IMG-LOGO
Fragmen

Cara Syekh Yasin Mengader Kiai Sahal

Jumat 6 Desember 2013 5:5 WIB
Bagikan:
Cara Syekh Yasin Mengader Kiai Sahal

Tidak banyak kiai pesantren yang telaten menuangkan gagasannya secara rinci menjadi satu kitab berbahasa Arab. KH Sahal Mahfudh, Rois Aam PBNU adalah salah satu diantara yang tidak banyak itu. Syekh Yasin Al-Fadani adalah seorang gurunya yang tidak hanya mengajar dan menemaninya menulis, tetapi juga memberikan motivasi.<>

Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh adalah santri kelana biasa yang berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain, berdiskusi dengan banyak kiai. Saat mondok di Pesantren Bendo, Pare, ia seringkali bermalam di Kedunglo Kediri dan berdiskusi secara intensif dengan seorang kiai di sana. Ia juga sering menghabiskan waktu dengan Kiai Bisri Syansuri di Jombang.

Perkelanaannya dilanjutkan ke Pesantren Sarang, berguru kepada Kiai Zubair. Salah satu kitab yang didiskusikan adalah Ghoyatul Wushul karya Syekh Zakariya Al-Anshori ulama syafiiyah abad 9 Hijriyah. Diskusi berlangsung secara intensif. Di sela menerima tamu ia diajak berdiskusi. Saat bepergian keluar kota, mereka mengendarai dokar dan diskusi pun berlanjut. Kiai Zubair juga senang membuat pancingan. Terjadilah perbincangan dan Kiai Sahal pun rajin membuat catatan (ta’liqat) dalam bahasa Arab.

Hobi menulis dilanjutkan dengan mengirimkan surat (murosalah) kepada Syekh Muhammad Yasin Padang, seorang kiai pesohor dari Indonesia yang menjadi ulama besar dan menetap di Tanah Suci. Kiai Sahal mengomentari tulisan Syekh Yasin dalam satu kitab, membantahnya dengan argumentasi berdasarkan kitab yang beredar di Jawa. Satu surat berisi sekitar 3-4 lembar, berbahasa Arab.

Kiai Sahal terkejut, ternyata Syekh Yasin membalas surat secara serius. “Saya ini santri, berkirim surat, mengomentari pendapat beliau. Tidak dimarahi saja sudah untung,” katanya. Namun nyatanya surat Kiai Sahal dibalas oleh Syeh Yasin, dan Kiai Sahal pun mengirim surat lagi. Syekh Yasin membalas lagi. Terjadi dialog intensif jarak jauh. Surat-surat yang dikirimkan cukup panjang dan serius. Sepertinya ada perdebatan menarik dalam surat-surat itu. Dan saling kirim surat itu berlangsung sampai sekitar satu setengah tahun.

Syahdan, ketika turun dari kapal, saat Kiai Sahal menginjakkan kaki di Mekkah, seseorang tak dikenal langsung memeluknya dan menariknya ke sebuah warung. Seseorang itu tidak lain adalah Syekh Yasin sendiri. Mungkin dalam surat terakhir Kiai Sahal menuliskan bahwa dirinya akan menunaikan ibadah haji. Dan dalam pertemuan pertama itu pun mereka langsung akrab.

Kiai Sahal diminta tinggal di rumah Syekh Yasin. Setiap pagi ia bertugas berbelanja ke pasar membeli kebutuhan Syekh Yasin. Dan setelah itu Kiai Sahal berkesempatan belajar dengan seorang ulama besar yang diseganinya itu selama dua bulanan.

Dalam diskusi dan perdebatan, Syekh Yasin mendudukkan Kiai Sahal seperti teman diskusi. Barangkali ini tidak seperti kebiasaan kiai-santri di Jawa. Syekh Yasin sangat otoritatif tetapi pada satu sisi cukup egaliter.

Dua bulan pertemuan, Syekh Yasin mengijazahkan banyak kitab yang menginspirasi Kiai Sahal menulis banyak kitab. Dan ta’liqot yang ditulisnya saat belajar bersama Syekh Zubair dirapikan kembali. Terkumpul 500-an halaman dan belakangan dibukukan menjadi satu kitab bertajuk “Thoriqatul Husul”. Kitab ini sudah sampai ke Al-Azhar Mesir, menjadi rujukan para pengkaji ushul fiqih.

 

A. Khoirul Anam
Disarikan dari Gus Rozin, putra Kiai Sahal dalam satu sesi kajian kitab ulama Nusantara
di ruang redaksi NU Online, Kamis 21 November 2013

Bagikan:
Selasa 12 November 2013 10:1 WIB
Gerakan Mujahadah Para Kiai Pun Aktif di Pertempuran Ambarawa
Gerakan Mujahadah Para Kiai Pun Aktif di Pertempuran Ambarawa

Bulan November 1945, di berbagai daerah bergejolak perang melawan tentara Sekutu, yang mencoba untuk kembali menjajah Indonesia. Perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan terjadi di Surabaya, Jakarta, Semarang dan daerah lainnya. Pekik “Merdeka” dan kumandang “Allahu Akbar” menggema, membangkitkan semangat para pejuang.
<>
Hingga suatu malam, 20 November 1945, tentara Sekutu mulai menduduki Magelang. Kota Magelang dalam keadaan mencekam. Sementara itu, para pejuang telah bersiap untuk menghadapi pertempuran.

Hal tersebut dikisahkan secara detil oleh salah satu pelaku sejarah, KH Saifuddin Zuhri, yang merupakan konsul dari Nahdlatul Ulama Kedu sekaligus pemimpin Hizbullah: “Kami anak-anak Hizbullah-Sabilillah, membuat pertahanan di belakang Masjid Jamik Kuman Magelang. Jarak antara masjid dengan markas sekutu  yang menggunakan gedung Seminari Katolik tidak lebih dari 300 meter. Malam itu sepi sekali, walaupun belum jam 10, radio pemberontakan, antara kedengaran dan sayup-sayup pidato menggelora dari Bung Tomo memberi instruksi, membakar semangat, dan sesekali diselingi oleh seruan Allahu-Akbar berkali-kali.”

Tiga  ratus kiai, malam itu berunding mengenai penyerbuan ke markas Sekutu. Dari hasil pertemuan rahasia itu, telah direncanakan penyerangan akan dilakukan dengan berbagai cara, ada yang ditugasi untuk mengitari markas musuh dengan suatu gerakan batin, ada pula para kiai yang melakukan gerakan mujahadah dengan diiringi Hizbul Bahar dan Hizbur Rifa’i.

Kira-kira pukul 04.00 menjelang subuh, para pejuang telah bersiap bertempur. Namun, sayang markas musuh ternyata telah kosong, mundur ke Ambarawa. Sudah kepalang tanggung, pagi harinya para pejuang mengejar musuh ke Ambarawa.

Dan terjadilah apa yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Palagan Ambarawa. Di mana para pejuang dari Hizbullah-Sabilillah bersama TKR yang dipimpin Jendral Soedirman, berhasil menyerbu pasukan Sekutu dan memukul mundur musuh.

Namun, beberapa minggu setelah pertempuran pertama, pada tanggal 12 Desember 1945 jam 04.30 pagi, pertempuran kembali berkobar di Ambarawa. Pertempuran Ambarawa berlangsung sengit. Pasukan pejuang kita menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan rangkap dari kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung.

Suplai dan komunikasi dengan pasukan induknya diputus sama sekali. Setelah bertempur selama 4 hari, pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa dan Sekutu dibuat mundur ke Semarang. Kemenangan pertempuran ini kini diabadikan dengan didirikannya Monumen Palagan Ambarawa. (Ajie Najmuddin/Red: Mahbib)

 

*) Disarikan dari buku : KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang Dari Pesantren. 1974

Senin 21 Oktober 2013 17:0 WIB
Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang
Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang

Siang itu, pria berumur 34 tahun pergi ke alun-alun Tasikmalaya. Dia kemudian berdiri tegap di atas babancong, podium terbuka yang tak jauh dari pendopo kabupaten. Ia berpidato, menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih bangsa Indonesia cocok dengan perjuangan Islam.
<>
Oleh karena itu, kata dia, kemerdekaan harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya itu. Dialah Ajengan Ruhiat, tokoh Islam pertama di Tasikmalaya yang melakukan hal itu, tak lama setelah berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sampai ke Cipasung.

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Ia menolak tawaran menjadi salah seorang imam DI. Ia menampik gerakan yang disebutnya mendirikan negara di dalam negara itu, karena melihatnya sebagai bughat (pemberontakan) yang harus ditentang.

Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu DI, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya.

Kegigihannya sebagai seorang pejuang dibuktikan dengan pernah dipenjara tak kurang dari empat kali. Pertama, pada tahun 1941 ia dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari bersama pahlawan nasional KH. Zainal Mustopa. Alasan penahanan ini karena Pemerintah Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung dan Sukamanah yang dianggap dapat menganggu stabilitas kolonial.

Kedua, bersama puluhan kiai ia dijebloskan ke penjara Ciamis. Ia hanya tiga hari di dalamnya karena keburu datang tentara Jepang yang mengambil alih kekuasaan atas Hindia Belanda tahun 1942. Ketiga, tahun 1944 ia dipenjara oleh pemerintah Jepang selama dua bulan, sebagai dampak dari pemberontakan KH. Zainal Mustopa di Sukamanah. Pada saat itu, Ajengan Cipasung dan Sukamanah lazim disebut dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Keempat, ia dijebloskan ke penjara Tasikmalaya, lalu dipindahkan ke Sukamiskin selama 9 bulan pada aksi polisional kedua tahun 1948-1949, dan dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan.

Dari beberapa kali penangkapannya, membuktikan bahwa Ajengan Ruhiat sangat tidak kooperatif terhadap penjajah Belanda sehingga sangat dibenci.  Sebelum masuk penjara yang terakhir itu, sepasukan tentara Belanda datang ke pesantren pada waktu ia sedang Shalat Ashar bersama tiga orang santri. Tanpa peringatan apapun, tentara Belanda memberondong tembakan. Ajengan Ruhiat selamat, tapi dua santrinya tewas seketika.

Ajengan Ruhiat adalah ayahanda Rais Aam PBNU 1994-1999 KH Ilyas Ruhiat atau kakeknya pelukis dan penyair Acep Zamzam Noor. Dalam NU, Ajengan Ruhiat pernah jadi A’wan Syuriyah PBNU  periode 1954-1956 dan 1956-1959.

Ajengan Ruhiat konsisten memilih jalur pesantren sebagai perjuangan sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekatnya. “Tarekat Cipasung adalah mengajar santri,” demikian kesaksian HM. Ihrom, salah seorang pengagum Ajengan Ruhiat dari Paseh, Tasikmalaya.

Ajengan Ruhiat lahir 11 Nopember 1911 dan wafat 28 Nopember 1977. Hari wafatnya bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397. Sudah 36 tahun Ajengan Ruhiat, ajengan patriot dan pejuang itu meninggalkan kita. (Abdullah Alawi)

Senin 21 Oktober 2013 11:2 WIB
Muasal Kebijakan Pendidikan Agama di Sekolah Umum
Muasal Kebijakan Pendidikan Agama di Sekolah Umum

Sampai saat ini, sejatinya pendidikan Agama Islam di sekolah umum (negeri), bisa dikatakan minim. Maksimal empat jam saja setiap minggunya para siswa mendapatkan materi pendidikan agama, sedangkan minimal sekolah menyediakan jadwal satu jam. Selebihnya, siswa mesti menambah pengetahuan keagamaan mereka, entah di madrasah diniyah atau TPQ, syukur kalau di sekolah mereka ada ekstrakurikuler keagamaan.
<>
Kalau kita menilik sejarah bagaimana perjuangan agar pendidikan agama secara resmi masuk ke sekolah umum, maka keadaan sekarang tak jauh beda dengan kondisi pada awal perjuangan tersebut. 

Berdasar pada fakta sejarah, kebijakan yang ditetapkan pemerintah masa kolonial Belanda membuat pendidikan agama tidak dapat masuk di sekolah umum atau hanya boleh diajarkan di luar jam sekolah. Berbeda dengan sekolah swasta yang sedikit diperbolehkan, dengan beberapa syarat.

Oleh para tokoh bangsa Indonesia saat itu, penolakan terhadap kebijakan ini kemudian sering dilontarkan dalam sidang-sidang Volksraad, namun selalu mentah. Baru, setelah setahun Indonesia merdeka, kebijakan ini baru dapat dirubah. Tepatnya ketika diperjuangkan di masa Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi.

Fathurrahman, dari perwakilan NU, kala itu tengah menjabat sebagai Menteri Agama, bersama Ki Hajar Dewantara (Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) membuat sebuah peraturan bersama No. 1142/BHGA (Pengajaran) tanggal 2 Desember 1946 dan 1285/KJ9 Agama tanggal 12 Desember 1946. Keputusan yang baru diberlakukan tanggal 1 Januari 1947 itu, mengharuskan pendidikan agama diberikan di sekolah umum.

Pribadi Sederhana nan Moderat

Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi.

Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya.

Selain pernah menjabat sebagai Menag, Fathurrahman yang lahir di Tuban (Jawa Timur) pada 10 Desember 1901, juga pernah menjadi Wakil Ketua Konstituante (1957-1959) dan anggota MPRS sebagai wakil Karya Ulama. Karirnya yang bagus di bidang politik itu diimbangi dengan karirnya yang beragam, seperti pendidikan dan sosial masyarakat.

Keragaman itu mungkin didapat dari latarbelakang kehidupan Fathurrahman yang juga penuh dengan warna. Meskipun lahir dari kalangan NU, yakni dari pasangan Kiai Kafrawi dan Aisyah, dirinya tak sungkan bergaul dengan teman dari aliran lain. Bahkan istrinya, Buchainah, berasal dari kalangan Muhammadiyah, meskipun setelah menikah dengannya kemudian bergabung menjadi pengurus Muslimat Yogyakarta.

Di kota Gudeg ini, namanya diabadikan sebagai salah satu nama gedung di sebuah kampus Islam swasta ternama. Ia dianggap telah berjasa merintis berdirinya kampus tersebut bersama tokoh NU lain, Prof. K.H.R. Muhammad Adnan. Di kurun waktu itu pula, ia berhasil merintis lahirnya Perpustakaan Islam dan Poliklinik NU di Yogyakarta.

Dalam mengenyam pendidikan, Fathurrahman selain pernah nyantri di Jamsaren Solo, juga pernah merasakan pendidikan di Makah dan Mesir (sepuluh tahun). Sewaktu di Al-Azhar Mesir, ia aktif dalam berbagai kelompok mahasiswa Indonesia di Mesir, di antaranya adalah Jamaah al-Khairiyah al-Talabiyah al-Azhariyah al-Jawiyah. Di organisasi itu ia pernah menjadi ketua.

Usai belajar di Mesir, dia melanjutkan pendidikan di Leiden Belanda. Kemudian, selama satu tahun ia belajar di Prancis dan Inggris. Maka tak heran, kalau Fathurrahman dikenal menguasai berbagai macam bahasa asing.

Namun, dari ketinggian derajat pendidikan yang ia dapatkan tak membuat ia menjadi besar hati. Dia dikenal sebagai figur yang sederhana dan dekat dengan rakyat kecil. Di samping itu ia juga dikenal sebagai pribadi yang menghargai perbedaan pendapat, bahkan dari berbeda agama sekalipun. Menurut salah seorang putranya, seringkali seorang pastor datang ke rumahnya untuk membicarakan masalah sosial keagamaan.

Fathurrahman Kafrawi, menghembuskan nafas terakhirnya 2 September 1969, pada usia 68 tahun. Ia dimakamkan di Karangkajen, Yogyakarta. (Ajie Najmuddin/Red: Mahbib)


Disarikan dari buku : Akh. Minhaji dan M. Atho Mudzhar, Prof. K.H. Fathurrahman Kafrawi; Pengajaran Agama di Sekolah Umum


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG