlwan, Rais Syuriyah PCNU Kota Salatiga dalam sambutannya menyampaikan bahwa Muskercab ini adalah acara pertama yang diadakan di gedung secretariat yang baru.

“Gedung ini adalah hasil dari mimpi para pengurus dan warga nahdliyin Kota Salatiga sejak 20 tahun yang lalu,” katanya.

Dengan adanya gedung sekretariat baru 3 lantai ini diharapkan seluruh pengurus makin semangat untuk nguri-uri organisasi NU dan memberikan lebih banyak manfaat bagi warga nahdliyin, dengan begitu implementasi rasa syukur menjadi nyata karena bisa dirasakan manfaatnya bagi khalayak ramai.

Muskercab kali dimulai dengan sesi seminar “Kiat Muslim Berbisnis” dengan nara sumber H Hoo Djie Sien, seorang muslim nahdliyyin keturunan tionghoa yang memiliki PO (perusahaan otobus) Safari Group, yang merajai jalur Solo-Semarang. Agenda utama Muskercab ini adalah evaluasi program-program PCNU Salatiga dan menjaring harapan dan cita-cita bagi PCNU dalam setahun ke depan.

Dari delapan program yang diamanatkan kepada pengurus PCNU, mayoritas telah terlaksana. Bahkan beberapa program mendapatkan apresiasi yang bagus karena hasilnya sudah terlihat dengan baik, diantaranya adalah pembentukan MI unggulan. LP Ma’arif Kota Salatiga yang menaungi MI Ma’arif telah menyulap beberapa empat MI menjadi MI unggulan, bahkan mampu bersaing dengan SD swasta dan negri favorit di Kota Salatiga.

Sedangkan cita-cita warga nahdliyin ke depan adalah penguatan media berupa pendirian radio Aswaja NU. Bagi Kasmin, Ketua MWC Argomulyo, ada rasa bangga bagi nahdliyyin saat mendengar media meliput kegiatan NU, pengajian kitab disiarkan, ceramah para Kyai diputar, hingga tanya jawab agama dan tuntunan dalam beribadah. Radio ini sebenarnya sudah dicita-citakan sejak tahun 2008 oleh beberapa MWC yang ada di beberapa kecamatan.

Selain radio, yang menjadi cita-cita lain adalah pembentukan LKBH NU guna memberikan pemberdayaan hukum dan keadilan. Wong cilik selama ini memiliki posisi rendah dalam penegakan hukum, bahkan seringkali dirugikan oleh beberapa kebijakan tidak adil penguasa. Harapannya, agar wong cilik memiliki bargaining position yang baik dengan adanya bantuan dari LKBH NU.


Redaktur: A. Khoirul Anam
Kontributor: Nashif ‘Ubbadah

Selasa 27 Maret 2012 10:0 WIB
Rofi’i- Sodik Pimpin MWCNU Plantungan 2012-2017
Rofi’i- Sodik Pimpin MWCNU Plantungan 2012-2017

Kendal, NU Online
Kyai Rofi’i dan Muhammad Sodik berhasil memimpin MWC NU kecamatan Plantungan Kendal pada Konferensi MWCNU yang digelar di serambi Masjid Al-Hidayah Branti, Jurangagung, Plantungan, Ahad (25/3).<>

Kyai Rofi’i, pengasuh salah satu pesantren di Wonodadi yang juga kepala MTs NU 23 Asy-Syafi’iyah Salafiyah Wonodadi Plantungan itu kembali terpilih menjadi Rais Syuriyah MWCNU Plantungan periode 2012-2017.  

Terpilihnya Kyai Rofi’I menjadi Rais Syuriyah berjalan singkat karena dari 12 ranting yang ada semua menghendakinya kembali memimpin NU Plantungan. Sedangkan Muhammad Sodik berhasil menjadi ketua MWCNU Plantungan setelah melalui pemungutan suara. 

Terpilihnya Muhammad Sodik menggantikan ketua lama, Abrori diharapkan mampu mendinamisir jam’iyyah NU dan Badan otonom di Plantungan. 

Sodik yang sehari-hari bekerja sebagai kepala sekolah Dasar itu  dikenal orang sebagai sosok yang energik dan cekatan sehingga cocok untuk figur Ketua Tanfizdiyah.

Sementara dalam pengarahanya ketua PCNU Kendal H M. Ali Hasan berharap, semua pengurus  MWCNU dapat aktif untuk mengembangkan organisasi dan selalu iklas dalam mengemban amanah, bersabar dan bisa menyelesaikan masalah, baik internal maupun eksternal organisasi dengan bijak.


Redaktur     : Syaifullah Amin
Kontributor : Fahroji

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG