IMG-LOGO
Nasional

Ulama Yordania: Pemuda NU Mampu Pelopori Peradaban Islam Dunia

Selasa 18 Februari 2014 13:1 WIB
Bagikan:
Ulama Yordania: Pemuda NU Mampu Pelopori Peradaban Islam Dunia

Malang, NU Online
Sejarah perkembangan Islam di Nusantara tak sama dengan perkembangan Islam di Timur Tengah. Jika di sana umumnya Islam disebarkan dengan cara penaklukan (peperangan), maka di Indonesia agama tersebut tersebar melalui jalur yang damai. <>Sehingga, Indonesia mampu menjadi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Demikian disampaikan Syekh Aun Al-Qaddoumi, ulama Ahlussunnah wal Jamaah dari Yordania saat memberikan ceramah dalam forum Seminar Internasional “Peran Pemuda dalam Kebangkitan Peradaban Islam di Era Global” di Ruang Sidang Rektorat Universitas Islam Malang, Senin (17/2).

Menurut dia, Indonesia adalah negara dengan tingkat kerukunan hidup beragama yang sangat tinggi. Syekh Aun Al-Qaddoumi melontarkan apresiasinya terhadap Nahdlatul Ulama yang dianggap berperan serta dalam mewujudkan toleransi beragama di Indonesia.

Ia juga mendukung usaha NU dalam mengembangkan Islam yang ramah di Indonesia, yang selama beberapa waktu terakhir ini telah diperluas ke lingkup berskala internasional. “Saya melihat Indonesia ini seperti gambaran Islam di Madinah yang dibina oleh Rasulullah,” kata Syekh Aun.

Syekh Aun juga memuji pemikiran-pemikiran para ulama pendiri NU. Dia mengaku sangat yakin bahwa Nahdlatul Ulama ke depan akan menjadi pelopor dalam membangun peradaban Islam di dunia.

“Ke depan, Nahdlatul Ulama sangat memungkinkan untuk melanjutkan membangun peradaban Islam di dunia dengan generasi mudanya yang potensial. Dengan bimbingan para Kiai Nahdlatul ulama tentunya,” tambahnya.

“Mulai zaman dulu, sejak Zaman Rasulullah yang membawa sebuah peradaban Islam dalam setiap periode masa, selalu muncul tokoh-tokoh Islam yang membangun peradaban. Seperti Umar bin Al-Khattab, Shalahuddin Al-Ayyubi (dari Dinasti Ayyubiyah) dan Muhammad Al-Fatih (dari Dinasti Turki Utsmani),” kata Syaikh Aun.

Berkali-kali ia menyebutkan dalam ceramahnya bentuk jamak (plural) dari kata ‘kiai’ dengan ‘kiaiat’. Syekh Aun berbicara di hadapan sekitar 60 mahasiswa pascasarjana dan para civitas akademika Universitas Islam Malang (Unisma). Habib Jamal bin Toha Baagil juga hadir dalam kesempatan itu sebagai penerjemah.

Turut hadir dalam forum ini Pembantu rektor I Unisma Badat Muwakhid, Pembantu Rektor III Masykuri Bakri,  Direktur Pascasarjana Unisma Bashori Muchsin, Ketua Program Studi (KPS) Pendidikan Islam Pascasarjana Unisma Ilyas Tohari, dan Dekan Fakultas Agama Islam Unisma Abdul Munir Ilham. (Ahmad Nur Kholis/Mahbib)

Bagikan:
Selasa 18 Februari 2014 18:1 WIB
Ulama Yordania Bayangkan Indonesia sebagai Negara Madinah
Ulama Yordania Bayangkan Indonesia sebagai Negara Madinah

Malang, NU Online
Seorang ulama Sunni asal Yordania Syaikh Aun bin Mu’in Al-Qaddoumi menyatakan kekagumannya atas kerukunan umat beragama yang tercipta di Indonesia. Syekh Aun membayangkan Indonesia seperti negara Madinah yang dibangun Rasulullah SAW.
<>
“Saya membayangkan Indonesia itu sebagai negara Madinah yang dibina Rasulullah; hidup dalam kebersamaan dan toleransi,” kata Syaikh Aun dalam seminar bertajuk “Peran Pemuda dalam Kebangkitan Peradaban Islam di Era Global” di ruang sidang Rektorat Universitas Islam Malang,  Senin (17/2).

Ia juga menyatakan kekagumannya terhadap Nahdlatul Ulama. Karena, NU menurutnya menyebarkan dakwah Islam secara santun dan penuh toleransi.

Dalam forum yang dihadiri sedikitnya 60 mahasiswa pascasarjana Unisma itu, Syaikh Aun menekankan perlunya generasi NU khususnya para pemuda untuk aktif berdakwah dan bersyiar Islam Sunni melalui berbagai media terutama media online.

“Saya sangat yakin dan berharap supaya Generasi Nahdlatul Ulama ke depan dengan bimbingan ulamanya akan mampu mengembangkan peradaban dunia Islam,” tandasnya. (Ahmad Nur Kholis/Alhafiz K)

Selasa 18 Februari 2014 8:1 WIB
Gus Mus Bicara Soal Jamaah dan Jam’iyah NU
Gus Mus Bicara Soal Jamaah dan Jam’iyah NU

Rembang, NU Online
Wakil Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri mengatakan, para kiai dan ulama yang ada di Indonesia hakikatnya sama, yakni mewakafkan dirinya untuk masyarakat. Mereka Memberikan pelajaran ilmu kepada para santri, memberikan pengatahuan.
<>
Menurutnya, baru ketika Kiai Wahab dan Kiai Bisri, menjalankan dawuh dari Sayidina Ali yang berbunyi “bahwa yang batil jika ditata dan diorganisir dengan baik, maka akan mengalahkan yang hak”, para kiai itu pun diorganisir.

Kata kiai yang akrab disapa Gus Mus ini, jika yang batil aja bisa ditata dan diorganisir, apalagi yang baik. Jika mau ditata, yang baik akan menjadi sangat baik juga. Jadi jamaah yang ada dimana mana ini, bisa diwadahi dengan jam’iyah.

Maka, lanjut Gus Mus pada Konferwil IPPNU dan IPNU Jawa Tengah di Pesantren Raudhatut Thalibin, Rembang ini (8/2), di NU ini ada dimensi jamaah dan jam’iyah. Jamaah merupakan isi, dan jam’iyah merupakan wadahnya. Mestinya jamaah ini harus lebur ketika diwadahi jam’iyah.

Menurut Gus Mus, yang menjadi penjembatan antara jamaah tradisional dan jam’iyah modern berupa organisasi adalah KH Mahfud Sidiq dan KH Wahid Hasyim ayahanda Gus Dur, hingga tahun 1955. Hingga NU menjadi partai politik belum ada penenerusnya.

Kiai asal Rambang itu  bermimpi  NU terorganisir dalam jam’iyah. “Masih begini saja, NU sudah diperhitungkan, apalagi jika Nahdliyin benar-benar menjadi organisatoris, akan sangat menakutkan dan sangat disegani,” katanya. (Ahmad Asmu’i/Abdullah Alawi)

Selasa 18 Februari 2014 5:1 WIB
Perumpamaan Mahfud MD Tentang Pluralitas di Indonesia
Perumpamaan Mahfud MD Tentang Pluralitas di Indonesia

Situbondo, NU Online
Keragaman adalah sebuah  keniscayaan di Indonesia. Ibaratnya, Indonesia adalah rumah besar, yang di dalamnya terdapat banyak kamar. Silahkan pemilik kamar berbuat apa saja di dalam kamar itu. Tidak ada yang melarang. <>Tapi, ketika berada di ruang tamu, maka sesama pemilik kamar harus saling menjaga dan menghormati agar rumah besar itu tidak kacau, apalagi rusak.

Perumpamaan tersebut dikemukaan Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Mohammad Mahfud MD saat menyampaikan orasinya dalam Lokakarya Nasional di auditorium Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah, Sekorejo, Situbondo, Ahad (16/2).

Menurut dia, kunci dari pluralisme adalah saling menghargai satu sama lain. “Kalau kita bisa saling menghargai dan menjaga satu sama lain, ya kita bangga, dan pluralisme mendapatkan tempatnya yang pas,” tukasnya.

Mantan ketua Mahkamah Konstitusi ini menambahkan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, siapapun rakyat Indonesia bisa dengan bebas mengamalkan keyakinan dan mempertahankan budayanya. Namun demikian, kebebasan itu tidak boleh melanggar undang-undang yang telah disepakati bersama.

“Kita harus saling menjaga, jangan sampai negara ini dirusak oleh kelompok tertentu untuk kepentingan tertentu pula,” lanjutnya.

Di tempat yang sama, KH Afifuddin Muhajir menegaskan perlunya umat Islam mengejawantahkan nilai-nilai aqidah dalam kehidupan sosial. Sebab, nilai-nilai aqidah sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinnekaan dan Pancasila. “Makanya kalau orang Islam yang benar, pasti pancasilais,” ujarnya.

Lokakarya itu sendiri dihadiri oleh sekitar 200 peserta, yang terdiri dari para kiai dan pengasuh pesantren. Satu-satunya peserta dari Jember adalah Sekretaris PCNU Jember H Misbahussalam. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG