IMG-LOGO
Nasional

Khofifah: Dakwah Bil Maal dengan Pengelolaan Keuangan

Rabu 25 April 2012 11:45 WIB
Bagikan:
Khofifah: Dakwah Bil Maal dengan Pengelolaan Keuangan

Jakarta, NU Online
Muslimat NU yang ormas keagamaan kaum ibu NU yang secara resmi dibentuk 29 Maret 1946. Selama 66 tahun, Muslimat NU giat melayani kaum ibu Indonesia. Salah satu layanan masyarakat yang digawangi Muslimat NU adalah di bidang dakwah, lebih khusus lagi dakwah bil maal atau dakwah dengan harta.<>

“Pendekatan dakwah bil maal (harta), tidak melulu bermakna sumbangan-sumbangan dalam bentuk harta. Dakwah bil maal bisa juga dimaknai dengan bentuk pengelolaan keuangan yang baik. Akhir-akhir ini misalnya, kader Muslimat NU di Jawa Timur, membuat gebrakan dengan satu gerakan ‘99.000 Kader Muslimat NU Menabung’, ungkap Hj. Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum PP Muslimat NU dalam sambutan Rapat Permusyawaratan Kepengurusan Hidmat NU di Gedung PBNU lt. 5, Senin (23/4).

Hidmat NU, Himpunan Da‘iyah dan Majelis Taklim NU, adalah unit yayasan Muslimat NU yang melayani masyarakat dalam bidang dakwah Islam. Usai Kongres PP. Muslimat NU ke-15 di Batam, Hidmat NU dinyatakan sebagai unit layanan masyarakat yang membidangi masalah dakwah.

Dakwah bil maal (harta) merupakan salah satu pendekatan dakwah yang dimiliki Muslimat NU. Varian lain dakwah Muslimat NU adalah pendekatan bil lisan (ceramah), bil haal (perilaku), dan bil kitabah (tulisan).

Hidmat NU adalah yayasan berbadan hukum dengan registrasi Nomor 28 tanggal 22 Agustus 2008 dengan nama ‘Yayasan Hidmat Nahdlatul Ulama’. Registrasi Yayasan Hidmat NU kemudian diperbaharui dengan nomor 28 tanggal 19 Maret 2011.

Karenanya, terkait segala bidang, seorang da‘i Muslimat NU mesti melihat dan membaca secara kreatif varian dan media dakwah. Hal ini akan membuka celah bagi kaum Muslimat NU untuk masuk ke segala lini demi membumikan paham Ahlussunnah wal Jama‘ah di pelbagai forum, imbau Khofifah, Ketua Umum PP. Muslimat NU yang merangkap Dewan Pembina Yayasan Hidmat NU.

Ruang rapat dihijaukan sedikitnya oleh 40 anggota Muslimat NU. Mereka tidak lain adalah jajaran Dewan Pembina Hidmat NU, Dewan Pengawas Hidmat NU, Pengurus Hidmat NU, PP. Muslimat NU, Kabid. Dakwah PP Muslimat, dan Koorodinator Bidang Dakwah PP Muslimat NU.

Rapat permusyawaratan memberi kesempatan Dewan Pengurus Hidmat NU periode 2007-2011 untuk memberikan laporan pertanggungjawaban kepengurusan dalam masa baktinya. Laporan pertanggungjawaban disampaikan oleh Hj. Machfudhoh Aly Ubaid, Ketua Yayasan Hidmat NU periode 2007-2011. Sementara kepengurusan masa bakti 2007-2011 secara hukum dinyatakan demisioner sampai terbentuk struktur kepengurusan baru Yayasan Hidmat NU.


Redaktur: A. Khoirul Anam
Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Bagikan:
Rabu 25 April 2012 21:39 WIB
Pasien Rumah Sakit Harus Diberi Bimbingan Ruhani
Pasien Rumah Sakit Harus Diberi Bimbingan Ruhani

Semarang, NU Online
Menurut penelitian di berbagai belahan dunia, kesembuhan pasien yang dirawat di rumah sakit sangat tergantung dari motivasi dirinya, suasana batinnya, dan isi pikirannya. <>

Demikian dalam Seminar Nasional “Pengembangan Profesionalitas Layanan Bimbingan Rohani Islam pada Pasien Menuju Pola Pelayanan Holistic Rumah Sakit di Jawa Tengah” yang diselenggarakan Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang di aula Laboratorium Dakwah kampus tersebut, baru-baru ini.

Obat dan pelayanan dokter sebagus apapun tidak bisa efektif jika si pasien tidak berpikiran positif dan memiliki semangat untuk sembuh. Justru isi pikiranlah yang menentukan penderita penyakit bisa pulih atau tidak. 

Karena itu, pelayanan medis diwajibkan memberi bimbingan rohani kepada setiap pasien di rumah sakit. Tak boleh pasien hanya disuntik dan diobati saja. Tak cukup diberi makanan dan dirawat secara klinis semata. Tetapi harus diberi penguatan ruhani oleh orang yang ahli di bidangnya. Bukan sekedar perawat yang difungsikan sebagai penasehat rohani. 

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, Prof. Dr. Mohammad Fanani SpKJ (K) menyampaikan, manusia adalah makhluk fisik sekaligus psikologis yang saling berkaitan. Setiap penyakit yang menyerang fisik manusia, pastilah juga mempengaruhi kondisi psikisnya. Sedangkan kondisi psikis dipengaruhi religiusitasnya. Religiusitas adalah perasaan keagamaan, ini berhubungan dengan keimanan kepada Tuhan. 

Karena itu menurutnya, terapi penyembuhan pasien haruslah melibatkan sisi keagamaan. Jika pasiennya muslim, perlu memakai terapi Al-Qur'an, sebagaimana telah disebutkan dalam Surat Al-Isra” ayat ke-82 yang artinya; Dan Kami turunkan  dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang zalim selain kerugian”. 

“Jadi setiap rumah sakit harus menerapkan terapi holistik. Pengobatan jasmani sekaligus rohani bagi pasiennya. Jika hanya fisik, selain menyalahi kodrat juga tidak akan berhasil baik, bahkan gagal,” tandas dokter spesiali kejiwaan ini. 

Fanani menambahkan, soal terapi itu juga telah ditetapkan organisasi kesehatan dunia milik PBB, World Health Organization (WHO). Dalam ketetapan WHO tahun 1984, pengertian sehat adalah tidak terganggunya kondisi tubuh, mental dan rohani manusia. Dikenal dengan rumusan “bio-prisko-sosio-spiritual”. 

Dosen Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Machasin Msi menyampaikan, dalam Islam, kata shihah yang diserap menjadi kata sehat dalam bahasa Indonesia, tidak berarti kondisi baik yang ada dalam jasmani. Melainkan berhubungan dengan masalah psikis, jiwa. Karena itulah Islam memakai istilah al-Shihah wal-‘Afiyah  yang lazim disebut sehat wal afiat. Yaitu kondisi di mana orang mengalami kesehatan paripurna. Yaitu sehat secara jasmani dan rohani atau fisik dan psikis. 

“Konsep sehat menurut Islam adalah jiwa dan raga. Bahkan orang yang sakit badannya dimuliakan oleh Allah karena jika dia sabar, segala dosa dan kejelekannya dihapuskan. Filosof Yunani zaman sebelum masehi, Plato pernah mengatakan, tiada guna mengobati badan yang sakit tanpa mengobati fikirannya,” tandas Pembantu Rektor II IAIN Walisongo ini. 

Namun Machasin mengingatkan, yang bertanggungjawab memberi terapi ruhani kepada pasien tak hanya pihak rumah sakit. Keluarga pasien juga perlu menguatkan jiwa si pasien dengan pendekatan religius. Misalnya berdoa atau dzikir yang lama. 


Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Muhammad Ichwan

Rabu 25 April 2012 20:36 WIB
Ali Masykur Musa: Sarjana Harus Turun ke Bawah
Ali Masykur Musa: Sarjana Harus Turun ke Bawah

Jakarta, NU Online
Sarjana adalah mereka yang berpengetahuan. Dengan pengetahuan yang dimiliki, masyarakat mengharapkan mereka untuk memperbaiki nasib dan kehidupan masyarakat.<>

“Sarjana tidak boleh di awang-awang. Mereka mesti turun ke lapisan bawah, bersama petani, rakyat, dan umat,” imbau Ali Masykur Musa, Ketua Umum ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) disela acara Penanaman Perdana Padi di Areal GP3K, di Desa Ragas Masigit, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Banten, Jumat (20/4) lalu.

Sarjana adalah anak masyarakat yang mesti kembali ke masyarakat. Para sarjana mestinya turun tangan mendampingi masyarakat dalam menghadapi persoalannya. Dengan modal pengetahuan yang dipelajari, para sarjana memiliki tanggung jawab intelektual untuk berdiri di barisan terdepan mengawal masyarakat.

ISNU bersama PT. Shang Hyang Seri, siap mengawal para petani mulai proses awal penanaman sampai praktik penjualan. Kecamatan Carenang yang memiliki 10 desa, dipilih oleh ISNU sebagai tempat pembinaan para petani menimbang Carenang adalah pundi-pundi pertanian terbesar di Kota dan Kabupaten Serang.

Pembinaan dan proteksi para petani oleh ISNU mulai dari proses penanaman hingga paska panen, adalah program yang selama ini ditunggu masyarakat Carenang. Setidaknya, ungkapan semacam ini mewakili suara petani Indonesia pada umumnya.

“Apakah pembinaan semacam ini dibutuhkan? Seperti kita dengarkan tadi, dialog saya dalam sambutan dengan Pak Marzuki, petani lokal. Ia menjawab bahwa masyarakat sangat butuh agar organisasi seperti ISNU untuk membina langsung petani di bawah itu,” ungkap Ali Masykur kepada NU Online seusai acara di depan tenda sederhana, tempat acara berlangsung.

Dinas pertanian Serang, Camat Carenang, Kepala Desa Ragas Masigit, Litbang PT. Shang Hyang Seri, dan unsur Muspida setempat, tampak hadir dalam acara ini sebagai dukungan atas program pemberdayaan petani mereka. Tenda tempat berlangsungnya acara, tepat berada di tengah sawah. Dengan karpet yang beralas kain terpal, para hadirin duduk nyaman lesehan di atasnya.


Redaktur: A. Khoirul Anam
Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Rabu 25 April 2012 19:37 WIB
KH Sahal Mahfudh Dapatkan Sanad dari Syekh Yasin al-Padani
KH Sahal Mahfudh Dapatkan Sanad dari Syekh Yasin al-Padani

Jakarta, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH MA Sahal Mahfudz mengijazahi atau menyambungkan sanad kepada ratusan mahasiswa NU di Ruang Syuriah, Gedung PBNU, Jl Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. Dalam kesempatan ini Rais Aam mengijazahkan tiga sanad hadits musalsal, yaitu al-musalsal bil awwaliyah, al-musalsal bi qiraa’ah ayatil kursi, dan al-musalsal bil mahabbah.<>

Kiai Sahal mendapatkan tiga sanad tersebut dari gurunya Syekh Muhammad Yasin al-Padani. Sedangkan Syekh Muhammad Yasin mendapatkannya dari Syekh Umar Hamdan at-Tunisi. Demikian sanad bersambung terus hingga Rasulullah.

Sebelumnya Kiai Sahal menjelaskan, hadits musalsal merupakan hadits yang diriwayatkan para perawi di mana antara satu sama lain dari awal hingga akhir menggunakan kata-kata, sikap, dan keadaan yang sama. Dengan kata lain, proses penyampaian selalu dilakukan dengan menyertakan sifat-sifat yang sama. Jika hadits Rasulullah disampaikan dengan menangis, maka perawi-perawi berikutnya juga demikian.

Insyaallah ini (tiga sanad hadits yang akan disampaikan, red) sampai kepada Rasulullah,” tuturnya.

Terkait dengan al-musalsal bi qiraa’ah ayatil kursi, pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen, Pati, ini mendapatkan ijazah untuk tidak meninggalkan bacaan ayat kursi tiap menjelang tidur dan usai shalat wajib. Ia mengaku, sejak mendapatkan hadits ini, membaca ayat kursi menjadi rutinitasnya hingga sekarang, khususnya tiap menjelang tidur.

Acara yang berlangsung kurang dari satu jam ini sengaja diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta. Turut hadir dalam kegiatan ini, Ketua STAINU KH Mujib Qulyubi, Kaprodi PAI STAINU Imam Bukhari, serta jajaran dosen dan sejumlah tenaga kependidikan STAINU.

“Kami ingin menghidupkan kembali tradisi pesantren yang sudah mulai terikikis. Kita mulai dari mahasiswa STAINU,” jelas Mujib.


Redaktur: A. Khoirul Anam
Penulis   : Mahbib Khoiron

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG