Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kang Said: NU Jaga Hubungan Baik dengan Semua Pihak

Kang Said: NU Jaga Hubungan Baik dengan Semua Pihak

Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan Nahdlatul Ulama akan menjaga hubungan baik dengan semua pihak, baik istana, polisi, tentara maupun penegak hukum dan pihak lainnya untuk bersama-sama membangun bangsa.
<>
NU sebagai masyarakat sipil memiliki kekuatan yang diharapkan mampu mendukung keberlangsungan bangsa ini. Mengorganisir masyarakat tidaklah gampang, diajak terlalu serius tidak mau, kalau tidak serius juga tidak menghasilkan apa-apa. “Makanya, lambang NU itu talinya kendor, kalau terlalu dikencengin, bisa putus, tetapi kalau terlalu dilepas, bisa bubar,” katanya ketika membuka Rakernas JQH di Jakarta, Jum’at (18/5).

Keberadaan NU, telah mampu menjaga harmoni bangsa Indonesia. Ia menganalogikan, di Timur Tengah, banyak ulama alim seperti Wahbah Zuhaili, Ramadhan Al Buthi, Yusuf Al Qaradhawi dan lainnya, tetapi mereka semua tidak mampu meredam konflik berdarah di negaranya atau di sekitarnya seperti di Irak, Libya, Afganistan, Syiria, Mesir dan lainnya. 

“Kita alhamdulillah, para ulama NU ini bisa menjadi peredam dan menjaga suasana stabil,” jelasnya. 

Ia menegaskan, dirinya juga memberi peringatan kepada pemerintah, jika memang dirasa ada yang kurang pas dalam menjalankan amanah rakyat, tetapi hal ini dilakukan dengan cara yang halus. “Allah memerintahkan Nabi Musa untuk berbicara secara halus kepada Fir’aun. Kepada Fir’aun saja, diminta halus, padahal kita tidak sesuci Musa dan pemerintah tidak sekotor Fir’aun,” paparnya. 

NU, katanya, tidak mau diperalat oleh pihak lain untuk kepentingan tertentu, tetapi menjaga berlangsungnya pemerintahan negara ini sesuai dengan konstitusi. “Selama presiden tidak melanggar UUD 45, tidak boleh diturunkan karena kita punya pengalaman pahit, presiden Gus Dur digulingkan ditengah jalan tanpa jelas kesalahannya secara konstitusional,” imbuhnya.

Kiai Said meminta agar umat Islam di Indonesia bersatu karena Indonesia menjadi gerbang paling timur dunia Islam yang diapit oleh dua kekuatan raksasa, Australia dan China. “Kalau Islam keras, akan dihantam, tetapi kalau lemah, diinjak. Yang baik adalah seperti NU ini, dengan mengembangkan persaudaraan, baik persaudaraan sesama umat Islam, persaudaraan sesama bangsa atau persaudaraan sesama umat manusia,” jelasnya.

Kalau hidup hanya didasarkan pada ukhuwah wathoniyah atau persaudaraan kebangsaan saja, akan menjadi sekuler, tetapi kalau persaudaraan sesama muslim saja, akan eksklusif. “KH Hasyim Asy’ari dengan cerdas mengintegrasikan semangat keislaman dan kebangsaan,” terangnya. 

Dari sinilah, ia memiliki ide untuk menambah definisi aswaja sebagai kelompok yang taat beragama sesuai sunnah rosul, tetapi juga memiliki semangat kebangsaan. “Kalau agama kuat, maka negara juga akan kuat,” tandasnya.

Jika ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathoniyah sudah berjalan dengan baik, maka selanjutnya adalah memperjuangkan ukhuwah insaniyah atau persaudaraan sesama umat manusia. Disini, dimaknai dunia harus damai, tidak boleh ada peperangan. Persoalan yang ada diselesaikan dengan dialog, bukan dengan senjata tajam. Tidak boleh ada perang yang mengatasnamakan agama, bangsa, etnik, kepentingan politik, ekonomi dan lainnya. 

“Sebuah kesalahan sejarah ketika menggunakan istilah perang suci atau holy war. Mana ada perang suci, semua perang itu kotor, tapi biarlah, itu sejarah masa lalu,” tegasnya. 

Dihadapan para peserta rakernas, Kang Said berharap NU memiliki peran lebih, bukan untuk menjadi presiden, tetapi mengarahkan negara ini dengan semangat Nahdlatul Ulama.


Penulis: Mukafi Niam

BNI Mobile