IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Tasawuf Dorong Metabolisme Rohani Manusia

Ahad 22 Desember 2013 16:3 WIB
Bagikan:
Tasawuf Dorong Metabolisme Rohani Manusia

Jakarta, NU Online
Nilai-nilai tasawuf menciptakan kondisi rohani manusia untuk selalu segar. Tasawuf menjaga metabolisme rohani agar orang yang bersangkutan tidak kehilangan arah. Tasawuf mengamankan rohani sebagai bagian paling rentan dalam diri manusia yang sarat lalu lintas pengaruh.
<>
Demikian disampaikan narasumber kursus singkat Tasawuf sebagai Etika Sosial, KH Luqman Hakim di pesantren Al-Tsaqafah jalan M Kahfi I Cipedak Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (20/12).

“Segala bentuk pengaruh itu akan diurai dan diolah dengan baik oleh amal-amal tasawuf. Maksudnya bukan lain untuk menjaga metabolism rohani itu sendiri,” kata Kiai Luqman di hadapan sedikitnya 35 peserta kursus yang terdiri dari ustadz masjid dan utusan pesantren di Jakarta dan sekitarnya.

Aneka bentuk formula seperti terapi kejiwaan dan temuan ilmu pengetahuan semacam psikologi atau tawaran pemikiran filsafat, kata Kiai Luqman, telah dicoba. Namun, upaya penyelesaian itu kerap gagal di tengah jalan.

Kegagalan dalam mengatasi fenomena tragis kemanusiaan, sambung Kiai Luqman, juga mencakup pelarian semu pada agama dengan berlindung pada takdir Tuhan tanpa upaya lanjut dalam memahami dan mendalami firman-Nya, “Larilah kalian kepada Allah”.

Sedangkan nilai-nilai tasawuf menawarkan penyelesaian esensial dari segala belenggu, tekanan, penghambaan materi dan kekuasaan, dan sejumlah tekanan hidup yang membebani jiwa manusia.

Padahal semua pengaruh buruk itu kerap mengubah mental dan mengacaukan metabolisme rohani manusia. Tanpa orientasi kejiwaan itu, manusia kemudian menempuh perilaku-perilaku ektrem, tambah Kiai Luqman.

Hasil dari laku tasawuf tentu saja, tandas Kiai Luqman, dapat dirasakan hanya oleh mereka yang menjalaninya. (Alhafiz K)

Bagikan:
Ahad 22 Desember 2013 23:5 WIB
Jimly Assiddhiqie Ingatkan Masyarakat atas Maraknya Pencitraan Politisi
Jimly Assiddhiqie Ingatkan Masyarakat atas Maraknya Pencitraan Politisi

Jakarta, NU Online
Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Assiddhiqie, mengingatkan masyarakat atas maraknya pencitraan oleh partai politik dan politisi, jelang dilaksanakannya Pemilihan Umum tahun 2014 mendatang. 
<>

“Belum tentu orang yang baik citranya di media, betul-betul bisa bekerja,” kata Jimly dalam Seminar Kebangsaan bertema “Peran Ormas Islam dalam Menyukseskan Pemilihan Umum 2014” yang diselenggarakan oleh Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Ahad (22/12/2013). 

Atas maraknya pencitraan tersebut, Jimly menambahkan, Ormas Islam memiliki tugas untuk mengingatkan umatnya agar tidak tertipu. Keberhasilan Ormas Islam dalam menjankan tugas itu, dinilai sebagai keikutsertaan dalam menyukseskan pelaksanaan Pemilihan Umum. “Ormas berperan mengajak masyarakat untuk tidak golput, serta memilih dengan sadar rasional,” tambahnya. 

Jimly yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) mengungkapkan, umat harus diyakinkan untuk tidak menentukan pilihan karena pengaruh uang atau pemberian dalam bentuk lainnya. 

“Demokrasi kotor seperti itu harus dihindari. Meski kondisi perekonomian sedang tidak menguntungkan, umat harus diingatkan untuk tidak menentukan pilihan karena uang, karena pilihan mereka menentukan masa depan bangsa ini,” papar Jimly. 

Pada kesempatan yang sama Jimly juga menyinggung adanya adanya pihak yang mengharamkan Pemilihan Umum dan demokrasi. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut dengan tegas menyebutnya sebagai sebuah ketidakbenaran. 

“Memang kalau mau mengharamkan ada dalilnya, akan tetapi untuk menghalalkan pun banyak dalilnya,” tegas Jimly. 
Pakar hukum tata negara tersebut menegaskan jika Islam dan demokrasi tidak saling bertentangan, bahkan praktik berdemokrasi pertama kali diterakan umat Islam di zaman Nabi Muhammad dan keempat khalifah setelahnya.   

“Dari sejarah Islam itulah orang Barat melakukan pengkajian. Jadi, kita jangan terpengaruh oleh sekedar istilah. Anggaplah demokrasi itu bahasa gaul,” pungkas Jimly. 

Sementara Sekretaris LPOI Lutfi A. Tamimi, menegaskan pihaknya mendukung penuh untuk terus diselenggarakannya tahapan Pemilihan Umum 2014. 

“Pemilu harus terus berlangsung sesuai jadawal. Tidak ada alasan untuk menunda, apalagi menggagalkan, termasuk karena persoalan DPT (Daftar Pemilih Tetap),” tandas Lutfi. 

Lutfi menambahkan, terselenggaranya Pemilihan Umum dengan baik akan turut serta mempengaruhi masa depan Indonesia ke arah yang lebih baik. “Jika Pemilu 2014 sukses Indonesia akan lebih baik, ekonomi lebih jalan, tinggal yang kurang kita perbaiki,” tuntasnya. 

LPOI merupakan lembaga yang didirikan dan beranggotakan 13 ormas Islam, yaitu NU, Persis, Al Irsyat Al Islamiyah, Al Ittihadiyah, Mathlaul Anwar, Arrabithah Al Alawiyah, Al Wasiliyah, Adz Dzikra, Syariat Islam Indonesia, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, Ikadi, Perti, dan Dewan Dakwah Islamiyah. (mukafi niam)   

Ahad 22 Desember 2013 19:0 WIB
Munding Gus Dur
Munding Gus Dur

Lahir tahun 1991 di Kabupaten Majalengka, saya betul-betul tidak mengenal yang namanya Abdurrahman Wahid apalagi Abdurrahman Ad-Dakhil. Belakangan, saya tahu, keduanya merupakan nama lain dari Gus Dur.
<>
Kenapa nama lain? Bukankah itu nama asli beliau? Karena telinga saya pertama kali mendengar  nama Gus Dur bukan yang lainnya. Hingga nama itu terngiang terus. Sampai suatu waktu, kalau tidak salah tahun 1999-an, ada tetangga, tepatnya teman bermain menyanyikan “lagu”, sebuah lagu yang saat ini mungkin bisa disebut black campaign.

Nyanyian itu berbunyi “PAN, Amin Rais. PKB, Gus Dur. Jangan Menangis di alam Kubur,”. Jujur, saat itu saya sangat marah. Saya sampai pukul teman saya yang menyanyikan lagu itu hingga menangis.

Satu alasan kenapa saya memukulnya, Gus Dur, saat itu adalah Presiden (lagi-lagi saya mengenal dan tahu bahwa presiden Indonesia waktu itu bernama Gus Dur bukan Abdurrahman Wahid). “Presiden kok kamu ece,” kata saya waktu itu.

Orang yang pertama kali mengenalkan nama Gus Dur adalah bapak saya. Saat itu tahun 1999, umur saya baru 8 tahun. Namun bapak saya waktu itu membawa beberapa lembar kertas ke rumah. Saat ini saya mengenalnya pamflet.

Kertas itu memuat foto seorang bapak-bapak yang sudah tua berkacamata dan berkopiah. Waktu itu muncul pertanyaan, “Pak, siapa orang ini?” tunjuk saya pada foto kertas yang dibawa bapak itu.

“Ini foto Gus Dur. Presiden kita nanti,” begitu jawab bapak saya. Itulah kali pertama saya mendengar nama Gus Dur si presiden.

Lantas keesokan harinya bapak saya menempel kertas-kertas itu di pintu garasi mobilnya. Banyak sekali. Lagi-lagi saya bertanya, “Kok di tempel di pintu garasi, Pak? Kan jadinya jelek pintunya,” kataku tak setuju. Namun bapakku menjawab dengan enteng, “Biar orang lain tahu. Gus Dur akan jadi Presiden.” Saya hanya diam melihat bapak menempelkan kertas satu per satu di pintu garasi mobilnya.

Namun, hari berikutnya. Pagi-pagi ketika hendak berangkat kerja bapak saya dikagetkan dengan keadaan pintu garasi mobilnya. Garasi mobilnya penuh dengan kotoran munding (kerbau dalam Sunda). Saya tahu ketika bapak mengambil ember dan mengajak saya untuk membersihkan garasinya, kebetulan saya sekolah masuk jam 10.00 pagi karena madrasah waktu itu kekurangan kelas sehingga satu kelas angkatan saya masuk agak lebih siang.

“Tuh kan, Pak, gara-gara kertas yang ditempel jadi banyak tai munding-nya,” kataku. Bapakku hanya jawab, “Hush, yang ngelemparin kotoran ini, mundingnya Gus Dur,” katanya sambil senyum.

Saya belum puas dengan jawabannya, “Emangnya siapa sih Gus Dur itu Pak?”

“Gus Dur itu yang akan jadi Presiden Indonesia. Beliau itu seorang ulama panutan dan disegani di Indonesia. Munding aja gak berani nyeruduk garasi mobil,” jawab Bapakku seadanya.

Mungkin bagi saya saat ini jawaban itu tidak begitu memuaskan, namun dulu jawaban tersebut cukup memuaskan. “Jadi, yang ngelempar kotoran di garasi ini mundingnya Gus Dur,” tambahnya lagi.

Belakangan, menginjak remaja, saya baru tahu yang bapak maksud dengan “munding” dan kenapa kotoran kerbau itu memenuhi pintu garasi mobilnya.

Tidak lama dari kejadian itu, saya diajak nonton pemilihan Presiden oleh bapak saya di salah satu stasiun televisi. Saya lihat di TV suasana di  dalam sebuah gedung yang luas sangat ramai. Dan sorotan kamera mangarah pada satu sosok yang saya ketahui melalui kertas yang Bapak dulu bawa.

“Itu kan orang yang ada di foto kertas yang bapak waktu itu bawa?” tanyaku.

“Iya. Beliau akan jadi Presiden,” jawab Bapakku.

Saat itu saya serius menonton karena yang namanya Gus Dur, yang sering disebut-sebut bapak saya, saat itu benar-benar ada di televisi.

“Yang Mulia Gus Dur,” saya dengar seorang pemandu suara mengatakannya.

“Alhamdulillah. Tuh kan Gus Dur jadi Presiden. Mundingnya malah kalah kan,” sorak Bapak saya pada waktu itu.

Saat itu saya sangat mengagumi sosok Gus Dur. Seorang tokoh besar yang Bapak kenalkan pada saya sejak kecil. Belakangan ketika nyantri di Pondok Kebon Jambu Al Islamy Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon, saya tahu nama beliau adalah Abdurrahman Wahid Ad-Dakhil, Presiden ke-4 Republik Indonesia, Ketua Umum PBNU, tokoh kebhinekaan, tokoh anti-kekerasan, tokoh humanisme, dan seabrek julukan lainnya. (Ayub Al Ansori (@Ayub_Jambu)

 

Dalam rangka peringatan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), NU Online akan memuat tulisan anak-anak muda tentangnya. Setiap hari akan dimuat satu tulisan. Jika ingin turut berpartisipasi, sila kirim tulisan Anda ke redaksi@nu.or.id.

 

Ahad 22 Desember 2013 13:0 WIB
Lebih dari Sekadar Aqidah, Islam itu Agama Peradaban
Lebih dari Sekadar Aqidah, Islam itu Agama Peradaban

Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang akrab disapa Kang Said menyatakan, agama Islam tidak hanya menyangkut pada  persoalan aqidah. Aqidah hanya bagian kecil dari ajaran Islam. Karena, masih banyak persoalan lain yang harus dikaji lagi guna membangun peradaban Islam di dunia ini.
<>
"Islam itu bukan hanya kafir-kafiran begitu, mukmin-kafir. Bukan hanya itu. Islam bukan hanya bicara aqidah saja, bukan hanya memvonis mukmin-kafir," terang Kang Said dalam sambutan penutupan kursus singkat Tasawuf sebagai Etika Sosial di Pesantren Ats-tsaqafah, Jakarta, Jum'at (20/12).

Islam itu, lanjut Kang Said, adalah agama ilmu dan peradaban. Islam agama kebudayaan dan kemajuan. "Islam itu agama ilmu, agama intelektual, agama kemajuan, agama peradaban," tegasnya.

Lebih lanjut Kang Said menceritakan, orang pertama kali yang menegaskan Islam bukan hanya aqidah adalah Imam Hasan Bashri. Saat itu Imam Hasan Bashri dihadapkan pada fenomena saling mengafirkan di antara sesama muslim. Ia kemudian menyadari, Islam tidak akan maju jika hanya saling mengafirkan.

Imam Hasan Al-Bashri yang lahir tahun 21 dan wafat 110 H, tokoh sentral tabiin, itu menyelamatkan umat Islam. Ia sudah melupakan aktivitas saling mengafirkan. Ia lalu mengajak umat Islam untuk membangun ilmu pengetahuan, peradaban, dan kemajuan Islam, ujar Kang Said meniru seruan Imam Hasan Bashri kepada umat Islam di zamannya.

Setelah kampanye Imam Hasan Bashri bahwa Islam itu bukan hanya aqidah, mulai bermunculan ulama-ulama yang menggagas dan berkreasi membangun ilmu pengetahuan.

"Dari situ muncul ilmu hadits, ilmu tafsir, ilmu nahwu, shorof, balaghah setelah Imam Hasan Basri berteriak keras; apa-apaan ini? Kok umat islam bisanya hanya mengafirkan," tegas Kang Said.

Untuk itu, perbedaan yang ada tidak perlu dibesar-besarkan. Alangkah baiknya yang dikedepankan umat Islam adalah persamaannya. Karena, kejayaan Islam tidak akan hadir kembali jika umatnya sibuk membesarkan perbedaan, saling membid'ahkan atau mengafirkan sesama muslim. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG