Alumnus Pesantren Sukses Kelola Bisnis Rumah Makan

, Alumnus Pesantren Sukses Kelola Bisnis Rumah Makan
, Alumnus Pesantren Sukses Kelola Bisnis Rumah Makan

Probolinggo, NU Online
Sulit mencari pengendara yang tidak mengenal rumah makan Rawon Nguling. Meski ada embel-embel Nguling, namun lokasinya berada di Desa Tambakrejo Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo dan bukan di Kabupaten Pasuruan. Sedikit ke arah timur perbatasan Pasuruan-Probolinggo.
<>
Pengelola rumah makan ini dikenal cukup agamis. Apalagi sejak 2007, ada sebuah pesantren di belakang rumah makan yang berkumpul dengan rumah keluarga besar pemiliknya. Pembiayaan pesantren ini diambil dari sebagian laba dari Rawon Nguling.

Ada dua orang yang mengasuh pesantren tersebut. Namanya H. Fathur Rozi (30 tahun) dan H. Rizky Yamani (26 tahun). Kakak-beradik ini tidak menghabiskan seluruh waktunya untuk mengasuh sekitar 50 santri yang sudah bermukim. “Sisanya untuk kulakan bahan makanan,” kata H. Fathur Rozi saat ditemui NU Online, Senin (15/7).

Rawon Nguling kini berkembang menjadi sebuah perusahaan bisnis keluarga. Rozi dan Rizky, hanya dua dari beberapa anggota keluarga yang sama-sama terjun menangani Rawon Nguling. Namun, peran Rozi-Rizky cukup krusial.

“Semua bahan makanan berupa daging, beras dan makanan pendukung lain di rumah makan, menjadi kewenangan Rozi-Rizky,” ujar H. Rofik Ali Pribadi, paman keduanya.

Sosok Rozi-Rizky menjadi pembeda di keluarga besar pendiri Rawon Nguling, pasangan suami istri H. Mohammad Dahlan-Hj Siti Fatimah yang juga kakek-nenek mereka. Keduanya merupakan alumnus pesantren. Pada 2001-2002, Rozi mengawali mondok di Pesantren Sunniyah Salafiyah, Desa/Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan.

Ia berangkat mondok atas inisiatif almarhum ayahnya, H. Edi Mulyanto. Setahun belajar di pesantren asuhan Habib Taufiq Assegaf, Rozi langsung berangkat ke Hadramaut, Yaman. Ia mondok di Pesantren Darul Musthofa yang diasuh oleh Habib Umar bin Hafidz. Ia nyantri selama 4 tahun, tepatnya pada tahun 2002-2006.

Sepulang dari Yaman, alumnus SMAN 1 Probolinggo ini menikah pada 30 Maret 2006. Beberapa bulan setelahnya, keluarga Rawon Nguling merintis pendirian Pesantren Nurut Taufiq di belakang rumah.

Selanjutnya giliran Rizky yang mondok di Pesantren Sunniyah Salafiyah pada 2004-2005. Setahun berselang, Rizky bertolak ke Yaman menyusul kakaknya untuk mondok. Yakni selama empat tahun pada 2005-2009.

Berbeda dengan Rozi, Rizky merupakan alumnus Madrasah Aliyah (MA) pada Yayasan Tarbiyah Islam di Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan. Sepulang dari Yaman, Rizky membantu kakaknya mengasuh pesantren keluarga tersebut. Ia pun menikah pada tahun 2010 lalu. 

“Mengasuh pesantren itu merupakan amanah dari ilmu yang kami dapatkan,” kata Rizky.

Selain kegiatan di pesantren itu, keduanya memiliki tanggung jawab cukup besar. Untuk meringankan tugas, istri masing-masing juga turut andil dalam pengelolaan rumah makan keluarga itu. Rozi misalnya, bertugas menjaga arus suplai bahan makanan yang diolah untuk pedagang.

Tidak hanya di rumah makan induk saja. Rozi juga harus menjaga distribusi bahan makanan ke 11 cabang Rawon Nguling di luar kota. Yakni 5 cabang di Jakarta, 4 di Surabaya, 1 di Malang dan 1 di Pandaan.

“Intinya suplai makanan harus dilakukan setiap hari. Kalau tidak bisa kulakan langsung untuk yang luar kota, agennya kami hubungi via telpon atau secara online. Sebab rumah makan kami juga buka setiap hari. Kecuali selama Ramadhan kami tutup,” terang Rozi. 
Tugas berbeda untuk Rizky adalah arus suplai daging sapi setiap hari. Di rumah makan induk, ia harus mengkonsolidasikan 3 jagal sapi untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Mengatur suplai bahan makanan ini gampang-gampang susah. Gampang karena sudah terbiasa. Susahnya, banyak tugas yang harus ditangani Rozi dan Rizky. Tapi karena di keluarga ini sudah dilakukan pembagian tugas, maka setiap anggota keluarga harus menjalaninya.

Baik Rozi maupun Rizky mengaku dua hal, mengasuh pesantren keluarga dan bisnis keluarga, sama-sama memiliki arti penting. Berdirinya pesantren, diawali dengan keberadaan rumah makan.

Sebaliknya, rumah makan itu makin eksis sejak ada pesantren tersebut. Apalagi, rumah makan ini sejak 2002 memiliki ciri khas. Yakni tutup selama Ramadhan. “Baru masuk setelah lebaran nanti. Berarti sekarang tidak mengurusi bahan makanan dulu, tetapi pesantren,” kata Rizky.


Redaktur     : Mukafi Niam
Kontributor : Syamsul Akbar

BNI Mobile