IMG-LOGO
Nasional

Ada Konspirasi Internasional Terkait Pengendalian Tembakau

Kamis 13 Februari 2014 22:1 WIB
Bagikan:
Ada Konspirasi Internasional Terkait Pengendalian Tembakau

Temanggung, NU Online
Jaringan Gusdurian dan GP Ansor Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengajukan penolakan terhadap ratifikasi Framework Convention of Tobacco Control (FCTC) atau kerangka pengendalian tembakau. Hal tersebut didasarkan bahwa ratifikasi tersebut tidak mendasarkan pada sisi ekonomi dan ditengarai ada konspirasi perdagangan tembakau internasional.<>

Sekretaris Gusdurian Kabupaten Temanggung, Rozakul Yazid, mengatakan, FCTC yang disusun lebih berpotensi mematikan tembakau lokal, khususnya tembakau Temanggung yang memiliki ciri istimewa dengan kadar tar dan nikotin yang sangat tinggi. Sementara dibalik itu, produksi rokok putih yang rendah tar dan nikotin membanjiri pasaran rokok Indonesia.

“Ini jelas ada konspriasi internasional. Satu sisi produk lokal ditekan, tetapi pada sisi yang lain komoditas rokok impor justru meningkat pemasarannya di Indonesia. Padahal, hulu dan hilir tembakau lokal merupakan sumber mata pencaharian puluhan juta warga Indonesia,” terangnya.

Ia mengatakan, kerangka berfikir dalam FCTC juga tidak memperhatikan kearifan lokal dan produk khas Indonesia. Di Kabupaten Temanggung yang memiliki ciri khas tembakau paling istimewa, tembakau menjadi gantungan ekonomi bagi 80 persen warganya. “Tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggi secara ekonomi tidak lepas dari tembakau,” terang pria yang Ketua PC PMII Temanggung ini.

Ia menambahkan, rokok kretek sebagai produk rokok khas Indonesia merupakan rokok yang istimewa dibanding rokok putih. Sebab, rokok kretek tidak hanya mengandung tembakau saja, tetapi bahan rempah seperti cengkih dan lainnya. “Hasil riset membuktikan dengan campuran rempah justru tidak membahayakan kesehatan dibanding tembakau murni seperti rokok putih,” terangnya.

Ketua GP Ansor Temanggung, Yami Blumut menambahkan,  pentingnya komoditas tembakau bagi masyarakat di Lereng Gunung Sindoro, Sumbing dan Prau ini, maka keberadaannya perlu dilakukan perlindungan. Tidak hanya di Temanggung, tembakau merupakan komoditas unggulan di daerah lainnya. “Regulasi dari negara justru menekan produksi tembakau dan menjegalnya sedemikian rupa,” terangnya. (Abaz Zahrotien/Anam)

Tags:
Bagikan:
Kamis 13 Februari 2014 17:32 WIB
Kiai Malik Madani: Kearifan itu Patokan Pendakwah
Kiai Malik Madani: Kearifan itu Patokan Pendakwah

Jakarta, NU Online
Katib Aam PBNU KH Malik Madani mengingatkan para pendakwah untuk memerhatikan rambu-rambu berdakwah terutama perihal etika dan batasan-batasan tertentu. Pasalnya, mereka membawakan nilai-nilai luhur Islam di tengah masyarakat.
<>
“Justru para da’i harus memberikan keteladanan. Keteladanan menjadi faktor penting di samping bobot materi penyampaian dakwah mereka,” terang Kiai Malik di Gedung PBNU jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Kamis (13/2) siang.

Al-Quran, lanjut Kiai Malik, telah menetapkan pokok panduan bagi pendakwah. Ia menyebut sebuah ayat dalam Al-Quran, “Ajaklah manusia ke jalan Tuhanmu dengan jalan kearifan dan keteladanan yang baik.”

Para pendakwah harus melakukan pendekatan-pendekatan yang bijak. Karena, ketertarikan dan simpati masyarakat merupakan sasaran dakwah itu sendiri. Sekali lagi, bil hikmah, tegasnya.

“Kalau caranya kasar dan keras, aktivitas dakwah dan sasarannya justru semakin menjauh,” tandas Kiai Malik. (Alhafiz K)

Kamis 13 Februari 2014 11:1 WIB
PBNU Gelar Bahtsul Masail di Bandung
PBNU Gelar Bahtsul Masail di Bandung

Bandung, NU Online
Lembaga Bahtsul Masail PBNU secara resmi membuka forum Halaqah dan Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Washilatul Huda, Cicalengka, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/2). Acara yang diikuti oleh perwakilan Lembaga Bahtsul Masail PCNU se-Jawa Barat  ini dibuka Ketua LBM PBNU Kiai Zulfa Musthafa.
<>
“Pesantren sebagai miniatur NU —shurah mushaghgharah— merupakan satu-satunya lembaga tempat lahir dan berkembangnya Bahtsul Masail,” papar Kiai Zulfa menerangkan alasan pemilihan pesantren sebagai lokasi Halaqah dan Bahtsul Masail kali ini.

Bahtsul Masail dimulai dengan dua bahasan pokok yang berhubungan dengan metode pengambilan hukum di lingkungan NU. Prof. Dr. Sayid Aqil Husain al-Munawwar sebagai pemateri halaqah pertama kembali mengingatkan kepada para musyawirin bahwa NU pernah menelurkan sebuah sistem pengambilan keputusan hukum yang luar biasa yang tertuang dalam Keputusan Munas Lampung pada tahun 1992.

Selaku katib aam PBNU pada masa itu, Sayid Aqil Husain mengerti dengan persis sejarah lahirnya keputusan tersebut. Semua itu merupakan usaha NU menjawab derasnya problematika umat yang sangat aktual pada masanya, sementara tidak ada nash yang menjelaskannya. Sehingga para ulama harus memutuskan satu hukum dengan metode ilhaqul masail binadhairiha.

Sayangnya metode yang juga disebut dengan metode bermadzhab secara manhaji (metodologis) ini tidak dapat diaplikasikan secara maksimal. Selanjutnya sebagai pembicara kedua KH. Dr. Malik Madani berusaha mengurai benang kusut yang menyebabkan mandeknya metode bermadzhab secara manhaji ini. Selain faktor ketidakpercayaan diri, kondisi ini juga disebabkan perasaan tawadhu’ yang sangat tinggi di kalangan para ulama NU.

Adapun materi halaqah kedua adalah Maqashidus Syairah. Selaku pembicara KH. Afifudin Muhajir menjaabarkan kepada para musyawirin seluk beluk ijtihad dan posisi Maqashidus Syairah sebagai salah satu pertimbangan dalam menarik kesimpulan hukum (istinbath).

Forum bahtsul masail kali ini mendiskusikan sejumlah persoalan tematik (maudlu’iyah), seperti pandangan NU terhadap cara Densus 88 menagkap orang yang diduga teroris dan ketentuan memilih caleg; serta persoala aktual (waqi'iyah), antara lain rukhshah shalat saat bepergian pada waktu yang lama, hukum mencukur jenggot, dan mengusap muka setelah sembahyang. (Ulil/ Mahbib)

Kamis 13 Februari 2014 10:1 WIB
Pesantren Sunni Darussalam Gelar Tahlilan untuk Fajrul Falaakh
Pesantren Sunni Darussalam Gelar Tahlilan untuk Fajrul Falaakh

Yogyakarta, NU Online
Para santri di Pesantren Sunni Darussalam Yogyakarta, Rabu (12/2) tadi malam, menyelenggarakan tahlilan untuk mendiang mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HM Fajrul Falaakh yang wafat pada siang harinya di RS Harapan Kita Jakarta.
<>
Pesantren Sunni Darussalam merupakan pesantren yang didirikan oleh ayahanda Fajrul Falaakh, KH. Tholchah Manysur. Saat ini pesantren tersebut diasuh oleh Kiai Fattah yang merupakan ipar dari Fajrul Falaakh.

Menurut lurah pesantren, Hamdani, para santri sempat akan menggelar tahlilan pada pukul 14.00 WIB atau sekitar satu jam setelah Fajrul menghembuskan nafas terakhirnya. “Tapi dilarang Pak Kiai Fattah. Katanya, karena kabarnya masih simpang siur. Setelah benar, Pak Kiai langsung dawuh, agar santri-santri menggelar tahlil sehabis maghrib,” tuturnya.

Terkait pemakaman, Wakil Kepala MA Darussalam Huda mengungkapkan bahwa Fajrul Falaakh dimakamkan hari ini, Kamis (13/2). “Sebenarnya, keluarga awalnya ingin memakamkan Pak Fajrul Falaakh di Yogyakarta, tapi setelah dimusyawarahkan lagi, akhirnya keluarga sepakat untuk memakamkan beliau di Jakarta saja,”

Sementara itu, setelah mendengar kabar Fajrul Falaakh meninggal dunia, keluarga langsung bertolak ke Jakarta, setelah shalat maghrib. Ia merupakan putra dari KH Tholchah Mansur, pendiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Fajrul Falaakh pernah menjabat sebagai Ketua PBNU yang membidangi persoalan hukum di era kepengurusan KH Hasyim Muzadi. (Rokhim/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG