IMG-LOGO
Pustaka

Kosmopolitanisme Pesantren Jaman Penjajahan


Senin 24 Desember 2012 15:49 WIB
Bagikan:
Kosmopolitanisme Pesantren Jaman Penjajahan

Judul Buku : Pesantren Studies, Buku II; Kosmopolitanisme Peradaban Kaum Santri di Masa Kolonial, Juz Pertama/2a; Pesantren, Jaringan Pengetahuan dan Karakter Kosmopolitan-Kebangsaannya.
Penulis : Ahmad Baso
Penerbit : Pustaka Afid, Jakarta
Cetakan I : Mei 2012
Tebal Buku : xvii + 378 halaman
Peresensi: Muhamad Rifai*
<>
Ahmad Baso merupakan salah satu intelektual muda NU terdepan saat ini. Telah banyak karya ditorehkannya dan buku ini merupakan karya kesekiannya, tetap sebagai kajian serius-kritis-ambisius, bertema Pesantren Studies. Rencananya karya ini ditulis dalam 9 jilid dan baru ditulis dalam jilid 2 dan sudah diterbitkan diantaranya 2a dan 2b. Dan resensi ini atas karya buku 2a.

Tema dasar dari buku ini mengkaji kosmopolitanisme pesantren di masa kolonial. Kosmopolitanisme pesantren di masa kolonial yang dimaksudkan buku ini terwujud dalam; jaringan pengetahuan, karakter kosmopolitan dan kebangsaannya. Wacana kosmopolitanisme identik dengan keterbukaan, merangkul semua golongan, kepentingan dan wacana setiap jaman. Baso dalam buku ini ingin menunjukkan keunikan kosmopolitanisme pesantren di masa kolonial, tidak sekedar latah terbuka dan merangkul semua, tapi menimbang yang benar, baik dan tepat sesuai dengan patokan islam Aswaja ditengah situasi sosial, budaya masyarakat dan kondisi bangsa.

***

Pada bagian awal buku ini ditunjukkan bagaimana kosmopolitanisme pesantren diakui penting di jaman kolonial bukan oleh kalangan pesantren itu sendiri, tapi oleh kalangan nasionalis, pergerakan, aktivis dan wartawan saat itu, seperti Soekarno, Soetomo, Ki Hajar Dewantara, Sukarni, Tan Malaka maupun Supriyadi. 

Contohnya, dr Soetomo ditahun 1930-an dalam polemik kebudayaan menyatakan; peran pesantren saat itu penting terutama untuk mengisi idealisme kaum pergerakan, mengisi ideologi kebangsaan dan memperkuat kebudayaan bangsa untuk melawan praktek kolonialisme saat itu. Segala sendi kehidupan tak bisa dilepaskan dari kalangan pesantren, waktu menanam, mengetam padi, waktu ada orang kematian, waktu bulan puasa. (hlm, 35).

Berpijak dari situ, buku ini kemudian menjelaskan bagaimana kuatnya pesantren sebagai  institusi pendidikan  berkarakter kebangsaan dan kosmopolit. Kesemua itu bisa dilihat dari mulai sosok kiainya, pesantren sebagai institusi pendidikan, santrinya, kitab/pengetahuannya.

Sosok Kiainya

Penting dan uniknya kiai sebagai pendidik di pesantren dicontohkan dalam buku ini, ketika KH Hasyim Asy’ari nyantri dibawah KH Kholil Bangkalan, Madura, di masa awal nyantri, pendiri NU ini hanya disuruh angkat air dan mengisi tempayan untuk wudhu dan cuci kaki para santri dan jama’ah. Sehingga sang santri kesal karena lebih banyak waktunya habis untuk mengambil air dan bukan ngaji kitab. Tapi ternyata dengan cara ini sang kiai mengajarkan santri kesayangannya itu untuk menghargai sumber-sumber air sebagai kekayaan alam yang diberikan tuhan ini, serta memanfaatkannya untuk sebesar-besar kemaslahatan orang banyak.

Ahmad Baso dalam buku ini menilai keberadaan Kiai dalam pesantren adalah sutradara sekaligus aktor, bersama santri 24 jam, mendidik ilmu, mencontohkan etika berperilaku. Maka tak heran banyak kalangan dari beragam latar belakangnya nderek/mendengarkan dan meminta nasehat kiai dengan setia. Contohnya;  Pangeran Diponegoro nderek kiai pada kiai Taftajani dan kiai Maja, Sukarno nderek kiai Sukanegara, jendral Sudirman nderek kiai Mahfudz, Sukarni nderek kiai-kiai di Jawa Timur ketika dikejar-kejar oleh polisi intel Belanda, Supriyadi nderek kiai di Blitar, Tan Malaka nderek KH Hasyim Asy’ari.

Pesantren sebagai Institusi Pendidikan

Secara tidak langsung buku ini mendorong agar pesantren sebagai institusi pendidikan dijadikan alternatif cermin bagaimana bentuk institusi pendidikan nasional selayaknya. Karena Baso menilai orientasi pesantren sebagai institusi pendidikan cukup kuat pondasinya.

Baso menggarisbawahi bagaimana orientasi pendidikan pesantren telah menciptakan pendidikan sebagai sarana untuk membentuk kemampuan bekerja dan berkarya, untuk beramal saleh dan berderma bakti demi negeri ini. Pesantren menempatkan kata kerja berguru sebagai sarana yang utama untuk membantu anak-anak bangsa ini untuk memahami pengalaman manusia di dunia ini, untuk menguji dengan kritis berbagai kecenderungan dunia ini, dan untuk memahami karakter khusus bangsa kita.

Dan pendidikan pesantren adalah pendidikan seumur hidup, seumur dengan kehidupan tradisi keagamaan aswaja dan juga sepanjang usia kehidupan nusa-bangsa ini.  Orientasinya adalah untuk menjaga keselamatan dan kesinambungan kehidupan berbangsa itu sendiri. Seberapa panjang usia kehidupan kebangsaan ini, demikian pula usia tradisi keulamaan aswaja. Pendidikan pesantren adalah bentangan garis lurus yang menjangkau dan menghubungkan kedua sisi kehidupan tersebut hingga di penghujung akhir hayatnya. (hlm, 82-83) 

Tentang Santri

Menjadi santri tidak sekedar orang mencari ilmu di pesantren atau mengamalkan dengan baik ajaran agama islam. Lebih dari itu, menjadi santri berarti belajar seumur hidup, dalam proses pembelajaran dan pengajaran yang tidak pernah berhenti, dari ayunan hingga ke liang kubur.  Menjadi santri juga tidak disekat oleh batas-batas agama, suku, atau kelompok. Dan juga tidak mengenal dikotomi antara yang santri dan abangan. Nyantri tidak cukup satu kiai atau satu daerah tapi banyak kiai dan daerah. Ini dasar kosmopolitanisme kaum santri.

Tentang Kitab/Pengetahuannya

Dijaman penjajahan peradaban pesantren menunjukkan sebagai peradaban kitab dengan bukti; di kraton Surakarta; ada 1.450 judul buku/kitab, di Aceh ada 580 2000 naskah, Di Banten 149 naskah.

Pengolahan informasi dan pengetahuan pesantren terletak pada kecenderungannya untuk merangkul suara sebanyak-banyaknya, dan kehendaknya untuk merangkul segenap bentuk-bentuk kata dan bahasa, untuk mengadopsi beragam fragmen atau potongan cerita dari teks-teks lainnya.  Dalam tradisi pesantren berlaku kaidah memelihara dan melestarikan hal-hal yang lama yang masih baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. (hlm, 262).

Dari hasil penelitiannya, baik teks maupun bergumul langsung ke berbagai pesantren di nusantra, Baso menjelaskan dalam buku ini, terdapat 14 ragam ilmu pengetahuan pesantren saat itu, yaitu; Ilmu ushul (tauhid) dan ilmu kalam, Ilmu fiqih dan ushul fiqih (termasuk hukum, undang-undang dan jurisprudensi), Ilmu tafsir dan ilmu hadis, Ilmu tasawuf dan ilmu etika (akhlaq), Ilmu bahasa dan tata bahasa (ilmu nahwu, ilmu sharaf, pengetahuan bahasa-bahasa nusantara, dan leksikograf), Ilmu balaghah dan ilmu mantiq, Ilmu pertanian (ilmu perusan bumi), Ilmu thib (kedokteran) dan pengobatan, Ilmu astronomi, ilmu falak dan astronomi, Matematika dan aljabar, Ilmu-ilmu teknik, Ilmu bumi, ilmu alam dan ilmu biologi, Ilmu syajarah (sejarah), Ilmu-ilmu sosial (ilmu politik, ilmu tata negara, dan ilmu ekonomi).

Dengan merujuk kesemua hal tersebut Baso dalam buku ini menjelaskan, bagaimana pesantren ikut mengolah tradisi kebangsaan dan keadaban melalui kosmopolitanisme ala pesantren, dengan contoh peran pesantren di jaman penjajahan. Maka membicarakan sejarah kebangsaan dan peradaban bangsa Indonesia tanpa menyinggung pesantren adalah ahistoris.

***

Kehadiran buku ini sangat baik bagi kahasanah sejarah nasionalisme, pendidikan nasional dan pesantren itu sendiri. Melalui buku ini pesantren tidak sekedar dijadikan obyek penelitian, tapi menjadi subyek, pesantren menulis. Dari sinilah kita bisa mendapatkan keseimbangan informasi dan wacana tentang pesantren.

Meskipun begitu kehadiran buku ini juga melahirkan beberapa catatan urgen berkaitan maksud penerbitannya. Pertama, berkaitan dengan judulnya begitu panjang, mengapa tidak cukup pesantren studies jilid/buku IIa saja? Kedua, berkaitan dengan jilid II  diterbitkan terlebih dahulu, ada apa gerangan dengan jilid/buku I? Ketiga, buku ini tidak di pasarkan di toko buku umum, buku ini hanya dapat dipesan langsung melalui penerbitnya atau melalui dunia maya, apakah ini tidak justru menyulitkan kalangan umum dan pesantren mengaksesnya? 

Terlepas dari itu semua, kita patut mengapresiasi kehadiran buku ini sebagai bentuk perjuangan intelektual Ahmad Baso, sebagai salah satu intelektual muda NU terdepan dan konsisten menulis dengan kritis dan keberpihakan jelas pada pesantren, NU dan Islam Aswaja. Melalui buku ini Baso menunjukkan pada kita bagaimana belajar mengelola pengetahuan, mengelola institusi pendidikan yang bisa berperan aktif dan konsisten untuk keadaban dan kebangsaan Indonesia agar bangkit dan jaya. ***

 * Peresensi adalah Penulis Lepas dan Petani Tembakau di Temanggung




Bagikan:
IMG
IMG