IMG-LOGO
Opini

Catatan Kaki Tentang Gus Dur; Mencari Nalar Pluralisme


Senin 1 Oktober 2012 10:56 WIB
Bagikan:
Catatan Kaki Tentang Gus Dur; Mencari Nalar Pluralisme

Oleh : H Zuhri 

Pendahuluan

Membaca Gus Dur dapat dilakukan dari  dua sisi. Pertama dari sisi subjek pembacanya. Sisi ini terdiri dari ; (a) pembaca subjektif, pembaca ini biasanya ada di dalam komunitas Gus Dur-ian,
<>

(b) pembaca ilmiah dan objektif. pembaca ini berada di luar objek yang dibaca, (c) pembaca subjektif yang antipati terhadap Gus Dur, dan (d) pembaca simpatik terhadap Gus Dur, tetapi  sekedar simpatik yang belum dapat keluar dari sekedar simpatik dan rasa kagumnya semata. Berbagai tipe pembaca ini memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Dari sisi kelebihan tentu tidak perlu dikupas di sini karena mudah untuk diidentifikasi. Sisi kelemahan penting dideskripsikan guna perbaikan. Kelemahan kelompok pertama dapat memberikan efek pada kemungkinan lahirnya mitologi Gus Dur. Bagi kelompok kedua, realitas dan rasionalitas atas Gus Dur ternyata tidak cukup untuk sekedar dilihat dari perspektif ilmiah. Sedangkan kelompok ketiga, hilangnya objek yang diantipati atau bahkan dimusuhi mengakibatkan emosi  yang tidak tersampaikan. Sedangkan bagi simpatisan, kemungkinan tetap sekedar menjadi simpatik meski beralih ke simpatik sejarah.   

Kedua, dari sisi objek pembacanya yaitu Gus Dur sendiri. Sekarang, Gus Dur telah menjadi sebuah petanda, teks, dan/atau  sejarah. Baik petanda, teks, dan/atau sejarah, ketiganya  membutuhkan alat pembaca yaitu tafsir atau hermenutika agar mendapatkan sebuah pemahaman. Sebagai petanda, Gus selalu menjadi sebuah simbol bagi para pembacanya untuk sebuah tanda-tanda tertentu seperti, kerukunan, kearifan, bapak bangsa, pluralisme, atau bahkan mungkin otoritarianisme. Sebagai teks, Gus Dur akan selalu menjadi rangkaian kata-kalimat yang tersusun  dan mengalir tidak ada henti dengan problematika internalnya yang khas. Sebagai sejarah, Gus Dur akan menjadi rangkaian nalar kolektif-imajinatif yang dapat menginspirasi. 

Ketika dua sisi di atas dapat  diketahui, persolaannya, sampai kapan ‘pembacaan’ atas Gus Dur itu ada? jangan-jangan setelah nyewu  ‘pembacaan’ Gus Dur sudah tidak ada lagi? Asumsi ini sah saja  karena mungkin ada yang berpendapat, ngapain sih kok repot-repot ‘membaca’ Gus Dur? Ketokohan dan kebesaran Gus Dur mungkin akan menjadikan energi tersendiri untuk membacanya. Tetapi, sejarah  harus berjalan dan bahkan melindas anak cucu sejarah sendiri demi sejarah masa depan yang akan menjadi kepastian. Penulis tidak tahu apakah catatan kaki di bawah ini bagian dari energi kebesaran Gus Dur atau sebaliknya; kepastian sejarah yang akan pelan-pelan melupakannya. Silahkan menilai sendiri.    

Babak-babak Kehidupan 

I

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris. Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada KH Ma’sum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersama dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya. Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris. Ketika mengetahui bahwa Gus Dur pandai dalam bahasa Inggis, Pak Sumatri-seorang guru SMEP yang juga anggota Partai Komunis-memberi buku karya Lenin ‘What is To Be Done’. Pada saat yang sama,  Gus Dur  mulai mengenal Das Kapital-nya Karl Marx, filsafat Plato, dan masih banyak lainnya.  

(sepenggal biografi Gus Dur dari berbagai sumber)


II

Cethak-cethok-cethak-cethok, grrredek…. Lelaki berperawakan tambun itu tampak asyik duduk di salah satu meja redaksi yang berkantor di Proyek Senen, Jakarta Pusat, pada suatu Jumat. Pria berkacamata minus—saking tebalnya sampai kayak stoples—itu sedang asyik memencet-mencet tombol mesin ketik di meja Syu’bah Asa, redaktur kolom majalah Tempo pada 1970-an. 

Tak lama berselang, si empunya meja, Syu’bah, datang dari salat Jumat di Masjid Istiqlal. Ia langsung menghampiri lelaki yang di kalangan awak redaksi kala itu akrab dipanggil Cak Dur ini. Syu’bah dan Abdurrahman Wahid, nama lengkap Cak Dur, yang oleh kalangan luas kerap disapa Gus Dur, berbincang-bincang sebentar. Lalu Syu’bah meninggalkan mejanya dengan senyum terkembang. 

Bambang Bujono, salah satu redaktur di Majalah Tempo saat itu, bertanya, ”Mas, kenapa Anda senyam-senyum dari tadi?” Sambil menundukkan kepala, Syu’bah berbisik, ”Dia (Gus Dur) kelihatannya terlalu asyik mengetik kolom sampai lupa tidak Jumatan.” ”Mana mungkin,” kata Bambang Bujono, yang biasa disapa Bambu, ”Bukankah dia kemari justru kalau hendak Jumatan? Kolomnya saja sudah hampir selesai.” 

Majalah tempo berulang tahun ke 41” diunduh dari www.tempo.co  pada 26  September 2012. 


III


Jika ada orang yang bisa mendengarkan pidato atau mendengarkan orang ngobrol padahal dia tidur, itu orang yang luar biasa. Apalagi sudah mendengkur, tetap mendengar pula. Adakah orang yang diberi kemampuan seperti itu?

Ada, tapi saya tak menemukan lebih dari satu. Dia adalah Presiden Indonesia yang keempat di republik yang berbudaya ini: Abdurrahman Wahid. Dengan beribu-ribu maaf--nuwun sewu--saya harus menyebutkan junjungan saya yang sudah lama berada di sisi Tuhan ini. Saya akrab dengan beliau, tentu saja ketika beliau belum menjadi Presiden. Maklum, pada 1980-an, saat beliau menulis kolom untuk Majalah Tempo, saya yang menyediakan mesin ketik dan kertas.

Suatu ketika--ini sudah tahun 1990-an--beliau ikut di mobil saya bersama Wahyu Muryadi dalam perjalanan ke Ciganjur. Mulanya kami asyik ngobrol bertiga. Tiba-tiba Gus Dur tidur dan mendengkur, saya dan Wahyu menghentikan obrolan. “Junjungan kita capek, biar istirahat, kita tutup diskusi,” kata Wahyu. Eh, tiba-tiba Gus Dur berhenti mendengkur, “Sampean ngomong saja terus, nanti saya jawab.” Kami terbahak, dan Gus Dur mengaku mendengar apa yang kami obrolkan.  

Putu Setia, Pidato&Tidur diunduh dari www.tempo.co. pada 26 September 2012 


IV


Perkembangan sejarah setelah itu menunjukkan bahwa agama Islam tidak berkurang peranannya dalam kehidupan bangsa, walaupun beberapa kali usaha merubah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berhasil digagalkan, seperti dalam Dewan Konstituante di tahun 1956-1959. Demikian juga beberapa kali pemberontakan bersenjata terhadap NKRI dapat digagalkan seperti DI-TII dan APRA (Bandung 1950). Ini tidak berarti Islam dibatasi ruang geraknya dalam negara, seperti terbukti dari kiprah yang dilakukan oleh Al-Azhar di Kairo. Siapapun tidak dapat menyangkal bangsa Indonesia adalah memiliki jumlah terbesar kaum muslimin. Ini berbeda dari bangsa- bangsa lain, Indonesia justru memiliki jumlah yang sangat besar kaum “muslimin statistik” atau lebih di kenal dengan sebutan “muslim abangan”. Walaupun demikian, kaum muslim yang taat beragama dengan nama “kaum santri” masih merupakan minoritas. Karena itu, alangkah tidak bijaksananya sikap ingin memaksakan NI atas diri mereka. Lalu, bagaimana dengan ayat kitab suci al-Qurân yang disebutkan diatas? Jawabnya, kalau tidak ada NI untuk menegakkan hukum agama maka masyarakatlah yang berkewajiban. Dalam hal ini, berlaku juga sebuah kenyataan sejarah yang telah berjalan 1000 tahun lamanya yaitu penafsiran ulang (re-interpretasi) atas hukum agama yang ada. Dahulu kita berkeberatan terhadap celana dan dasi, karena itu adalah pakaian orang-orang non-muslim. Sebuah diktum mengemukakan, “Barang siapa menyerupai sesuatu kaum ia adalah sebagian dari mereka” (man tasyâbaha bi qaumin fahuwa min hum).  [---] Karena itu, kita lalu mengerti mengapa para wakil berbagai gerakan Islam dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia  (PPKI) memutuskan untuk menghilangkan Piagam Jakarta dari UUD 1945. Mereka inilah yang berpandangan jauh, dapat melihat bersungguhnya kaum muslim menegakkan ajaran-ajaran agama mereka tanpa bersandar kepada negara. Dengan demikian, mereka menghidupi baik agama maupun negara. Sikap inilah yang secara gigih dipertahankan Nahdlatul Ulama (NU), sehingga agama Islam terus berkembang dan hidup di  negeri kita.  

Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam  Kita, Islam Anda, (Jakarta: Demokrasi Project, 2011), hlm. 107.


V


Ketika DPR memutuskan untuk mengeluarkan memorandum kedua pada akhir April 2001 reputasi Gus Dur telah mencapai tingkat  paling rendah secara nasional. Sementara disepakati oleh hampir semua orang bahwa masa kepresidenan Gus Dur memang mengecewakan. Sebenarnya tidaklah mudah untuk menilai sejauh mana hal ini disebabkan oleh kelemahan pribadi Gus Dur dan sejauh mana orang secara realistis menaruh harapan besar terhadap dirinya mengingat bahwa peralihan di Indonesia dari pemerintahan otoriter yang ditopang oleh tentara  ke demokrasi merupakan suatu hal yang  sulit. 

Saya meyakini bahwa pada akhirnya nanti sejarah akan memberikan penilaian yang lebih baik terhadap Gus Dur daripada  apa yang dilakukan oleh kaum elit Indonesia dan media internasional dalam bulan-bulan sebelum DPR mengeluarkan dua memorandum yang mengecamnya. Sebagaimana halnya dengan tokoh-tokoh masyarakat, khususnya pemimpin politik, terdapat banyak aspek mengenai watak Gus Dur yang membuat orang merasa frustrasi dan bingung. Tidak mudah bagi kita untuk mengetahui  apakah kita harus melihatnya sebagai tokoh yang pada dasarnya mempunyai kekurangan dan  mengecewakan; dan yang memberikan banyak janji tetapi tidak dapat memenuhi janji-janjinya; atau apakah kita harus  bermurah hati dan mengakui bahwa ia memang melakukan perjuangan yang sulit dan bahwa prestasi-prestasinya tidak dapat diperolehnya dengan cara yang mudah.  

Greg Barton,  Biografi Gus Dur: The Authorized  Biography of  Abdrurahman Wahid, pent. Lie Huwa, (Yogyakarta, LKiS, 2002), hlm. 483.

VI

أستغفر الله رب البرايا    Ø£Ø³ØªØºÙØ± الله من الحلطايا
رب زدني علما نافعا      ÙˆÙˆÙÙ‚ني عملا صالحا
يا رسول الله سلام عليك      ÙŠØ§Ø±Ø§ÙØ¹ الشان والدرج
عطفة ياجيرة العالم        ÙŠØ§Ø£Ù‡ÙŠÙ„ الجود والكرم 

 

Kang aran soleh bagus atine
Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma’rifate
Ugo hakekot manjing rasane 2 X

Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo najan pas pasan
Kabeh tinakdir saking pengeran 2X

Kang anglakoni sakabehane
Allah kang ngangkat drajate
Senajan ashor toto dhohire
Ananging mulyo maqom drajate 2X   *)

Penutup

Membongkar genealogi pluralitas Gus Dur, itulah yang mungkin tepat untuk membaca kemana sesungguhnya arah keenam babak catatan kaki di atas. Di sisi ini pluralitasnya mulai terbangun sejak dini sampai kata-kata dalam syair tanpa waton. Pluralitas yang serupa ruang tanpa titik pembatas. Gagasan pluralitas juga dapat dibaca dalam diri Gus Dur dalam melihat realitas. Konsep realitas terlentang tanpa sekat. Baginya realitas tidak dibentuk atau dipaksakan keberadaannya. Realitas justru tersinergikan dan menjadi bagian dari kekuatan. Pluralitas konstruksi psikologis dan pengetahuan, konstruksi sosial, realitas dan konsep menjadi bagian dari gagasan-gagasan pluralisme yang bertumpuk. Untuk itu, sebaiknya jika pembacaan dimulai dengan setahap demi setahap, dan tulisan ini mencoba melakukannya. Wallahu ‘alam bi al-shawab 


Penulis adalah dosen tetap di program studi Aqidah dan Filsafat dan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Makalah ini disampaikan dalam  Forum Diskusi Peringatan Seribu Hari Gus Dur,  PCINU Maroko,  Kanitra pada 29 September 2012.   

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG