IMG-LOGO
Pustaka

Ulama-Santri, Garda Depan Perjuangan Kemerdekaan

Senin 24 Februari 2014 10:30 WIB
Bagikan:
Ulama-Santri, Garda Depan Perjuangan Kemerdekaan

Peran sentral ulama-santri pada masa revolusi kemerdekaan telah terpinggirkan dalam penulisan sejarah ‘resmi’ negara. Itulah pernyataan Dr. KH. A. Hasyim Muzadi dalam endorsement-nya di buku ini. Tidak mudah mendapatkan ‘rasa’ sejarah ketika menelusuri episode sejarah yang hampir satu abad nyaris terpinggirkan atau lebih tepatnya dipinggirkan.<> Memang susah ditemukan peran ulama atau santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, bahkan dalam buku sejarah nasional yang dipelajari selama 12 tahun di bangku sekolah.

Sangat ironis ketika faktanya ulama seperti KH. M. Hasyim Asy’ari dan santrinya yang tidak lain adalah anaknya sendiri KH. A. Wahid Hasyim adalah pahlawan nasional dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia dan membangun Dasar Negara.

Buku ini, Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949) yang ditulis oleh Zainul Milal Bizawie ingin menunjukkan bahwa sejarah seharusnya mengkaji dengan jernih adanya kepentingan politik yang terdapat dalam relasi kuasa (power relation), atau yang dikenal dengan politik pengetahuan (politic of  knowledge). Dengan kata lain, perlunya kesadaran akan saling berkelindannya atau berjalan seiring antara penulisan sejarah dengan kekuasaan.

Dalam Muqaddimah-nya, Ibnu Khaldun juga mengkritik penulisan historiografi sejarah yang tidak sesuai dengan fakta seseorang. Yaitu ketika Khalifah Harun ar-Rasyid dalam sejarah ditulis sebagai seorang yang suka madat dan madon, karena faktanya sang Khalifah adalah seorang yang pemberani, cerdas, dan bijaksana. Mana mungkin sejarah Harun ar-Rasyid ditulis seperti itu jika tidak ada faktor politik kekuasaan.

Milal yang juga seorang santri menyadari bahwa jika santri sendiri yang tidak menulis sendiri sejarahnya, siapa yang akan menulis. Karenanya, buku ini mencoba memaparkan suatu plot cerita kiprah ulama-santri yang secara tidak disadari mengungkap rangkaian fakta-fakta yang telah membangun sebuah episteme yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.

Bagian pertama buku ini mengungkapkan kajian mistifikasi yang dibangun secara simbolik sebagai dasar perjuangan ulama-santri. Bagi santri dan masyarakat, seorang ulama atau Kyai dianggap sebagai pengawal agama dan penunjuk jalan kebaikan. Posisi ulama atau Kyai sangat penting menjadi symbol perlawanan atau perjuangan. Kemampuannya dan kesaktiannya yang luar biasa akan memperteguh daya kohesi dan motivasi bagi santri dan masyarakat untuk memposisikan ulama sebagai panutan (hal.17).

Bagian kedua buku ini mengungkapkan perlawanan ulama dan santri sejak Syekh Yusuf al-Makassari hingga turun-temurun membentuk jaringan perlawanan ulama kepada Syekh Hasyim Asy’ari dan Kyai Wahab Chasbullah (Pendiri NU) yang tak pernah padam meski kolonial Belanda telah semakin berkuasa. Bahkan karena tindakan kolonial Belanda yang terus menindas dan mengganggu tegaknya agama Islam, ulama-santri tidak pernah padam melakukan perlawanan terhadap kolonial sehingga meledakkan perang besar, yaitu Perang Jawa Diponegoro sebelum era Mbah Hasyim Asy’ari.

Bagian ketiga buku ini memaparkan lebih jauh pergerakan ulama-santri melawan kolonial Belanda dengan politik etisnya yang membuat kalangan pesantren begitu terpinggirkan. Datangnya Jepang yang memposisikan diri sebagai saudara tua menghadirkan penjajahan baru yang tak kalah kejamnya hingga akhirnya ulama-santri membentuk laskar Hizbullah.

Terbentuknya Hizbullah awalnya keinginan Jepang merangkul umat Islam seluruh Indonesia untuk dilatih militer dan dikirim ke Jepang bergabung dengan Heiho melawan tentara sekutu, namun dengan gagasan brilian KH. Hasyim Asy’ari laskar santri tersebut terpisah dengan Heiho dan membentuk barisan tersendiri yaitu Laskar Hizbullah. Laskar ini dibentuk Mbah Hasyim untuk mempersiapkan kemerdekaan RI sekaligus mempertahankannya.

Perjuangan Mbah Hasyim tidak berhenti sampai di situ, bagian keempat buku ini menjelaskan secara detail gagasan KH. Hasyim Asy’ari dalam mencetuskan fatwa Resolusi Jihad dimana fatwa tersebut mampu menggerakan Pemerintah RI dan seluruh bangsa Indonesia khususnya yang beragama Islam untuk bersama-sama melawan tentara Sekutu yang diboncengi NICA Belanda.

Laskar Hizbullah, Fisabilillah, dan seluruh rakyat Indonesia berbekal fatwa jihad Mbah Hasyim yang diteguhkan Resolusi Jihad, pantang mundur menolak kedatangan kolonial. Resolusi Jihad tersebut menyeru seluruh elemen bangsa khususnya umat Islam untuk membela NKRI. Pertempuran 10 November 1945 meletus, laskar ulama-santri dari berbagai daerah berada di garda depan pertempuran. Perjuangan laskar ulama-santri terjadi di berbagai daerah terpompa semangat Resolusi Jihad Mbah Hasyim Asy’ari.

Pada bagian kelima menjelaskan bahwa perjuangan ulama-santri berlanjut dalam pertempuran melawan penjajah bahkan eskalasinya semakin keras diiringi dengan berbagai strategi diplomasi. Karena yang diusung oleh para ulama adalah politik kebangsaan, maka laskar Hizbullah tidak mempermasalahkan kebijakan-kebijakan Negara terkait dengan tentara Negara. Bahkan para ulama tetap menjaga semangat juang dengan meneguhkan kembali resolusi jihad jilid II. Meskipun perjanjian Linggarjati dan Renville telah merugikan, namun semangat juang ulama-santri tetap berkobar.  

Bagian keenam yang merupakan bagian terakhir buku ini mengupas tentang ulama pesantren dan bambu runcing. Kisah tentang karomah dan kehebatan para Kyai serta kehebatan bambu runcing yang telah mendapatkan doa dari para Kyai. Kisah-kisah yang menurut sejarawan barat tidak rasional tapi telah menjadi realitas sejarah Nusantara pada umumnya. Sebut saja sejarawan Prancis, Voltaire (w. 1778) dengan teori progresifnya bahwa sebuah peristiwa sejarah haruslah bersifat positivistik, rasional, dan dapat dinalar. Oleh sebab itu, teori progresif Voltaire tidak bisa digunakan untuk membaca sejarah Nusantara.

Dari bagian pertama hingga keenam, nampak bahwa ulama-santrilah yang mampu secara konsisten mengadakan perlawanan terhadap kolonial. Dengan kata lain, ulama dan pesantren menjadi simbol perlawanan kolonial. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa satu-satunya elemen bangsa yang tidak pernah terjajah oleh kolonial adalah ulama-santri dan pesantren, bahkan menjadi garda depan dalam menumpas kolonialisme.

Buku ini menjadi bacaan ‘wajib’ bangsa Indonesia agar sejarah yang sesungguhnya dapat dibaca secara komprehensif, tidak anakronistik (sepenggal-penggal) sehingga memperteguh serta mengokohkan jati diri dan martabat bangsa Indonesia.

 

Judul         : Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949)
Penulis      : Zainul Milal Bizawie
Penerbit    : Pustaka Compass, Tangerang
Tahun       : Cetakan I, Januari 2014
Tebal        : xxxii + 420 halaman
Peresensi  : Fathoni, Mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta

Bagikan:
Senin 17 Februari 2014 6:3 WIB
Hukum Kewarisan Bagi Anak Angkat
Hukum Kewarisan Bagi Anak Angkat

Warisan adalah peninggalan benda pusaka yang memiliki nilai tawar ketika orang telah meninggal bagi ahli warisnya. Warisan kadang-kadang menjadi biang keladi pertengkaran jika tidak dikemas dengan baik dan seadil-adilnya. Apalagi orang yang meninggal memiliki saudara dan seorang anak angkat yang tidak memiliki hubungan darah. Anak angkat ini biasanya menjadi tonggak perseteruan di antara saudara-saudara orang yang meninggal. Maka dari itu, hukum kewarisan bagi anak angkat ada bagian-bagian tersendiri yang memang mengaturnya. Misalkan wasiat wajibah oleh yang mengasuhnya mengenai harta kepemilikannya bagi anak angkatnya. Namun di Indonesia wasiat wajibah ini masih terasa asing.<>

Yang dimaksud dengan wasiat wajibah adalah wasiat yang pelaksanaannya tidak dipengaruhi atau tidak tergantung kepada kemauan atau kehendak yang meninggal dunia. Wasiat ini tetap harus dilaksanakan, baik diucapkan atau tidak diucapkan, baik dikehendaki atau tidak dikehendaki oleh yang meninggal dunia. Jadi, pelaksanaan wasiat tersebut tidak memerlukan bukti bahwa wasiat terebut diucapkan, ditulis, atau dikehendaki, tetapi pelaksanaannya didasarkan pada alasan-alasan hukum yang membenarkan bahwa wasiat tersebut harus dilaksanakan (hlm. 118).

Maka dari itu, kehadiran buku ini akan mengupas tuntas tentang wasiat wajibah yang terasa asing bagi masyarakat Islam Indonesia pada umumnya karena istilah ini sebenarnya memang tidak dikenal dalam kitab-kitab fiqih klasik yang beredar di Indonesia. Istilah wasiat wajibah ini sebenarnya penemuan baru abad XX. Sedangkan wasiat wajibah yang dikaitkan dengan anak atau orang tua angkat merupakan penemuan Indonesia. Dalam kasus lain, wasiat wajibah dimasukkan ke dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Ini menjadi persoalan tersendiri yang perlu dikritisi.

Tapi, tujuan wasiat wajibah dimasukkan ke dalam KHI adalah untuk melakukan pendekatan kompromi dengan hukum adat. Hal ini dilakukan bukan hanya sebatas pengambilan nilai-nilai hukum adat untuk diangkat dan dijadikan ketentuan hukum Islam. Pendekatan kompromistis ini, termasuk juga dalam hal memadukan pengembangan nilai-nilai hukum Islam yang sudah ada nashnya dengan nilai-nilai hukum adat. Tujuannya agar ketentuan hukum Islam itu lebih dekat dengan kesadaran hidup masyarakat. Hal ini dapat dikatakan sebagai islamisasi hukum adat sekaligus seiring dengan upaya mendekatkan hukum adat ke dalam hukum Islam (hlm. 163).

Istilah wasiat wajibah pertama kali diperkenalkan oleh Ibn Hazm yang menyatakan bahwa bagi tiap-tiap orang yang akan meninggal dan memiliki harta kekayaan, terutama kepada kerabat yang tidak memperoleh bagian warisan, karena kedudukan sebagai hamba, kekafirannya, atau ada hal yang menghalangi mereka dari hak kewarisan atau karena memang tidak berhak atas warisan (hlm. 1).

Ada beberapa hal yang menjadi tujuan pengangkatan anak yang menyebabkan timbulnya sebuah wasiat wajibah ini, antara lain yaitu untuk meneruskan keturunan manakala dalam suatu perkawinan tidak memperoleh keturunan. Ini merupakan motivasi yang dapat dibenarkan, dan salah satu jalan yang positif serta manusiawi terhadap naluri kehadiran seorang anak dalam keluarga setelah bertahun-tahun dikaruniai anak.

Selain itu juga bertujuan untuk menambah jumlah anggota keluarga, dengan maksud agar si anak angkat mendapat pendidikan yang baik, untuk mempererat hubungan keluarga. Di sisi lain juga merupakan suatu kewajiban bagi orang yang mampu terhadap anak yang tidak mempunyai orang tua, sebagai misi kemanusiaan dan pengamalan ajaran agama (hlm. 30-31).

Pengangkatan seorang anak selain memang untuk menambah jumlah anggota keluarga dan menyantuni mereka yang tak mampu, juga tak lain sebagai upaya untuk menjadi umpan balik bagi keluarga yang belum dikaruniai seorang anak. Menurut adat tertentu, jika seorang keluarga ingin cepat dikaruniai seorang anak disarankan untuk mengasuh anak orang lain agar hasratnya bisa terus berdoa saat bersama anak yang diasuhnya. Sehingga keinginan untuk memiliki keturunan mudah terkabul.

Eksistensi buku ini dilahirkan tak lain guna mejawab persoalan wasiat wajibah dan alasan wasiat wajibah dimasukkan ke dalam KHI dengan argumentasi yang logis dan rasional. Jawaban atas warisan yang hanya bagi mereka yang memiliki hubungan kekerabatan bisa diberikan kepada orang lain melalui wasiat wajibah ini, termasuk kepada anak angkat jika yang meninggal dunia memiliki anak angkat. Karena hukum Islam bukan sekadar seperangkat norma statis yang mengutamakan kepastian dan ketertiban, melainkan juga norma-norma yang mendinamiskan pemikiran dan merekayasa perilaku masyarakat dalam mencapai cita-citanya.Judul : Wasiat Wajibah Pergumulan antara Hukum Adat dan Hukum Islam di Indonesia

Penulis : Ahmad Junaidi
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : I, Desember 2013
Tebal : 178 halaman
ISBN : 978-602-229-261-6
Peresensi : Junaidi Khab, Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya 

Senin 10 Februari 2014 6:0 WIB
Meneguhkan Al-Ghazali Sebagai Seorang Mufassir
Meneguhkan Al-Ghazali Sebagai Seorang Mufassir

Abu Hamid Al-Ghazali adalah intelektual Muslim yang pikiran-pikirannya banyak mempengaruhi umat Islam. Meskipun ia merupakan tokoh pemikir produktif abad pertengahan, namun buah pikirannya sampai saat ini masih hidup subur, bahkan tertancap kuat dalam masyarakat Sunni Muslim. Ia adalah seorang pemikir yang tidak saja mendalam, tapi juga sangat produktif dengan karya-karyanya yang meliputi bidang kalam, filsafat, tasawwuf, fiqh, politik, dan tafsir.
<>
Dengan karya monumentalnya Tahafut Al-Falasifah ia berhak menyandang gelar filusuf. Dengan Ihya’ ‘Ulumuddin-nya ia berhak menyandang gelar sufi. Sebagai seorang teolog hampir semua ahli sepakat memasukkan al-Ghazali ke dalam barisan para teolog Asy’ari.

Sedangkan ketokohannya dalam bidang tafsir belum banyak dikenal. Padahal ia telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam diskursus kajian tafsir Al-Qur’an. Ia mempunyai gagasan cerdas dan liberal dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an. Bahkan berdasarkan beberapa catatan, ia pernah menulis karya tafsir, Yaqut al-Ta’wil fi Tafsiri Al-Tanzil yang mencapai 40 jilid. Sayangnya karya yang sangat berharga ini tidak dapat kita warisi.

Di samping itu, al-Ghazali juga menulis sebuah kitab mengenai studi Al-Qur’an, Jawahiru Al-Qur’an dan Qanunu Al-Ta’wil  dan satu bab khusus, Fahmu Al-Qur’an wa Tafsiruhu bi Al-Ra’yi min Ghairi Al-Naql yang tertuang dalam Ihya’ ‘Ulumuuddin.

Selain itu, buku (baca: kitab) Tafsir Al-Imam Al-Ghazali karya Muhammad Al-Rihani ini bisa menjadi bukti tambahan guna meneguhkan kapasitas Al-Ghazali sebagai seorang mufassir, di mana di dalamnya berisi kumpulan penafsiran al-Ghazali terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang tersebar di berbagai kitab yang pernah ia tulis, kurang lebih dari 41 kitab karya Al-Ghazali yang dirujuk Al-Rihani.

Dalam pengantar buku ini, Al-Rihani mengatakan bahwa penyusunan kitab  setebal 398 halaman ini termotivasi oleh banyak hal dan tujuan. Lebih jelasnya, al-Rihani membaginya menjadi tiga motivasi, yaitu motivasi umum (al-‘Amah), motivasi khusus (al-Dhatiyah), dan motivasi tematik (al-Maudu’iyah) (hal. 9-10).

Motivasi umumnya adalah untuk melestarikan dan menghimpun kitab-kitab turats para ulama’ terdahulu. Hal ini mengingat banyak karya-karya ulama terdahulu yang kadangkala tidak bisa ter-cover seutuhnya, yang andaikata semuanya dihimpun, maka menjadi sebuah keniscayaan jika nantinya dunia Islam akan lebih menemukan kemajuan dalam berbudaya dan berperadaban.

Motivasi khususnya terletak pada diri atau pribadi al-Rihani, di mana sejak kecil ia begitu gandrung dengan ilmu-ilmu keislaman, hingga kegandrungan itu semakin tumbuh ketika kuliah di Fakultas Adab jurusan Dirasah Islamiyah. Semenjak itu, ia semakin mengintimi turats dengan menghimpun dan men-tahqiq-nya, khususnya ilmu tafsir. Hal ini untuk mempermudah dalam me-mutala’ah dan mempelajarinya.

Sedangkan motivasi tematiknya ialah kaitannya dengan ketokohan Al-Ghazali dalam kapasitasnya sebagai seorang mufassir. Karena seperti yang jamak diketahui bahwa Al-Ghazali ini merupakan tokoh produktif dan multi dalam segala bidang, mulai dari bidang pemikiran, teologi, fiqh, hingga tasawwuf, tanpa terkecuali dalam bidang tafsir, meski bidang yang terakhir ini jarang menjadi sorotan terhadap dirinya.

Dari segi penyajian, metodologi buku ini bisa diklasifikasikan dengan perincian; dilihat dari segi sumber penafsirannya buku ini menggunakan metode bi al-iqtiran, di mana Al-Ghazali dalam menafsiri Al-Qur’an adakalanya menggunakan bi al-ma’tsur dan adakalanya menggunakan bi al-ra’yi.

Dilihat dari segi cara penjelasannya, Al-Ghazali dalam menafsirkan Al-Qur’an yang cenderung naratif, tidak mengutip beberapa pendapat ulama’, maka buku ini masuk pada metode bayani.

Ditinjau dari segi keluasan penjelasannya, buku ini menggunakan metode ijmali, di mana penjelasannya hanya terbatas pada makna-makna global, tidak sampai pada pembahasan bahasa, asbab al-nuzul, munasabah ayah, dan sejenisnya.

Sedangkan ditinjau dari segi sasaran dan tertib ayatnya, buku ini menggunakan metode tahlili, di mana isi keseluruhan tafsir ini dimulai dari surat al-Baqarah samapai surat al-Ikhlas, meski dari masing-masing surat tidak tersaji secara utuh.

Layaknya tidak ada gading yang tak retak, demikian pula buku ini. Ada beberapa kelemahan buku ini, di mana setiap surat al-Qur’an yang ditafsirkan tidak utuh dari ayat pertama hingga terakhir (al-nas), sehingga hal ini mengantarkan pada kelemahan yang kedua, yaitu sulit mendeteksi kecenderungan mufassir dalam penilaian kitabnya.
Data Buku

Judul : Tafsir Al-Imam Al-Ghazali
Penyusun : Muhammad Al-Rihani
Penerbit : Dar Al-Salam, Kairo
Cetakan : I, 2010
Tebal : 398 halaman
ISBN : 978-977-342-929-4
Peresensi : Abd. Basid, alumnus PP. Mambaul Ulum Bata-Bata, Madura

Senin 3 Februari 2014 6:13 WIB
Benarkah Gus Dur Waliyullah?
Benarkah Gus Dur Waliyullah?

Sebagai sebuah teks, Gus Dur telah selesai ditulis bersama takdirnya, tapi ia belum selesai dibaca. Ia adalah korpus terbuka yang bisa ditafsirkan dengan beragam sudut pandang. Pula, ia dicela dan semakin dicinta dengan banyak cara. Demikianlah, Gus Dur selalu membuat pelbagai kemungkinan untuk “di” karena sejak sosok ini hidup ia adalah subyek sekaligus obyek.
<>
Dari sini, bisa dipahami bahwa Gus Dur merupakan unfinished text yang belum tamat, dan belum rampung untuk dimaknai. Sebagai unfinished text, Gus Dur akan selalu menjadi “obyek” yang pernak-perniknya (pribadi dan gagasannya) selalu dielaborasi, dikritisi, dan direkonstruksi oleh para penulis yang bertindak sebagai “subyek”.

Sebagai sebuah teks. Gus Dur memang terbuka untuk ditafsirkan. Meminjam teori independensi teks-nya Karl Popper, setiap pengetahuan yang sudah diumumkan dengan sendirinya terlepas dari monopoli pengarang dan penggagasnya, lalu masuk ke dalam pengetahuan obyektif. Dalam hal ini, seorang penafsir (interpreter) memiliki kebebasan dan otonomi penuh dalam menafsirkan sebuah teks. Namun, yang menjadi masalah bukanlah benar tidaknya tafsiran yang diberikan, tetapi argumentasi yang dijadikan landasan dalam memberikan penafsiran serta kedekatannnya dengan fenomena yang terjadi dan berkaitan dengan teks tersebut. 

Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin, misalnya, melakukan penafsiran atas perilaku Gus Dur, mengumpulkan kesaksian-kesaksian unik dari para sahabat dan keluarga Gus Dur, serta dari ragam fenomena yang mengiringi sosok ini, baik saat hidup maupun setelah berpulang. “Bukti-Bukti Gus Dur itu Wali: 99 Kesaksian Tak Terbantahkan dari Sahabat, Orang Dekat, Kolega dan Keluarga” merupakan upaya merekonstruksi apa yang telah dipahami oleh kedua penulis ini mengenai apa yang disebut oleh kedua penulis ini sebagai “kewalian Gus Dur”.

Dalam kaidah jurnalistik, penulisan buku ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mengenai kisah-kisah yang menjadi bukti kualitas pribadi Gus Dur dan keistimewaan-keistimewaan sosok ini, kedua penulis memungutnya dari beragam narasumber yang memang dekat dengan Gus Dur (keluarga, sahabat, pengamat, pengamal tasawuf, dan para ulama yang kredibel), sekaligus memverifikasi kisah yang disampaikan, disertai dengan pembacaan kritis. Untuk itulah, kedua penulis buku ini, dalam “Pengantar Penulis”, memberikan rambu bahwa keduanya menyeleksi kisah-kisah yang diterima.

KH Said Aqil Siroj, misalnya, memberikan kesaksian mengenai ‘terbongkarnya’ jatidiri seorang wali mastur (yang sengaja menyembunyikan identitas kewaliannya) oleh Gus Dur; kesaksian dr Umar Wahid bersama pilot pesawat kepresidenan dalam situasi genting di mana awan gelap yang hampir menjadi badai tiba-tiba membelah dan seolah mempersilahkan pesawat mendarat dengan aman (hlm. 58); hingga ritus ziarah ke makam para Wali dan dipercaya berdialog dengannya (Bagian II: Komunikasi dengan Para Wali); serta berbagai karamah-karamah yang dimiliki oleh Gus Dur. 

Demikianlah, tradisi dan kepercayaan mengenai keramat para waliyullah sangat mengakar di kalangan masyarakat Muslim tradisionalis. Meskipun ada ungkapan la ya’riful waliy illal waliy (hanya wali yang mengetahui wali), namun masyarakat juga memiliki kecenderungan untuk membedakan manakan perilaku yang termasuk bagian dari karamah, dan manakah yang merupakan istidraj; serta manakah karamah yang merupakan anugerah Allah, dengan bagian dari ilmu hikmah—yang bisa dipelajari.

Dalam kategori derajat kewalian, terdapat dua aspek penting: waliyullah dan wali huquqillah. Waliyullah adalah derajat wali yang pencapaian kewaliannya tidak melalui prosedur normatif lewat cara riyadlah atau tirakatan dengan mengasah kemampuan ruhaniah batiniah dengan meningkatkan kualitas ibadah dan keimanan. Derajat ini didapat secara langsung dari Allah, tanpa usaha atau kasbul ibadah, namun ada kejadian istimewa sebelum seseorang menjadi waliyullah. Sedangkan Wali Huquqillah merupakan derajat kewalian yang dicapai dengan cara normatif atau berproses melalui jalur sufistik. Secara teoritis seserang harus melalui tahapan-tahapan berat sebelum akhirnya menjadi seorang waliyullah. Pertama, taubat, kemudian wara’, zuhud, sabar, tawakkal, lalu ridho syukur tahalli, tajalli, hingga pada puncaknya mencapai ma’rifat. 

Sedangkan Gus Dur, dari sisi pengalaman, telah menjalani berbagai corak kehidupan yang memungkinkannya menempa diri dalam derajat kesufian tertentu. Sebagaimana penuturan KH. Said Aqil Siroj, Gus Dur setiap hari secara istiqamah membaca Surat al-Fatihah ribuan kali (hlm. xxii). Pula, berbagai kesaksian orang terdekat Gus Dur bahwa dalam berbagai kesempatan Gus Dur banyak bertemu dengan tamu misterius yang memiliki derajat istimewa. 

Dari berbagai bab buku ini, selain menyuguhkan berbagai sisi yang (bagi sebagian orang) irasional, ada banyak kisah yang sesungguhnya rasional, logis, dan manusiawi. Sepak terjang Gus Dur dalam memperjuangkan aspek esoterisme Islam sehingga banyak disalahpahami, proses membumikan Islam Rahmatan lil Alamin, keteguhannya membela pihak yang tertindas, serta kehidupannya yang asketis, yang juga dikisahkan dalam buku ini.  

Terlepas dari kebenaran hakiki apakah Gus Dur itu wali atau bukan, hanya Allah yang Mahatahu. Berbagai kisah yang dimuat dalam buku ini bisa dijadikan salah satu standar penilaian kualitas pribadi Gus Dur dan segala pernak-pernik kehidupannya. Juga, kisah-kisah manusiawi yang juga banyak dimuat dalam buku ini seolah menjadi penawar sinisme pihak-pihak yang anti-Gus Dur untuk melihat lebih jernih dan komprehensif mengenai sosok ini. Waliyullah atau bukan, itu hak prerogratif Allah dalam menentukannya. Yang pasti, Gus Dur adalah sosok istimewa yang pernah dilahirkan di bumi Indonesia.  

Judul: “Bukti-Bukti Gus Dur itu Wali: 99 Kesaksian Tak Terbantahkan dari Sahabat, Orang Dekat, Kolega dan Keluarga”
Penulis: Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin
Penerbit: Renebook, 2014
Halaman: xxviii + 224
Peresensi: Rijal Mumazziq Z, direktur sebuah penerbitan buku di Surabaya

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG