Mahasiswa NU Diberi Wawasan dan Potensi Pendidikan Internasional

Surabaya, NU Online
Meet The Leader with PCI NU Jerman, acara yang bertempat di kompleks Masjid Kemayoran NU, di Jl.Indrapura Surabaya beberapa waktu lalu menjadi momen yang menarik untuk para peserta beasiswa Supercamp malam itu, pasalnya selain sebagian besar dari mereka baru saja di terima di ITS, ITB dan jurusan favorit seperti di Fakultas Kedokteran Unair serta jurusan favorit di PTN lainnya, mereka dapat sharing dan berdialog langsung melalui media teleconference dengan para punggawa NU yang telah sukses belajar di negeri panser, Jerman. <>

Seperti yang kita ketahui bersama, dalam beberapa tahun terakhir ini, ITS dan beberapa PTN lainnya telah menjalankan program fast track ke Prancis dan Jerman untuk para mahasiswanya yang ingin melanjutkan studi disana pada semester-semester akhir perkuliahan. 

Program teleconference ini diadakan sebagai bekal awal untuk pelajar NU di Supercamp agar tidak takut dan terus termotivasi belajar sampai ke benua biru tersebut. 

Kali ini Supercamp melakukan dialog dengan Suratno,  ketua tanfidziyah PCI NU Jerman yang saat ini sedang menuntaskan doktoralnya di Uni Goethe Frankfurt. Sementara di Surabaya, program teleconference ini dipandu oleh Mohammad Zikky, alumni mahasiswa pascasarjana Jerman sekaligus kawan dekat Suratno yang sama-sama menjadi ngurusi PCI NU Jerman saat aktif dulu dan saat ini telah kembali ke tanah air mengajar di PENS-ITS Surabaya.

Program Beasiswa Supercamp SNMPTN/SBMPTN yang punya alamat web blog di http://beasiswasupercamp.blogspot.com, adalah sebuah program pengasramaan bimbingan gratis untuk persiapan masuk PTN favorit. Program ýang dihelat oleh para alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ITS ini menjadi program yang banyak diincar oleh para siswa kelas 3 SMA/MA/SMK yang baru saja lulus dari sekolahnya. 

Untuk tahun 2013 saja, peminat saat seleksi mencapai 200an lebih dari bangku yang hanya tersedia sebanyak 30 siswa. Menurut panitia, sebenarnya ketersediaan kursi tersebut masih minim, panitia berharap dana yang dihimpun dari para donatur terutama alumni ITS terus meningkat di tahun-tahun mendatang, sehingga tahun depan Supercamp bisa menerima siswa lebih banyak lagi. 

Pembinaan ini menarik, pasalnya program ini selain telah meluluskan banyak peserta didik ke berbagai PTN Favorit di Indonesia, program ini tidak hanya berkiprah seperti umumnya bimbingan belajar, lebih dari itu program ini menyuguhkan berbagai pembinaan full time selama 24 jam X 40 hari. Selain penggemblengan materi-materi ujian masuk PTN dan pembinaan karakter, mereka juga diajak untuk selalu meluruskan niat, menyucikan hati dan selalu bertafakkur kepada sang Kholiq, plus setiap hari selalu ada motivasi dari berbagai alumni dan tokoh yang telah sukses di berbagai bidang. 

Yang tak kalah menariknya, program ini diselenggarakan dengan tanpa sepeser pun menarik biaya peserta didik. Ya, program ini totally free; segala akomodasi, uang makan sehari-hari, transportasi dan lain sebagainya semua ditanggung panitia selama pelaksanaan. Tentunya sasaran utama dari panitia adalah para siswa dari kalangan NU yang kurang mampu secara ekonomi, namun punya prestasi dan bakat yang siap di trigger bersaing menuju PTN favorit yang diimpikan. 

Lembaga Amil Zakat dan Infaq Al-Ma'un (LAZIM) sebagai wadah penyelenggara Supercamp dari para alumni ITS tersebut telah menyelenggarakan program ini selama 4 tahun berturut-turut sejak tahun 2010 dan ini merupakan angkatan yang ke 4. Acara ini independen dan murni tumbuh dari kesadaran kolektif para alumni ITS yang menganggap bertanggung jawab mewadahi para siswa yang ingin mengasah dan bersaing masuk PTN favorit namun tidak punya biaya untuk ikut bimbingan-bimbingan mahal yang ada disekitar.

Dalam teleconference tersebut, Suratno menjelaskan bahwa Jerman merupakan negara yang saat ini menjadi tujuan pendidikan di dunia. Selain biaya pendidikannya yang bisa dikatakan gratis dari TK sampai S3, pendidikan di Jerman terjamin kualitasnya. Hampir semua institusi pendidikan disana sama kualitasnya, semua bagus dan berkualitas serta sudah melalui quality control yang terjamin oleh pemerintah. Tidak ada universitas yang jelek atau tidak jelas (abal-abal) seperti yang masih banyak ditemui di universitas-universitas swasta di negara Indonesia. Belum lagi akses transportasi di Jerman adalah akses transportasi terbaik dunia, untuk pelajar dan mahasiswa cukup dengan kartu pelajar/kartu mahasiswanya dia bisa berselancar semaunya kapanpun dan dimanapun (asalkan masih dalam satu negara bagian/state) dengan gratis. 

Dengan kedisiplinan yang tinggi, terjaminnya angkutan umum sampai ke pelosak-pelosok, didukung dengan armada yang sangat banyak dan manejemen yang baik, hampir tidak ada alasan dalam aktifitas keseharian yang telat karena alasan macet. 

Di sisi lain, Dosen Universitas Paramadina Jakarta ini juga mengungkapkan bahwa untuk di tingkat Universitas, Jerman membanginya menjadi dua model, yaitu Universität (UNI) dan Fachhochschule/Universitas Ilmu Terapan (FH). UNI lebih menekankan ke teori dan kepadanya diberikan tanggung jawab dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Komposisi antara kuliah/teori dan praktek di UNI 60:40. Sebaliknya, FH lebih menitikberatkan ke aspek terapan, dengan komposisi kuliah/teori dan praktek 40:60. FH hanya memiliki program S1 dan S2. Sementara UNI memiliki program S1, S2, dan S3.

Pada sesi tanya jawab, peserta Supercamp banyak yang menanyakan masalah beasiswa, kehidupan keseharian dan keislaman di negeri Panser tersebut. Suratno menjelaskan, mengenai beasiswa yang ada saat ini, banyak sekali alternatif beasiswa ke Jerman lainnya, selain dari dalam negeri seperti beasiswa fast track dan double degree yang diprakarsai oleh Beasiswa Unggulan, Dikti juga  sudah meluncurkan program beasiswa Debt Swap sampai S3 dengan target terciptanya 5000 doktor lulusan Jerman untuk Indonesia. Belum juga beasiswa dari pemerintahan Jerman yang rutin dilaksanakan tiap tahun seperti DAAD ataupun sponsor lain yang berasal dari Jerman (Misal Max-Planck institute, Konrad Adenauer Stiftung, atau Alexander Humbolt Stiftung). Jadi saat ini peluangnya sangat besar sekali untuk para pelajar Indonesia yang ingin menimba ilmu di Jerman.

Sementara mengenai kehidupan keseharian, Suratno menegaskan bahwa baik wohnung (tempat kos/apartemen) ataupun bahan makanan ala Indonesia semua bisa diperoleh dengan mudah. Biaya wohnung memang bervariasi, tergantung di kota mana kita tinggal. Di kota besar seperti München dan Frankfurt akan berbeda jauh dengan kota Goettingen atau kota kecil lainnya. Namun semahal apapun biaya hidup di kota tempat belajar, pemberi beasiswa tentunya sudah mempertimbangkan semuanya, jadi tidak perlu khawatir akan kekurangan dengan biaya bulanan wohnung dan kebutuhan keseharian. Dia menegaskan “it is not about where we live, but it’s just about lifestyle”, jadi sekali lagi pengaturan kebutuhan hidup bukan masalah dimana tinggal, mau di kota besar, kota kecil atau desa sekalipun tidak banyak berpengaruh, yang sangat berpengaruh adalah soal gaya hidup. Mau tinggal di desa sekalipun jika gaya hidupnya boros dan glamour, beasiswa sebesar apapun tidak akan cukup, begitu juga sebaliknya. 

Untuk makanan Indonesia, bahan-bahan di toko Asia yang ada di Jerman sudah sangat lengkap. Dari tahu tempe sampai gula Jawa semua ada di situ, tidak perlu khawatir akan berpisah dengan makanan khas Indonesia yang sehari-hari dinikmati di tanah air.

Mengenai kehidupan Muslim di Jerman, dia memulai menceritakan tentang pengalamannya saat pertama kali menjalankan puasa Ramadhan yang bertepatan dengan musim panas dan otomatis waktunya juga sangat panjang (±18 Jam). Awalnya mungkin memang terasa berat, karena di Indonesia biasa hanya ±12 jam, disana harus nambah 6 jam lagi. Namun itu hanya terjadi sesaat, ketika kita sudah terbiasa, lama-kelamaan akan sama saja, semua mudah dan tanpa masalah sedikitpun, innamal ‘amalu bin niat, semua tergantung niatnya, jika niat ikhlas, semua akan menjadi mudah. 

Dia menambahkan bahwa Masjid di Jerman sudah bisa ditemui di tiap kota, bahkan satu kota sudah ada yang punya masjid lebih dari tiga. 

Perkembangan Islam di Jerman dan di Eropa cukup pesat akhir-akhir ini, ditambah banyaknya pendatang dari Turki dan Aljazair yang sudah turun temurun dan bertahun-tahun tinggal di sana, semakin lama jumlah masjid yang ada juga terus bertambah. Yang paling menarik, kabarnya masjid Indonesia juga akan segera bertambah satu lagi di Kota Frankfurt (selain masjid yang sudah ada di Kota Berlin saat ini), KJRI Frankfurt sudah merencanakan pendirian masjid Indonesia di kota tersebut. Ini akan menambah jumlah dan variasi masjid-masjid yang ada di Jerman, yang saat ini mayoritas masih dipenuhi masjid Turki dan Arab.


Redaktur: Mukafi Niam

BNI Mobile