IMG-LOGO
Daerah
TRADISI RUWAHAN

Ruwahan, Kreasi Wali Songo

Rabu 19 Juni 2013 21:0 WIB
Bagikan:
Ruwahan, Kreasi Wali Songo

Malang, NU Online
Tradisi masyarakat Nusantara tak luput dari sejarah nenek moyang, dan bentuk akulturasi yang dilakukan Wali Songo. Para wali menyebarkan Islam tak semerta-merta menghapus budaya sudah mengakar kuat, namun menyatukannya dengan ajaran-ajaran Islam.
<>
Demikian dikatakan Ustad Kuswandi pada gelaran Ruwahan di Pondok Pesantren Global Malang, Jawa Timur Selasa (18/6). Ruwahan tersebut adalah mendoakan nenek moyang dengan bacaan tahlil.

“Ajaran Islam yang dikenalkan Wali Songo tidak kaku, sehingga masyarakat dapat menyerap dan menerima dengan mudah,” terang Kuswandi.

Ia menambahkan, Wali Songo juga mengenalkan bulan-bulan Islam yang selalu terkait dengan proses perbaikan diri, “Salah satu bentuk persenyawaan Islam dan budaya Jawa adalah “Ruwahan atau Ruwatan,” ungkapnya.

Ruwahan adalah tradisi yang tua yang sudah ada sejak dulu. Para dewan wali kemudian mengawinkannya dengan ajaran Islam sebagai bulan penyambut Ramadhan.

Tradisi itu kemudian bisa dimaknai sebagai media untuk membersihkan diri, “Manusia itu sendiri adalah makhluk rohani yang berkeduudukan sebagai hamba, kholifah dan kekasih,” katanya.

Ia menegaskan, orang yang menganggap tradisi Ruwahan syirik adalah kalangan yang sangat tidak melek sejarah dan maknanya.

Kegiatan Ruwahan Pondok Pesantren Global tersebut dimulai dengan pembacaan Al-Qur’an seharian (Hataman) oleh para santri.  Kemudian doa khotmil Qur’an, dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang disusul taushiah oleh Kuswandi, ustad asal Surabaya.


Redaktur     : Abdullah Alawi
Kontributor : Diana Manzila

Bagikan:
Rabu 19 Juni 2013 18:38 WIB
LKKNU Buka Konsultasi Masalah Keluarga
LKKNU Buka Konsultasi Masalah Keluarga

Yogyakarta, NU Online
Problem keluarga saat ini sangatlah banyak, itu merupakan tantangan bagi perempuan di Indonesia. Ini luar biasa, hal yang sangat memprihatinkan adalah dispensasi nikah. Rata-rata perempuan yang mengajukan dispensasi adalah perempuan yang masih sekolah di SMP dan SMA.
<>
Demikianlah yang disampaikan oleh HA Zuhdi Muhdlor, wakil ketua Tanfidiyah PWNU DIY, dalam rapat MoU antara LKKNU dan majalah Bangkit di Aula PW NU DIY, (17/06). Rapat MoU yang dimulai pada pukul jam 17:00 tersebut membahas kerjasama antara LKKNU dan majalah Bangkit terkait pengisian rubrik konsultasi keluarga.

“Saya sangat senang, karena LKKNU mengangkat terkait kehidupan keluarga. Sedangkan untuk majalah Bangkit ini menjadi ektalase eksistensi NU. Selain itu, majalah Bangkit juga menjadi kancah intelektual, tafakkuh fiddin, dan alternatif media NU untuk merespon perkembangan zaman. Bangkit bisa bekerja sama dengan LKKNU," ungkap Zuhdi Muhdlor, dalam pengantar diskusi.

Muhammadun, selaku Pimred majalah bangkit PWNU DIY, mengataka bahwa majalah Bangkit mengelola tampilan rubrik konsultasi keluarga, itu dapat membangun segmen baru keluarga. 

“Harapan kita tidak cukup maslaah psikologi, tapi juga terkait masalah agama,” katanya.

Rubrik konsultasi keluarga yang akan dibuka di majalah Bangkit tersebut, dikelola oleh LKKNU DIY dengan koordinator adalah Alisa Wahid, yang sekaligus menjadi pengurus LKKNU DIY. 

"Kita yang muda-muda siap untuk bekerja, apa yang kita lakukan itu berhubungan dengan apa yang terjadi di LKKNU," ungkap, Alisa Wahid.


Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Sholikhin

Rabu 19 Juni 2013 17:32 WIB
NU Bershalawat Puncaki Kegiatan Harlah
NU Bershalawat Puncaki Kegiatan Harlah

Bangkalan, NU Online
Gawe besar kembali digelar NU Bangkalan bersama badan otonom, kali ini NU menggandeng Muslimat, Fatayat dan Ansor dalam rangka kegiatan harlah yang sengaja digelar bersamaan untuk efisiensi dan optimalisasi kerja.
<>
Rachmat,  aktifis Ansor mengatakan boleh dibilang harlah bersama ini untuk pertama kalinya. 

“Ke depan insyaallah akan kita usahakan terus sehingga terjadi sinergi yang baik dikalangan NU tutur alumni Unisma Malang ini.

Beberapa kegiatan digelar oleh panitia antara lain berupa pelatihan dan pembinaan keorganisasian di lingkungan badan otonom, lembaga dan lajnah. 

Puncak acara yang digelar Selasa, 18 Juni 2013 ini tegolong sukses, ribuan Nahdliyin dan santri Bangkalan memadati halaman stadion Gelora Bangkalan tempat acara NU Bangkalan Bershalawat digelar. Jamaah mulai mendatangi stadion dengan lapangan terbaik ini usai sholat maghrib. Sepanjang jalan Soekarno Hatta Bangkalan berubah menjadi parkir kendaraan jamaah, tepat jam 20;00 WIB Habib Syech Abdul Qodir dari Solo hadir di lokasi. 

Ketua PCNU Bangkalan, Ra Fachri, panggilan akrabnya, mengajak Nahdliyin yang hadir untuk istiqomah berjuang bersama NU. 

“Saya ingat pesan almarhum rais syuriah NU Bangkalan, barang siapa mengabdi kepada NU, tiga perkara luar biasa akan disandang oleh anggota NU, antara lain sebagai anggota dari jam'iyyah yang menentang pembongkaran sejumlah situs penting Islam oleh kelompok Wahabi yang didukung kerajaan Arab Saudi, dan yang tidak kalah pentingnya adalah pernyataan jihad fi sabillah dalam melawan penjajah adalah suara NU sehingga Indonesia bisa merebut kemerdekaan. Maka tidaklah rugi jika kita senantiasa berjuang bersama NU,” papar pengasuh pesantren hampir 2.000 santri ini.

Sementara Bupati Bangkalan Makmun Ibnu Fuad dalam sambutannya memuji apa yang telah diperankan NU Bangkalan. Selaku bupati, Ra Momon panggilan akrab bupati termuda yang juga wakil ketua PC Ansor Bangkalan ini berharap ke depan NU lebih proaktif dalam mendukung pembangunan daerah, bahkan secara tegas bupati yang didukung PKB ini juga berharap agar NU bisa melakukan kerjasama dalam bentuk program kerja. 

Usai sambutan ketua NU dan bupati Bangkalan, sambil menunggu kedatangan wakil gubernur acara dilanjutkan dengan bershalawat dipimpin Habib Syech. Suara bergetar dan histeria begitu terlihat nyata dialami ribuan jama'ah yang hadir, sehingga beberapa kali Habib memerintahkan agar jama'ah lebih tenang dan khusyu'.

Sementara itu Syaifullah Yusuf, wakil gubernur yang juga salah satu ketua PBNU menyampaikan terima kasih kepada NU atas apa yang telah diperankan. Secara tegas Gus Ipul berharap agar peran ini terus dipegang teguh NU. Tanpa pembangunan agama, moral dan perilaku bangsa ini akan hancur dan rusak. 

Redaktur: Mukafi Niam

Rabu 19 Juni 2013 16:40 WIB
Lestarikan Tradisi, MWCNU Krucil Gelar Istighotsah
Lestarikan Tradisi, MWCNU Krucil Gelar Istighotsah

Probolinggo, NU Online
Dalam rangka untuk melestarikan tradisi ulama Nahdlatul Ulama (NU), Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo bersama Pemerintah Kecamatan Krucil tiap sebulan sekali rutin menggelar istighotsah di Pendopo Kecamatan Krucil.
<>
Hal tersebut ditegaskan oleh Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Krucil Moh. Bahrawi kepada NU Online, Selasa (18/6). “Selain untuk melestarikan tradisi ulama NU, istighotsah ini untuk menindaklanjuti instruksi langsung Mustasyar PCNU Kota Kraksaan yang disampaikan pada Harlah ke-90 NU. Beliau ingin agar istighotsah ini tidak hanya dilakukan pada waktu ada musibah saja, tetapi bisa menjadi kegiatan rutin pengurus NU,” ujarnya.

Menurut Bahrawi, istighotsah ini digelar dengan tujuan untuk mempererat ukhuwah Nahdliyah diantara pengurus dan jamaah yang berasal dari unsur MWC, ranting dan pemerintahan kecamatan. Selain itu  untuk mengamalkan ajaran ulama NU sesuai dengan kaidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) serta mendo’akan masyarakat.

“Dalam tiap pertemuan, rata-rata istighotsah ini diikuti oleh 250 warga NU. Melalui istighotsah ini harapannya bahwa kegiatan NU di Kecamatan Krucil ini bukan hanya terfokus pada kegiatan dibidang agama saja, akan tetapi juga ikut menjaga wilayah supaya menjadi aman, damai, makmur dan menjadi daerah yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofur,” jelasnya.

Lebih lanjut Bahrawi menjelaskan istighotsah ini tidak hanya diisi dengan sholat berjamaah dan dzikir bersama saja, tetapi juga digelar do’a bersama dengan harapan senantiasa diberikan kemudahan dalam segala hal sehingga dapat berkomunikasi dan koordinasi dengan baik baik dengan sesama pengurus maupun warga NU.

“Selain istighotsah, biasanya para pengurus NU di semua tingkatan bersama pemerintahan kecamatan melakukan diskusi untuk membicarakan berbagai macam persoalan dan permasalahan yang sedang dihadapi oleh Nahdliyin. Selanjutnya ikhtiar bersama-sama untuk mencarikan solusi dan jalan keluar terbaik untuk kebaikan bersama,” terangnya.

Bahrawi menjelaskan istighosah ini merupakan salah satu tradisi ulama NU yang harus terus dilestarikan. Hal ini dilakukan agar warga NU tidak meninggalkan tradisi-tradisi yang ada dan tetap berpedoman pada hal-hal yang telah dirumuskan oleh ulama NU. 

“Tradisi-tradisi ini merupakan simbol dan kekuatan untuk membesarkan NU di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, semua Nahdliyin wajib bersama-sama untuk melestarikannya,” pungkasnya.

Secara terpisah Camat Krucil Muhamad Ridwan mengaku sangat mendukung kegiatan istighotsah yang digagas oleh MWCNU Kecamatan Krucil ini. Menurutnya, kegiatan ini merupakan sebuah upaya yang tepat untuk dijadikan wadah untuk berdzikir, berdo’a dan berdiskusi bersama terkait permasalahan yang dihadapi warga NU.

“Jujur Pemerintah Kecamatan Krucil sangat terbantu dengan adanya kegiatan istighotsah ini. Sebab melalui kegiatan ini kita dapat berdo’a bersama supaya wilayah Kecamatan Krucil dan sekitarnya menjadi daerah yang aman, tentram, damai dan sejahtera. Sehingga warga bisa hidup dengan tenang dan nyaman,” ujarnya.


Redaktur     : Mukafi Niam
Kontributor : Syamsul Akbar

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG