IMG-LOGO
Tokoh

Haji Abu Bakar Aceh

Senin 10 September 2012 13:14 WIB
Bagikan:
Haji Abu Bakar Aceh

Cendekiawan terkenal dari Aceh, dan juga penulis buku-buku keagamaan, filsafat dan kebudayaan. Di antaranya telah menghasilkan karya magnum opus berjudul Sedjarah H.H.A. Wachid Hasjim dan Karangan Tersiar, terdiri dari 975 halaman, terbit pada tahun 1957, khusus untuk memperingati empat tahun wafatnya Kiai Wahid Hasyim. 
<>
Lahir dengan nama Abu Bakar pada 18 April 1909 di Peureumeu, Kabupaten Aceh Barat, dari pasangan ulama. Ayahnya adalah Teungku Haji Syekh Abdurahman. Ibunya bernama Teungku Hajjah Naim. Wafat pada 18 Desember 1979 di Jakarta, dan dimakamkan di Pemakaman Karet Jakarta. 

Tambahan “Aceh” di belakang namanya merupakan pemberian Presiden Sukarno yang kagum akan keluasan ilmu putra Aceh ini. “Ensiklopedia Berjalan” adalah sebutan teman-temannya tentang hakikat ilmu pengetahuannya.

Sejak kecil belajar di beberapa dayah terkenal di Aceh. Di antaranya di dayah Teungku Haji Abdussalam Meuraxa, dan pada dayah Manyang Tuanku Raja Keumala di Peulanggahan di Kutaraja (Banda Aceh). Juga belajar di Volkschool di Meulaboh, dan di Kweekschool Islamiyah di Sumatera Barat. Kemudian pindah ke Yogyakarta, dan Jakarta. Menguasai sejumlah bahasa asing, seperti Jepang, Belanda, Inggris, Arab, dan sebagian Perancis dan Jerman. 

Di masa-masa mudanya aktif di sjeumlah ormas dan partai. Pada 1923 aktif di Sarekat Islam di Aceh Barat, pada 1924 di Muhammadiyah, dan di Partai Masyumi sejak 1946. Di masa kepemimpinan Menteri Agama KH. Wahid Hasyim, Abu Bakar Aceh bekerja di Departemen Agama, membantu menteri dalam urusan penataan pelayanan haji. 

Selanjutnya, dipercaya oleh Kiai Wachid memimpin jamaah haji ke Mekah pada 1953. Karena keluasan ilmu dan kacakapannya dalam tulis-menulis, ia dipercaya mengomandani bidang publikasi Departemen Agama, sebelum kemudian menjadi staf ahli Menteri Agama. 

Setelah Pemilu 1955, ia yang dikenal tawadlu dan tidak suka menonjolkan diri itu masuk menjadi anggota Konstituante mewakili Partai NU.

Setelah Kiai Wahid wafat pada 18 April 1953, Abu Bakar Aceh langsung mengambil inisiatif untuk menulis biografi dan pemikiran Kiai Wahid, sebagai penghormatan kepada tokoh NU itu. Empat tahun kemudian, buku itu terbit di Jakarta (kini sudah dicetak ulang pada 2011 oleh Panitia 1 Abad KH Wahid Hasyim).

Pengalamannya dalam menulis buku tentang Kiai Wahid ini dimulai pada waktu Menteri Agama KH Masjkur, pengganti Kiai Wahid, menggelar acara peringatan setahun wafatnya Kiai Wahid dengan menyerahkan lukisan tentang Kiai Wahid kepada Nyonya Solehah, sang isteri dan juga ibu Abdurrahman Wahid. Kemudian dibentuklah panitia peringatan, yang salah satunya berbentuk penerbitan biografi beliau. Dan Abu Bakar, selaku Kepala bagian Penerbitan Kementerian Agama, ditunjuk sebagai penulis.

Abu Bakar dikenal tekun menggarap penulisan biografi tersebut. Ia bekerja siang dan malam, menghubungi para keluarag Kiai Wahid, hingga mengumpulkan foto-foto dan tulisan-tulisan yang pernah dimuat media. Salah seorang yang dihubungi untuk memperkaya bahan-bahan tersebut Kiai Abdul Karim Hasyim (dikenal Akarhanaf), adik Kiai Wahid. 

Setelah setahun mengumpulkan semuanya, ia mulai menulis, hingga menjadi buku seperti sekarang. Buku ini menunjukkan keluasan dan kedalaman pengetahuan Abu Bakar tentang pesantren dan dunia ulama. 

Kedekatan dan keakrabannya dengan kalangan reformis-modernis selama di Yogyakarta, tidak menghalanginya juga untuk membangun suasana harmonis dengan komunitas pesantren. Dalam sejumlah tulisannya, Abu Bakar menunjukkan kekagumannya dan bahkan menimba banyak dari tradisi keilmuan pesantren. 

Dalam satu tulisannya, “Kebangkitan Dunia Baru Islam di Indonesia”, untuk satu bab buku terjemahan Stoddard, Dunia Baru Islam (1966), ia menunjukkan kontribusi masing-masing, yang reformis-modernis-tradisi maupun Kaum Tua-Kaum Muda, bagi kemerdekaan Indonesia. Semua tulisan diarahkan pada pendekatan rekonsiliasi, titik temu dan pencarian sintesa-sintesa baru bagi kemajuan dan pengumpulan kekuatan bangsa ini. Isi tulisan macam ini tidak kita temukan pada sejumlah sarjana Indonesia didikan Amerika, Eropa maupun Australia, yang selalu mencari titik lemah pada komunitas pesantren, pengumpulan titik kelemahan bangsa ini, serta penonjolan titik-titik tengkar di antara berbagai komponen bangsa ini. 

Beberapa karya Abu Bakar Aceh lainnya: Sejarah Al-Qur'an, Tekhnik Khutbah, Sejarah Ka’bah, Perjuangan Wanita Islam, Kemerdekaan Beragama, Sejarah Mesjid, Pengantara Sejarah Sufi dan Tasawuf, Pengantar Ilmu Tharikat, Perbandingan Mazhab Ahlussunnah Waljamaah. 

Selain itu juga menerjemahkan beberapa karya para penulis Eropa dan orientalis tentang sejarah Aceh ke dalam bahasa Indonesia. Menulis dalam bahasa Aceh buku pelajaran untuk sekolah-sekolah Aceh masa kolonial, seperti Meutia dan Lhee Saboh Nang, dan juga membantu penyusunan kamus Aceh, Groot Atjehsch Woordenboek, yang dibuat oleh Husein Djajadiningrat. (Ahmad Baso)

Tags:
Bagikan:
Senin 27 Agustus 2012 15:26 WIB
HAUL KE-112
Kiai Saleh Darat, dari Pengarang hingga Pejuang
Kiai Saleh Darat, dari Pengarang hingga Pejuang

KH Muhammad Shalih bin Umar as-Samarani, terkenal dan akrab dengan nama KH Saleh Darat, adalah ulama terkemuka di peralihan abad 20 yang menjadi guru para ulama Jawa terkemuka generasi berikutnya.

<>Selain itu, ia juga dikenal sebagai penulis prolifik kitab-kitab keagamaan beraksara Arab dalam Bahasa Jawa. Kiai Saleh Darat adalah putera Kiai Umar, yang seperti Kiai Maja, merupakan pejuang dan penasehat keagamaan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. 

Ia dilahirkan di Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara sekitar tahun 1820. Pelajaran agamanya yang awal diperolehnya dari ayahnya sendiri, dan dilanjutkan berguru kepada beberapa ulama, antara lain: KH Muhammad Syahid (Kajen, Pati), KH Raden Muhammad Shalih bin Asnawi (Kudus), Kiai Ishak Damaran (Semarang), Kiai Abu Abdillah Muhammad al-Hadi bin Baquni (Semarang), Ahmad Bafaqih Ba`alwi (Semarang), dan Syekh Abdul Ghani Bima (Semarang). 

Ketika Diponegoro ditangkap dan perlawanannya dihancurkan oleh Belanda, Kiai Umar beserta anak lelakinya Saleh, melarikan diri ke Singapura dan kemudian ke Makkah. Selanjutnya di kota suci ini Saleh mempelajari Islam hingga bertahun-tahun. Teman seangkatannya adalah Syeikh Nawawi Banten dan Syaikhuna Cholil Bangkalan. 

Dalam kitab Al-Mursyid al-Wajiz yang ditulisnya, tersebut nama-nama gurunya ketika belajar di Mekkah antara lain: Syekh Muhammad al-Maqri al-Mashri al-Makki, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah, Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Ahmad al-Nahrawi al-Mishri al-Makki, Sayid Muhammad Shalih az-Zawawi al-Makki, Syekh Zaid, Syekh Umar al-Syami, Syekh Yusuf as-Sanbalawi al-Mashri, dan Syekh Jamal.    

Sekembali dari Makkah, Kiai Saleh diambil menantu oleh Kiai Murtadha, salah seorang kiai terkemuka zaman itu, dan kemudian membuka sebuah pesantren di Kampung Mlayu Darat, Semarang. Dari sinilah asal nama ‘Darat’ yang disematkan kepadanya. 

Santri-santrinya yang berjumlah ratusan datang baik dari Semarang sendiri maupun daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur lainnya seperti Kendal, Pekalongan, Demak, Rembang, Salatiga, Yogyakarta, Tremas dan lainnya. 

Beberapa santrinya menjadi tokoh dan ulama terkemuka di paro pertama abad 20 seperti KH Hasyim Asy`ari (Tebuireng Jombang, pendiri NU), KH Ahmad Dahlan (Yogyakarta, pendiri Muhammadiyah), KH Mahfuzh (Tremas), KHR Dahlan (Tremas), Kiai Amir (Pekalongan), Kiai Idris (Surakarta), KH Abdul Hamid (Kendal),  Kiai Khalil (Rembang), Kiai  Penghulu  Tafsir Anom  (Kraton Surakarta). Tak berlebihan jika beliau disebut sebagai ‘guru ulama Jawa.’

Kitab-kitab yang ditulis oleh Kiai Saleh semuanya menggunakan Bahasa Jawa pesisiran atau istilah di dalam kitabnya ditulis al-Lughah al-Jawiyyah al-Merikiyyah (Bahasa Jawa Setempat), dan sebagian besar merupakan  karya  saduran dan terjemahan atau khulashah (ringkasan) dari suatu kitab. 

Seperti ditulis di bagian akhir dalam salah satu kitabnya, Majmu’ah asy-Syari’ah al-Kafiyatu lil ‘Awam, ‘...kerono arah supoyo pahamo wong-wong amsal ingsun awam kang ora ngerti boso Arab muga-muga dadi manfaat bisa ngelakoni kabeh kang sinebut ing njeroni iki tarjamah...,” kitab-kitab yang ditulis Kiai Saleh jelas ditujukan untuk kalangan yang tidak mengerti Bahasa Arab. 

Kiai Saleh menerjemah, menyadur dan meringkas kitab-kitab besar seperti Ihya ‘Ulumuddin karya al-Ghazali atau  Matan al-Hikam karya Ahmad bin `Athaillah al-Iskandari untuk disajikan ke pembelajar awam dan tidak mengerti bahasa Arab tersebut. Saduran dan ringkasan yang dibuat Kiai Saleh sangat padat, ringkas, dan mengena. Tidak aneh kalau hingga sekarang pun sebagian dari kitab-kitabnya masih dicetak oleh Karya Toha Putera, Semarang, dan itu artinya masih terus dibaca dan dipelajari, terutama di daerah Jawa Tengah pesisiran. 

Dalam kitab-kitabnya, namanya ditulis secara resmi sebagai “As-Syaikh Haji Muhammad Saleh bin Umar As-Samarani.” Sebagai penghormatan, mendahului namanya juga diterakan sebutan “As-Syaikh al-‘Alim al-‘Allamah wal Bahrul Fahhamah (Sang Guru Besar yang Alim, Teramat Alim dan Memiliki Lautan Pengetahuan).” 

Di dalam kitab-kitabnya, Kiai Saleh dengan terbuka dan kerendahan hati senantiasa menyebut bahwa ia hanya menghimpun, meringkas, dan menerjemah suatu kitab jika memang demikian adanya: “...metik saking Ihya ‘Ulumuddin Al-Ghazali (diambil dari Ihya ‘Ulumuddin Al-Ghazali),” demikian ia tulis disampul kitabnya Kitab Munjiyat.   

Tercatat ada duabelas kitab yang dinisbatkan dengan nama Kiai Saleh, yaitu: Majmu`atusy Syari`at al-Kafiyah li al-`Awam (Himpunan hukum syariat bagi orang awam), Kitab Munjiyat (Kitab Ilmu Jiwa dipetik dari Ihya’ `Ulum ad-Din), Matan al-Hikam (Kitab Hikmah diambil dari karya Ahmad bin `Athaillah al-Iskandari). 

Kemudian Latha’ifuth Thaharah wa Asrar ash-Shalah (Rahasia dan hakikat salat dan puasa), keutamaan bulan Muharram termasuk `Asyura, keutamaan bulan Rajab dan keutamaan bulan Sya`ban; Manâsik  al-Hajji wa al-‘Umrah (Tata Cara Haji dan Umrah); Kitab Pasolatan (Kitab tentang Shalat).

Sabilul Abid `ala Jauharatit Tauhid (Kitab Tauhid [ketuhanan] yang merupakan terjemahan dari kitab tauhid karya Ibrahim Laqqani); Al-Mursyid al-Wajiz (kitab tentang Al-Qur’an); Haditsul Mi`raj (kitab mengenai Isra Mi’raj); Kitab al-Mahabbah wa al-Mawaddah fi Tarjamah Qaul al-Burdah fi al-Mahabbah wa al-Madh ‘ala Sayyid al-Mursalin (Syarah atas kitab Maulid al-Burdah karya Muhammad bin Sa`id al-Bushiri [1212-1296 H.]; Faidh ar-Rahmân fi Tarjamah Tafsir Kalam al-Malik al-Dayyan (Tafsir Quran); dan Minhaj al-Atqiya’ fi  Syarh Hidayat al-Adzkiya’ ila Thariq al-Auliya’ (Syarah atas kitab Hidayatul Adzkiya’ ila Thariq al-Auliya’ karya Zainuddin bin `Ali al-Malibari [872-928 H.]).
 Tiga dari karyanya yang diambil dari Al-Ghazali, Ibn `Ata'illah dan Zainuddin al-Malibari, menunjukkan bahwa Kiai Saleh memiliki kecenderungan pada pengajaran tasawuf, meski ia juga menulis topik-topik yang lain. Kehidupannya yang sangat sederhana membuatnya dikenal sebagai seorang sufi sejati. Tak aneh kalau di kalangan ulama Jawa yang lebih muda, Kiai Saleh dijuluki sebagai 'Ghazali Kecil’ (al-Ghazali al-Saghir).

Kiai Saleh Darat juga dianggap sebagai guru R. A. Kartini, pengobar perjuangan perempuan di Indonesia yang terus dikenang hingga kini. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa seusai mengikuti pengajian tafsir al-Fatihah yang diberikan oleh Kiai Saleh Darat di Pendopo Agung Demak, Kartini secara halus meminta Kiai Saleh untuk menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam Bahasa Jawa agar Al-Qur'an lebih bisa dimengerti kalangan awam.

Di antaranya, atas dasar permintaan Kartini itulah, Kiai Saleh menulis kitab Faidlur Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam al-Malik al-Dayyan pada tahun 1312 H/1894 M, kitab yang berisi tafsir Al-Quran dalam Bahasa Jawa. 

Ketika Kartini menikah, Kiai Saleh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Qur'an juz pertama. Berkat terjemahan ini, Kartini, yang sebelumnya memandang Al-Quran sebagai kitab yang hanya dimonopoli pengertiannya oleh para ulama saja, mengaku menjadi lebih memahami dan mencintai Al-Quran. Sayang, tafsir Al-Quran pertama dalam Bahasa Jawa ini hanya sempat ditulis hingga juz enam karena Kiai Saleh Darat keburu wafat.

Kiai Saleh dikenal memiliki sikap politik yang anti-Belanda yang tercermin dalam banyak karyanya. Ia mengajarkan murid-muridnya untuk sebisa mungkin menghindari Belanda dan memperingatkan mereka untuk tidak meniru-niru cara hidup Belanda. 

Dalam kitabnya, Majmu`at al-Shari`at al-Kafiyya li-l-`awam, ia menyatakan haram hukumnya bagi umat Islam menggunakan pakaian Eropa seperti jas dan dasi. Jika pun tidak bisa dihindarkan lagi harus datang ke kantor pemerintah, Kiai Saleh menyarankan agar yang bersangkutan masuk dengan kaki kiri terlebih dulu sebagaimana memasuki toilet dan tempat-tempat sejenis lainnya. 

Karena itu, tidak aneh kalau sekali waktu Kiai Saleh pernah dicurigai memiliki hubungan dengan para aktivis politik. Pada tahun 1883, Konsul Belanda di Jeddah melaporkan bahwa Kiai Saleh pernah meminta Sultan Turki Ustmani untuk menghancurkan dominasi Belanda di Jawa. 

Kiai Saleh wafat di Semarang pada 28 Ramadhan 1321 H. bertepatan dengan 18 Desember 1903, dalam usia 83 tahun, dan dimakamkan di Pemakaman Umum Bergota, Semarang. Makamnya kini menjadi subjek ziarah keagamaan yang penting di Jawa. Pada tiap tanggal 5 Syawal masyarakat menggelar haul untuk memperingati wafatnya ulama terkemuka ini. Tahun ini, umat Islam memperingati haulnya yang ke-112. (Hairus Salim HS)


Senin 20 Agustus 2012 6:5 WIB
Mengenal Kiai Bisri, Mengenal Fiqih
Mengenal Kiai Bisri, Mengenal Fiqih

“Kiai Bisri terlibat sepenuhnya dalam proses konsolidasi kegiatan organisasi NU, seperti terbukti dri kiprahnya dalam mengembangkan dan mengawasi kegiatan lailatul ijtima, sebuah forum keagamaan untuk mengingat jasa mereka yang telah berpulang ke Rahmatullah..” (Gus Dur).
<>
Bisri Lahir pada hari Jumat 5 Dzulhijjah 1304 atau 28 Agustus 1887, di Tayu-Pati, Jawa Tengah.  Ada yang mengatakan ia lahir 25 5 Djulhijjah 1304 atau 18 September 1886. Ia merupakan anak ketiga dari pasangan Kiai Syansuri dan Nyai Siti Mariah. 

Bisri kecil sudah tekun belajar agama dari orang tuanya dan dari lingkungan yang memang tergolong kampung santri. Setelah mengkhatamkan Al-Qur’an, Bisri pergi ke Kajen-Margoyoso untuk nyantri ulama kenamaan, Kiai Abdus Salam. Ilmu alat dan kitab-kitab fiqih, tauhid, akhlak tingkat dasar diselesaikannya dengan baik di pesantren tersebut.

Memasuki usia remaja, tepatnya umur 15 tahun, Bisri pergi ke Bangkalan-Madura, untuk ngunduh kaweruh kepada guru yang masyhur sebagai waliyullah, Syaikhona Kholil. Di sinilah Bisri mempelajari ilmu fiqih lebih dalam lagi, di satu sisi. Di sisi lain, beliau mulai bersinggungan dengan tasawuf dan juga tarekat. Syaikhona Cholil adalah seorang ulama, guru semua ulama besar di Nusantara, yang berhasil menggabungkan ilmu fiqih yang lahiriah dan ilmu tasawuf serta tarekat yang cenderung batiniah. 

Dan di Bangkalan pulalh, Bisri berjumpa dengan santri asal Jombang bernama Abdul Wahab Chasbullah, yang kelak menjadi teman seperjuangan dan juga suadara iparnya. Menurut Gus Dur lagi, perjumpaan dua anakmuda ini akan memengaruhi perkembangan Islam di Indonesia, utamanya pesantren dan NU.

Setelah dari Bangkalan, tahun 1906, Bisri berangkat ke Tebuireng-Jombang, mengaji kepada Harotusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Bisri baru menginggalkan Tebuireng tahun 1911. Setelah dari sana, ia telah menjadi kiai muda. Dan tak lama kemudian, ia pergi ke Mekkah bersama Kiai Wahab. Di tanah suci, ia belajar kepada Muhammad Said al-Yamani, Syaikh Bakir, Syaikh Ibrohim Bafadlol, Syaikh Jamal al-Maliki,  Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfud Termas, dan lain-lian. 

Sepulang dari Mekkah, tahun 1914, Bisri yang telah menjadi kiai ‘betulan’ menikah dengan adik Kiai Wahab Chasbullah, yakni Nur Khodijah binti Kiai Chasbullah. Dari perkawinan ini, mereka mendapatkan 10 anak: Ahmad Bisri, Muashomah, Sholilhah (istri Kiai Abdul Wahid Hasyim), Muslih, Musyarofah, Sholihun, Abdul Aziz, Shokhib. Kiai Bisri menikah lagi dengan Maryam Mahmud dari Jember, setelah Nyai Nur Khodijah wafat. Penting dicatat, baliau tidak melakukan poligami, padahal kiai kita ini mencintai fiqih dan hidup semasa belum ada kampanye monogami.

Pada tahun 1917, atas seizin mertuanya, Kiai Bisri meninggalkan Tambakberas, dan mengembangkan pesantren di desa Denanyar Jombang. 

Dua tahun berikutnya, Kiai Bisri mengadakan kelas khusus untuk santri perempuan. Mula-mula, santri perempuan itu datang dari lingkungan sekitar. Menurut catatan Gus Dur, inilah pesantren pertama di Jawa yang menerima santri perempuan. 

Semula kelas perempuan ini tidak disetujui oleh guru tercintanya, Kiai Hasyim Asy’ari, tapi setelah berkembang dan sangat nyata kemaslahatannya, kiai hasyim mengizinkannya. Hingga kini, pesantren Denanyar, terkenal juga dengan nama Mambaul Ma'arif, terus perkembang.

Kiai Bisri adalah pencinta dan pengikut setia ilmu fiqih. Gus Dur mencatat, Kiai Bisri bersama dengan Kiai As’ad dari Situbondo, Kiai Abdul Karim dari Sedayu-Gresik, Kiai Ahmad Baidlawi dari Banyumas, Kiai Ma’shum Ali dari Masukumambang-Gresik adalah kiai yang masuk “barisan kiai fiqih”. Inilah, kata Gus Dur, yang kelak memengaruhi perkembangan pesantren yang condong terhadap ilmu fiqih dan juga keputusan-keputusan sosial keagamaan atau politik di lingkungan Nahdlatul ulama.

Pada satu kesempatan di hari raya Idul Adha, ada cerita begini. Seorang warga datang ke Kiai Bisri, tujuannya bertanya tentang sapi yang akan disembelih. 

"Kiai Bisri, keluarga saya delapan orang. apakah cukup kami kurban satu ekor satu untuk delapan jiwa?" tanya warga dengan takdim.
"Tidak bisa, Kang. Sapi untuk tujuh jiwa," jawab Kiai Bisri dengan lugas.

Warga pun kembali ke rumahnya, dengan lesu. Oleh tetangganya, warga tersebut disarankan datang ke Kiai Wahab Hasbullah. Datanglah ia dengan segera ke pesantren Tambakberas, kediaman Kiai Wahab.

"Kiai Wahab, keluarga saya delapan orang. apakah cukup kami kurban satu ekor satu untuk delapan jiwa?"
"Boleh saja, Kang. kenapa tidak boleh." 
"Betul boleh, Kiai?" 
"Boleh, boleh. Keluarga Sampeyan yang paling kecil umur berapa?"
"Anak saya yang paling kecil 5 tahun,Kiai."
"Kalau begitu beli satu ekor kambing lagi. Buat pancikan anakmu yang paling kecil itu."

Warga tadi pulang dengan rasa puas. Dia tidak merasa bahwa Kiai Wahab telah "mengerjainya". Dia merasa kiai yang baru didatanginya itu lebih longgar daripada Kiai Bisri, padahal, esensi yang disampaikan antara kedua kiai itu sama, cuma beda model komunikasi.

Kesetiaan Kiai Bisri pada fiqih, sering membuatnya tampak bersebrangan dengan karibnya, Kiai Wahab. Padahal tidak, keduanya memiliki tugas yang berbeda. Bila Kiai Bisri berperan sebagai kiai yang harus memandang dan memeriksa persoalan dalam segi fiqih murni, maka Kiai Wahab mencari solusi dari pelbagai aspek secara menyeluruh, tidak hanya aspek fiqih. Dua pendapat ini akan ditemukan  untuk mendapatkan jalan keluar yang pas, relevan dengan keadaan, dan tidak bertentangan dengan fiqih. Kedua kiai ini saling menghormati. Saking hormatnya, kiai wahab tidak bersedia menjaadi Rais Aam di muktamar NU Bandung, tahun 1967. Padahal waktu itu, kiai wahab sudah banyak udzur karena sepuh. Selgi kiai Wahab ada, apapun keadaannya, Kiai Bisri tidak bersedia menjadi rais ‘am.

Sebagai murid terkasih Mbah Hasyim Asy’ari dan sebagai sahabat karib Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri terlibat aktif dalam melahirkan Nahdlatul Ulama. Mula-mula Kiai Bisri diajak mendirikan Nahdlatut Tujjar oleh Kiai Wahab. Ketika rezim Wahabi di Saudi semakin keras menolak pemahaman orang-orang bermadzhab dan menganut pemirikannya mereka, Kiai Wahab dan Kiai Bisri berkeliling ke Jawa, dari Banyuwangi hingga ke Menes banten, guna mensosialiasi pemikiran-pemikiran keagamaan yang menghormati orang bermadzhab.  

Setelah solid, terbentuklah komite hijaz, sebuah kepanitiaan yang mengajukan konsep beragama yang menghargai paham lain, kebebasan menjalankan ibadah haji dan penolakan penghancuran situs-situs bersejarah di Mekkah dan Madinah, termasuk kuburan Rasulullah. 

Komite hijaz menjadi salah satu titik tolak lahirnya NU, 31 Januari 1926. Diceritakan, pada hari-hari menjelang berdirinya NU di Surabaya itu, di saat kiai dan ulama dari seluruh Jawa, Madura, Kalimantan Selatan sudah berkumpul, Mbah Hasyim masih di Jombang, belum yakin atas gagasan mendirikan NU. Maka, Kiai Bisrilah yang diminta menjemput Mbah Hasyim Asyari dari Jombang untuk berangkat ke Surabaya. Gus Dur memberi catatan, hanya Kiai Bisrilah yang dapat meyakinkan gurunya atas berdirinya NU.

Pasca berdirinya NU, Kiai Bisri terlibat langsung mengikuti pergerakan organisasi sebagaimana karibnya, Kiai Wahab. Kiai Bisri tercatat sebagai penggerak Lailatul ijtima’, wadah konsolidasi jamaah. Ia sangat tekun dan istikomah dalam menggerakkan majlis tersebut. Majlis tersebut mengumpulkn para aktifis NU pada malam hari, umumnya sebulan sekali, baik di tingkat kecamatan hingga tingkat kabupaten. Lailatul ijtima berisi tahlilan, kirim doa kepada yang sudah meninggal, hingga perbincangan seputar organisasi. 

Kiai bisri juga mendorong upaya pendirian rumah yatim piatu di beberapa tempat, termasuk di Jombang. Hingga akhir hayatnya, Kiai Bisri dikenal dekat dengan kaum papa.

Kiai Bisri Syansuri aktif dalam pergerakan mengusir penjajah dari tanah air, terutama setelah pecahnya perang dunia kedua. Di masa penjajahan Jepang, Kiai Bisri terlibat dalam pertahanan negara secara langsung, yakni dengan menjadi Kepala Staf Markas Oelama Djawa Timur (MODT), yang berkedudukan di Waru, dekat Surabaya. Hingga lahirnya TNI, MODT tidak dibubarkan dan Kiai Bisri tetap menjadi kepala. 

Di usia yang sudah 50 tahun, Kiai Bisri aktif berkonsultasi degan para komandan militer di daerah pertempuran Surabaya-Jombang, hingga pecahnya pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya. 

Pasca kemerdekaan, Kiai Bisri juga terlibat aktif dalam pemerintahan. Pada tahun 1946, ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), anggota konstituante, DPR-GR, dan anggota DPR pasca pemilu 1971. 

Semasa menjadi DPR, Kiai Bisri berhasil membuat RUU Perkawinan tandingan yang lebih sesuai dengan ketentuan fiqih. Ketika sidang umum MPR tahun 1977, sikap Kiai Bisri yang juga diikuti anggota dari Fraksi Persatuan Pembangunan, yang tidak setuju pemberian status aliran kepercayaan, membuat sidang menjadi goyah. Kiai Bisri memelopori walkout, sebagai bagian dari sikap menolak.

Ia menempati kedudukan tertinggi NU sebagai Rais Aam, setelah Kiai Wahab wafat tahun 1973. Kiai Bisri wafat pada tanggal 19 Jumadil Akhir 1400 atau 24 April 1980 di usianya yang ke 94 tahun. Ia dimakamkan di tempat perjuangannya, Pesantren Denanyar, Jombang. Gus Dur menulis kepergian Kiai Bisri dengan kalimat yang sangat indah.

“Kiai Bisri Syansuri berpulang ke Rahmatullah dalam usia yang sangat lanjut, tetapi tetap dalam kerangka perjuangan yang sudah dipilihnya. Bahkan perubahan metamorfosis yang terjadi di dalam dirinya masih menunjukkan watak semula dari kerangka itu, yaitu ketundukannya yang mutlak kepada fiqih sebagai pengaturan hidup secara total. Baik atau buruk, kesetiaan seperti itu kepada hukum fiqih elah membentuk keutuhan diri pribadai Kiai Bisri Syansuri, mengarahkan perjalanan hidupnya, dan menentukan sikapnya dalam semua persoalan yang dihadapinya. Kalau kehidupan Kiai Bisri sendiri dinilai penuh, utuh, dan kaya akan dimensi-dimensi luhur, kesemuanya itu tidak lain adalah pencerminan dari penerimaan mutlak atas hukum fiqih sebagai kehidupan nyata.” (Hamzah Sahal, dari berbagai sumber)

Jumat 17 Agustus 2012 6:6 WIB
HARI KEMERDEKAAN
Kiai Wahab Hasbullah, Pahlawan Tanpa Gelar
Kiai Wahab Hasbullah, Pahlawan Tanpa Gelar

KIAI HAJI WAHAB HASBULLAH adalah seorang tokoh pergerakan dari pesantren. Ia dilahirkan di Tambakberas-Jombang, tahun 1888. Sebagai seorang santri yang berjiwa aktivis, ia tidak bisa berhenti beraktivitas, apalagi melihat rakyat Indonesia yang terjajah, hidup dalam kesengsaraan, lahir dan batin.

<>Sepulang dari Mekkah 1914, Wahab, tidak hanya mengasuh pesantrennya di Tambakberas, tetapi juga aktif dalam pergerakan nasional. Ia tidak tega melihat kondisi bangsanya yang mengalami kemerosotan hidup yang mendalam, kurang memperoleh pendidikan, mengalami kemiskinan serta keterbelakanagan yang diakibatkan oleh penindasan dan pengisapan penjajah. 

Melihat kondisi itu, pada tahun 1916 ia mendirikan organisasi pergerakan yang dinamai Nahdlatul Wathon (kebangkita negeri), tujuannya untuk membangkitkan kesadaran rakyat Indonesia.

Untuk memperkuat gerakannya itu, tahun 1918 Wahab mendirikan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan saudagar) sebagai pusat penggalangan dana bagi perjuangan pengembangan Islam dan kemerdekaan Indonesia. Kiai Hasyim Asy’ari memimpin organisiasi ini. Sementara Kiai Wahab menjadi Sekretaris dan bendaharanya. Salah seorang anggotanya adalah Kiai Bisri Syansuri.

Mencermati perkembangan dunia yang semakin kompleks, maka pada tahun 1919, Kiai Wahab mendirikan Taswirul Afkar. Di tengah gencarnya usaha melawan penjajahan itu muncul persoalan baru di dunia Islam, yaitu terjadinya ekspansi gerakan Wahabi dari Najed, Arab Pedalaman yang menguasai Hijaz tempat suci Mekah dikuasai tahun 1924 dan menaklukkan Madinah 1925. 

Persoalan menjadi genting ketika aliran baru itu hanya memberlakukan satu aliran, yakni Wahabi yang puritan dan ekslusif. Sementara madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali yang selama ini hidup berdampingan di Tanah suci itu, tidak diperkenankan lagi diajarkan dan diamalkan di tanah Suci. Anehnya, kelompok modernis Indonesia setuju dengan paham Wahabi.

Lantas, Kiai Wahab membuat kepanitiaan beranggotakan para ulama pesantren, dengan nama Komite Hejaz. Komite ini bertujuan untuk mencegah cara beragama model Wahabi yang tidak toleran dan keras kepala, yang dipimpin langsung Raja Abdul Aziz.  

Untuk mengirimkan delegasi ini diperlukan organisasi yang kuat dan besar, maka dibentuklah organisai yanag diberinama Nahdlatul Ulama, 31 Januari 1926. KH Wahab Hasbullah bersama Syekh Ghonaim al-Misri yang diutus mewakili NU untuk menemui Raja Abdul Aziz Ibnu Saud.

Usaha ini direspon baik oleh raja Abdul Aziz. Beberapa hal penting hasil dari Komite Hejaz ini di antaranya adalah, makam Nabi Muhammad dan situs-itus sejarah Islam tidak jadi dibongkar serta dibolehkannya praktik madzhab yang beragam, walaupun belum boleh mengajar dan memimpin di Haramain.

KIAI WAHAB HASBULLAH dengan segala aktivitasnya adalah untuk menegakkan ajaran ahlussunnah wal jamaah yang sudah dirintis oleh walisongo dan para ulama sesudahnya. 

Ia tidak hanya penerus, tetapi memiliki pertalian darah dengan para penyebar Islam di Tanah Jawa itu. Bahkan Kiai Wahab juga mengidentifikasi diri sebagai penerus perjuangan pangeran diponegoro. Karena itu ia selalu memakai sorban yang ia sebut sendiri sebagai sorban Diponegoro. 

Dengan sorban itu, ia makin percaya diri. Dalam upacara keagamaan sampai dengan acara kenegaraan, Kiai Wahab selalu melingkarkan sorban tersebut, hingga pundaknya tertutup. Demikian juga dengan sarung, tidak pernah diganti dengan pantolan. 

Ia telah melampaui segala protokoler kenegaraan yang ada, karena telah memiliki disiplin dan karakter keulamaan sendiri. Selain itu, ia memang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi sehingga tidak takut menghadapi musuh sesakti apapun.

Kemenonjolan peran Wahab Hasbullah ini berkat kematangannya dalam menempa dirinya sebagai seorang ulama pergerakan. Sifat keulamaannya digembleng di pesaanatren Langitan  Tuban, Pesantren Tawangsari Surabaya.

Kemudian ia melanjutkan lagi ke Pesantren Bangkalan Madura. Di pesantren asuhan Syaikh Kholil inilah, ia bertemua dengan Kiai Bisri Syansuri, ulama dari Pati yang kelak menjadi sahabat seperjuangannya, juga iparnya. Pertemanannya Kiai Wahab dengan Kiai Bisri ini memiliki pengaruh terhadap perkembangan NU. Selanjutnya, Kiai Wahab ke Pesantren  Mojosari Nganjuk dan menyempatkan diri nyantri di Tebuireng Jombang. 

Setelah merasa cukup bekal dari para ulama di Jawa dan Madura, ia belajar ke Mekkah untuk belajar pada ulama terkemuka dari dunia Islam, termasuk para ulama Jawa yang ada di sana seperti Syekh Machfudz Termas dan Syekh Ahmad Khotib dari tanah Minang. Selain, belajar agama saat di Mekkah itu, ia juga mempelajari perkembangan politik nasional dan internasional bersama aktivis dari seluruh dunia.

Selama masa pembentukan NU, Kiai Wahab selalu tampil di depan. Di manapun muktamar NU diselenggarakan sejak yang pertama kalinya yaitu di Surabaya, kemudian hingga ke Bandung, Menes Banten, Banjarmasin, kemudian Palembang hingga Medan, ia selalu hadir dan memimpin. Sehingga pengalamannya tentang organiasi ini cukup mendalam. Karena itu, Kiai Wahab selalu cermat dan tegas dalam mengambil keputusan. 

Dalam menghadapi berbagai kesulitan, terutama dalam hubungannya dengan pemerintah kolonial, ia selalu mampu mengatasinya. Misalanya, ia harus berhadap dengan para residen gubernur atau menteri urusan pribumi. Kemampuan lobi dan diplomasi membuat semua urusan bisa lancar, sehingga NU mampu mengatasi berbagai macam jebakan dan hambatan kolonial.

Dan, Kiai Wahab juga memiliki keistimewaan, yang tidak banyak ada pada orang lain, yakni kemampuan melempar humor, khususnya jenis plesetan, sebagai alat diplomasi.

Suatu hari, ketika Nusantara masih dalam cengkraman Belanda, Kiai Wahab berpidato di hadapan kiai-kiai dan ratusan santri.

“Wahai Saudara-saudaraku kaum pesantren, baik yang sudah sepuh, yang disebut Kiai, ataupun yang masih muda-muda, yang dikenal dengan sebutan Santri. Jangan sekali-sekali terbersit, apalagi bercita-cita sebagai Ambtenaar (pegawai Belanda)!” Begitu suara Kiai Wahab berapi-api.

“Mengapa kiai dan santri tidak boleh jadi Ambtenaar

Jawabannya tiada lain tiada bukan, karena Ambtenaar itu singkatan dari Antum fin Nar. Tidak usah berhujah susah-susah tentang Ambtenaar, artinya ya tadi, ‘kalian di neraka’ tititk,” jelas Kiai Wahab. Para kiai dan santri yang hadir tertawa dan tepuk tangan. 

Lain waktu, semasa penjajahan Jepang, Kiai Wahab menghadapi para kiai yang belum paham cara berpolitik dengan Jepang. Para kiai itu tidak bersedia menjadi anggota Jawa Hokokai, semacam perhimpunan rakyat Jawa untuk mendukung Jepang.

“Para Kiai tidak susah-susah mencari dalil menjadi anggota Jawa Hokokai. Masuk saja dulu. Tenang saja, di dalam badan tersebut ada Bung Karno. Beliau tidak mungkin mencelakakan bangsa sendiri,” Kiai Wahab mulai merayu para kyai.

“Tapi Kiai, apa artinya Jawa Hokokai itu?” Tanya seorang kyai.
“Lho, Sampean belum tahu ya, Jawa Hokokai itu artinya Jawa Haqqu Kiai,” jelas Kiai Wahab singkat.
“Ooo... Jadi Jawa Hokokai itu artinya Jawa milik para kiai. Ya sudah, mari, jangan ragu masuk Jawa Hokokai,” ujar kiai tadi merespon. 

NAMUN DEMIKIAN, salahlah kita jika hanya menilai Kiai Wahab sebagai kiai politisi saja. Salah, karena ia sesungguhnya adalah  seorang ulama tauhid dan juga fiqih yag sangat mendalam dan luas pengetahuannya. Dengan ilmunya itu, itu dengan mudah mampu menerapkan prinsip-prinsip fiqih dalam kehidupan modern secara progresif, termasuk dalam bidang fiqih siyasah. 

Kitab yang ditulisnya Sendi Aqoid dan Fikih Ahlussunnah Wal Jama'ah, menunjukkan kedalaman penguasanya di bidang ilmu dasar tersebut. Ini yang kemudian menjadi dasar bagi perjalanan Ahlusunnah wal jamaah di lingkungan NU.

Dalam tiap bahtsul masail muktamr NU, ia selalu memberikan pandangannya yang mamapu menerobos berbagai macam jalan buntu (mauquf) yang dihadapi ulama lain.

Kiai Wahab sadar betul mengenai pentingnya pendidikan masyarakat umum. Karena itu dirintis beberapa majalah dan surat kabar seperti Berita Nahdlatoel Oelama, Oetoesan Nahdlatoel Oelama, Soeara Nahdlatoel Oelama, Duta Masyarakat, dan sebagainya.

Ia sendiri aktif salah seorang penyandang dananya dan sekaligus sebagai penulisnya. Propaganda di sini juga sangat diperlukan dan media ini sangat strategis dalam mepropagandakan gerakan NU dan pesantren ke publik. Gagasan itu semakin memperoleh relevansinya ketika KH Machfudz Siddiq dan KH Wahd Hasyim turut aktif dalam menggerakkan pengembangan media massa itu.

Demikian juga dalam menghadapi zaman Jepang yang sulit, terutama ketika penjajah itu itu pada tahun 1942 menangkapi para tokoh NU, maka Kiai Wahab dengan segala pikiran dan tenaganya menghadapi penjajah Jepang. Ia gigih menjadi tim pembebasan, mulai dari membebaskan KH Hasyim Asyari, KH Mahfud Shiddiq, juga ulama NU lainnya baik di Jawa Timur hingga ke Jawa Tengah tanpa kenal lelah. 

Masa menjelang kemerdekaan dan dalam mempertahankan kemerdekaan aktif di medan tempur dengan memimpin organaisasi Barisan Kiai, organisasai yang secara diam-diam menopang Hisbullah dan Sabilillah. 

Sepeninggal KH Hasyim Asy’ari (Ramadan, 1947), kepepimpinan NU Sepenuhnya berada di pundak Kiai Wahab.

Dalam menghadapi perjanjian dengan Belanda, baik perjanjian Renville, Linggarjati maupun KMB, yang penuh ketidakadilan itu, Kiai Wahab memimpin di depan melawan perjanjian itu. Akhirnya semua perjanjian yang tidak adil itu dibatalkana secara sepihak oleh Indonesia. 

Masa paling menentukan adalah ketika NU mulai dicurangi oleh dalam Masyumi dengan tidak diberi kewenangan apapun. Usaha perbaikan oleh Kiai Wahab tidak pernah digubris oleh dewan partai, padahal NU sebagai anggota Istimewa. 

Selain itu hanya diberi jatah menteri Agama, itu pun kemudian dirampasnya juga. Apalagi Masyumi mulai melakukan tindakan subversif sepert memberi simpati pada Darul Islam (DI) dan bahkan melakukan perjanjian gelap dengan Mutuasl Security Act (MSA) yang menyeret Indoonesia ke Blok Barat Amerika. NU merasa semakin tidak kerasan di Masyumi.

Ketika Kiai Wahab hendak mendirikan partai sendiri, tidak semua kalangan NU menyetujuinya, apalagi kalangan Masyumi menuduh NU berupaya memecah-belah persatuan umat Islam. NU juga diledek bahwa tidak memiliki banyak ahli politik, ekonomi, ahli hukum dan sebagainya. 

Atas semua itu, dengan enteng Kiai Wahab menjawab:

“Kalau saya mau beli mobil, si penjual tidak akan bertanya apakah saudara bisa menyupir. Kalau dia bertanya juga, saya akan membuat pengumuman butuh seorang supir. Saat itu juga, para calon supir akan segera mengantri di depan rumah saya.” 

Ketika kalangan ulama NU yang lain masih ragu, dengan tegas Kiai Wahab mengatakan, ”Silakan Sudara tetap di Masyumi, saya akan sendirian mendirikan Partai NU dan hanya butuh seorang sekretaris. Insya Allah NU akan menjadi partai besar.

Melihat kesungguhan itu akhirnya, semua kiai, termasuk Kiai Abdul Wahid Hasyim  sangat terharu, sehingga diputuskan untuk menjadi partai  sendiri. 

Dalam Pemilu 1955, perkiraan Kiai Wahab terbukti, NU menjadi partai terbesar ketiga. Dari situ NU mendapat 45 kursi di DPR dan 91 kursi di Konstituante serta memperoleh delapan kementerian. Berkat kepemimpina Kiai Wahab itu, NU menjadi partai politik yang sangat berpengaruh.

Dalam mempimpin keseluruhan drama pilitik nasional, bagi NU, Kiai Wahab adalah pengambil keputusan yang sangat menentukan. Sebab itu, perintahnya sangat dipatuhi sejak dari pengurus pusat hingga ke daerah. Bukan Karena otoriter. Tapi karena memang sangat menguasi kewilayahan dan menguasasi strategi gerakan. Karena itu pula, para kiai kiai sering kali menyebut tokoh kita ini “panglima tinggi”. 

Tiap hari, Kiai Wahab keliling daerah, bermusyawarah, menyerap dan memberi informasi, mengarahkan hingga menyemangati para ulama dari Jawa hingga Sumatera, dari Madura hingga Kalimantan. Semuanya diongkosi dengan uang sendiri. 

Bila ada di Jombang, tepatnya di Tambakberas, Kiai Wahab tidak pernah absen mengajar di pesantrennya, memberikan pengajian dari kampung ke kampung, dan memberikan brifing politik ada para santri senior, para pengurus NU setempat, hingga memberikan arahan pada pamong desa setempat. Kedekatan dengan rakyat itu yang mendorong militansi Kiai Wahab dalam menyuarakan aspirasi rakyat.  

Banyak yang meriwayatkan pula bahwa Kiai Wahab juga mempunyai kecenderungan hidup zuhud. Dari sekian banyak pesantren yang dikunjungi, tampaknya pengaruh Kiai Zainuddin Mojosari cukup kentara.

Pesantren Mojosari terdapat di pedalaman Nganjuk Jawa Timur. Kiai Zainuddin, pengasuh pesantren tersebut, masyhur sebagai sufi agung di tanah Jawa saat itu. Tradisi sufistik juga membuat pesantren ini menjadi sangat terbuka. Satu contoh, tiap akhir tahun para santri dibiarkan menyelenggarakan pentas seni, ludruk. Para santri main sendiri.

Untuk itu, beberapa bulan sebelum acara, para santri dengan rombongan masing-masing ada yang belajar ludruk ke Jombang, belajar Jatilan ke Tulungagung, belajar Ketoprak ke Madiun dan belajar wayang ke Solo dan sebagainya.   

Wahab muda adalah salah satu di antara mereka itu. Pendidikan keagamaan yang di berikan juga sangat terbuka. Para santri dipersilakan memakai madzhab pemikiran yang disukai, juga diajarkan memecahkan berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan secara lebih luwes dan toleran. 

Sikap keagamaan Kiai Wahab akhirnya juga tumbuh dengan terbuka. Ia lebih maju dibanding para ulama yang lain, terutama dalam menerapkan fiqih, tampak lebih mengutamakan dalil rasional, ketimbang doktrinal. 

Hal itu memungkinkan masa kepemimpinan Kiai Wahab dalam tubuh NU membuka wawasan yang luas bagi pengembangan pemikiran, kelembagaan dan ktangkasan dalam berpolitik. Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan karib dan iparnya yang sekaligus menjadi wakilnya (Wakil Rais Am), yaitu KH Bisri Syansuri. Kiai Bisri adalah seorang faqih murni yang ketat dan disiplin, sehingga apapun yang berseberangan dengan prinsip yang dipegangi harus disingkirkan. 

Kalau Kiai Wahab cenderung berpikiran inovasi dan kreasi, sementara Kiai Bisri berpegangan pada fiqih. Dengan latar belakang semacam itu tidak heran kalau Kiai Wahab Hasbullah denngan senang hati menerima kehadiran Lesbumi 1962, apalagi sebelumnya Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari menyetujui penggunaan alat-alat musik dalam acara-acara NU. Meski demikian, perbedaan tersebut tidak mengurangi rasa tenggang rasa dan keduanya tetap saling menghormati.

Karena kharisma dan kepemimpinannya yang belum tergantikan, muktamar NU 20-25 Desember 1971 di Surabaya, Kiai Wahab terpilih lagi sebagai Rais Aam, meski telah udzur. Namun, persis empat hari setelah muktamar, Allah memanggil Kiai Wahab, tepatnya tanggal 29 Desember 1971. 

Kewibawaan Kiai Wahab di hadapan pengurus NU yang lain dan pengabdiannya yang total itu menyebabkan KH Saifudin Zuhri menjulukinya sebagai “NU dalam praktek”. Seluruh sikap dan tindakannya termasuk yang kontroversial sekalipun adalah mencerminkan perilaku NU yang tidak dianggap sebagai penyimpangan. Karena seluruh sikap dan tindakannya dilandasi iman, takwa, ilmu, akhlak serta pengabdian yang tulus.

Demikianlah, selintas pengabdian seorang Kiai Haji Wahab Hasubullah, pahlwan tanpa gelar kepahlawanan. (Abd. Mun'im DZ)

 

Sumber:

- Majalah Oetoesan Nahdlatoel Oelama, No. 1 Tahun 1.

- Saifuddin Zuhri, Biografi KH. Wahab Hasbullah, Jombang, 1981

- Aboebakar Aceh, Sejarah Hidup KH Wahid Hasyimdan Karangan Tersiar, Diterbitkan Panitia Peringatan KH    Wahid Hasyim, Jakarta, 1957. 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG