IMG-LOGO
Daerah

Lestarikan Tradisi NU, MWCNU Krucil Gelar Istighotsah

Sabtu 23 November 2013 21:0 WIB
Bagikan:
Lestarikan Tradisi NU, MWCNU Krucil Gelar Istighotsah

Probolinggo, NU Online
Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur tiap sebulan sekali rutin menggelar istighotsah di tiap-tiap ranting.
<>
Menurut Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Krucil Moh. Bahrawi kepada NU Online, Sabtu (23/11), selain untuk melestarikan tradisi ulama NU, istighotsah ini untuk menindaklanjuti instruksi langsung Mustasyar PCNU Kota Kraksaan yang disampaikan pada Harlah ke-90 NU.

“Beliau ingin agar istighotsah ini tidak hanya dilakukan pada waktu ada musibah saja, tetapi bisa menjadi kegiatan rutin pengurus NU,” ujarnya.

Menurut Bahrawi, istighotsah ini digelar dengan tujuan untuk mempererat ukhuwah Nahdliyah diantara pengurus dan jamaah yang berasal dari unsur MWC, ranting dan pemerintahan kecamatan. Selain itu  untuk mengamalkan ajaran ulama NU sesuai dengan kaidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) serta mendoakan masyarakat.

“Dalam tiap pertemuan, rata-rata istighotsah ini diikuti oleh 250 warga NU. Melalui istighotsah ini harapannya bahwa kegiatan NU di Kecamatan Krucil ini bukan hanya terfokus pada kegiatan dibidang agama saja, akan tetapi juga ikut menjaga wilayah supaya menjadi aman, damai, makmur dan menjadi daerah yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofur,” jelasnya.

Lebih lanjut Bahrawi menjelaskan istighotsah ini tidak hanya diisi dengan shalat berjamaah dan dzikir bersama saja, tetapi juga digelar doa bersama dengan harapan senantiasa diberikan kemudahan dalam segala hal sehingga dapat berkomunikasi dan koordinasi dengan baik baik dengan sesama pengurus maupun warga NU.

“Selain istighotsah, biasanya para pengurus NU di semua tingkatan bersama pemerintahan kecamatan melakukan diskusi untuk membicarakan berbagai macam persoalan dan permasalahan yang sedang dihadapi oleh Nahdliyin. Selanjutnya ikhtiar bersama-sama untuk mencarikan solusi dan jalan keluar terbaik untuk kebaikan bersama,” terangnya.

Bahrawi menjelaskan istighosah ini merupakan salah satu tradisi ulama NU yang harus terus dilestarikan. Hal ini dilakukan agar warga NU tidak meninggalkan tradisi-tradisi yang ada dan tetap berpedoman pada hal-hal yang telah dirumuskan oleh ulama NU. “Tradisi-tradisi ini merupakan simbol dan kekuatan untuk membesarkan NU di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, semua Nahdliyin wajib bersama-sama untuk melestarikannya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Sabtu 23 November 2013 23:0 WIB
BAHTSUL MASAIL NU SOLO
Bagaimana Hukum Pasang Foto Caleg?
Bagaimana Hukum Pasang Foto Caleg?

Solo, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Solo memnggelar bahtsul masail di kantor PCNU pada Jumat (22/11). Topik pembahasan adalah bagaimana hukum car free day atau hari bebas kendaraan dan memasang foto caleg atau calon anggota legislatif.
<>
Para kiai dan santri senior di Solo menyatakan, car free day hukumnya mubah. Tetapi bila di tempat tersebut menimbulkan maksiat, maka hukumnya diharamkan.

“Ya setidaknya jatuh pada hukum makruh,” terang Syuriyah PCNU Solo, KH Shofwan Fauzi, yang juga ikut dalam kegiatan tersebut.

Sedangkan untuk pemasangan foto caleg, selama tidak melanggar ketentuan yang ada, maka hukumnya diperbolehkan. Namun, apabila melanggar, misal dipasang di tempat ibadah, maka sah hukumnya untuk mencopot foto tersebut.

Forum Bahtsul Masail yang diselenggarakan NU Surakarta ini diadakan rutin setiap sebulan sekali, yakni tiap hari Jumat minggu ketiga. Sejumlah ulama NU Solo hadir dalam kegiatan tersebut di antaranya, Kiai Shofwan Fauzi, Kiai Abdullah Asy’ari, Kiai Anshori, Kiai Daimul Ihsan, Kiai Bakar dan lainnya.

Ketua PCNU Solo A Helmy Sakdillah mengatakan dalam kegiatan yang diadakan di Kantor PCNU Solo tersebut merupakan bahtsul masail sebelum diadakan Konferensi Cabang PCNU.

Helmy mengharapkan untuk BM yang terakhir ini, agar lebih menghasilkan keputusan atau hal yang berbobot untuk dibahas. Sayangnya, forum BM kali ini, belum sesuai dengan harapan sang ketua. Dari pertanyaan yang muncul, hanya dua persoalan yang dibahas, yakni terkait hukum penyelenggaraan acara car free day dan pemasangan foto para Caleg. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Sabtu 23 November 2013 20:2 WIB
Menyingkap Kaligrafi Dinding Masjid Raya Klaten
Menyingkap Kaligrafi Dinding Masjid Raya Klaten

Klaten, NU Online
Apabila Anda pernah ke Objek Wisata Candi Prambanan, tentu akan melihat bangunan masjid megah di seberang timur jalan. Masjid Raya Al-Muttaqun, begitu nama yang terpampang di halaman depan.
<>
Ciri khas masjid itu dikelilingi tulisan kaligrafi nama para tokoh Islam di dinding, mulai dari nama para sahabat, 4 imam madzhab dan nama-nama Walisongo, serta Sunan Tembayat dan Ki Ageng Gribig. Nama-nama itu terukir indah pada media kayu.

“Ukirannya sudah ada sejak renovasi masjid, ini dulu pesanan sang pendiri masjid,” terang salah satu pengurus masjid, yang tidak mau disebut namanya.

Dari pengamatan kami, saat singgah di masjid ini, Jumat (22/11) sore, ornamen-ornamen kaligrafi yang mengelilingi ruang dalam masjid berukuran sekitar 14×18 meter.

Beberapa bentuk bangunan konon juga menyiratkan banyak makna. Semisal, pada tempat mihrab yang berbentuk seperti gunungan wayang. Gunungan memberi makna sebagai bahasa alam yang dipercaya sebagai bentuk isyarat akan kehendak Gusti Kang Murbeng Gesang, Pemberi Kehidupan.

Dari hasil penelusuran tentang kaligrafi di Masjid Raya Klaten ini, kami mendapatkan keterangan, ukiran kaligrafi ini merupakan sebuah gambaran semangat perjuangan dakwah Islam. Mulai dari zaman Nabi dan para sahabat, kemudian berkembang ke Indonesia melalui peran para wali.

''Islam berkembang di tanah Jawa disebarkan para Walisongo. Islam masuk sampai ke Klaten dibawa oleh Kiai Ageng Gribig dan Sunan Pandanaran atau Sunan Bayat,” terang salah satu tokoh setempat, Hidayat.

Selain pesan tersirat melalui ukiran kaligrafi, secara letak geografis masjid ini juga menggambarkan akan kerukunan dalam keberagaman. Posisi masjid yang terletak berdampingan persis dengan Candi Prambanan, menjadi sembuah simbol Islam yang harmonis dan penuh dengan kedamaian. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Sabtu 23 November 2013 18:29 WIB
Gusdurian Temanggung Luncurkan Film Antiteror
Gusdurian Temanggung Luncurkan Film Antiteror

Temanggung, NU Online
Komunitas Gusdurian Temanggung, Jawa Tengah meluncurkan film dokumenter tentang kekerasan atas nama agama. Film dengan judul Kota Teror yang berdurasi 20.54 menit diluncurkan di jejaring sosial Youtube.com.
<>
“Film ini menggambarkan konflik bernuansa agama yang terjadi di Temanggung. Selanjutnya kami bandingkan dengan keadaan masyarakat Temanggung aslinya. Ini menarik karena menggambarkan dua hal yang bertolak belakang,” kata produser Emilianto Nugroho.

Untuk melengkapi gambaran itu, ia secara khusus meminta komentar dari Guru Besar Studi Agama dan Resolusi Konflik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta H Amin Abdullah dan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Moh Mahfud MD.

Keduanya dimintakan keterangan selain warga sekitar, tambah Emilianto Nugroho.

Pembuatan film ini membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Pengambilan gambar dengan menunggu momen yang tepat dinilai paling penting. Sebab, dalam membuat film dokumenter faktor akting sama sekali diabaikan. Semua yang kami gambarkan dalam film ini adalah nyata, tanpa settingan sedikitpun, terangnya.

Dalam film ini, ia menggambarkan bahwa kabupaten Temanggung sebenarnya merupakan kota yang aman dan nyaman untuk toleransi beragama. Hanya saja, kota ini kemudian dimainkan orang yang tidak bertanggungjawab sebagai lahan konflik.

Sasaran akhirnya, orang mengetahui bahwa Temanggung adalah kota damai dan aman. Di sini tidak ada potensi konflik beradasarkan agama kecuali permainan orang yang tidak bertanggungjawab.

“Kami ingin citra kota kami kembali seperti dulu; Temanggung yang aman dan harmonis,” tandas aktivis videography asal Temanggung ini, Jum‘at (22/11). (Abaz Zahrotien/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG