Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Golput 284.511, PMII Pamekasan Demo KPU

Golput 284.511, PMII Pamekasan Demo KPU

Pamekasan, NU Online
Aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan betul-betul menampakkan taringnya. Karena sangat kecewa terhadap kinerja KPU Pamekasan, mereka meluruk kantor penyelenggara pemilu yang terletak di Jalan Brawijaya itu.
<>
Di bawah terik matahari, massa yang dikomandani Ketua Umum PMII Ahmad Sidik itu memadati jalan dari Arek Lancor menuju Kantor KPU Pamekasan di Jalan Brawijaya Nomor 34, pukul 09.30, Kamis (5/9).

Mereka menjadi perhatian tersendiri para pengendara dan masyarakat sepanjang jalan perkotaan. Massa PMII menggunakan aksesoris tak ubahnya perampok, yaitu bertopeng plastik hitam. Plastik yang biasa dijadikan wadah makanan ringan itu, diberi lubang tiga. Letaknya di kedua mata dan hidung untuk nafas.

Dikawal ketat oleh aparat kepolisian dari Polres Pamekasan, Didik--panggilan akrab Ahmad Sidik, menegaskan betapa aksesoris yang dikenakannya itu sebagai sindiran terhadap kinerja KPU Pamekasan. 

"Kinerja KPU Pamekasan sangat luar biasa, sangat mengecewakan. Ia terbilang berjasa mempersempit partisipasi pemilih. Buktinya, angka golput Pemilukada Jawa Timur di Pamekasan mencapai 284.511 orang," tegas Adiet, Ketua III PC PMII Pamekasan yang turut menjadi korlap aksi.

Ditambahkan Didik, DPT Kabupaten Pamekasan sebanyak 636.342. Yang milih hanya 391.831 orang.

"Dan anehnya, di samping yang golput mencapai ratusan ribu orang, suara yang tidak sah juga mencengangkan. Yaitu mencapai 6.497 orang," ungkapnya.

Fakta tersebut, terangnya, tiada lain karena sosialisasi yang dilakukan KPU Pamekasan sangat tidak digubris oleh masyarakat. KPU ini digaji pakai orang rakyat, katanya, tapi manfaatnya nihil.

Di bawah sengatan matahari, aktivis pergerakan berjibaku dengan aparat kepolisian yang membuat pagar betis di depan Kantor KPU. Didik beserta sahabat-sahabat menghendaki semua komisioner KPU Pamekasan keluar menemui mereka.

Sayangnya, yang keluar hanya komisioner Divisi Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih, Didin Sudarman.

"Sebentar, Pak. Saya ingin bertanya: apakah semua komisioner KPU berkenan menemui kami. Kami hanya mau minta pertanggungjawaban pihak KPU atas tercerainya demokrasi di Pamekasan," tanya Didik.

Didin merespon pertanyaan Didik. Pihaknya menegaskan, kedua komisioner KPU lainnya sedang berdinas. Agus Kasiyanto dikatakan sedang ke Surabaya untuk mengurus PAW anggota dewan yang kembali nyaleg dan lompat partai. Sedangkan Nuzzulul Qurnain mengawal pengiriman surat suara hasil pencoblosan ke KPU Jawa Timur.

Penjelasan Didin ini justru memantik rasa gerah para aktivis gerakan. Apalagi, Didin kembali masuk ke dalam halaman Kantor KPU sembari menelpon komisioner lainnya.

Aksi dorong mendorong dengan pihak kepolisian tampak ricuh. Untungnya, ketegangan dengan aparat kepolisian tersebut disikapi dengan sigap oleh Kapolres AKBP Nanang Chadarusman.

"Kita ini sama-sama bertugas. Tolong hormati etika," kata AKBP Nanang Chadarusman. 

Atas upaya mediasi yang dilakukan AKBP Nanang Chadarusman, terjadilah komunikasi aktif antara pimpinan PMII dengan Didin.

"Kami tegaskan kembali, Pemilukada Jawa Timur di Pamekasan terbilang gagal. Saya sendiri waktu pencoblosan mendengar pertanyaan dari pemilih. Ia mempertanyakan mana foto kepala desanya. Dikira pilgub ini pemilihan kepala desa," ungkap Didik. 

Didin menimpali, sosialisasi telah dilakukannya sampai turun ke desa-desa, sampai ke sekolah-sekolah yang muridnya memiliki hak pilih. "Hingga di pengajian-pengajian, kami sudah melakukan sosialisasi," terangnya.

Penjelasan Didin ini dibantah oleh Didik. Menurutnya, itu tidak dilakukan secara merata. Pihaknya mendesak agar kinerja KPU Pamekasan dibenahi ke depannya.

Sebagai pelampiasan kecewa atas kinerja KPU Pamekasan, aktivis PMII membakar ban bekas. Baliho yang dipancangkan di hadapan Kantor KPU pun mereka bakar.

"Baliho-baliho ini hanya tersebar di kota-kota. Sangat tidak memberikan banyak manfaat," kecam massa aksi. (Hairul Anam/Mahbib)

BNI Mobile