IMG-LOGO
Pesantren

Pesantren ini Tertarik Tangani Anak Salah Gaul


Selasa 4 Februari 2014 22:00 WIB
Bagikan:
Pesantren ini Tertarik Tangani Anak Salah Gaul

Probolinggo, NU Online
Pesantren Zainul Aziz di Kelurahan Kebonsari Kulon Kecamatan Kanigaran Kota Probolinggo, Jawa Timur mash berkerabat dengan Pesantren Zainul Islah. Pengasuh Zainul Aziz, KH. Syaiful Arif Rizal masih keponakan pendiri Zainul Islah KH. Muhammad Zayadi Zain.
 <>
Nama pesantren tersebut berasal dari kedua kakeknya, yakni KH. Zain Hasyim yang berasal dari ibunya dan KH. Abd Aziz dari ayahnya. “Nama itu gabungan dari kakek kami. Jadilah nama Pesantren Zainul Aziz,” ungkap Pengasuh Pesantren Zainul Aziz KH. Syaiful Arif Rizal (49 th), Senin (3/2).
 
Menurut Kiai yang biasa dipanggil Mas Syaiful ini, sejak kecil hingga dewasa dirinya mondok di Pesantren Zainul Islah. Tetapi tidak hanya di pesantren yang terletak di Gang Listrikan Kelurahan/Kecamatan Kanigaran Kota Probolinggo ini dia menuntut ilmu. Mas Syaiful mengaku juga pernah belajar kitab kuning disuatu pesantren di daerah Banten, Pesantren Krapyak Yogyakarta dan beberapa pesantren lainnya.
 
Sebelum mendirikan Pesantren Zainul Aziz pada tahun 2008, kiai yang mempunyai empat putra ini telah aktif sebagai penceramah di Kota Probolinggo sejak tahun 1990. Saat itu sebagai pembicara pengajian di tingkat RT/RW atau yang biasa dikenal dengan anggota Yasinan. Puncaknya pada tahun 1998 ia mulai menjadi penceramah di tempat umum.
 
Sejak saat itulah Mas Syaiful  mulai dikenal oleh masyarakat Kota Probolinggo. Dan pada tahun 2008, ada beberapa wali santri menitipkan anaknya untuk mengaji ke Mas Syaiful. “Dan semuanya santri kami dulunya sering mabuk-mabukan. Sering ngepil dan kelakuan yang salah lainnya,” jelasnya.
 
Meski kebanyakan berasal dari mantan pemabuk dan kelakuan negatif lainnya, Mas Syaiful tidak pernah menolak pemuda tersebut. Hingga sekarang jumlah santri yang bermukim ada sekitar 13 santri dan 80 santri tidak mukim.
 
“Kami tidak pernah menolak santri, kecuali memang keadaan fasilitas atau tempat yang kurang memadai. Tetapi santri tersebut kami arahkan untuk mondok ke Pesantren Zainul Islah,” terangnya.
 
Mas Syaiful menambahkan, pihaknya lebih tertarik dengan pemuda yang memang salah pergaulan. Sebab menurut pria asal Kelurahan Kebonsari Kulon ini, saat ini pemuda seperti itu tidak ada yang memperhatikan. Sehingga dengan cara memberikan ilmu agama, pemuda tersebut kembali ke arah yang benar.
 
“Kalau bukan kami, terus siapa lagi yang bisa memperhatikan mereka. Sebab pemuda seperti itu banyak yang menghindari. Kemudian kalau mereka tidak dirangkul atau tidak diperbaiki moralnya, mereka akan menular ke pemuda lainnya. Makanya kami ajak mereka untuk belajar agama disini. Kalau santri yang berpondasi baik (anak baik) tentu kami arahkan ke Pesantren Zainul Islah. Bukan disini tempatnya,” tegasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Bagikan:
IMG
IMG