IMG-LOGO
Opini

Dua Status Sial Facebook


Ahad 26 Januari 2014 19:02 WIB
Bagikan:
Dua Status Sial Facebook

Malam-malam begini, tiba-tiba saya kangen lagu-lagu kasidah. Saya kemudian mendengarkan suara emas Nur Asiah Jamil berjudul Petani, Pahlawan, dan Ulama. Lagu Petani mengingatkan saya kepada buku catatan harian ayah semasa di pesantrennya. Ayah pernah bergabung bersama tim kasidah, lagu Petani sering dinyanyikannya.
<>
Lalu lagu milik penyanyi andalan Lesbumi tahun 60-an, Rofiqoh Darto Wahab berjudul Ya Asmar Latin Sani. Lagu ini, saya tahu dari novel berbahasa Sunda yang dikarang jebolan pesantren, Usep Romli HM. Judulnya Bentang Pasantren (Bintang Pesantren). Di novel yang berlatar pesantren Sunda, tokoh utamanya menggandrungi lagu itu. Kemudian saya cari lagu itu di internet.

Setelah dapat, saya mengirim pesan singkat kepada pengarangnya, bahwa saya sudah memiiliki lagu itu. Ia sampai menelpon saya untuk mengirim lagu itu ke surat elektroniknya. Saya dengan senang hati mengabulkan permintaan pengarang yang pernah aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan GP Ansor itu.

Lantas saya putar pula kasidah milik Maria Ulfa berjudul Indonesia Baladi. Tak lupa Nasida Ria. Saya menemukan lagu berjudul Wartawan Ratu Dunia buah cipta H Abu Ali Haidar dinyanyikan Muthoharoh. Saya kutip di sini. Ratu dunia, ratu dunia, oh wartawan, ratu dunia/Apa saja kata wartawan mempengaruhi pembaca koran.

Lagu ini menggugah kenangan masa kecil yang akrab dengan kasidahan, terutama sore hari menjelang imtihan (samenan) di madrasah yang dibayar dengan iuran seliter setengah beras per bulan atau pernikah anak tetangga.

Sialnya, kenangan itu rusak ketika sambil mendengarkan lagu, saya membuka Facebook. Pasalnya saya menemukan dua status teman yang panjang. Statusnya bukan berbunyi seperti ini, “aduh kangen”, “laper nih”, “mamingan”. Bukan! Tapi tentang “akhlak” media kita. Tentu saja ini berkaitan dengan lagu kasidah itu, Wartawan Ratu Dunia yang sedang diputar.

Status teman saya yang pertama berbunyi demikian, “Pada April 2013 lalu, ketika ustadz Jefri Al-Bukhori (Uje) wafat, pemberitaan media (media elektronik, media online bahkan media sosial) begitu masif dan beruntun selama berhari-hari. Bahkan beberapa media televisi swasta nasional menyiarkan langsung acara pemakaman, juga tahlilan sampai 40 hari wafatnya Uje.

Status itu kemudian menceritakan temannya yang berkata, "Ternyata gema wafatnya Uje jauh lebih menggelegar dibanding dengan berita wafatnya kiaimu dari Krapyak itu, ya." Status itu menambahkan, "seminggu sebelum Uje meninggal, KH Ahmad Warsun Munawwir, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, Mutasyar PBNU; juga meninggal."

Status teman yang satu lagi bernada sama. Begini, “Sehari sudah Mbah Mahfudh, Rais Aam Syuriah PBNU dan Ketua MUI berturut-turut itu meninggalkan kita, beliau memiliki teladan akhlak dan karya intelektual yang reputasinya sudah mendunia.” Namun, lanjut status itu, pemberitaan di media tv nyaris tak ada, kecuali berita jalan (tag-line) yang beberapa menit. Bayangkan dengan gemuruh liputan tv saat meliput mendiang Uje Bukhari? Sebulan itu-itu saja, bahkan live pula. Ada apa gerangan dengan masyarakat-media kita?”

Menurut saya, dua status teman saya itu bukan sedang menghujat Uje. Walau bagaimanapun Uje telah berperan dalam dakwah Islam di kota. Tentulah ia punya jasa tersendiri dalam bidang itu.Tapi teman saya sedang membidik pelaku media kita.

Semakin rusak kenangan saya, ketika menemukan status teman lain, “Bagi media yang alergi dengan nama NU, biasanya memberitakan kepergian Mbah Sahal Mahfudh dengan menghubungkan status beliau sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sayangnya, di website lembaga yang sering digunakan sebagai pelarian dari media pengidap penyakit di atas, tak sedikit pun membahas atau berbela sungkawa terkait mangkatnya Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.”

Status tersebut dikomentari temannya begini, “Biarlah Pengakuan terhadap Mbah Sahal menurut kepercayaannya masing-masing . Bagi mereka, itu saja sudah untung, bahkan bisa dikatakan prestasi. Daripada terus-terusan mencela."

Media tak suka kiai desa dan penulis?

Ini mungkin pertanyaan berlebihan. Tapi tidak apa, sesekali bolehlah. Soalnya, dua status pertama teman saya membandingkan, setidaknya dua hal. Pertama, kiai yang penulis dengan kiai lisan. Kedua, kiai kota dan desa.

Mari telisik lebih lanjut, KH Sahal Mahfudh tinggal di Desa Kajen itu menulis kitab dalam bahasa Arab, diantaranya Intifakh al-Wadjin, Faidh al-Haja ala Nail al-Raja Mandhumah Safinat al-Naja, Thariqat al-Hushul ala Ghayat al-Wushul dan a-Bayan al-Mulamma' 'an Alfadh al-Luma' (al-Syairazi), dll. Kitab Ghayat al-Wushul Kiai Sahal jadi salah satu rujukan ushul fiqih di Al-Azhar, Mesir. Juga di Hadralmaut (Yaman), dan Sudan. Belum lagi buku-buku dia dalam bahasa Indonesia, serta artikel-artikel lepasnya di majalah ataupun koran.

Pun begitu Kiai Warsun. Ia yang juga tinggal tidak di ibu kota itu menulis kitab Al-Munawwir, kamus Arab-Indonesia : Indonesia-Arab. Kamus ini digunakan tidak hanya ribuan santri, tapi juga mahasiswa yang berkaitan dengan bahasa Arab di perguruan tinggi.

Status teman saya yang pertama, kemudian sampai kepada pertanyaan yang bernada kesal, “Apakah kebesaran tokoh sekaliber KH Sahal Mahfudh dan KH Ahmad Warsun Munawwir ini lebih kecil dibanding dengan seorang dai selebritis ibu kota yang gaul, Ustad Jefri Al-Bukhori yang memang populer dan dibesarkan oleh media???” Menurut saya, sekali lagi, pertanyaan dengan tiga tanda tanya sekaligus itu tidak sedang tidak sedang menyerang Uje. Uje tidak tahu menahu urusan itu, tapi “akhlak” media kita, terutama televisi.

Saya ingin menambahkan pertanyaan teman saya itu, apakah media kita tak suka dengan kiai desa dibanding kiai kota? Apakah media kita tak suka dengan kiai yang menulis tapi lebih suka dengan ustadz lisan? Pertanyaan lain menyusul, kenapa yang satu terus ditampilkan yang satu lagi tidak? Apa itu kebetulan atau disengaja? Saya tidak tahu jawabannya. Lebih baik kita putar ulang lagu Wartawan Ratu Dunia itu.

Apa saja kata wartawan, mempengaruhi pembaca koran/Bila wartawan memuji, dunia ikut memuji/Bila wartawan mencaci, dunia ikut membenci/Wartawan dapat membina pendapat umum dunia /Bila wartawan terpuji bertanggung jawab berbudi/Jujur tak suka berdusta, beriman dan takwa

Sebaik-baik wartawan yang ratu dunia itu, bukankah mereka tetap tunduk kepada kepentingan Pemred dan pemilik media. Coba perhatikan saja apakah TVOne senang dengan memberitakan lumpur Lapindo? Ketika dia tidak memberitakan, apakah fakta itu tidak ada? Jelas, kebijakan pemilik media sangat mempengaruhi.

Belum genap dua minggu, Pengurus Pusat Pencak Silat Pagar Nusa NU membedah buku. Tak tanggung-tanggung, dua buku sekaligus. Kuasa Ramalan karya Peter Carey, peneliti Inggris, dan buku Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949) karya Zainul Milal Bizawie. Kedua buku itu terdapat benang merah, orang-orang dari pesantren turun-temurun mengusir penjajah. Contoh paling terorganisir adalah Perang Pangeran Diponegoro.

Dari bedah buku itu pula menegaskan, kiai-kiai pesantren yang ada sekarang itu adalah keturunan pasukan Pangeran Diponegoro dan pejuang-pejuang sebelumnya. Dengan demikian, lagi-lagi saya menemukan pertanyaan begini, apa media kita tidak suka dengan keturunan para pengusir penjajah? 

Sebenarnya tidak salah para media cenderung begitu, wong itu milik mereka, menampilkan atau tidak menampilkan sebuah fakta adalah kepentingan mereka. Biarlah mereka begitu ya begitu dari sononya. Saya cuma sampai pada kesimpulan, sebaiknya para santri, yang katanya turunan para pengusir penjajah itu, berjuang juga dalam media, baik cetak, online, atau tv. (Abdullah Alawi)


Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG