IMG-LOGO
Nasional
ENSIKLOPEDI NU

Komite Hijaz

Rabu 29 Agustus 2012 15:0 WIB
Bagikan:
Komite Hijaz

KOMITE HIJAZ adalah nama sebuah kepanitiaan kecil yang diketuai oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Panitia ini bertugas menemui raja Ibnu Saud di Hijaz (Saudi Arabia) untuk menyampaikan beberapa permohonan.
<>
Sejak Ibnu Saud, Raja Najed yang beraliran Wahabi, menaklukkan Hijaz (Mekkah dan Madinah) tahun 1924-1925, aliran Wahabi sangat dominan di tanah Haram. Kelompok Islam lain dilarang mengajarkan mazhabnya, bahkan tidak sedikit para ulama yang dibunuh. 

Saat itu terjadi eksodus besar-besaran para ulama dari seluruh dunia yang berkumpul di Haramain, mereka pindaha atau pulang ke negara masing-masing, termasuk para santri asal Indonesia. 

Dengan alasan untuk menjaga kemurnian agama dari musyrik dan bid’ah, berbagai tempat bersejarah, baik rumah Nabi Muhammad dan sahabat termasuk makam Nabi hendak dibongkar.

Dalam kondisi seperti itu umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah merasa sangat perihatin kemudian mengirimkan utusan menemui Raja Ibnu Saud. Utusan inilah yang kemudian disebut dengan Komite Hijaz. 

Komite bertugas menyampaikan lima permohonan:

Pertama, Memohon diberlakukan  kemerdekaan bermazhab di negeri Hijaz pada salah satu  dari mazhab empat, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Atas dasar kemerdekaan bermazhab tersebut hendaknya dilakukan giliran  antara imam-imam shalat Jum’at di Masjidil Haram dan hendaknya tidak dilarang pula masuknya kitab-kitab yang berdasarkan  mazhab tersebut  di bidang tasawuf, aqoid maupun fikih ke dalam negeri Hijaz, seperti karangan Imam Ghazali, imam Sanusi dan lain-lainnya yang sudaha terkenal kebenarannya. Hal tersebut tidak lain adalah semata-mata untuk  memperkuat hubungan  dan persaudaraan umat Islam yang bermazhab sehingga umat Islam menjadi sebagi tubuh yang satu, sebab umat Muhammad tidak akan bersatu dalam kesesatan.

Kedua, Memohon untuk tetap diramaikan tempat-tempat  bersejarah  yang terkenal sebab tempat-tempat tersebut  diwaqafkan untuk masjid seperti tempat kelahiran Siti Fatimah dan bangunan Khaezuran dan lain-lainnya berdasarkan firman Allah “Hanyalah orang yang meramaikan Masjid Allah orang-orang yang beriman kepada Allah” dan firman Nya “Dan siapa yang lebih aniaya dari pada orang yang menghalang-halangi orang lain untuk menyebut nama Allah dalam masjidnya  dan berusaha untuk merobohkannya.” Di samping untuk mengambil ibarat dari tempat-tempat yang  bersejarah tersebut.

Ketiga, Memohon agar disebarluaskan ke seluruh dunia, setiap tahun sebelum datangnya musim haji menganai tarif/ketentuan beaya yang harus diserahkan oleh jamaah haji kepada syaikh dan muthowwif dari mulai Jedah  sampai pulang lagi ke Jedah. Dengan demikian orang  yang akan menunaikan ibadah haji dapat menyediakan perbekalan  yang cukup buat pulang-perginya dan agar supaya mereka tiak  dimintai lagi  lebih dari ketentuan pemerintah.

Keempat, Memohon agar semua hukum yang berlaku di negeri Hijaz, ditulis dalam bentuk undang-undang  agar tidak terjadi pelanggaran terhadap undang-undang tersebut.

Kelima, Jam’iyah Nahdlatul Ulama  memohon  balasan surat  dari Yang Mulia yang menjelaskan bahwa kedua orang delegasinya benar-benar menyampaikan  surat mandatnya dan permohonan-permohonan NU kepada Yang Mulia dan hendaknya surat  balasan tersebut  diserahkan kepada  kedua delegasi tersebut.

Karena untuk mengirim utusan ini diperlukan adanya organisasi yang formal, maka didirikanlah Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926, yang secara formal mengirimkan delegasi ke Hijaz untuk menemui Raja Ibnu Saud. 

Maka dapat disimpulkan bahwa Komite Hijaz yang merupakan respon terhadap perkembangan dunia internasional ini menjadi faktor terpenting didirikannya oeganisasi NU. Berkat kegigihan para kiai yang tergabung dalam Komite Hijaz, aspirasi dari umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah diterima oleh raja Ibnu Saud. (A. Khoiril Anam)

Bagikan:
Rabu 29 Agustus 2012 12:50 WIB
ENSIKLOPEDI NU
Kupatan
Kupatan

Kupatan berasal dari bahasa Jawa kupat. Bahasa Indonesia menyebutnya Ketupat. Kupat atau juga ketupat adalah makanan berasal dari beras yang dibungkus daun kelapa muda (jawa:janur) berbentuk prisma segi empat. Lalu ditanak hingga masak, sehingga hasilnya adalan nasi gumpalan yang menyatu dan padat, persis seperti lontong. 

<>

Tiap daerah memiliki tradisi tertentu berhubungan dengan ketupat. Di Betawi ketupat menjadi makanan khas yang dihidangkan tiap hari, dengan istilah ketupat lontong. Sedangkan di sepanjang patai utara Jawa, ketupat atau kupat hanya bisa dinikmati ketika lebaran idul fitri telah genap delapan hari.

Pada hari kedelapan ini, 8 Syawal, masyarakat hiruk pikuk membuat ketupat. Mereka saling bantu, kaum lelaki mempersiapkan daun kelapa yang muda, sedangkan kaum perempuan sibuk menyiapkan dan memasaknya. Tidak ketinggalan anak-anak sibuk dengan mainannya sendiri. Semuanya dalam suasana bersuka ria. Inilah suasana yang disebut kupatan.

Praktik kupatan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Di sebagian daerah, acara kupatan diramaikan dengan cara membawa ketupat ke masjid atau ke mushalla terdekat untuk berdoa bersama, lalu makan ketupat bersama pula. 

Di lain tempat praktik kupatan dilakukan dengan saling hantar ketupat sesama tetangga dan keluarga. Namun ada juga yang merayakan kupatan dengan cara melarung ketupat di pantai, acara ini biasanya dilakukan sekaligus dalam rangka sedekah laut, dan masih banyak lagi bentuk tradisi dalam rangka kupatan.

Kupat merupakan bentuk jamak dari kafi, yaitu kuffat yang berarti cukup, jelasnya, cukup akan pengharapan hidup ini setelah berpuasa satu bulan di bulan Ramadhan. 

Kemudian setelah lebaran pada tanggal satu Syawal dilanjutkan puasa sunah enam hari Syawal. Karena itu kupatan juga dinamakan ‘bodo kupat’ yaitu lebaran kupat bagi orang yang puasa sunah enam hari dari tanggal 2-7 syawal. Dengan demikian kupatan juga mempunyai momentumnya tersendiri dalam Islam.  

Kupat mempunyai makna filosofis yang mendalam. Kupat merupakan singkatan dari ‘ngaku-lepat’, artinya mengaku salah, mengakui pernah berbuat salah. Karena saling mengaku salah maka haruslah saling memaafkan antara satu dan lainnya. Sehingga hati menjadi putih bersih seputih nasi ketupat. 

Dalam sejarahnya tradisi kupatan merupakan upaya walisongo merangkul kebudyaan Jawa melalui pendekatan kultural. Mereka ingin memperkenalkan Islam sebagai agama yang membumi, agama semua manusia. Islam adalah agma yang meniadakan kelas sosial di dalamnya. 

Islam harus hadir sesuai dengan kebutuhan rakyatnya, bukan kebutuhan penguasa. Karena itu mereka harus menunjukkan bahwa dalam Islam juga ada semacam pesta suka cita sebagai rasa syukur akan keberhasilan berpuasa selama satu bulan penuh.

Sebagai penanda dalam pesta itu, para wali menggunakan kupat yang terbungkus dari janur. Mulai saat itulah janur menjadi simbol suasana suka cita seperti pesta perkawinan. Janur sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Arab yaitu ja-a nur artinya cahaya telah datang. 

Dengan demikian, kupat yang memanfaatkan janur sebagai bungkusnya dapat dimaknai datangnya sebuah cahaya pengharapan menuju rahmat Allah. Semoga masa depan menjadi lebih baik. Maka kupatan sebagai tradisi adalah usaha merawat semangat dan pengharapan akan adanya hari esok yang lebih baik karena selalu diberkahi Yang Maha Kuasa. (Ulil Abshar Hadrawi)

Rabu 29 Agustus 2012 11:51 WIB
ENSIKLOPEDI NU
Mangaji Duduk
Mangaji Duduk

Istilah di kalangan santri, warga NU, dan penganut rumpun ahlussunnah wal-jama’ah lainnya di Kalimantan Selatan, Tengah, dan Timur untuk menyebut pola pembelajaran agama yang tidak menggunakan sistem kelas. 
<>
Dalam sistem ini, tuan guru dengan duduk bersila mengajarkan sebuah kitab kepada seorang atau lebih santri di hadapannya. Dari praktik inilah istilah ‘mangaji duduk’ muncul. 

Setelah sistem kelas diperkenalkan pada tahun 1920an, termasuk juga pada pendidikan agama, sistem mangaji duduk bukan berarti tergeser. 

Hingga akhir-akhir ini sistem mangaji duduk masih diterapkan oleh beberapa pesantren, dengan pengertian yang lebih luas, yaitu sistem pengajaran agama yang tidak menggunakan kurikulum, kelas, batasan waktu yang pasti, dan pemberian ijazah sebagai simbol penyelesaian pelajaran. 

Dalam hal ini, ‘ukuran selesai’ diberikan oleh tuan guru kepada seorang santri yang dipandangnya telah menguasai kitab tertentu yang berisi ilmu alat atau bidang-bidang seperti tafsir, hadits, atau fiqih. Antara seorang santri dan santri lainnya dengan demikian bisa berbeda lama waktu belajarnya.

Di lain pihak, sistem mangaji duduk sekarang ini lebih banyak menjadi pelengkap dari sistem kelas. Santri-santri yang pada pagi hingga siang hari mengikuti pelajaran di madrasah, baik tingkat tsanawiyyah dan ‘aliyyah, umumnya akan melengkapi pelajarannya dengan mendatangi rumah atau langgar tuan guru untuk mengaji kitab secara langsung pada jam-jam sesudah shalat seperti setelah shalat Subuh, shalat Asar atau shalat Isa. 

Dalam banyak hal, untuk keperluan penguasaan ilmu-ilmu agama secara mendalam, sistem mangaji duduk tetap dianggap memiliki kelebihan. 

Pertama, karena tidak ada keinginan yang bersifat duniawi memperoleh nilai atau ijazah maka motivasi mempelajari agama dipandang lebih ikhlas dan tulus. 

Kedua, karena tidak dibatasi oleh waktu, proses belajar bisa lebih lama, mendalam, dan tuntas. 

Terakhir, memperoleh barakah baik dari pengarang kitab maupun dari tuan guru yang memberi pelajaran dengan pemberian ijazah yang terhubung dalam suatu rantai guru-murid hingga ke penyusun kitab yang dipelajari. Karena kelebihannya ini, tak heran jika hingga akhir-akhir ini, ulama-ulama terkemuka di kawasan ini kebanyakan tetap berasal dari produk sistem mangaji duduk ini. (Hairus Salim HS)   

Rabu 29 Agustus 2012 10:26 WIB
JELANG MUNAS-KONBES
Bagaimana Hukum Menaikkan Popularitas dengan Menebar Gosip?
Bagaimana Hukum Menaikkan Popularitas dengan Menebar Gosip?

Jakarta, NU Online
Bahtsul masail diniyyah atau pembahasan masalah-masalah keagamaan pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU di Surabaya pada 2006 lalu memunculkan fatwa mengenai haramnya infotainment yang sempat meramaikan publik media. Pada Munas di Cirebon pertengahan September mendatang, salah satu materi bahtsul masail NU akan membahas persoalan serupa, yakni bagaimana hukum menaikkan popularitas dengan menebar gosip?<>

Pembahasan mengenai gosip ada dalam salah materi Bahtsul Masail Dininyyah al-Waqi’iiyyah. Pembahasan dimulai dari pertanyaan masyarakat yang diajukan yakni mengenai pembunuhan karakter (character assasination).

Disebutkan dalam rumusan masalah yang diajukan, bahwa praktik character assasination saat ini sering dilakukan oleh seseorang dalam meraih sukses, dan mengejar reputasi, karir dan jabatan. Usaha mencoreng reputasi seseorang sudah biasa terjadi di kalangan politisi, pejabat publik, pejabat tinggi, ekskutif, professional dan lainnya, dengan memanipulasi fakta kebenaran, pemberitaan dusta, tuduhan melanggar norma agama, hukum atau social.

“Melalui cara seperti ini, akibatnya reputasi seseorang menjadi rusak, karir terhambat, dipecat dari jabatan sampai dikucilkan di tengah-tengah masyarakat,” demikian dalam rumusan masalah sebagaimana disampaikan wakil tim perumus Bahtsul Masail Dininyyah Waqi’iiyyah, KH Arwani Faishal. 

Pertanyaan yang diajukan, bagaimana pandangan fiqih tentang pembunuhan karakter sebagaimana digambarkan di atas? Dapatkah dilakukan tuntutan hukum terhadap pelaku pembunuhan karakter atas dasar perusakan nama baik?

Namun tim perumus bahtsul masail diniyyah waqiiyyah, juga menyoroti hal lain yang tidak kalah penting, yakni ketika pihak yang digosip atau dinodai nama baiknya malah merasa senang, sebab dia akan semakin tenar dan dapat menaikkan pendapatan honor. Bahkan dalam kasus terakhir ini ditengarahi pihak-pihak tergosip dan tim managemennya justru yang menebar gosip tersebut.

Bagaimana hukum praktik menaikkan popularitas dengan menebar gosip seperti terbut di atas, ini kan menjadi salah satu materi penting dalam bahtsul masail diniyyah waqiiyyah di Cirebon, 14-17 September 2012 mendatang.

Beberapa materi (masail) lain yang akan dibahas, antara lain, apakah memberikan zakat atau infaq dengan maksud agar dipilih sebagai pimpinan daerah itu disebut riswah (suap)? bolehkah memilih kembali pemimpin yang dinilai gagal? dan apakah aset koruptor tetap harus kembali kepada negara, meski yang bersangkutan sudah dihukum penjara?



Penulis: A. Khoirul Anam

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG