IMG-LOGO
Daerah

Siswa Madrasah Aliyah Bawa Medali Perunggu dari Korsel

Rabu 4 September 2013 10:01 WIB
Siswa Madrasah Aliyah Bawa Medali Perunggu dari Korsel

Probolinggo, NU Online
Kecerdasan Syadidul Kirom dalam ilmu matematika layak dapat jempol. Siswa Madrasah Aliyah (MA) Model Hafshawaty Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, ini berhasil mendapat medali perunggu setelah mengalahkan rivalnya dari 18 negara di Seoul, Korea Selatan.
<>
Siswa asal Desa Sidopekso Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo tersebut berhasil membawa medali perunggu dari ajang World Mathematic Invitational (IMV) 2013 di Seoul, Korea Selatan.

Syadidul Kirom tidak ada bedanya dengan siswa kebanyakan. Namun meski keperawakannya kurus, tetapi otaknya cukup encer. Sehingga ia mampu membawa nama baik sekolahnya, orang tuanya bahkan bagi bangsa Indonesia di tingkat internasional.

Awalnya NU Online merasa ragu untuk mewawancarai tentang keberhasilannya. Ternyata, remaja yang sering disapa Sandi itu mudah akrab. Dengan beberapa kalimat pembuka, langsung terbentuk obrolan lancar.

Siswa kelas X Akselerasi MA Model Hafshawaty Genggong itu begitu antusias ketika diminta menceritakan pengalamannya mengikuti kompetisi matematika tingkat internasional.Sandi bercerita jika suksesnya itu berawal saat dirinya masih duduk di bangku kelas IX MTs Negeri Pajarakan.

Saat itu, dirinya belum dinyatakan lulus Ujian Nasional (Unas) dari MTs Negeri Pajarakan dan ikut seleksi dalam program Erick Institute Indonesia (EII) yang berkantor di Blimbing, Malang, Kebetulan di MTs Negeri Pajarakan, ia juga di kelas akselerasi.

“Ketika itu, tepatnya saat ikut tes EII Malang, ternyata saya dinyatakan lolos. Itu terjadi sekitar awal bulan Mei 2013 kemarin,” jelasnya kepada NU Online, Selasa (3/9) saat ditemui di lingkungan Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo.

Kebetulan EII Malang bekerja sama dengan MTsN Pajarakan dan MA Model Hafshawaty. Setelah dinyatakan lolos, Sandi langsung menjalani karantina selama 3 bulan sejak Mei hingga awal Agustus di Malang bersama 20 peserta se Jawa Timur. Saat itu Sandi harus benar-benar fokus belajar matematika.

Setelah dikarantina selama 3 bulan, EII kembali menyeleksi 20 peserta untuk diambil 10 siswa terbaik. Nah dari 10 siswa terbaik ini akan dikirim dalam ajang WMI di Seoul, Korea Selamatan. “Alhamdulillah, saya masuk 10 siswa yang lolos untuk mengikuti WMI. Menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi saya dan orang tua,”  jelasnya.

Menurut Sandi, putra pasangan M. Rosyidi dan Musyarofah ini lolos masuk WMI bukan berarti bebas memilih medali. Di Seoul , Korea Selatam, ia harus bersaing dengan 600 orang peserta lainnya yang berasal dari 18 negara. Termasuk 9 orang temannya sendiri dari Indonesia. “Saya sempat terkejut ternyata peserta yang ikut sangat banyak. Mereka berasal dari 18 negara,” terangnya.

Sejatinya dalam lomba tersebut Sandi hanya mengikuti lomba selama 3 jam sejak pukul 11.00 hingga 14.00 waktu setempat. Satu jam pertama dihabiskan untuk menjawab 30 soal multiple choice, sejam berikutnya mengisi 15 soal isian singkat dan sejam terakhir mendengarkan kuliah umum tentang matematika.

Sambil menunggu pengumuman, Sandi mengaku khawatir dan cemas tidak dapat medali. Rupanya perasaan itu pun hilang saat berada di tempat wisata. “Ternyata dalam pengumuman tersebut, saya peringkat 3 dan dapat membawa pulang medali perunggu,” tuturnya bangga. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Bagikan:
IMG
IMG