IMG-LOGO
Daerah

Pelaku Bom Alami Disorientasi Mental

Senin 12 Agustus 2013 12:29 WIB
Pelaku Bom Alami Disorientasi Mental

Surabaya, NU Online
Tragedi bom yang beberapa hari ini menjadi perbincangan media, hendaknya menjadi keprihatinan bersama. Pertanyaan mendasar, mengapa kekerasan menjadi solusi bagi sebagian umat beragama?<>

Pertanyaan itu dilontarkan NU Online kepada Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama atau PW LDNU Jawa Timur, H Farmadi Hasyim, di Surabaya Ahad (11/8). 

Menurut kandidat doktor IAIN Sunan Ampel Surabaya ini, perilaku seperti itu disebabkan oleh adanya disorientasi mental. “Penyakit jenis ini muncul dalam bentuk ketegangan psikologis yang dahsyat dalam kepribadian manusia yang disebabkan adanya kejutan kejiwaan menghadapi problema kehidupan,” terangnya.

“Dalam kondisi seperti ini orang akan mudah sekali kehilangan keseimbangan jiwa menghadapi persoalan tersebut,” ungkapnya.  Dan implementasinya adalah dengan melakukan tindakan yang di luar kontrol dan di luar batas kewajaran yang dilakukan antara lain dalam bentuk agresifitas dan sadisme. 

Penyakit disorientasi mental biasanya mudah berubah menjadi kekuatan destruktif yang besar dan membahayakan bagi pribadi yang daya keseimbangan jiwanya rendah, termasuk daya tahan moral dan spiritualnya. “Dalam kondisi mental yang rawan tersebut hanya naluri instingtual yang muncul dalam diri manusia yaitu naluri hewani,” sergahnya.

“Akibatnya, yang muncul adalah kecenderungan berbuat brutal dan memangsa, bahkan cenderung lebih brutal dan ganas bila dibandingkan hewan yang paling buas sekalipun,” ungkapnya.

Disamping faktor psikologis yang individual , tentu saja terdapat faktor lain dalam kasus kekerasan ini yakni lingkungan sosial dalam kehidupan masyarakat. 

Hal ini diperparah dengan solidaritas sosial yang mulai rengang. “Kecenderungan yang guyup, alamiyah, lekat, tenggang rasa, toleran, mementingkan rasa kemanusiaan, ternyata sudah mengalami degradasi,” katanya. “Apalagi pada saat yang sama, kehidupan keluarga telah kehilangan fungsinya sebagai raksasa penyangga kejutan,” lanjutnya.

Apa solusi yang bisa dilakukan? Kepala Seksi Urusan Haji Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya ini menyatakan bahwa ada sejumlah pilihan yang bisa dilakukan. “Terapinya menuntut pemecahan yang simultan dan komprehensif, bukan pemecahan parsial yang hanya terbatas pada kasus per kasus,” katanya.

“Budaya kekerasan dapat dilawan dengan menghadirkan budaya baru yakni budaya perdamaian atau budaya anti kekerasan, yaitu budaya rahmat dan kasih sayang,” katanya.

Karena itu umat beragama harus kembali kepada makna keberagamaan yang paling esensial yakni rahmatan lil’alamin. “Bukankah kosa kata Islam bermakna menyelamatkan?” katanya balik bertanya.

“Hal inilah yang mendesak untuk terus digelorakan oleh para pemimpin agama khususnya kaum muslimin di semua tingkatan,” pungkasnya.

 

Foto: Drs H Farmadi Hasyim, MAg


Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Syaifullah

Bagikan:
IMG
IMG