Pesantren Kaliopak Gelar Wayang 11 Malam 11 Lakon 11 Dalang

Bantul, NU Online
Pesantren Kaliopak Bantul, DI Yogyakrta, akan mengadakan Pagelaran Wayang Lakon-lakon Ajaran Sunan Kalijaga selama 11 Malam dengan 11 Lakon dan 11 Dalang sebagai peringatan Milenium Kalijaga (Memetri Pelataran Kanjeng Sunan), 30 September-10 Oktober 2013.
<>
“Acara ini merupakan kelanjutan dari peringatan 500 Tahun Sunan Kalijaga yang telah dilaksanakan pada tahun 2011 lalu.  Pagelaran Wayang ini dirancang sebagai upaya untuk mengembalikan fungsi pagelaran wayang sebagai media menyelami ajaran mulia para leluhur,” ujar pngasuh Pesantren Kaliopak M. Jadul Maula kepada NU Online di Jl Wonosari km 11, Piyungan, Bantul, Jumat (27/09) 

Pagelaran Wayang (11 Malam, 11 Lakon, 11 Dalang) tersebut, lanjutnya, sekaligus dapat menjadi ruang sosial masyarakat, dimana mereka tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga sambil berintrospeksi, serta kembali belajar tentang sejarah, tradisi, dan filosofi peninggalan para leluhur sendiri. 

Malam pertama, 30 September 2013, Pagelaran Wayang (11 Malam, 11 Lakon, 11 Dalang) akan dilaksanakan di Alun-Alun Utara Yogyakarta, dengan Dalang Ki Suhar Cermo Djiwandono dengan kisah Makukuhan (Dumadine Gunung-gunung).

Malam kedua hingga malam keempat, 01-03 Oktober 2013, akan dilaksanakan di Lapangan Prancak Panggungharjo, Sewon, Bantul, dengan Dalang secara berturut-turut Ki Suwaji, Ki Sumono, dan Ki Suharno, S.sn. Kisah yang diangkat adalah Watu Gunung (Dumadine Wuku, Dina, lsp), Romo Tundung, dan Senggono Duto.

Selanjutnya, malam kelima hingga malam ketujuh, 04-06 Oktober 2013, Pagelaran Wayang akan dilaksanakan di Lapangan Pesantren Pandanaran, Jl. Kaliurang, Ngaglik, Sleman, dengan Dalang secara berturut-turut Ki Utoro Wijoyanto, Ki Sugeng Cermo Handoko, dan Ki Bambang Wiji Nugraha. Kisah yang diangkat adalah Lahire Sekutrem (Dumadine Gaman), Abiyoso Lahir, dan Sentanu Banjut.

Malam kedelapan hingga malam kesepuluh, 07-09 Oktober 2013, akan dilaksanakan di Lapangan Piyungan, Jl. Wonosari, Piyungan, Bantul, dengan Dalang secara berturut-turut Ki Srimulyono, Ki Wisnu Gito Saputra, dan Ki Danang Purbo Wibowo. Kisah yang diangkat yaitu Gondomo Luweng, Lenga Tala, dan Bedahe Dworowati.

Adapun malam terakhir, 10 Oktober 2013, Pagelaran Wayang akan digelar di Lapangan Sewedanan Puro Pakualaman, dengan Dalang Ki Udreka dan kisah Jumenengan Parikesit.

Kang Jadul, sapaan akrabnya, menambahkan, bahwa kisah Wayang selama 11 malam tersebut merupakan gambaran perjalan manusia dari lahir, dewasa, hingga tua. 

Makukuhan atau Dumadine Gunung-gunung, yang akan diangkat pada malam pertama merupakan cerita ketika manusia baru lahir, sedangkan Jumenengan Parikesit, yang akan dikisahkan pada malam terakhir menggambarkan masa tua manusia. Jadi alur cerita Pagelaran Wayang selama 11 malam tersebut menggambarkan perjalanan manusia mulai lahir, dewasa, hingga tua,” tambah sosok yang sekaligus Wakil Ketua PWNU DIY siang itu.

Rangkaian acara Milenium Sunan Kalijaga yang lain adalah Pagelaran Seni Nusantara dan Festival Dolanan Anak, yang akan dilaksanakan pada siang hingga sore, sebelum Pagelaran Wayang digelar pada malamnya. 

Selain itu, Lampah Ratri Merti Luhuring Laku Sunan Kali, yakni sebuah perjalanan malam demi menjaga dan memaknai tindakan luhur Sunan Kalijaga akan dilaksakan pada 29 September 2013, di Pesantren Kaliopak. 

Sebagai pamungkas acara, akan digelar Seminar Nasional dengan tema “Dinamisasi Tradisi Sebagai Jalan Membangun Jati Diri dan Kebudayaan Bangsa” di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (Nisa’ dan Sholihin/Mahbib)

BNI Mobile