IMG-LOGO
Daerah

Sapi-Sapi Pun Ikut Menikmati Lebaran Ketupat


Kamis 15 Agustus 2013 14:45 WIB
Bagikan:
Sapi-Sapi Pun Ikut Menikmati Lebaran Ketupat

Boyolali, NU Online
Bagi warga di sekitar lereng Gunung Merapi, sapi dan hewan ternak lainnya bisa dikatakan menjadi sumber rejeki mereka setiap hari. Dari daging atau susu yang mereka perah itulah, kebanyakan warga dapat menghidupi ekonomi mereka.<>

Maka tak heran, bila saat tujuh hari setelah lebaran atau biasa disebut Bakda Kupat tiba, hewan ternak milik warga diperlakukan begitu istimewa. Bahkan, ternak yang mayoritas sapi perah tersebut dikalungi dengan untaian ketupat serta diberi minyak wangi agar baunya harum.

“Tradisi ini sudah lama. Sudah turun temurun sejak nenek moyang kami. Tradisi ini melambangkan rasa syukur kami kepada Allah atas limpahan rezeki melalui hewan-hewan ternak ini,” tutur Zaini, salah satu warga setempat.

Pada pelaksanaan kemarin, warga Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk sudah mulai berkumpul sejak pukul 06.00 WIB. Mereka menggelar tikar yang diatasnya terdapat sajian dengan menu ketupat, yang disertai sayur lengkap dengan lauk pauknya.

Usai didoakan, warga langsung bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Di rumah, setiap warga mulai memberi makan kambing maupun sapi miliknya. Uniknya, makanan yang diberikan pada ternak mereka bukannya rumput, melainkan ketupat yang dibuat oleh warga. Sapi-sapi dikalungi kupat dan diberi minyak wangi.

Setelah persiapan selesai, ratusan ternak itu pun dibawa keluar oleh warga dan mulai memenuhi jalan-jalan di pelosok desa. Warga menggiring ratusan ternak itu dan diaraknya (dijalak-jalakke) keliling desa, arakan sapi tersebut disambut warga dengan meriah.

Tradisi lebaran ketupat atau Bakda Kupat itu menurut Zaini selalu dilestarikan dan digelar pada bulan Syawal. Menurut cerita Zaini, tradisi Bakda Kupat berawal dari kepercayaan setiap hari ketujuh lebaran, Nabi Sulaiman selalu memeriksa sapi-sapi. Hal itulah yang kemudian yang dicontoh oleh warga dengan menggembalakan sapi beramai-ramai keliling kampung, kemudian menjemur sapi-sapi itu di luar kandang.

Salah satu tokoh masyarakat setempat, Hari Sutarno mengatakan, perayaan Bakda Kupat memiliki makna bahwa segala kesalahan itu dimohonkan maaf. Sehingga makanan ketupat menjadi sajian wajib baik bagi warga maupun tamu yang datang.

Tradisi yang sama juga terjadi di Palang Tuban. Sapi-sapi diberi ketupat dan mereka memakan habis ketupat yang diberikan sang pemilik sapi. Ketupatnya pun dibedakan, bentuk segitiga untuk jantan dan ketupat berbentuk kotak untuk sapi jantan.

Sebelumnya sapi-sapi itu juga diberi kalung ketupat dan didoakan bersama di Masjid. Menurut Suntoro (40) salah satu warga desa, tujuan dari tradisi Lebaran Ketupat Sapi ini adalah untuk memberi doa agar ternak sapi milik warga sehat. Dan bisa beranak banyak, sehingga mendatangkan rejeki yang berlimpah bagi pemilik sapi.

“Ketupat ini dikalungkan di leher sapi, agar sapi kami sehat dan bias beranak banyak Mas,” ujarnya. 

Sedangkan menurut warga lain, Atok Illah, tradisi lebaran ketupat sapi ini digelar sebagai bentuk rasa syukur warga setempat atas nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah Swt. Selain itu, juga sebagai bentuk apresiasi terhadap sapi yang menjadi salah satu sarana warga desa mendapatkan rejeki dari lahan pertanian dan dagingnya.


Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Ajie Najmuddin

Bagikan:
IMG
IMG