IMG-LOGO
Daerah

LPPNU Kudus Tolak RPP Tembakau

Ahad 9 September 2012 6:14 WIB
Bagikan:
LPPNU Kudus Tolak RPP Tembakau

Kudus, NU Online
Sikap penolakan terhadap Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Tembakau, kembali disuarakan. Kali ini penolakan disampaikan Pengurus cabang Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kudus. RPP ini dinilai sangat merugikan petani dan berdampak pula pada industri.<>

Ketua LPPNU Kudus H. Masduki di Kudus Sabtu (8/9) mengutarakan, sikap penolakan RPP Tembakau dikarenakan Industri ini menjadi gantungan hidup masyarakat, khususnya di Kudus, sehingga harus diperjuangkan eksistensinya.

Masduki mengungkapkan, sikap ini sebenarnya tidak hanya dilakukan di Kudus saja  melainkan LPPNU secara nasional juga menolak RPP Tembakau ini.

Beberapa kali, tutur dia, LPPNU se-Indonesia telah menggelar pertemuan nasional di berbagai daerah diantaranya Serang, Gresik, dan Yogyakarta. Dalam pertemuan tersebut  menghasilkan  kesepakatan untuk menolak RPP Tembakau.

"Pada pertemuan ke delapan di Cirebon, LPPNU memutuskan secara bulat menolak RPP Tembakau,'' terang Alumnus IKIP Negeri Yogyakarta yang saat ini giat mendampingi petani tani organik.

Saat di Cirebon yang dihadiri ketua umum PBNU KH Said Aqil Siroj,  RPP Tembakau dipandang akan mengancam keberlangsungan industri rokok (kretek). 

"Jika disahkan, tentu akan berdampak pada petani tembakau dan juga buruh,'' kata Masduki mengakhiri perbincangan. 



Redaktur   : A. Khoirul Anam
Kontributor: Qomarul Adib

Bagikan:
Sabtu 8 September 2012 7:2 WIB
Fatayat NU Kudus Adakan Pelatihan Tata Boga
Fatayat NU Kudus Adakan Pelatihan Tata Boga

Kudus, NU Online
Pimpinan Cabang Fatayat Cabang NU  Kabupaten Kudus bekerjasama dengan UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Dinsosnakertrans mengadakan Pelatihan Tata Boga. Pelatihan dilaksanakan Oktober mendatang dengan jumlah peserta maksimal 20 orang.<>

Ketua PC Fatayat NU Kudus Karyati Inayah mengatakan, pelatihan ini merupakan upaya Fatayat dalam mengakses peluang emas yang ditawarkan BLK kudus. Tujuannya, untuk mencetak kader perempuan yang mandiri, terampil dan sejahtera.

"Latihan ini juga sebagai bentuk tanggung jawab Fatayat melaksanakan pemberdayaan kader dalam rangka mewujudkan usaha pembangunan ekonomi yang mandiri,"ujarnya kepada NU Online, Jum'at (7/9).

Kegiatan ini, jelas Karyati, digagas oleh pengurus  Bidang Ekonomi Fatayat sebagai perwujudan dari program peningkatan keterampilan dan kemandirian ekonomi bagi para kader.

"Melalui keterampilan ini, diharapkan nanti bisa menciptakan lapangan kerja baru di bidang usaha Boga bagi kader Fatayat," harapnya.

Ketua Bidang Ekonomi Fatayat Sri Murwati menambahkan Kegiatan ini baru kali pertama dilaksanakan di tahun pertama masa kerja PC terhitung bulan April 2012. Untuk tahun berikutnya, kerjasama ini diupayakan untuk bisa diperluas ke jajaran PAC Fatayat se Kudus. 

"Karena untuk tahun ini, peserta dari PAC masih menggabung dengan peserta umum lain yang mendaftar langsung ke BLK Kudus."terangnya sambil menjelaskan  pelatihan ini semuanya gratis.



Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Qomarul Adib



Jumat 7 September 2012 15:25 WIB
KESENIAN
NU Jogja Apresiasi Tarian Emprak
NU Jogja Apresiasi Tarian Emprak

Jogjakarta, NU Online
Salah satu kesenian klasik, Emprak, yang sudah hidup sejak jaman Demak dan berkembang pada masa Sultan Agung, telah menyemarakkan acara Syawalan PWNU Daerah Istimewa Yogyakatya (DIY), Ahad 2 September.
<>
Wakil Ketua PWNU DIY M. Jadul Maula mengatakan komitmen warga NU untuk menguatkan kembali tradisi para leluhur yang agung maknanya. "Kesenian ini merupakan warisan leluhur dalam mendakwahkan ajaran kebajikan kepada masyarakat. Dengan strategi kesenian inilah, ajaran kebajikan yang ada dalam agama bisa diterima dengan baik oleh masyarakat, sehingga terjadi hubungan yang harmonis dan sinergis antara semangat beragama dan semangat berbudaya," jelas Jadul, seperti yang dilaporkan Taufiq.

“Kesenian tradisional Emprak merupakan perpaduan antara seni musik, vokal, tari dan sastra. Kesenian ini merupakan perkembangan dari tradisi lisan, yang sudah turun temurun," lanjutnya.

Ada dugaan, kata Jadul, embrio kesenian ini muncul sejak zaman Demak dan berkembang zaman Sultan Agung. Saat ini, naskah tertulis shalawat ini merujuk pada kitab Telodho yang ditulis atas inisiatif kanjeng Gusti Yudhonegoro. Berisi sejarah kisah perjuangan Nabi Muhammad dan unsur nilai-nilai agama islam,maupun nilai moral etika Jawa. 

"Dalam rangkaian pertunjukan kesenian ini  pembacaan rawen atau riwayat tentang sejarah Nabi Muhammad dilakukan oleh dalang. Dalang berperan sebagai pemegang alur pertunjukan, dalang juga berhak melakukan pengembangan cerita namun harus sesuai dengan pokok isi cerita.” 

Bagi Jadul, meskipun kesenian ini temanya shalawat namun kesenian ini kental akan unsur budaya Jawa, tercermin dari syair dan tembangnya hampir secara keseluruhan berbahasa Jawa dan irama yang digunakan pun merupakan irama pakem tembang Jawa seperti kinanthi, sinom, dan mijil.

“Model penggarapan pertunjukan kesenian shalawatan Emprak dekat dengan model penggarapan kesenian wayang. Sebab peran dalang sebagai juru cerita dan peran penari yang disebut dengan wayang. Alat musik atau instrumen yang digunakan adalah kendang, kempul, kentang, kentheng, dan gong." lanjutnya.

"Semangat menghidupkan warisan leluhur ini, menjadi tugas bersama anak bangsa. Setiap generasi mesti tetap menjaga warisan leluhur, sehingga identitas budaya bangsa tetap terjaga di tengah gempuran budaya modern yang pragmatis," pungkasnya. 



Redaktur : Hamzah Sahal
Sumber   : PWNU DIY

Jumat 7 September 2012 13:18 WIB
KUA Cilacap Selatan Tingkatkan Peranan Penyuluh Agama
KUA Cilacap Selatan Tingkatkan Peranan Penyuluh Agama

Cilacap, NU Online
Kepala KUA Cilacap Selatan Zen Muzayyin mengatakan bahwasanya tugas penyuluh agama Islam sekarang ini berhadapan dengan suatu kondisi masyarakat yang berubah dengan cepat yang mengarah pada masyarakat fungsional, masyarakat teknologis, masyarakat saintifik dan masyarakat terbuka. <>

Dengan demikian, setiap penyuluh agama secara terus menerus perlu meningkatkan pengetahuan, wawasan dan pengembangan diri, dan juga perlu memahami visi penyuluh agama serta menguasai secara optimal terhadap materi penyuluhan agama itu sendiri maupun teknik menyampaikannya sehingga ada korelasi faktual terhadap kebutuhan masyarakat pada setiap gerak dan langkah mereka.

Oleh karena itu, penyuluh agama Islam mempunyai peranan penting dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara. Berdasarkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 79 tahun 1985 bahwa ”Penyuluh Agama mempunyai peranan sebagai pembimbing masyarakat, sebagai panutan dan sebagai penyambung tugas pemerintah” tegasnya.

Selanjutnya, penyuluh agama Islam mempunyai fungsi yang sangat dominan dalam melaksanakan kegiatannya.

Menurut Zen, dalam fungsinya fungsi informatif dan edukatif, penyuluh agama Islam memposisikan sebagai da’i yang berkewajiban menda’wahkan Islam, menyampaikan penerangan agama dan mendidik masyarakat dengan sebai-baiknya sesuai ajaran agama. 

Fungsi konsultatif, ialah penyuluh agama Islam menyediakan dirinya untuk turut memikirkan dan memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat, baik secara pribadi, keluarga maupun sebagai anggota masyarakat umum. 

Fungsi advokatif, ialah penyuluh agama Islam memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk melakukan kegiatan pembelaan terhadap umat atau masyarakat dari berbagai ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan yang merugikan aqidah, mengganggu ibadah dan merusak akhlak.

Menurut Suryo Pranoto, salah seorang Ketua Paguyuban penyuluh Agama Islam (PPAI) Cilacap Selatan, keberhasilan seorang penyuluh agama Islam dalam melaksanakan tugasnya di masyarakat dipengaruhi oleh beberapa komponen diantaranya komponen strategi dakwah yang dipilih dan dirumuskan. 

Karena kemajemukan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras, tradisi, bahasa, serta status sosial ekonomi yang berbeda-beda, menghadapi kondisi ini seorang penyuluh harus menyusun strategi yang tepat dalam pelaksanaan tugas kepenyuluhannya demi tercapainya tujuan tugas itu. Disamping itu materi penyuluhan tergantung pada tujuan yang hendak dicapai, namun secara global dapatlah dikatakan bahwa materi penyuluhan dapat diklasifikasikan menjadi tiga hal pokok, yaitu ” masalah keimanan (aqidah), masalah keislaman (syari`ah) dan masalah budi pekerti (akhlakul karimah)”. 

Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Suryo

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG