IMG-LOGO
Nasional

Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh

Ahad 2 Februari 2014 18:30 WIB
Bagikan:
Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh

Almarhum KH MA Sahal Mahfudh termasuk sedikit dari ulama Nusantara yang produktif di dunia penulisan. Rais Aam PBNU ini mewariskan setidaknya 10 karya kitab, yang seluruhnya berbahasa Arab kecuali satu karya terjemahan yang ditulis dengan bahasa Jawa (Pegon).
<>
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada peringatan Harlah ke-88 NU Jumat (31/1) malam lalu menjelaskan sebagian kitab Kiai Sahal itu. Karya-karya tersebut, katanya, membuat Kiai Sahal istimewa di antara ulama-ulama lain. “Kealiman beliau itu luar biasa. Susah menemukan kiai seperti beliau,” katanya.

Sepuluh kitab Kiai Sahal tersebut mayoritas ditulis ketika masih berstatus santri Pesantren Sarang dalam usia yang relatif muda, yakni 24-25 tahun. Penjelasan kesepuluh kitab dan buku-buku karangan peraih doktor kehormatan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini merujuk pada buku Kiai Sahal: Sebuah Biografi yang ditulis Tim KMF Jakarta. Dilihat dari waktu selesai menulis, maka urutannya adalah sebagai berikut.

Pertama, Thariqat al-Hushul ‘ala Ghayatil Wushul. Diselesaikan pada 15 Ramadan 1380 H (3 Maret 1961), kitab ini berisi ta’liqat (penjelas) atas Ghayatul Wushul yang merupakan syarah (penjelasan) atas Lubbul Ushul (kedua kitab terakhir adalah karya Zakaria al-Anshari). Kitab Lubbul Ushul masuk kategori usul fiqih dan dikenal sebagai kitab yang sulit dipahami para santri karena kalimatnya sangat padat dan mengandung makna yang dalam.

Kedua, ats-Tsamarat al-Hajayniyah yang selesai ditulis pada 15 Rabi’ al-Tsani 1381 (26 September 1961). Kitab ini termasuk salah satu karya orisinal Kiai Sahal, alias bukan syarah atau hasyiah terhadap karya ulama lain. Ditulis dalam bentuk nadham dan dilengkapi penjelasan di bawahnya, kitab ini menerangkan makna dari istilah-istilah yang sering dipakai dalam kitab-kitab fiqih. Misalnya, ketika disebutkan al-imam dalam fiqih, tanpa nama seseorang di belakangnya, maka ia merujuk pada Imam al-Kharamayn Abd al-Malik ibn Abi Muhammad Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M). Jika kata yang sama muncul dalam usul fiqih dan mantiq, maka itu merujuk pada Fakhr al-Din Muhammad al-Razi (543-606 H/1149-1210 M). Sementara itu, kalau disebutkan kata al-syaykh dalam fiqih, itu berarti Abu Ishaq Ibrahim ibn Ali al-Syairazi  (393-476 H/1003-1083).

Ketiga, al-Fawa’id al-Najibah. Selesai ditulis pada 8 Jumadil Ula 1381 (18 Oktober 1961), kitab ini merupakan syarah atas matan yang ditulis sendiri oleh Kiai Sahal, yakni al-Faraid al-Ajibah fi Bayan I’rab al-Kalimat al-Gharibah. Dengan demikian, kitab ini juga termasuk dalam kategori karya orisinal. Matan yang disusun dalam bentuk nadham ini terdiri dari 89 bait dan, sebagaimana terbaca dari judulnya, menjelaskan i’rab (tata bahasa) kata-kata dalam bahasa Arab yang dianggap aneh. Dari sekian kata-kata yang secara ilmu nahwu aneh, Kiai Sahal membahas 34 kata, seperti kata aidlan dan ashlan yang selalu dibaca nasab, baik dalam bentuknya sebagai masdar maupun hal.

Keempat, al-Bayanul Malma’ an Alfadhil Luma’. Dari judulnya, dapat diphami bahwa ini adalah penjelas atas kitab al-Luma’ fi Ushulil Fiqh karya Abu Ishaq Ibrahim al-Syairazi. Kitab ini sebetulnya telah rampung ditulis dalam bentuk ta’liqat di kitab al-Luma’ pada Jumadil Ula 1381 H (Oktober 1961), tapi baru disalin secara terpisah pada 28 Rabi’ul Awal 1418 H (18 Oktober 1997).

Kelima, Intifakhul Wadajayn ‘inda Munadharat Ulama Hajayn fi Ru’yatil Mabi’ bi-Zujajil ‘Aynayn. Ini adalah salah satu karya orisinal Sahal yang selesai ditulis pada 25 Sya’ban 1381 H (1 Februari 1962). Ia membahas perdebatan ulama Kajen pada akhir tahun 1950-an tentang keabsahan penglihatan yang menggunakan kacamata terhadap barang yang hendak diperdagangkan.

Keenam, Faydlul Hija ala Nayl al-Raja yang selesai ditulis pada 18 Dzulhijjah 1381 H (23 Mei 1962). Kitab ini merupakan karya penjelas atas kitab Safinat al-Naja karya Salim ibn Samir al-Khudri yang cukup populer di kalangan santri.

Ketujuh, terjemahan bahasa Jawa (Pegon) atas Qasidah Munfarijah. Qasidah yang terdiri dari 43 bait ini adalah gubahan Yusuf ibn Muhammad al-Ansari (1041-1119 M) dan banyak dibaca umat Islam, khususnya kalangan santri, jika menghadapi kesusahan atau kesulitan. Diyakini bahwa pembacaan bait-bait yang mengandung nama-nama agung (al-asma’ al-a’dham) Allah ini akan mendatangkan kemudahan bagi pembacanya. Ini adalah satu-satunya kitab Kiai Sahal yang merupakan terjemahan dalam bahasa Jawa.

Ada dua karya Kiai Sahal yang merupakan penjelas atas Sullam al-Munawraq, kitab mantiq (logika) yang banyak digunakan di pesantren. Keduanya diberi judul Al-Murannaq dan Izalat al-Muttaham. Kitab terakhir merupakan karya elaborasi atas Idlah al-Mubham ‘an Ma’ani al-Sullam, karya Ahmad ibn Abd al-Mun’im al-Damanhuri, yang merupakan syarah atas Sullam al-Munawraq. Tidak terdapat catatan, kapan kedua kitab tersebut selesai ditulis, yang pasti menurut ingatan Kiai Sahal, keduanya ditulis ketika dia masih nyantri di Sarang.

Terakhir, Anwarul Bashair yang merupakan penjelas atas kitab Al-Asybah wan Nadhair karangan Jalal al-Din Abd al-Rahman al-Suyuti. Kitab ini ditulis setelah dia menetap di Kajen, meski tidak ada catatan kapan tepatnya dia menyelesaikan karya penting ini. Asybah sendiri adalah kitab yang membahas qawa’id fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqih) dan diajarkan di berbagai pesantren di Jawa.

Selain kitab-kitab berbahasa Arab, Kiai Sahal juga telah menghasilkan beberapa buku berbahasa Indonesia. Setidaknya ada empat buku berisi kumpulan berbagai artikel yang telah diterbitkan, antara lain Nuansa Fiqih Sosial (Yogyakarta: LKIS, 1994 dan 2007), Pesantren Mencari Makna (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999), Wajah Baru Fiqh Pesantren (Jakarta: Citra Pustaka, 2004, dan Dialog dengan KH MA Sahal Mahfudh: Telaah Fikih Sosial (Semarang: Yayasan Karyawan Suara Merdeka, 1997). Kiai Sahal juga menulis buku bersama KH A Mustofa Bisri, yang diberi judul Ensiklopedi Ijma’. (Mahbib Khoiron)

Bagikan:
Ahad 2 Februari 2014 18:2 WIB
Semarak Harlah NU di Padang
Semarak Harlah NU di Padang

Padang, NU Oline
Ratusan jamaah yang terdiri dari mejlis taklim, pengurus NU tingkat cabang, kecamatan dan jamaah NU Se Kota Padang ikut meramaikan acara Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-88 NU dan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Aula Pramuka Sumbar di Khatib Sulaiman Padang, Jumat (31/1) kemarin.<>

Ketua Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) DR. KH Zaki Mubarok memberikan menyampaikan tashiyah sementara sesepuh NU di Padang Buya H. Bagindo Letter menyampaikan arahannya.

Buya M. Letter mengingatkan, NU harus sehat dan kuat baik secara organisasi dan jamaah. Kalau tidak, NU tidak akan mampu berbuat untuk pemberdayaan umat.

A’wan PBNU ini juga mengingatkan bahwa ada 4 prinsip NU dalam menjalankan organisasi yakni tawazun (harmonis/seimbang), tawassuth (moderat) tidak ke kiri dan ke kanan, tasammuh (toleran) dan i’tidal bahwa NU harus memperjuangkan keadilan dan menentang ketidakadilan.

Sementara DR. KH Zaki Mubarok dalam tausyiahnya menekankan pentingnya ilmu dan pendidikan dalam kehidupan dalam rangka memperkuat kualitas hidup termasuk untuk mewujudkan kesuksesan manusia menghadapi kehidupan dunia dan akhirat, karena Allah lebih mencintai beberada derajat orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.

Karena itu NU sebagai ormas besar yang bergerak dibidang keagamaan, sosial kemasyarakatan dan pendidikan haruslah lebih memperhatikan wadah pendidikan sebagai tempat menuntut ilmu bagi warga dan generasi muda NU.

Ketua PCNU Kota Padang Yurtel Ardi Tuanku Malin Sulaiman, SHI dalam sambutannya menegaskan bahwa dengan Harlah ke-88 ini mengingatkan warga pada perjuangan dan pengorbanan para pendiri NU yang sampai hari ini menjadi besar diperhitungkan dan dihargai oleh banyak orang bahkan dunia Internasional.

Dalam konteks kesejarahan NU telah ikut dalam proses perjuangan bangsa Indonesia dan mewujudkan ideologi negara NKRI yang kita cintai ini.

Dengan begitu, alumnus Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang ini, mengimbau pengurus dan warga NU kota Padang agar dalam menjalankan amanah organisasi selalu mengingat Khittah NU 1926 bahwa NU sebagai ormas keagamaan, pendidikan dan sosial kemasyarakat dan bukan organisasi politik sehingga aktif di NU adalah untuk mengabdi dengan ikhlas memberdayakan umat bukan untuk mencari tujuan pribadi dan golongan tertentu. Oleh karenanya menjadi pengurus NU tidak digaji justru dibutuhkan pengorbanan dari pengurus dan nahdliyin.

Dia menambahkan, dengan semangat Harlah ke-88 NU ini memberikan spirit kepada kita bahwa NU banyak memberi konstribusi bagi umat dan konstribusi tersebut harus selalu menjadi niat kita agar NU selalau bersama umat.

Acara yang cukup meriah itu dihadiri oleh utusan PCNU Se-Sumbar, organisasi dilingkungan NU Kota Padang terdri dari Muslimat, IPPNU, IPNU, Ansor dan PMII. Juga turut hadir sejumlah tokoh-tokoh NU Sumbar diantaranya Prof.Dr.H. Makmur Syarif, SH, M.Ag, Rektor IAIN IB Padang, PR III IAIN IB yang juga mantan Rais Syuriyah NU Prof. Dr. H. Asasriwarni, MH, Buya H. Bagindo M. Letter, Buya H. Nurmuddin, Kabid Penamas Drs. H. Maswar, MA, serta Kakankemenag Kab/Kota Se-Sumbar. (Sriwilda/Anam)

 

Ahad 2 Februari 2014 16:0 WIB
Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan
Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan

Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali meminta agar penulisan sejarah keislaman, terutama yang menyangkut sejarah perjuangan komunitas NU terus dilanjutkan.  Peran para ulama  dalam perjuangan kemerdekaan seolah-olah diabaikan, padahal banyak diantara kaum santri yang meninggal.
<>
Pernyataan tersebut diungkapkan dalam peluncuran buku Laskar Ulama-Santri  dan Resolusi Jihad yang digelar di Gedung Juang 45 Jakarta, Ahad (2/2).

Ia menuturkan, suatu saat pernah diberi dokumentasi perjuangan kemerdekaan oleh Des Alwi, sejarawan dan penulis asal Jakarta, tetapi peran kaum santri sama sekali tidak disebutkan didalamnya.

“Padahal banyak sekali santri yang meninggal waktu perjuangan kemerdekaan,” tandasnya.

Untuk itu, ia mengapresiasi langkah Zainul Millal dalam menelusuri dan menuliskan peran ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan ini.

“Ini merupakan langkah awal untuk menuliskan sejarah selanjutnya,” tegasnya.

Ditegaskannya, para ulama memiliki peran sangat besar sejak zaman zaman Kesultanan Demak yang menyerang Malaka, kemudian Sultan Agung yang menyerang Jayakarta sampai zaman Diponegoro yang selanjutnya, para keturunannya melahirkan para kiai dan pejuang kemerdekaan.

Dengan latar belakang sejarah inilah, Indonesia menjadi sebuah negara nasionalis yang religius, bukan sebuah negara agama atau negara sekuler dan bisa hidup damai sampai sekarang.

Dalam pertemuan dengan para ulama Afganistan, mereka menanyakan, bagaimana Indonesia bisa menyatukan nasionalisme sekaligus agama sehingga bisa hidup damai. Mereka sendiri merasa kelelahan menghadapi perang selama 32 tahun terus menerus yang sampai sekarang belum selesai.

“Karena itu, mereka saya ajak ke sini untuk belajar tentang kebangsaan ini,” paparnya.

Buku Sejarah Ulama-Santri yang dalam satu bulan ini sudah cetak ulang yang kedua ini menelusuri jejak perjuangan para ulama, termasuk peran penting dalam pertempuran 10 November di Surabaya, yang dalam sejarah umum sampai saat ini belum banyak diungkap. (mukafi niam)

Ahad 2 Februari 2014 10:30 WIB
HARLAH KE-88 NU
NU Sumsel Gelar Khataman al-Qur’an dan Dzikir Ghofilin
NU Sumsel Gelar Khataman al-Qur’an dan Dzikir Ghofilin

NU Sumsel Gelar Khataman al-Qur’an dan Dzikir Ghofilin

Palembang, NU Online
Pengurus Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) atau asosiasi pesantren NU Sumatera Selatan memperingati hari lahir (Harlah) ke-88 NU dengan khataman al-Qur’an dan Dzikir Ghafilin di Pesantren Aulia Cendekia Palembang, Sumsel, Kamis (30/01).
<>
Pimpinan Pesantren Aulia Cendekia sekaligus Ketua RMI NU Sumsel H Hendra Zainuddin mengatakan, kegiatan khataman al-Qur’an dilakukan para santri Pesantren Aulia Cendekia. Acara ini dihadiri Ketua Rais Syuriah PWNU Sumsel KH Mudarris, mantan Ketua PWNU Sumsel H Malan Abdullah, serta para kiai pimpinan pesantren se-Sumsel.

Hendra menambahkan, dalam upaya penguatan NU di Sumsel, Pesantren Aulia Cendekia akan mengajarkan materi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Pada tahun ajaran baru 2014 ini, Pesantren Aulia Cendekia akan melaksanakan kurikulum muatan lokal mata pelajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Mudah-mudahan anak-anak kita ini nantinya akan mengawal Aswaja 10 atau 20 tahun ke depan,” ujarnya.

Rais Syuriah PWNU Sumsel KH Mudarris menyampaikan, NU dan pondok pesantren tidak dapat dipisahkan karena pondok pesantren didirikan oleh orang-orang NU dan sebaliknya, NU diisi oleh orang-orang pesantren. “NU memperjuangkan Islam sebagai rahmat lil ‘alamin dan Aswaja dan pondok pesantren juga memperjuangkan Aswaja,” kata KH Mudarris.

Ia mengaku sangat mendukung komitmen H Hendra Zainuddin yang akan mengajarkan nilai-nilai Aswaja di pesantrennya. “Kita menyambut baik Pesantren Aulia Cendekia mengajarkan Aswaja dan juga perlu ditambahkan (pelajaran) ke-Nu-an. Sebab NU ibarat kereta api, relnya sudah jelas sedangkan penumpangnya seluruh masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, KH Manarul Hidayat yang menyampaikan tausiyah pada Harlah ke-88 NU ini banyak memberikan motivasi tentang potensi NU yang jarang dilihat orang. Dia mengajak waarga Sumsel untuk menjaga NU agar tetap besar dan berperan positif bagi masyarakat. (Muhammad Tuwah/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG