IMG-LOGO
Nasional
Harlah NU oleh MWC NU Pakong

Syaiful Jamil, Mencari Berkah dari Ikan Hias


Rabu 6 Juni 2012 07:30 WIB
Bagikan:
Syaiful Jamil, Mencari Berkah dari Ikan Hias

Pamekasan, NU Online
Hidup adalah perjuangan! Tampaknya slogan ini sangat tepat dilekatkan pada sosok Syaiful Jamil. Pria sebatang kara yang dulu dikenal sebagai penjual jam dan kacamata di perantauan itu, kini menekuni usaha sebagai pedagang ikan hias di Pamekasan. Ada banyak cerita berhikmah yang telah dibagikannya kepada NU Online.<>

Mas Jamil, begitu ia akrab disapa. Saat ditemui di sela-sela kesibukannya melayani pembeli Ahad (3/6) dalam Harlah NU ke-89 oleh MWC NU Pakong, Pamekasan, di Pendopo Kecamatan Pakong, Pamekasan, pihaknya menyambut dengan canda hangat tawaran wawancara dari NU Online.

"Mau tanya apa, bang? Beli dulu ikannya, baru nanti wawancara, hehe," ujarnya penuh keakraban.

Mencermati gelagat humoris tersebut, NU Online mengawali pertanyaan tentang nama-nama ikan hias yang dijualnya. Puluhan ikan tersebut dibungkus satu persatu ke dalam plastik putih yang berisi air bening.

"Ini namanya pembersih lumut," tunjuknya pada ikan yang bersisik loreng kehitaman. Mas Jamil menambahkan nama lili, balon, zebra, emas, lemon, layar, foki kodok, hiu karang, dan sebagainya.

"Saya tahu nama mereka karena telah lama kenalan," candanya, lagi.

Pria kelahiran Jember, 3 Mei 1974 ini menetap di Desa/Kecamatan Pakong, Pamekasan semenjak tahun 2000. Sebelumnya ia merantau ke mana-mana, bekerja secara sembrawutan. Selama dalam perantauan, ia membangun usaha sebagai penjual jam dan kacamata.

"Terakhir saya menjadi penjual jam dan kacamata di Bali," ungkapnya. "Modalnya berkisar Rp 2 jutaan. Hasil perharinya sekitar Rp 50 ribuan. Saya menjualnya tiap hari di pasar Tabanan, Bali."

Usaha yang dimulainya pada paruh tahun 1998 itu dipandang kurang mencukupi hidupnya. Maka, setelah melalui beberapa pertimbangan, Mas Jamil pun pindah dan mengontrak rumah di Pakong, Pamekasan.

Pindah ke Madura, Mas Jamil bekerja sembrawutan lagi. Kadang menjadi kuli bangunan. Kadang pula menjadi buruh tuan tanah. Ia betul-betul berjuang hidup mandiri di pulau baru serta kehidupan baru di pulau Madura.

Tiga tahun di Madura (2003), Mas Jamil menikah dengan gadis Madura yang memikat hatinya. Zulaiha, namanya. Perempuan yang umurnya bertaut lebih muda 7 tahun dengan Mas Jamil ini ikut membantu usaha suaminya.

"Terutama pemberian makan ikan tiap paginya. Istri saya sangat membantu," tegas Mas Jamil sembari memberi informasi bahwa dirinya berdagang ikan emas di paruh tahun 2009.

Bermodalkan uang Rp 1 juta, Mas Jamil kini mempunyai penghasilan Rp 60 sampai Rp 70 ribu tiap harinya.

Dari hasil pernikahannya, kini Mas Jamil dianugerahi keturunan dua: Sittiya (7) dan Riyan (4). Kedua putra-putrinya ini menjadi tantangan bagi Mas Jamil untuk terus bekerja keras.

Selain itu, Mas Jamil menyatakan bahwa tantangan utama selama berdagang ikan hias ialah matinya ikan.

"Kadang banyak ikan yang mati tampa pamit-pamit," katanya sambil melepas ketawa. "Tantangan berikutnya ialah biaya makan ikan yang mencapai Rp 60-an ribu dalam seminggu."

Sungguhpun demikian, hal itu tak menjadi beban pikiran Mas Jamil. Pihaknya sudah melakukan antisipasi dengan menabung tiap harinya.

"Tiap hari saya menabung sekitar Rp 15 sampai Rp 20 ribuan," bebernya. "Ketika rugi, saya tidak lantas putus asa."

Mas Jamil merasa bahwa pengalaman hidupnya selama ini merupakan suatu hal yang patut disyukuri. Sebab, menurut Mas Jamil, bentuk syukur itu bermula dari penerimaan kita pada sesuatu yang menyenangkan sekaligus yang kurang menyenangkan.

"Salah satunya ketika rugi dalam berusaha. Kita tak boleh menyerah," tandasnya.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq
Kontributor : Hairul Anam

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG