IMG-LOGO
Nasional

NU Inginkan Wibawa Kesultanan Nusantara Dibangkitkan Lagi


Sabtu 1 Juni 2013 11:16 WIB
Bagikan:
NU Inginkan Wibawa Kesultanan Nusantara Dibangkitkan Lagi

Sidoarjo, NU Online
Nahdlatul Ulama (NU) menginginkan wibawa kesultanan dikembalikan sebagaimana dahulu kala. Kesultanan atau keraton merupakan elemen penting terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).<>

Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam pembukaan Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Jatim di Pondok Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo, Jum’at (31/5) malam. 

Said Aqil menyampaikan keinginan untuk membangkitkan kembali keraton saat membahas peran dan eksistensi pesantren. Dikatakannya, sejarah mencatat sultan dengan wali (ulama) merupakan satu kesatuan. Secara kelembagaan itu berarti menyatunya antara kesultanan atau keraton dengan dunia pesantren yang terjalin mulai Samudera Pasai di Aceh, di Jawa hingga Ternate Todeore di Maluku dan Papua.

“Secara berangsur hubungan itu renggang bahkan terpisah, berdiri sendiri tanpa saling mengisi, bermula sejak zaman Belanda dan berlangsung hingga zaman orde baru. Padahal mulanya mereka sekeluarga. Dalam keterpisahan itu keduanya mengalami kemerosotan. Tetapi pihak kesultananlah yang paling merasakan akibatnya,” katanya.

Menurut Kang Said, sekarang ini hanya tingga dua atau tiga kesultanan yang masih hidup dan berkuasa, yang lain tinggal nama, ataupun dihidupkan kembali tetapi tidak punya rakyat, tidak punya tentara. 

“Bayangkan dengan dunia pesantren, ketika ditindas Belanda dan direpresi orde baru, tetapi masih terus hidup. Saat ini umumnya pesantren yang jumlahnya ribuan itu ada yang memiliki santri dua ribu hingga lima ribu orang. Bahkan organisasi kepesantrenan masih memiliki kekuatan para-militer terlatih yang jumlahnya bisa ribuan orang. Hal yang sama tidak dimiliki oleh Kraton atau kesultanan manapun di Nusantara,” katanya.

Ketua Umum mengungkapkan, belakangan ini keraton baru menyadari kelemahan tersebut, bersamaan dengan kunjungan para Sultan Nusantara ke NU. “Karena itu mereka mulai merasa pentingnya kerjasama dengan organisasi kepesantrenan seperti NU, sebagai upaya mengembalikan wibawa kesultanan sebagaimana dahulu kala,” katanya.

Dengan ketemunya kembali dua elemen penting Nusantara yaitu antara kesultanan dan pesantren diharapkan Indonesaia bisa menemukan jatidirinya kembali. Karena keduanya sebenarnya pemangku utama budaya Nusantara yang berpegang teguh pada nilai tradisi dan norma agama, yang ini telah tertanam dan terjalin sejak berabad yang lalu yang telah dirintis oleh para wali sejak datangnya Islam di Nusantara. 

“Bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia sendiri, kembali pada nilai-nilai Nusantara menjadi sangat mendesak saat ini, sebab apa yang dirumuskan dalam sistem politik dan ketatanegaraan kita seperti Pancasila adalah merupakan produk dari falsafah dan budaya Nusantara. Karena itu nilai kenusantaraan dan kepesantrenan perlu terus digali bersamaan dengan proses menemukan jati diri bangsa ini,” tambahnya.

Selain para pengurus teras NU Jatim, pembukaan Konferwil NU Jatim dihadiri sejumlah tokoh antara lain sesepuh NU KH Muchit Muzadi dan KH bashori Alwi, Katib Syuriyah PBNU KH Yahya Staquf dan KH Kafabihi Mahrus, Mantan Ketua MK Mahfud MD, Ketua Umum ISNU Ali Masykur Musa, Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim Soekarwo dan Saifullah Yusuf, dan delegasi pengurus NU dari 44 cabang serta para kiai dari berbagai pondok se-Jatim.



Penulis: A. Khoirul Anam

Bagikan:
IMG
IMG