IMG-LOGO
Nasional
KASUS SAMPANG

KH Hasyim Muzadi: Syiah Bagian dari Islam

Sabtu 1 September 2012 19:35 WIB
Bagikan:
KH Hasyim Muzadi: Syiah Bagian dari Islam

Malang, NU Online
Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzdi menyatakan paham Sunni maupun Syiah yang dianut oleh masyarakat di Madura itu masih menjadi bagian dari Islam. 
<>
Kiai Hasyim menyatakan hal itu di Malang, Sabtu, 1 September. Untuk meredam sekaligus mengupayakan penyelesaian konflik antara Sunni dengan Syiah di Sampang, katanya, akhir pekan depan (8/9) dirinya bersama PWNU Jatim akan ke Sampang. 

"Sebaiknya para ulama ini melakukan dakwah yang isinya bimbingan dan penyuluhan serta argumen-argumen yang benar, jangan pakai kekerasan. Kelompok minoritas itu kalau dikerasi justru akan tambah militan," tandasnya.

Dan, tegasnya, yang lebih penting lagi, ulama yang tidak cocok dengan ulama lain jangan menggaet umat lainnya agar perbedaan paham ini tetap bisa hidup dan berkembang secara berdampingan tanpa harus melakukan kekerasan.

"Kita berharap masalah ini secara perlahan bisa dituntaskan dengan baik," tegasnya. 

Kiai Hasyim juga mengakui, masyarakat di Madura cenderung lebih taat kepada ulama ketimbang ajaran yang termaktub dalam kitab suci (syariat). Oleh karena itu, peran ulama untuk mendamaikan dua paham yang berselisih ini sangat penting dan sentral.

"Oleh karena itu, para ulama di Sampang ini harus didukung dengan berbagai informasi yang lebih luas agar penyelesaian konflik tersebut lebih obyektif dan proporsional, apalagi ulama di Madura memiliki peran penting sebagai panutan umat," tegasnya.


Redaktur : Hamzah Sahal
Sumber   : Antara

Tags:
Bagikan:
Sabtu 1 September 2012 18:45 WIB
Gus Mus: Halal bi Halal Tradisi Khas Indonesia
Gus Mus: Halal bi Halal Tradisi Khas Indonesia

Kudus, NU Online
Hari Raya Idul Fitri telah  menjadi momentum umat Islam untuk saling bermaaf-maafan antarsesama. Di kalangan  institusi organisasi maupun lembaga pemerintahan biasanya mengadakan forum Khusus atau tradisi bernama halal bi halal.
<>
Menurut Wakil Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri, halal bi halal merupakan tradisi khas yang dimiliki Indonesia. Di Mesir, kata Gus Mus,  tidak pernah menemukan tradisi yang telah lama mengakar dalam tradisi masyarakat Islam Indonesia ini.

"Saya lima tahun merayakan Idul Fitri di Mesir, tetapi tidak ada yangseperti di Indonesia. Ada orang yang sehabis shalat Idul Fitri saling mengunjungi satu sama lain untuk saling meminta maaf," terangnya dalam acara Halal Bi Halal Robithotul Mutakharrijin (alumni) Madrasah Diniyah NU Kradenan Kudus Sabtu (1/9).

Sebagai tradisi khas, jelas Gus Mus, kata halal bi halal dalam kamus bahasa Arab pun tidak ditemukannya. Bahkan di berbagai kamus bahasa Arab, termasuk Munjid, tidak menemukan kata halal bi halal.

"Saya mencari di berbagai kamus arab tidak menemukannya. Jadi halalbihalal ini bukanlah dari bahasa Arab,'' ungkapnya lagi. 

Kiai yang juga budayawan ini  baru menemukannya dalam kamus Bahasa Indonesia. Ia menjelaskan dalam kamus itu disebutkan, artinya maaf memaafkan setelah Ramadan sebagai kebiasaan khas di Indonesia.

"Ini artinya halal bi halal  asli dari  bahasa Indonesia, hanya bahan bakunya saja dari bahasa Arab," katanya di depan ratusan alumni Madrasah Diniyah NU Kradenan Kudus 


Redaktur    : Hamzah Sahal
Kontributor : Qomarul Adib

Sabtu 1 September 2012 15:30 WIB
JELANG MUNAS-KONBES
Pesantren Kempek Terus Berbenah
Pesantren Kempek Terus Berbenah

Cirebon, NU Online
Kurang dari dua minggu pelaksanaan musyawarah nasional (munas) dan konferensi besar (konbes) NU di pesantren Kempek Cirebon terus berbenah mempersiapkan diri menerima tamu yang merupakan para ulama dan pengurus NU dari seluruh Indonesia.
<>
Pembangunan Gelanggang Olah Raga (GOR) yang menjadi tempat pembukaan dan pertemuan dengan presiden sudah mencapai 90 persen dan terus dikebut pengerjaannya agar bisa nyaman ketika digunakan.

Halaman pesantren yang akan menjadi tempat sidang dan penginapan peserta juga terlihat rapi karena sudah dipasangi paving block sehingga rata dan bisa menjadi tempat parkir kendaraan dengan enak. Demikian pula, ruang-ruang kelas yang disiapkan sebagai penginapan sudah dicat dan dirapikan. Beberapa toilet baru juga dibangun 

KH Ja’far Aqil Siroj, pengasuh pesantren Kempek menegaskan, pihaknya akan memberi pelayanan terbaik kepada peserta dan undangan munas dan konbes. “Pesantren harus bersih sehingga nyaman untuk pelaksanaan acara. Kami akan terus menyempurnakan beberapa fasilitas dan kebutuhan yang belum tersedia,” tandasnya.

Aparat TNI juga sudah diterjunkan ke lokasi pesantren untuk membantu merapikan pesantren dan menjaga keamanan. Mereka bekerja bakti membersihkan sampah yang ada di lingkungan pesantren.

M Dardiri, salah satu anggota TNI kepada NU Online menjelaskan, TNI sudah diterjunkan sejak empat hari yang lalu dan akan terus berada di pesantren sampai pelaksanaan munas dan konbes. Mereka bergiliran bertugas. Pada Sabtu ini, terdapat 35 orang yang bertugas. “Ini merupakan bentuk pengabdian TNI kepada masyarakat,” tandasnya. 


Penulis: Mukafi Niam

Sabtu 1 September 2012 14:0 WIB
ENSIKLOPEDI NU
Rabithatul Ulama Makassar
Rabithatul Ulama Makassar

Rabithatul Ulama (RU), adalah embrio kelahiran NU pertama kali di kota Makassar, Sulawesi Selatan. Dibentuk pada 8 April 1950 atas prakarsa KH Ahmad Bone, KH Muhammad Ramli dan beberapa ulama sejawatnya. 
<>
RU merupakan tempat berhimpun para ulama dari berbagai daerah setelah mereka berpencar-pencar memperjuangkan kemerdekaan di masa revolusi sejak Proklamasi 1945. 

Kiai Ahmad Bone, Wafat 12 Februari 1972 pada usia 102 tahun, yang juga dikenal sebagai “Kali Bone” (qadhi atau hakim agama di bekas Kerajaan Bone) berjuang bersama dengan Raja Bone Andi Mappanyukki. Raja Bone ini dikenal yang pertama kali membentuk organisasi ulama NU di wilayah kerajaannya pada tahun 1930-an. 

Kiai Ramli berjuang di daerah Luwu, bersama dengan Raja Luwu, Andi Djemma. Kiai nasionalis ini dikenal sebagai seorang Sukarnois di Palopo masa itu. Sementara para ulama RU lainnya yang kebanyakan di kota Makassar, sebelumnya berjuang di kampung-kampung kota, seperti di Bontoala, memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. 

Kepengurusan awal dipegang oleh Kiai Ahamd Bone sebagai ketua, sementara Kiai Ramli sebagai wakilnya. Sekretaris dijabat oleh KH Saifuddin, Qadhi Polewali. Sedangkan KH Sayid Jamaluddin Puang Ramma, seorang ulama termuda ketika itu dan pembantu pada Qadhi Gowa H. Mansyur Daeng Limpo, mengetuai Bidang Pendidikan dan Dakwah. 

Para ulama lainnya yang bergabung dengan RU, di antaranya: KH Sayid Husain Saleh Assegaf (waktu itu menjabat sebagai Konsul NU Sulawesi Selatan), KH Paharu, KH Muhammad Nuh, KH Abdul Muin, KH Muhammad Said, KH Abdur Razaq, KH Abdur Rasyid, KH Abdul Haq, KH Muhammad Saleh Assegaf, KH Abdurrahman Daeng Situju, dan KH. Muhammad Asap. 

Kantor RU, yang merupakan rumah kediaman Kiai Ahmad Bone, bertempat di Jalan Diponegoro, di distrik Matjini Aijo, Makassar. Di jalan itu pula berdiam makam pahlawan nasional Pangeran Diponegoro.

RU kemudian menfasilitasi terbentuknya Partai Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan pada tahun 1952 atas permintaan KH Wahid Hasyim (waktu itu sebagai Menteri Agama dan Ketua PBNU). Semua pengurus dan anggota RU masuk ke NU. Kecuali KH Muhammad Saleh Assegaf dan KH Abdul Razaq tetap bertahan masing-masing di Masyumi dan di PSII. Demikian pula, ulama kharismatik KH Abddurrahman Ambo Dalle, pendiri DDI (Daruddakwah wal-Irsyad), yang sempat bertemu dengan Kiai Wahid juga bertahan di PSII. Tapi semuanya tetap mendukung perjuangan NU menegakkan Islam Ahlussunnah Waljamaah di tanah Bugis-Makassar.

Menurut penuturan Puang Ramma, RU dibentuk dengan tujuan memberikan pertimbangan kepada pemerintah mengenai masalah-masalah keagamaan yang muncul di tengah masyarakat. Para ulama RU bukanlah orang-orang yang jauh dari pusat pengambilan keputusan. Mereka adalah pejabat tinggi di daerah masing-masing dalam kapasitasnya sebagai qadhi. RU juga berfungsi sebagai forum bahtsul masail, yang membahas masalah-masalah keagamaan yang lebih aktual. 

Selain itu, RU juga berfungsi sebagai wadah kaderisasi ulama. Metode yang digunakan oleh RU adalah melalui pengajian kitab kuning. Seorang calon ulama tidak hanya mengaji kepada seorang guru. Puang Ramma misalnya ditempa melalui keketatan dan ketaatannya dalam berguru kepada para seniornya di RU, seperti Kiai Ahmad Bone dan Kiai Ramli. 

Cara lainnya adalah  melalui motivasi dan pemberian kesempatan untuk tampil di muka umum dalam acara-acara keagamaan. Apabila seorang calon sudah memenuhi syarat sebagai ulama, RU melakukan sidang penganugerahan gelar keulamaan tersebut.

Keanggotaan RU mencerminkan konfigurasi sosial masyarakat Bugis-Makasar, dengan empat pilarnya: to panrita (ulama), to sugi (pengusaha), to acca (cendekiawan), dan to warani (kaum bangsawan dan anak muda). Keempat pilar ini dihimpun dalam jajaran pengurus dan anggota RU. Dan, setelah RU bergabung ke dalam Partai NU, keempat pilar ini kemudian menjadi kunci kemenangan NU di Sulawesi Selatan pada Pemilu 1955. Mereka memberi kontribusi sekitar 12 persen bagi keseluruhan suara NU di tingkat nasional. 

Ada dua ulama pengurus RU yang kemudian masuk Konstituante (1956-1959) mewakili Partai NU, yaitu Kiai Muhammad Ramli dan Kiai Sayid Jamaluddin Puang Ramma. Kiai Ramli wafat pada 3 Februari 1958 sewaktu menjadi anggota Konstituante di Bandung, dan dimakamkan di Pemakaman Arab, Bontoala, Makassar. Sementara Kiai Puang Ramma wafat pada 8 September 2006 di Makassar. (Ahmad B)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG