IMG-LOGO
Nasional

Penyematan "Gus Dur Bapak Pluralisme" Dinilai Kurang Tepat

Kamis 14 November 2013 6:33 WIB
Bagikan:
Penyematan

Jakarta, NU Online
Penyematan gelar Bapak Pluralisme kepada Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus ditinjau kembali. Pasalnya, perjuangan Gus Dur bukan hanya pada ranah pluralitas atau pluralisme. Namun, justru pada wilayah yang lebih besar, yakni kemanusiaan atau humanisme. Pluralisme merupakan ranting dari cabang besar bernama humanisme.
<>
Hal ini ditegaskan Syaiful Arif pada diskusi dan bedah buku hasil karyanya bertajuk “Humanisme Gus Dur: Pergumulan Islam dan Kemanusiaan” di hotel Akmani, Jl. KH Wahid Hasyim No. 91, Jakarta (12/11), kemarin siang. Kegiatan ini disponsori oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI.

“Saya tidak sependapat dengan penyematan gelar tersebut. Pasalnya, Gus Dur itu sangat konsen memperjuangkan kemanusiaan. Ketika beliau membela minoritas non-muslim, Tionghoa, Ahmadiyah, dan lain-lain, maka yang dibela adalah manusianya. Bukan institusi Tionghoa dan Ahmadiyahnya. Saya curiga, penganugerahan gelar ini merupakan upaya pemerintah ‘mengandangkan’ Gus Dur hanya pada ranah pluralisme semata,” kata Arif.

Hampir semua media, baik cetak maupun elektronik, mengabadikan sambutan Presiden SBY saat memimpin upacara pemakaman Presiden keempat RI di Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Dalam sambutannya atas nama negara, SBY menyebut bahwa Gus Dur adalah tokoh pluralisme dan multikulturalisme. Oleh karenanya, gelar sebagai Bapak Pluralisme pun patut disematkan kepada Sang Guru Bangsa.

“Hemat saya, membela humanisme otomatis memperjuangkan pluralisme. Sebaliknya, memperjuangkan pluralisme tidak otomatis membela humanisme. Saya justru melihat bahwa Gus Dur merupakan sosok ideolog kemanusiaan. Tak berlebihan kiranya jika beliau ingin dipahatkan sebuah tulisan ‘Di Sini Dimakamkan Seorang Humanis’ di atas pusaranya,” tegas santri asal Kudus ini.

Dalam buku setebal 342 halaman ini, Arif mendedahkan sosok Gus Dur yang ia sebut sebagai “Gus Dur Muda”, yakni Gus Dur berbasis teks yang banyak berkutat dengan buku, majalah, jurnal, dan pemikiran. Hal ini dilakukan mengingat penulisan buku tentang Gus Dur baru menyentuh sosok dan kegiatan sosial keagamaan dan kemasyarakatan khususnya ketika Gus Dur menjabat Ketua Umum PBNU dan Presiden RI. Sangat minim yang mengelaborasi pemikirannya yang sangat brilian pada era 70-an. 

“Dalam buku ini, saya sengaja memilah antara Gus Dur Muda dan Gus Dur Tua. Namun, di buku ini saya membatasi pada ranah Gus Dur Muda yang sangat konsen pada ranah ilmiah. Sejak pertengahan tahun 1970-an hingga akhir 1980-an, Gus Dur mengupayakan keadilan sosial vis-a-vis developmentalisme Orde Baru. Beliau bahkan sempat menjadi pemimpin redaksi jurnal Wawasan yang memuat pemikiran pembangunan alternatif sebagai counter discourse atas pembangunanisme negara,” ujarnya.

Arif menambahkan, upaya penulisan buku ini hendak membumikan pemikiran Gus Dur yang berbasis teks. Arif hendak memperkenalkan teks Gus Dur ke tengah belantara pemikiran dunia. Menurut dia, ketika Gus Dur hanya dipahami kebijakannya yang kontroversial lantaran keilmuannya yang sangat tinggi, sementara masyarakat tak mampu memahaminya, maka kehadiran buku ini merupakan langkah awal membumikan teks Gus Dur tersebut. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

Bagikan:
Kamis 14 November 2013 14:1 WIB
Kang Said: Netralitas NU Harus Dijaga
Kang Said: Netralitas NU Harus Dijaga

Ngawi, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Said Aqil Siroj menghimbau kepada segenap pengurus NU di daerah agar tidak terbawa arus politik.<>

Hal tersebut beliau ungkapkan saat melakukan silaturrahim ke Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi, Ahad (10/11) kemarin.

"Usai mengisi pengajian di PCNU Magetan pada malam harinya, Kang Said berkunjung ke MWC NU Ngrambe Ahad pagi sekitar pukul 08.00," ujar Rihan kepada NU Online yang juga anggota GP Anshor Ngawi.

Dalam turba ke Ngrambe kali ini, Kang mengimbau secara khusus untuk segenap kader NU terutama di daerah agar tidak terbawa arus politik.

"Jangan sampai NU terbawa arus kepentingan politik, bukan kepentingan sosial. NU harus dijaga netralitasnya karena NU bukanlah organisasi politik," ujar Ketum PBNU.

Selain itu dalam kesempatan kali ini, kang Said juga menekankan agar para pengurus maupun anggota badan otonom tidak membawa-membawa NU untuk mendukung salah satu calon atau secara langsung melibatkan organisasi menjadi kendaraan dalam politik praktis.

"Jangan sampai membawa NU untuk "ngasak" ke caleg atau menjadikannya sebagai kendaraan politik," pungkasnya. (Ahmad Rosyidi/Anam)

Rabu 13 November 2013 19:5 WIB
Beritakan Pelajar, Media Harus Berimbang
Beritakan Pelajar, Media Harus Berimbang

Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) Farida Farichah menyesalkan sikap media yang tidak adil dalam memberitakan pelajar. Pemberitaan seperti itu menempatkan pelajar dalam posisi sulit di sekolah maupun di tengah masyarakat.
<>
Media, lanjut Farida, kerap memuat pemberitaan buruk pelajar. Pelajar digambarkan sebagai pelaku sejumlah kejahatan mulai dari penyalahgunaan narkoba, tindakan mesum, pelaku kekerasan, peredaran gelap video asusila, tindakan tawuran, atau kejahatan lain.

“Pencitraan buruk terhadap pelajar memberikan sugesti dan legitimasi bagi pelajar untuk berbuat buruk. Sadar atau tidak, pemberitaan media yang tidak berimbang terhadap pelajar turut membentuk karakter mereka bahwa kenakalan remaja itu wajar,” tutur Farida kepada NU Online, Selasa (12/11) siang.

Kenapa media tidak memberitakan kebaikan pelajar dan kegiatan positif mereka? Betapa banyak capaian dan prestasi pelajar baik level nasional maupun tingkat internasional yang bisa diangkat oleh media, tambah Farida.

Farida melanjutkan, kasus yang menimpa pelajar itu mungkin saja seperti misteri gunung es. Hanya sedikit di permukaan. Tetapi di balik pemberitaan, justru banyak sekali kasus yang tidak terkuak.

Atau sebaliknya, kasus pelajar di lapangan hanya sedikit. Tetapi media yang justru membesar-besarkan. Kalau ini terjadi, masyarakat terutama pelajar menjadi korban atas perihal ini, ungkap Farida.

Farida mengimbau penglola media untuk mempertimbangkan efek tersebut. Kalau perlu, pihak media, aktivis pelajar, pejabat terkait, dan utusan fraksi terkait pendidikan duduk bersama untuk merumuskan format kerja pemberitaan yang adil. (Alhafiz K)

Rabu 13 November 2013 17:29 WIB
Bentengi dan Perkuat Karakter Sejak Dini
Bentengi dan Perkuat Karakter Sejak Dini

Jakarta, NU Online
Sejumlah tindakan kriminal oleh pelbagai kalangan disebabkan penanaman kesadaran dan pembentukan karakter yang belum tuntas di masa muda. Kejahatan korupsi, penipuan, aneka kejahatan, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai bentuk asusila menjadi kian marak karenanya.
<>
Demikian disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) Farida Farichah kepada NU Online, Selasa (12/11) siang.

Penguatan kapasitas, kemampuan, pendidikan, dan keterampilan belum cukup. Karena, kejahatan-kejahatan itu dilakukan oleh hampir semua lapisan masyarakat. Pelaku bisa saja menteri, pejabat daerah, warga negara biasa, terpelajar ataupun bukan, ujar Farida menyampaikan keresahannya.

“Penguatan karakter dan nilai luhur sejak dini sudah harus dimulai. Karena, mereka yang korupsi, menipu, curang di pasar, pengguna narkoba, dan pelaku kejahatan lainnya juga pernah mengalami masa remaja,” tegas Farida.

Tetapi, lanjut Farida, kemungkinan lain juga bisa terjadi. Para pelaku kejahatan itu mungkin sudah menerima nilai-nilai baik. Mereka waktu kecil mengerti kejujuran, keadilan, ramah tamah, dan sopan santun. Namun, nilai-nilai itu baru sampai di tingkat pengetahuan, belum benar-benar menyatu dalam diri mereka.

Nilai-nilai luhur yang ditanam guru dan orang tua tercerabut oleh lingkungan baru yang tak aman dimana nilai di komunitas itu sudah terkena polusi. Mereka mengikuti arus tempat bekerja, bergaul, dan beraktivitas, tambah Farida.

Arus dan lingkungan buruk lebih kuat dari mereka. Kedua memengaruhi ajaran-ajaran kebaikan yang mereka terima waktu kecil. Bahkan sewaktu penanaman nilai itu berlangsung, masa remaja mereka dirusak contoh buruk dan nilai bobrok dari orang dewasa dan orang tua mereka sendiri, tandas Farida. (Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG