IMG-LOGO
Warta

Refleksi Pembaharuan Fikih Islam

Sabtu 16 Agustus 2003 15:42 WIB
Refleksi Pembaharuan Fikih Islam

Kairo, NU.Online
Selepas acara pertemuan Internasional II (30-01/08/2003) para aktifis Nahdlatul Ulama Cabang Istimewa Mesir terus menggelar berbagai aktifitas rutinannya. Jumat (15/08) tepatnya pukul 17.00 WK, para aktifis yang tergabung dalam Al-Mu'ashir Study Club (MiSCu) kembali menggelar diskusinya. Kali ini mengangkat tema tentang 'Pembaharuan Fikih Islam' dengan menampilkan Muhammad Salim Al-Awwa dalam karyanya  Al-Fiqh al-Islâmî fî Tharîq al-Tajdîd. Bertindak sebagai Presentator dalam diskusi ini Azhar Amrullah.

Salim menekankan tentang pentingnya tajdid Islam terutama dalam bidang fikih, karena fikih yang pada awalnya dipahami sebagai sebuah aktualisasi dan refleksi dari syari'ah, ternyata telah mengalami distorsi dan pembiasan makna. Fikih sekarang lebih dipahami sebagai syariah an sich. Dari sinilah, Salim dengan daya kritisnya mengandaikan kembalinya fikih kepada makna asal, dengan kata lain, dia menginginkan dikotomisasi antara terminasi syariah dan fikih. Syariah merupakan sebuah jalan atau metode yang telah digariskan oleh Tuhan untuk mencapai sebuah kebenaran, sedang fikih adalah interpretasi dan ekspresi dari metode tersebut.

<>

Disamping itu, yang tidak kalah menariknya adalah pembahasan tentang ijtihad, dia sangat mengecam sebuah adagium bahwa 'pintu ijtihad telah ditutup'. Menurutnya, ijtihad itu tidak pernah ditutup, karena jika ijtihad ditutup maka bagaimana dengan validitas sabda Nabi bahwa 'Barangsiapa berijtihad, lalu ijtihadnya itu benar maka dia mendapat dua pahala dan barangsiapa berijtihad, lalu salah dalam ijtihadnya, maka dia mendapat satu pahala'. Jika ijtihad ditutup, bagaimana dengan keabsahan hadits tersebut, Tegas Salim.

Suasana diskusi semakin menghangat, terjadi tarik ulur pendapat antara yang pro dibukanya kembali kran ijtihad dengan yang ingin tetap mempertahankan dogma bahwa ijtihad tidak boleh di zaman modern ini. Ditengah ketegangan dan perdebatan sengit tersebut, M. Mudarris yang bertindak sebagai moderator terpaksa harus menghentikan diskusi karena waktu tidak memungkinkan untuk dilanjitkan.

Setelah shalat maghrib berjamaah, para diskusan pun ikut bergabung dengan para aktifis senior (yang tergabung dalam Jam'iyah Thariqah) yang kebetulan pada hari dan tempat yang sama mengadakan acara rutinannya yaitu thariqotan. Acara yang diselenggarakan tiap jumat sore ini, memang sangat menarik perhatian para aktifis NU Mesir, karena disamping membaca dzikir dan sholawat, dalam kesempatan ini pun diadakan kajian rutin tentang kitab al-Risalah al-Qusyairiyah, sebuah manuskrip tasawwuf yang dikarang oleh Abu al-Qasim Abdul Karim ibn Hawazan ibn Abdul Malik ibn Thalhah al-Qusyairy al-Naisabury al-Syafi'i (376 – 460

Setelah acara dibuka dengan membaca wirid dan dzikir berjamaah, kajian kitab al-Risalah al-Qusairiyah pun dimulai, para peserta membaca dengan cara bergantian satu persatu, layaknya santri di pondok salaf. Acara berjalan dengan khidmat, sesekali tawa ringan terdengar dari mereka, menandakan rasa kebersamaan, persaudaraan dan jiwa yang penuh ketenangan.

Gus Wafi (Putra Kyai Maimun Sarang) yang bertindak sebagai imam dalam kegiatan Thariqah ini, tampak tersenyum puas ketika melihat para peserta mampu memahami dan mengartikulasikan serta mengkorelasikan isi kitab tersebut dengan fenomena dan peristiwa kekinian. Ternyata harapan yang selama ini menjadi angan-angan telah menjadi kenyataan, para aktifis NU mampu menerapkan konsep 'al-Muhafadzah 'Ala al-Qadim al-Shalih Wa al-Akhdzu Bi al-Jadid al-Ashla [Ulin, Afkar Kairo]
       

Bagikan:
IMG
IMG