IMG-LOGO
Daerah

Pelajar NU Semarakkan Idul Adha dengan Festival Oncor

Selasa 15 Oktober 2013 23:0 WIB
Bagikan:
Pelajar NU Semarakkan Idul Adha dengan Festival Oncor

Jepara, NU Online
Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatull Ulama (IPPNU) Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, menyemarakkan malam Idul Adha dengan Festival Oncor, Senin (14/10) malam. 
<>
Kegiatan tersebut diikuti 13 dukuh se-Desa Bandungrejo dengan rute balai desa Bandungrejo-SD Bandungrejo 1-Tugu Jagad-Pasar Benguk-Makam Mbah Muruan-Parimono-Balaidesa Bandungrejo. 

Ketua panitia, Nur Said yang diwakili seksi acara, A Alimul Hasan mengatakan, kegiatan diselenggarakan untuk menyemarakkan malam Idul Adha. Dipilihnya Idul Adha karena mudah untuk berkoordinasi dengan anggota yang lain. 

Hasan yang pernah menjadi ketua panitia kegiatan serupa menyatakan, Festival Oncor yang dulunya bernama Takbir Keliling sudah ada sejak dulu dan rutin dilaksanakan setiap tahun. “Festival Oncor Kalinyamatan (FOK) menjadi agenda terbesar IPNU-IPPNU Bandungrejo. Sehingga ditunggu-tunggu masyarakat desa kami,” jelasnya, saat ditemui disela-sela kegiatan. 

H Ahmad Marzuqi, Bupati Jepara yang turut hadir, dalam sambutannya mengungkapkan, kegiatan tersebut untuk melestarikan budaya. Budaya serupa yang masih dilestarikan di Jepara, sebut Marzuqi misalnya, Jembul Tulakan (Tulakan), Perang Obor (Tegal Sambi) dan Baratan (Kalinyamatan). 

Ia menambahkan, kegiatan juga sejalan dengan perintah Nabi yaitu menghidupkan 2 hari raya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. 

Koordinator dewan juri, Suudi usai rembugan dengan 3 juri lain perwakilan dari GP Ansor, PAC IPNU-IPPNU Kalinyamatan dan PC IPNU-IPPNU Jepara memberikan apresiasi kepada semua peserta. “Festival ini yang dinilai terdiri dari 4 kategori kreativitas, semangat bertakbir, kekompakan dan jumlah peserta,” papar juri atas nama perwakilan NU itu. 

Sebagai juara I Musholla Al-Falah (Keceh) dengan nilai 1082, juara II dari dukuh Pohseret Musholla Roudlotul Jannah dengan skor 1057 sedangkan juara III diraih dukuh Kauman, Masjid Baitul Izzah dengan 1018. 

Untuk juara harapan secara berurutan diraih Mushola Al-Husna (Baleromo) 1013, Musholla Al-Ikhlas dukuh Kerdan dengan 1012 dan Mushola Roudlotus Sholikhin dukuh Ngasem dengan nilai 1007. 

Pemenang I mendapat piala bergilir dan uang pembinaan, pemenang 2 dan ketiga mendapat piala dan uang pembinaan. Semua juara harapan mendapat piala. Dan semua peserta yang belum juara mendapat bingkisan dari panitia. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)  

Bagikan:
Selasa 15 Oktober 2013 21:0 WIB
Meriahkan Malam Idul Adha, NU Sawit Takbir Keliling
Meriahkan Malam Idul Adha, NU Sawit Takbir Keliling

Boyolali, NU Online
Ratusan warga Nahdliyyin Sawit Boyolali menggelar takbir keliling, semalam (14/10). Acara yang diprakarsai MWCNU dan PAC Ansor Sawit Boyolali itu diselenggarakan untuk memeriahkan malam Idul Adha 1434 H.
<>
Panitia kegiatan, Muhammad Mukri mengatakan kegiatan takbir keliling ini diikuti oleh 11 ranting. “Sekitar 400 orang, kita keliling desa-desa di kecamatan Sawit,” terangnya.

Acara pawai yang dimulai dari Lapangan Gombang tersebut, warga yang terdiri dari berbagai kelompok umur berkeliling dengan mengendarai mobil. Sebagian ada pula yang mengendarai sepeda motor.

Ketua PAC Ansor Sawit tersebut menambahkan tujuan acara ini, yakni sebagai syiar Islam dan NU. “Agar NU Di Sawit juga semakin dikenal oleh masyarakat,” imbuhnya.

Di tempat terpisah, Ketua LDNU Sawit, Munshorif mengungkapkan acara semacam ini akan diadakan rutin di daerahnya. Menurutnya untuk kedepannya, acara takbir keliling ini akan digelar dalam konsep yang berbeda.

“Ya, dari pelaksanaan pertama ini akan kita evaluasi untuk penyelenggaraan tahun depan agar lebih bagus dan menarik,” ujarnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Selasa 15 Oktober 2013 20:0 WIB
WAYANG PMII UII
Sembelihan Gusti Allah Bernama Ismail
Sembelihan Gusti Allah Bernama Ismail

Sleman, NU Online 
Adalah Samsul, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), pada malam takbiran, mementaskan wayang Ma’el Gugat di aula sekretariat PMII Komisariat Wahid Hasyim Universitas Islam Indonesia (UII), Sleman, Yogyakarta, pada Senin malam (14/10). 
<>
Pentas yang dimulai pukul 20.00 tersebut, menceritakan anak bernama Ma’el. Ia mendapat titah atau tugas untuk ngawula (mengabdi). 

Alkisah, di Kahyangan terjadi kebakaran. Ma’el turun tangan untuk membangunnya kembali. Pada kenyataannya, kebijakan-kebijakan kerajaan tidak sesuai dengan kemaslahatan. Maka Ma’el berupaya untuk mengembalikan kebijakan sesuai nilai Tuhan. 

Di tengah pergulatan itu, ia dihadapkan pada cobaan besar yang turun dari Kahyangan lewat ayahandanya, Brehem. 

Sebelumnya, pada suatu malam, ketika Brehem sedang bertapa di bukit Nuun, ia ditemui kakek jelmaan Sang Hyang Ismaya. Kakek itu membawa kabar bahwa anak laki-lakinya telah usai menjalankan tugas di muka bumi dan Kahyangan. Sudah saatnya anaknya itu kembali menghadap Sang Hyang Moho Tunggal. Singkat kata, kakek itu menyuruh Brehem untuk membunuh anaknya, Ma’el.  

Akhirnya, Ma’el menyadari, untuk menyempurnakan titahya sebagai ngawulo, diserahkanlah raga dan nyawanya untuk membuktikan kengawuloannya sebagai hamba. Ma’el pun menusukkan keris ayahnya ke dadanya sendiri dengan diiringi tangis Brehem, ayah yang sangat mencintainya. 

Setelah Dalang Samsul menyelesaikan perjalanan cerita pewayangannya, ia mengajak hadirin untuk mengumandangkan kalimat takbir khas lebaran yang telah menjadi suatu kebiasaan, atau mungkin sudah bisa dibilang sebagai kebudayaan. 

Kemudian, lantunan takbir tersebut disambut dengan parade tadarus puisi beberapa kader PMII UII. Di antara mereka, membawakan puisi-puisi tokoh terkenal seperti karya Wakil Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus), Emha Ainun Najib (Cak Nun), dan WS. Rendra. 

Kegiatan tersebut juga diisi dengan tahlilan singkat yang dipimpin Imron Rosyadi. Kemudian dilanjutkan lagi dengan lantunan gema takbir. Lalu, peserta dipersilakan untuk ikut mengisi dan mempersembahkan puisi untuk menyemarakkan malam tadarus puisi malam itu dengan puisi pribadi atau puisi-puisi yang telah disediakan oleh panitia.

Pementasan puisi PMII Komisariat Wahid Hasyim UII tersebut berjudul “Ma’el Beleh-belehaning Gusti Allah” menjadi acara puncak tadarus puisi pada malam itu. Puisi tersebut diciptakan dan dibawakan Muhammad Najih. 

Puisi itu menggambarkan penderitaan Ummu Hajar ketika berjuang melawan tekanan saat ditinggal sendiri bersama anaknya yang baru lahir di tanah gersang Mekkah. Juga ketegaran Nabi Ibrahim ketika diperintah untuk menyembelih anaknya sendiri yang lama ia tinggalkan dan keikhlasan Ismail menerima perintah penyembelihannya.

Acara tersebut merupakan acara yang diadakan oleh kader-kader PMII UII untuk mengisi malam takbiran Idul Adha dengan warna baru, yang diekspresikan melalui lantunan puisi dan pementasan-pementasan berbau kebudayaan lain. 

Pada kesempatan itu diadakan peluncuran komunitas Cadas (cinarito ing kabudayan sandiworo) yang baru saja dibentuk oleh kader-kader PMII UII untuk mewadahi potensi kader dalam bidang seni dan budaya. (Muhammad Najih-Samsul Ariski/Abdullah Alawi)

Selasa 15 Oktober 2013 19:0 WIB
Sudah Saatnya PMII Emban Amanat Perubahan
Sudah Saatnya PMII Emban Amanat Perubahan

Pontianak, NU Online 
Puluhan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)  Kota Pontianak mengikuti silaturahim warga pergerakan yang dikemas dalam bentuk dialog pada di Hotel Grand Mahkota, Pontianak, Kalimantan Barat, pada Senin (14/10).

<>Silaturahim bertema “Tri komitmen PMII sebagai resolusi kepemimpina negeri” ini mendaulat mantan Ketua Umum Pengurus Besar PMII periode 1994-1997, Muhaimin Iskandar, sebagai pembicara. 

Muhaimin yang juga Menakertrans tersebut mengungkapkan, bahwa sebagai seorang pemimpin, hendaknya memiliki tiga komitmen, yakni intelektualitas, profesionalitas, dan komitmen sosial. 

Semua itu, hendaknya menjadi pijakan serta paradigma berpikir tiap-tiap pemimpin. Selain itu, saat ini Indonesia sedang mengalami beberapa kecendrungan, diantaranya dunia saat ini menganggap bahwa Indonesia merupakan bangsa yang sangat besar.

Sehingga, kata pria yang akrab disapa Cak Imin ini, masyarakat dunia menjadikan Indonesia menjadi pasar produk dunia. Hal ini, tambahnya, tentunya memiliki dampak positif dan negatif bagi bangsa kita.

Dampak positifnya, kata dia, ialah masyarakat dunia akan berusaha menjaga agar perekonomian negara kita tetap stabil, tetapi dampak negatifnya ialah kita akan menjadi bangsa yang tidak mandiri. 

Padahal, Indonesia memiliki SDM serta SDA yang luar biasa,  namun keduanya belum dimanfaatkan secara maksimal. "Sudah satnya PMII memegang amanat perubahan,” ujar Cak Imin. 

Menurut dia, perubahan tersebut dapat dilakukan dengan kreativitas dan mulai melakukan perubahan dengan mengubah pola pikir rakyat dan masyarakatnya. (Ahmad Fauzi/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG