Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Internasional Keislaman Risalah Redaksi English Opini Obituari Video Tokoh Hikmah Arsip

LFNU: Rashdul Qiblat Terjadi Ahad, 16.27 WIB

LFNU: Rashdul Qiblat Terjadi Ahad, 16.27 WIB

Jakarta, NU Online
Berdasarkan almanak PBNU yang diterbitkan Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU), Rashdul Qiblat dapat dilaksanakan besok, Ahad (15/7), pukul 16.27 WIB. Rashdul Qiblat merupakan cara mudah menentukan arah kiblat dengan mengetahui posisi matahari pada saat-saat tertentu.

Pada detik-detik Rashdul Qiblat, posisi matahari berada tepat di atas Ka’bah di Masjidil Haram, Mekkah. Akibatnya, seluruh bayangan benda tegak akan menunjuk persis ke arah Ka’bah. Umat muslim di seluruh dunia dapat menentukan arah kiblat dengan berpatokan pada arah bayangan ini.

Kesempatan ini hanya terjadi dua kali selama satu tahun, yaitu bulan Mei dan Juli. Di tahun 2012, peristiwa Rashdul Qiblat terjadi pada 27 Mei lalu, pukul 16.18 WIB. Rashdul Qiblat adalah salah satu cara penentuan kiblat, selain menggunakan tongkat istiwa’ dan theodolite.

LFNU dalam almanak ini menjelaskan, secara geografis/astronomis, kota Mekkah terletak di 39o49’34” LU dan 21o25’21” BT. Dari Indonesia, koordinat ini berada pada arah barat laut (barat serong ke kenan) dengan derajat bervariasi antara 21o-27o menurut koordinat (garis lintang dan garis bujur) masing-masing daerah.

Arah Kiblat Indonesia, sambungnya, bukanlah ke barat. Jika ke barat maka semua wilayah Indonesia yang terletak di 34o7’ LU dan seterusnya (ke utara), seperti Aceh, akan lurus dengan Negara Ethiopia atau melenceng ke selatan sejauh 1750 km dari Mekkah. Begitu juga yang terletak di 4o39’ LS sampai 3o47’ LU, menghadap barat berarti lurus dengan Negara Kenya.

Terkait isu pergeseran arah kiblat pasca gempa dan tsunami, Badan Litbang LFNU menampik kesimpulan ini. Jika ada kiblat masjid atau musala yang kurang tepat, hal itu lebih dikarenakan pengukuran arah yang tak akurat ketika bangunan mulai didirikan. Kesalahan cukup diperbaiki dengan menggeser shaf sembahnyang, tanpa membongkar bangunan tempat ibadah.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya