IMG-LOGO
Pustaka

Mewaspadai Aliran Salafi, Wahabi, Dan Hizbut Tahrir

Senin 21 Mei 2012 10:46 WIB
Bagikan:
Mewaspadai Aliran Salafi, Wahabi, Dan Hizbut Tahrir

Judul: Benteng Ahlussunnah Wal Jama’ah (Menolak Faham Salafi, Wahabi, MTA, Hizbut Tahrir Dan LDII)
Penulis : Nur Hidayat Muhammad 
Pengantar: Shofiyullah Mukhlas Lc., M.A.
Penerbit: Nasyrul Ilmi, Kediri
Cetakan: I, April 2012
Tebal: xvi + 288 hlm.
Peresensi: Ach. Tirmidzi Munahwan
<>
Akhir-akhir ini yang menjadi tantangan bagi warga NU adalah maraknya aliran-aliran baru yang menyimpang dari ajaran ahlussunnah wal jama’ah. Aliran-aliran tersebut seperti, Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Syi’ah, Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Salafi Wahabi, dan Hizbut Tahrir (HTI). Dari beberapa kelompak dan aliran ini, ajaran amaliahnya jauh berbeda dengan apa yang selama ini menjadi tradisi di kalangan warga nahdliyin. Bahkan mereka memvonis akidah amaliah warga NU seperti, tahlilan, yasinan, shalawatan, adalah perbuatan bid’ah, dan diharamkan melakukannya.

Melalui buku “Benteng Ahlusunnah Wal Jama’ah”, Menolak Faham Salafi, Wahabi, MTA, LDII, dan Hizbut Tahrir yang ditulis oleh Nur Hidayat Muhammad ini, kita bisa mengenali seperti apa kondisi aliran tersebut yang saat ini telah berkembang besar di Indonesia, baik dari segi proses kelahirannya maupun sikap mereka terhadap para ulama. Kita tahu gerakan-gerakan mereka hanya berbekal dalil sekenanya saja, mereka mengklaim telah memahami ajaran Rasulullah dengan semurni-murninya, padahal dalilnya adalah palsu dan tidak rasional. Mereka sebenarnya tidak memahami isi al-Qur’an dan hadits, apalagi hingga menafsirkannya. 

Munculnya beberapa aliran seperti, Salafi Wahabi dan Hizbut Tahrir di Indonesia bukanlah mendamaikan umat Islam justru perpecahan yang terjadi dikalangan umat Islam. Islam melarang melakukan perbuatan kekerasan dan perpecahan, Islam adalah agama yang ramah, santun, yang menjunjung perdamaian, persaudaraan antar sesama. Salafi Wahabi adalah kelompok yang mengusung misi modernisasi agama dan perintisnya adalah Muhammad bin Abdil Wahhab di Nejd. Beliau adalah pengikut madzhab Imam Ahmad, akan tetapi dalam berakidah beliau mengikuti Ibnu Taimiyah.

Ajaran Salafi Wahabi adalah, mengkafirkan sufi Ibnu Arabi, Abu Yazid al-Bustani. Mudah mengkafirkan muslim lain. Memvonis sesat kitab “Aqidatul Awam, dan Qashidah Burdah. Mengkafirkan dan menganggap sesat pengikut Mazdhab Asy’ari dan Maturidiyyah. Merubah beberapa bab kitab-kitab ulama klasik, seperti kitab al-Adzkar an-Nawawi. Mereka menolak perayaan Maulid Nabi Muhammad karena menganggap acara tersebut sebagai acara bid’ah, dan perbuatan bid’ah menurut mereka adalah sesat semuanya. mereka menilai acara yasinan tahlilan adalah ritual bi’ah, padahal kedua amalan tersebut tidak bisa dikatakan melanggar syari’at, karena secara umum bacaan dalam susunan tahlil ada dalil-dalilnya baik dari al-Qur’an dan al-Hadits seperti yang sudah disampaikan oleh para ulama-ulama terdahulu. Dan mereka menolak kitab “Ihya’ Ulumuddin” karya Imam al-Ghazali (hal.24-25).

Aliran dan gerakan yang akhir-akhir ini berkembang di Indonesia, adalah Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir sebetulnya adalah nama gerakan atau harakah Islamiyyah di Palestina dan bukan sebuah aliran, atau lembaga strudi ilmiyah, atau lembaga sosial. Mereka hanyalah organisasi politik yang berideologi Islam dan berjuang untuk membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan, membebaskan umat dari ide-ide dan undang-undang kufur, membebaskan mereka dari cengkeraman-cengkeraman dominasi negara-negara kafir dan mendirikan kembali sistem khilafah dan menegakkan hukum Allah dalam realita kehidupan.

Gerakan yang muncul pertama kali di Quds Palestina ini, selain mengusung konsep khilafah kubra, juga menolak sistem pemerintahan demokrasi yang dianut sebagian besar negara di dunia. Tujuan besar mereka adalah memulai kehidupan Islami dengan cara menancapkan tonggak-tonggak Islam di bumi Arab baru kemudian merambah khilafah Islamiyah (hal.33).

Adapun konsep mazdhab Hizbut Tahrir adalah, ingkar akan kebenaran dan adzab kubur. Membolehkan mencium wanita bukan istri baik dengan syahwat atau tidak. Tidak percaya akan munculnya Dajjal diakhir zaman. Hadits ahad tidak boleh dijadikan dalil dalam akidah. Dan membolehkan negara Islam menyerahkan pajak kepada negara kafir.

Dengan membaca buku ini anda akan diajak untuk mengenali beberapa aliran yang ada di Indonesia serta aspek-aspek kesesatannya yang telah menyimpang dari ajaran ahlussunnah wal jama’ah. Buku ini terdiri dari tiga bab pertama, menjelaskan aliran-aliran yang berkembang di Indonesia seperti, Ahmadiyah, LDII, MTA, Ingkar Sunnah, Salafi Wahabi, Syi’ah, HTI, Muhammadiyyah, dan Ahlusunnah Wajjama’ah. Kedua, membantah tuduhan wahabi dan MTA. Ketiga, tanya jawab seputar tarekat sufi, sebagai penegas amaliah tarekat sufi yang tidak bertentangan dengan syari’at. Buku ini diharapkan sebagai benteng warga NU dari serangan aliran-aliran dan faham yang saat ini marak dan berbeda dengan mayoritas umat Islam pada umumnya.


* Dosen Sekolah Tinggi Islam Blambangan (STIB) Banyuwangi

Bagikan:
Senin 14 Mei 2012 13:24 WIB
Modul Takhrîj dan Ensiklopedi Mini Literatur Hadits
Modul Takhrîj dan Ensiklopedi Mini Literatur Hadits

Judul: Ushûl al-Takhrîj wa Dirâsah al-Asânîd
Penulis: Dr Mahmud al-Thahhan
Penerbit: Maktabah al-Ma’arif 
Cetakan: Ketiga (1996 M / 1417 H)
Tebal: 220 Halaman
Peresensi: Dzul Fahmi *)
<>
Hadits merupakan sumber kedua setelah Al-Qur’an dalam syariat Islam. Kekuatannya sebagai hujjah telah disepakati oleh seluruh umat Islam dari generasi ke generasi. Karenanya, perhatian umat Islam dalam menjaga otentitas Hadits harus benar-benar tercurah secara totalitas. Sistem verifikasi sanad dan kritik matan yang tertuang dalam seluruh literatur studi Hadits merupakan bukti tak terbantahkan bahwa upaya yang dilakukan ulama Muslim dalam memproteksi orisinilitas Hadits bukanlah sekedar retorika kosong.

Salah satu aspek yang paling urgen dan menjadi fokus utama dalam studi Hadits adalah aspek transmisi. Dalam metodologi seleksi Hadits, para perawi Hadits memiliki peran yang sangat signifikan dalam menentukan validitas sebuah Hadits. Karenanya, para ahli Hadits secara cermat dan selektif harus menguji integritas (al-’adâlah) dan kredibelitas (al-tsiqah) para perawi sebelum menyelam lebih jauh ke dalam teks literal Hadits untuk melakukan kritik matan (naqd al-matn). Hal tersebut dilakukan bukanlah untuk mempersempit peran sebuah teks agama, juga bukan ditujukan untuk mempersulit dalam memahami perkataan Rasul, apalagi mengebiri pemikiran, sebagaimana tuduhan orang-orang yang tidak berilmu. Selektifitas yang ada merupakan kelaziman dari ketinggian derajat Hadits Nabi dan upaya untuk melindunginya dari berbagai upaya distorsi terhadapnya.

Seiring berjalannya waktu, penulisan dan kodifikasi Hadits terus dilakukan sebagai konsekuensi logis dari upaya pengukuhan Hadits sebagai sumber syariat Islam setelah melewati fase transmisi verbal. Corak penulisan para Imam dalam membukukan Hadits tergolong cukup variatif dan kompleks. Ada yang menggunakan metode Muwaththa’, Mushannaf, Musnad, Jâmi’, Mustakhraj, Mustadrak, Sunan, Mu’jam, Majma’, Zawaid, dan lain sebagainya, yang tentunya masing-masing dari metode tersebut memiliki katakteristik yang berbeda dalam menyajikan kompilasi Hadits Nabi. 

Dalam perkembangan selanjutnya, kondisi tersebut secara tidak langsung mengharuskan umat Islam secara umum, dan pengkaji Hadits serta ilmu syariat secara khusus, untuk memahami kitab-kitab Hadits primer yang otoritatif dari berbagai macam sudut pandangnya, mulai metodologi penulisan hingga karakteristik penting lain yang meliputinya. Alasannya jelas, hal ini sangat diperlukan dalam aktivitas afiliasi Hadits kepada sumbernya yang primer (baca; takhrîj) sebagai bentuk implementasi nyata kejujuran ilmiah. Karena bagaimanapun, menisbatkan sebuah perkataan, terlebih Hadits Nabi, tidaklah bisa dilakukan secara asal-asalan. Jika tidak, maka ancaman yang dijanjikan Nabi dalam beberapa Hadits mutawâtir harus siap diterima bagi siapa saja yang berbohong atas nama Rasulullah, yaitu neraka. Disinilah studi takhrîj Hadits menemukan relevansinya.

Berangkat dari situ pula, buku berjudul Ushûl al-Takhrîj wa Dirâsah al-Asânîd ini ditulis. Penulisnya, Dr. Mahmud al-Thahhan, dosen serta pakar ilmu Hadits Fakultas Syariah dan Dirasah Islamiyyah Universitas Kuwait, menganggap diskursus takhrîj Hadits ini bukanlah masalah sederhana. Ketidaktahuan umat Islam -lebih-lebih yang menyandang status pelajar syariah- terhadap metodologi takhrij merupakan problem serius yang harus dicarikan solusi. Hal itu terekam jelas dalam pengantar bukunya, di mana penulis mengaku prihatin terhadap fenomena para pelajar Muslim masa kini, yang menurutnya, semakin jauh dalam berinteraksi dengan kitab-kitab serta literatur studi Hadits.

Menurutnya, ada jarak yang ’menganga’ begitu lebar antara realita umat Islam masa kini dengan khazanah Hadits masa lampau, sehingga sangat sedikit – untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali – pelajar ilmu ke-Islaman yang menguasai rujukan utama dalam melakukan aktivitas takhrîj secara komprehensif. Salah satu penyebabnya, bagi al-Thahhan, adalah melimpahnya rujukan primer Hadits ke ruang publik yang tidak diimbangi dengan keberadaan modul baku sebagai panduan dalam men-takhrîj Hadits. Jikapun faktanya ada beberapa kitab takhrîj yang dikarang ulama klasik, itupun hanya sebatas men-takhrîj Hadits yang terkumpul dalam kitab tertentu, seperti kitab takhrîj karya MuÄ¥ammad ibn Mûsa al-Hazimî (w. 584) yang secara spesifik didedikasikan untuk men-takhrîj seluruh Hadits yang tertuang di kitab Fikih al-Muhadzdzab, karya Abu IsÄ¥âq As-Syayrâzî dan kitab takhrîj yang ditulis Imam Abu Yûsuf Al-Zila’î (w. 762) yang ditulis dalam rangka menyempurnakan Tafsir Al-Kasyf karya mufasir Muktazilah, al-Zamakhsyarî.  Sehingga perlu ada modul baku atau semacam panduan praktis yang universal sebagai acuan dalam aktivitas takhrîj Hadits.

Bagian awal buku ini mengurai secara singkat arti term takhrîj, urgensi diskursus takhrîj dalam studi Hadits, ruang historis yang mengiringi perkembangan ilmu takhrîj, serta beberapa kitab yang dikarang para pakar Hadits klasik dalam men-takhrîj kumpulan Hadits di kitab tertentu. Di sini juga dijelaskan kriteria rujukan primer (Mashâdir al-Hadîts al-Ashliyyah) yang bisa dijadikan sandaran dalam menisbatkan Hadits Nabi :

Pertama, kitab-kitab hadits yang dikumpulkan oleh penulisnya melalui cara talaqqi dari para guru dengan menyebutkan sanad yang lengkap hingga Rasul saw. Di antara kitab yang masuk dalam kategori ini adalah al-Kutub al-Sittah (al-Bukhârî, Muslim, al-Tirmidzî, Ibn al-Majah, al-Nasâ’î, dan Abû Dawud), Muwaththa’ Imam Mâlik, Musnad AÄ¥mad, Mustadrak al-Ĥâkim, dan lain sebagainya. Kedua, kitab-kitab Hadits yang ditulis sebagai respon terhadap kitab dalam kategori pertama, baik yang berupa kompilasi seperti kitab al-Jam’u bayna as-ShaÄ¥îÄ¥ayn karya al-Ĥumaydî, atau resume dari kitab-kitab tersebut, seperti Tahdzîb Sunan Abî Dawud, karya al-Mundzirî. Ketiga, kitab-kitab di luar Hadits – seperti Tafsir, Tarikh, dan Fikih – yang juga menampilkan Hadits-Hadits dengan sanad yang bersambung dari muallif-nya hingga Rasulullah saw. secara independen, dalam arti tidak mengutip dari rujukan lain. Diantaranya adalah Tafsir al-Thabarî, Al-Umm karya Imam al-Syâfi'î, dan kitab-kitab lain yang senada. Dengan demikian, mengafiliasikan Hadits ke selain rujukan primer di atas, seperti ke rujukan sekunder (al-Mashâdir al-far’iyyah) atau tersier (al-Mashâdir al-Mulâhiqah), tidaklah bisa disebut takhrîj Hadits secara terminologi.

Pada bagian selanjutnya yang merupakan pembahasan inti dari buku ini, penulis membaginya menjadi dua bab inti sebagaimana judul bukunya, yaitu bab pertama terkait takhrîj Hadits dan bab kedua seputar studi transmisi (Dirâsah al-Asânîd).

Pada bagian pertama, penulis secara cermat memetakan klasifikasi metode takhrîj menjadi lima metode utama, yang tentunya, didasarkan eksperimen yang dihasilkan penulis dalam berinteraksi akrab dengan tumpukan literatur Hadits selama bertahun-tahun. Secara global, kelima metode tersebut adalah: (1) Takhrij melalui nama perawi generasi sahabat (by the name of Hadiths transmitter from the prophet companions), (2) melalui pengetahuan terhadap awal teks Hadits (by way of knowing the first words from Hadiths text), (3) melalui kalimat  asing dan tidak familiar dalam matan (by rare words or unfamiliar from Hadiths text), (4) melalui spirit utama kandungan Hadits (by the basic idea from Hadiths text), dan (5) melalui analisa perihal sanad dan matan (by analyzing the text and the transmittance of Hadiths). Dalam setiap metode, penulis mengawalinya dengan definisi metode, kapan para pen-takhrîj menggunakan metode tersebut, jenis-jenis kitab yang harus dirujuk, lalu menutupnya dengan menampilkan profil singkat setiap kitab plus acuan praktis takhrîj yang harus ditempuh ketika memilih metode terkait.

Buku yang dijadikan mata kuliah di beberapa Universitas Islam di Timur Tengah ini semakin komplit, ketika objek kajiannya tidak hanya terfokus pada literatur Hadits karya ulama Muslim, melainkan juga secara inklusif mencoba memperkenalkan beberapa literatur Hadits yang ditulis orientalis Barat. Salah satunya bisa didapati pada metode yang ketiga, yaitu metode takhrîj melalui kalimat asing dan tidak familiar dalam matan (by rare words or unfamiliar from Hadiths text). Satu-satunya rujukan yang harus dikunjungi ketika menempuh metode ini adalah al-Mu’jam al-Mufahras li Alfâzh al-Hadits al-Nabawî, kamus Hadits yang disusun beberapa orientalis yang dipimpin oleh orientalis Belanda, Dr Arondejan Winsink, Dosen Bahasa Arab Universitas Leiden. Kamus yang disusun secara alfabetis hijâiyyah tersebut secara khusus merangkum kalimat-kalimat yang kurang populer dalam percakapan Arab sehari-hari, yang terdapat pada matan Hadits di sembilan rujukan Hadits primer (al-Mashâdir al-Ashliyyah) yaitu al-Kutub al-Sittah ditambah Muwaththa’ imam Mâlik, Musnad AÄ¥mad, dan Musnad al-Dârimî. Konfigurasi kamus setebal 7 jilid itu tidak akan mampu difahami secara holistik – terlebih bagi pemula -, karena hanya berisi rumusan-rumusan angka dan huruf yang dipenuhi elemen ambiguitas, apalagi memang tidak ada petunjuk pasti tentang cara penggunaannya. Nah, Dr Mahmud al-Thahhan, dalam buku ini berhasil merumuskan ‘kode rahasia’ yang disusun para orientalis tersebut, sehingga saat ini siapapun bisa mengambil faidah dari kamus tersebut. Sebagai contoh, ketika data yang disajikan kamus tersebut tertulis [ت أدب15], maka yang dimaksud bahwa Hadits tersebut terdapat dalam kitab shaÄ¥îÄ¥ al-Tirmidzî (yang dilambangkan dengan huruf tâ’), pasal ke-15 dari bab Adab.

Pembahasan menarik selanjutnya terdapat di bagian kedua dari pembahasan inti buku ini, yaitu Dirâsah al-Asânîd. Bagian ini dibagi menjadi tiga bab. Bab pertama menerangkan ilmu JarÄ¥ wa Ta’dîl serta segala hal yang berkaitan dengan sanad, integritas dan kredibelitas perawi. Pada bab kedua, kesadaran historis pembaca akan dibangkitkan melalui penyajian secara komprehensif mengenai klasifikasi literatur Hadits yang secara khusus memuat biografi Rijâl al-Hadîts, yang tentunya, dengan pembagiannya yang runtut dan sempurna. ’Segudang’ metode takhrîj dan studi transmisi yang terangkum dalam buku ini tidak akan sempurna dan masih sebatas teori yang mengambang sebelum mengkaji bab ketiga. Pada bab inilah, para pembaca akan digiring memasuki ’arena nyata’ dari studi takhrîj, melalui penyajian contoh-contoh riil dalam ranah praksis. Contoh-contoh penerapan teori yang disajikan dalam bab ini akan sangat membantu pen-takhrîj dalam meningkatkan analisis kritis dalam menyeleksi sebuah Hadits berikut para rawi yang meriwayatkannya. Barangkali, bagian ending buku inilah yang pantas disebut sebagai intisari dari keseluruhan isi buku.

Akhiran, selain beberapa poin yang telah dipaparkan di atas, hal lain yang penting dari buku ini adalah kekayaan data dalam menyajikan bertumpuk-tumpuk literatur Hadits yang terklasifikasi matang menurut sistematika penulisan dan juga periode sejarah. Sehingga bagi sebagian kalangan, buku ini dianggap sebagai 'ensiklopedi mini' untuk menyelami lautan khazanah studi Hadits yang begitu luas dan dalam. 'Alâ kulli Ä¥âl, buku ini adalah nutrisi wajib yang harus dikonsumsi para pelajar studi ilmu ke-Islaman, lebih-lebih yang menyandang status sebagai mahasiswa fakultas syariah atau ilmu Tafsir Hadits. Semoga bermanfaat !

* Peresensi adalah mahasiswa Fakultas Syariah, Universitas Al-Ahgaff, Tarim-Hadramaut, Republik Yaman,  asal Denpasar Bali.

Senin 7 Mei 2012 11:37 WIB
Tradisi Islami Jawa
Tradisi Islami Jawa

Judul Buku: Ritual & Tradisi Islam Jawa 
Penulis: KH Muhammad Sholikhin 
Penerbit: Narasi Yogyakarta
Cetakan I 2011
Tebal: 498 halaman
Peresensi: Abdul Aziz MMM

<>
Keberhasilan syiar agama di suatu daerah, tidak hanya ditentukan oleh kualitas ajaran agama itu sendiri, tetapi yang lebih penting, bagaimana ajaran itu disampaikan kepada calon pemeluknya. Di Indonesia, syiar agama termasuk proses yang unik, menarik sekaligus cukup dinamis. Meski sudah berlangsung berabad-abad lamanya, toh masih meninggalkan sejumlah persoalan sampai saat ini.

Sebagai masyarakat komunal, yang salah satu cirinya ditandai dengan kekhasaan nilai-nilai lokal, membuat masyarakat ini sulit menerima kebiasaan maupun ajaran-ajaran yang datang belakangan. Keyakinan lama tidak lantas tergantikan oleh ajaran baru. Justru yang sering terjadi adalah perpaduan beragam nilai, tanpa disadari membentuk bangunan baru.

Termasuk pula konteks Islam dalam masyarakat Jawa. Pada kenyataannya, pertautan ini menghasilkan sebuah peradaban baru yang disebut Muslim Jawa seperti yang diistilahkan penulis buku ini. Berbagai pandangan terhadap akulturasi ini pun dilontarkan. Ada yang setuju, namun banyak juga yang menolak. Buku ini mengulas kesamaan cara pandang dan tujuan masyarakat Jawa, terutama yang diekspresikan melalui ritual-ritual  tertentu, dengan ajaran keislaman meski tidak secara spesifik menyebut Jawa yang dimaksud, namun sebagai referensi umum, buku ini patut untuk disimak.

Ada empat pokok bahasan yang ditulis di buku ini yakni; Siklus kehidupan manusia dan ritual tradisi Islami terhadapnya, ritual dan tradisi Islami terkait dengan kehamilan dan kelahiran masyarakat muslim Jawa, tradisi Islami terkait dengan perkawinan masyarakat muslim Jawa. Terakhir, prosesi kematian dalam tradisi Islami di Jawa. Di awal tulisan, diulas bagaimana pertautan antara Islam dan budaya lokal Jawa.

Dijelaskan bahwa syiar Islam pada prinsipnya selalu menyikapi tradisi lokal masyarakatnya, yang sebagian di antaranya dipadukan menjadi bagian dari tradisi Islami. Prinsip itu didasarkan atas suatu kaidah ushulliyah, yang berbunyi; “Menjaga nilai-nilai lama yang baik, sembari mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.” 

Islam sendiri menganut suatu fikih yakni pengakuan terhadap hukum adat. Hukum adat yang dimaksud adalah adat jama iyyah yakni suatu kebiasaan yang dilakukan sekelompok orang secara berulang-ulang. Namun jika masih dalam bentuk adat fardliyah atau kebiasaan yang dilakukan secara berulang tetapi oleh personal orang belum bisa dijadikan sumber penetapan hukum. Hal ini sekaligus juga menegaskan bahwa Islam cukup kooperatif dengan fenomena serta dinamika kebudayaan. Proses asimilasi antara budaya Jawa dengan budaya Islam kemudian menghasilkan apa yang disebut dengan istilah Ritual dan Tradisi Jawa Islami.

Ada banyak ritual Jawa yang dipaparkan dalam buku ini. Bahasa antropologis itu dijelaskan penulis melalui pendekatan tafsir agama. Di antaranya ia menjelaskan makna “sesaji” sebagai bentuk ekspresi ungkapan syukur dan pendekatan diri kepada Tuhan dengan harapan dijauhkan dari kekuatan-kekuatan negatif. Mengenai sarana yang digunakan dalam kebanyakan ritual misalnya kemenyan, menurut penulis, tak lain hanyalah bagian dari media.

Jika kemudian banyak Muslim yang menganggap kemenyan sebagai bagian dari ritual mistik adalah sesuatu yang wajar, mengingat juga sering digunakan untuk praktik-praktik musyrik. Pada dasarnya, pembakaran kemenyan dalam banyak ritual masyarakat Jawa merupakan usaha untuk mempermudah pencapaian khusyu (tahap hening) dan tadharru (mengosongkan diri), karena zat yang terkandung dalam kemenyan ketika dibakar, menghasilkan bau yang cukup merangsang sekaligus bersifat aromaterapis.

Ritual lainnya yakni, upacara Ngapati atau disebut juga Ngupati. Ritual 4 bulan masa kehamilan oleh masyarakat Jawa ini, ditandai dengan upacara pemberian makan yang salah satu menunya adalah ketupat. Agaknya ritual ini pun tak hanya terjadi di Indonesia, namun juga dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Muslim di Asia Tenggara. Dalam Islam, ritual Ngapati didasarkan atas hadits yang berbunyi; “Bahwa pada masa usia 120 hari dari kehamilan atau 4 bulan, maka Allah meniupkan roh kepada janin dalam kandungan. Sementara ruh ditiupkan, pada saat itu ditentukan juga rezeki dan ajalnya.”

Tiga bulan kemudian tepatnya di usia kandungan 7 bulan juga diadakan ritual yang oleh masyarakat Jawa disebut Mitoni atau Tingkepan.  Dipilihnya bulan ke-7 masa kehamilan disebabkan karena bentuk bayi pada usia itu sudah sempurna. Bentuk upacaranya sama dengan Ngapati yakni berupa sedekahan dan penyampaian doa-doa agar bayi yang akan dilahirkan selamat dan sehat.

Banyak ritual Jawa lain yang dibahas secara Islami dalam buku setebal 500 halaman ini. Selain kaya dengan falsafah Jawa Islami, buku ini menarik karena mengurai fenomena dinamika keseharian masyarakat Jawa Islami. Bahkan buku ini tidak sekadar membahas ritual-ritual Jawa Islami, tetapi aspek yang lebih universal dalam pandangan Islam.

Sepertinya buku ini ditujukan sebagai bacaan sederhana, dimana kenyataan sehari-hari, terutama yang dilakoni masyarakat Jawa Muslim dijelaskan berdasarkan sumbernya, baik menurut pandangan adat maupun Kitab Suci Alquran.

Karenanya, membaca buku ini pada dasarnya, membaca tiga buku yang dirangkai menjadi satu, masing-masing Antropologi  Jawa, Tafsir Alquran dan Pandangan Islam terhadap Kebudayaan Jawa. Pada kesimpulannya, buku ini turut memperpanjang barisan pemikiran-pemikiran Islam yang demokratis, inklusif-pluralis.


* Pengelola  Renaisant Institute Tinggal di Yogyakarta

Senin 30 April 2012 13:3 WIB
Ketika Santri Jatuh Cinta
Ketika Santri Jatuh Cinta

Judul: Bentang Pasantren
Pengarang: Usep Romli H M
Penerbit: Kiblat Buku Utama
Cetakan: Ke-4 
Tahun : 2011
Tebal: 70 Halaman 
Peresensi: Abdullah Alawi
<>
Pesantren memiliki dunianya sendiri dengan kiai sebagai pusatnya (Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren, 1982). Dengan demikian, pesantren  memiliki ciri khas sendiri, norma sendiri yang berbeda dengan dunia luar, kendati hanya beberapa meter jaraknya. Meminjam istilah Gus Dur, yang demikian itu, disebut subkultur.

Begitu juga dalam urusan cinta. Pesantren punya cara sendiri mengekspresikannya. Hal itu bisa kita nikmati dalam novel berbahasa Sunda Bentang Pasantren karya Usep Romli HM.

Novel ini mengisahkan seorang santri bernama Aep, jatuh cinta kepada putri ajengan (gelar kiai di Pasundan) bernama Imas. Selain cantik jelita, Imas juga ahli qiroah sab’ah dengan suara merdu. Suaranya mirip Rofiqoh Darto Wahab (Penyanyi Lesbumi di tahun 60-an) (halaman 9)

Tetapi, tata tertib pesantren sangat ketat. Jangankan bercengkrama, untuk sekadar melihat wajah, susahnya bukan main. Hanya rindu yang menggelayut di dada Aep. Antara cemas dan harap campur-baur setiap malam. Apalagi ketika ia tahu santri-santri senior dan lurah santri juga menaruh hati kepada Imas. Diam-diam mereka sudah lebih dulu mengirim surat cinta. Persaingan dingin terjadi. 

Tanpa disengaja, Aep bertemu Imas di Pemandian. Keduanya hanya bertatapan, terpana, kemudian kabur. Tak dinyana, pertemuan itu dilaporkan kepada lurah santri. Meski tidak melakukan apa-apa, Aep ditajir, rambutnya dibotak sebelah. 

Ta’jir memicu Aep semangat mengaji. Ia melampiaskan kemarahannya dengan melalab kitab-kitab yang diajarkan. Karena ketekunannya, ia punya kesempatan untuk sorogan secara khusus kepada Mama Ajengan.

Nah, pada setiap sorogan itulah Aep merasa selalu ada suara berjinjit di pelupuh, kemudian mengintip di balik gorden tempat ia sorogan kepada Mama Ajengan.  

Jeung nu kacida nguntungkeun, eta saban-saban kuring rek asup ka kamar panglinggihan Mama nu husus diangge tempat anjeuna ngawuruk, jeung nyimpen kitab, reregan kamar sagigireunna sok katenjo oyag-oyagan. Lebah dinya sok katenjo aya teuteup ngajorelat, nyerangkeun saliwat, samemeh ngelok ka jero. (halaman 56-57)

(Yang menguntungkan, setiap aku masuk ke kamar Ajengan, khusus tempat sorogan, dan menyimpan kitab, gorden kamar sebelah tampak bergoyang-goyang. Di situlah aku melihat tatap selintas, kemudian hilang). 

Meski tidak jelas benar, Aep yakin suara pelupuh, gorden bergoyang dan pengintip itu adalah Imas, pujaan hatinya, bentang pasantren, yang bersuara merdu. Dan ia yakin itu pertanda cintanya gayung bersambut, berbalas. Berdasar keyakinan ini, ia makin semangat mengaji. 

Bentang Pasantren karya Usep ini mampu menampilkan kearifan pesantren seperti kebersamaan, setia kawan, taat aturan, menghormati orang tua, qonaah, dan menghargai waktu. Semua itu merupakan ajaran yang diilhami ayat Al-Quran, hadis, qaul ulama, dan teladan ajengan, yang sudah bersenyawa dengan kehidupan pesantren.  

Usep yang pernah mendapat anugerah sastra Rancage dari Yayasan Rancage ini, kisah percintaan dengan ruang pertemuan yang demikian sempit. Ia lihai menggambarkan suasana hati Aep dengan menukil Syair-Syair Kerinduan Umrul Qais. Usep paham dunia pesantren karena pernah ada di dalamnya. 

Pengarang kahot (populer) ini juga pandai menampilkan percakapan cerdas diselingi guyon sehingga pembaca bisa imut gelenyu (tersenyum) atau cacalakatan (tertawa terbahak-bahak). 

Sayangnya, Usep tidak terlalu detail dalam menggambarkan suasana pesantren ketika mengaji, dan jumlah kobong, misalnya. Dan perjumpaan Aep bersama Imas selalu berdasarkan kebetulan-kebetulan yang beruntun. 



* Pengamat sastra Sunda

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG