Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kenang Sejarah, Masyarakat Lasem Hiasi Kampung dengan Lampion

Kenang Sejarah, Masyarakat Lasem Hiasi Kampung dengan Lampion

Rembang, NU Online
Deretan lampion menghiasi sepajang jalan masuk Desa Karang Turi, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, sejak 13 Oktober kemarin. Dalam sekejap desa ini pun mendapat julukan “Kampung Lampion”.
<>
Ratusan lampu khas warga Tionghoa ini dipasang secara gotong-royong oleh masyarakat China yang tinggal di Desa Karang Turi, dan bekerjasama dengan SMK Umar Fatah Rembang. 

Ketua Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lasem Sholahudin, Selasa (15/10), menjelaskan, munculnya Kampung Lampion merupakan wujud partisipasi masyarakat untuk mengenang sejarah dan jasa tokoh penyebar Islam Sayyid Abdurrahman  atau juga dikenal Mbah Sambu. 

Menurut Gus Din, sebutan akrab ketua PCNU Lasem itu, dulu ada trio pahlawan yang berjuang dalam perang besar melawan Belanda di Lasem, yaitu Mbah Joyo Gento (cucu Mbah Sambu Lasem), Pong Kiyat (orang China Muslim), dan Mbah Margono. 

Tiga serangkai tersebut turut memperjuangkan kemerdekaan dan dakwah Islam di Lasem. Membuat Kampung Lampion ini, kata Gus Din, merupakan salah satu cara masyarakat China Desa Karang Turi untuk mengenang situs bersejarah dan peristiwa penting nenek moyang mereka.

Hingga kini, lanjut Gus Din, masyarakat Cina yang tinggal Desa Karang Turi hidup berdampingan dengan rukun karena. Banyak tokoh NU dan kiai di daerah tersebut yang  merupakan keturunan asli warga Tionghoa, seperti pengasuh  Pesantren Kauman Desa Karang Turi KH Zaim A Ma’soem. Ia juga termasuk mantan Ketua Tanfidziah PCNU Lasem.

Menurut Pandu, ketua tim kreatif  mengatakan, ini hanya sebuah ide untuk membangkitkan semangat masyarakat Lasem, tentang banyaknya situs bersejarah dan peristiwa penting yang layak untuk di ingat dan diketahui segenap masyarakat yang ada di Lasem khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

Pandu menilai, jika masyarakat mau melihat sejarah tentu masyarakat tidak akan bertikai hanya karena perbedaan ras, suku, agama, dan keturunan. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

BNI Mobile