IMG-LOGO
Nasional
HARLAH KE-28 PAGAR NUSA

Inilah Kiai Gondrong Ahli Pencak

Rabu 5 Maret 2014 20:1 WIB
Bagikan:
Inilah Kiai Gondrong Ahli Pencak

Sleman, NU Online
Kiai ini berasal dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Ia Pendiri Pencak Silat Nahdhatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa. Ia berambut gondrong serta kumis dan jenggot yang panjang. Ia KH Maksum Jauhari atau kerap disapa Gus Maksum.
<>
Menurut Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Abdul Mun’im, Gus Maksum, kiai yang tidak mengajar mengaji seperti yang dilakukan kiai pada umumnya. “Namun ia memilih untuk mengajarkan ilmu bela diri.”

Ia menerangkan hal itu usai menjadi pemateri pada Pelatihan Pelatih Tingkat Nasional Pencak Silat Nahdhatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa, di Gedung Youth Centre, Tlogoadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (4/3).

Ilmu bela diri yang diajarkan Gus Maksum, tambah Abdul Mun’im, berkembang pesat hingga menjadi sebuah organisasi besar dalam tubuh NU, hingga pada tahun 1986 berdiri dengan nama PSNU Pagar Nusa. “Beliau tahu bidang strategis saat itu,” tambahnya.

Abdul Mun’im mengungkapkan kekegumannya akan keberanian Gus Maksum saat penumpasan PKI. “Beliau sangat berani menghadapi PKI. Seluruh hidupnya untuk Pagar Nusa,” imbuhnya.

Banyak kisah yang telah beredar tentang kesaktian pendiri Pagar Nusa tersebut. Ada yang mengatakan rambutnya yang tidak bisa dipotong dan bisa mengeluarkan api, tubuhnya yang kebal dari senjata tajam, tidak mempan disantet, dan lain sebagainya.

Bagi Pagar Nusa, Gus Maksum tentu merupakan sosok yang sangat berharga, kerena telah menggagas dan mengembangkan Pagar Nusa sampai seperti sekarang ini.

Ke depan, Abdul Mun’im berpendapat, optimis bahwa Pagar Nusa akan selalu berkembang dan maju. Semoga.

Gus Maksum adalah salah seorang kiai kharismati di kalangan NU. Ia   wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003, lalu dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo. (Dwi Khoirotun Nisa’/Abdullah Alawi)
   

Bagikan:
Rabu 5 Maret 2014 23:3 WIB
KONBES IPPNU 2014
Kepada Cabang Bermasalah, PP IPPNU Mesti Keluarkan Peringatan
Kepada Cabang Bermasalah, PP IPPNU Mesti Keluarkan Peringatan

Jakarta, NU Online
Dalam Konferensi Besar IPPNU 2014, konsul pelajar putri NU Jawa Tengah Laeli Masroh meminta dukungan forum sidang komisi organisasi agar pimpinan pusat melayangkan peringatan bagi cabang-cabang bermasalah. Peringatan ini, menurutnya, penting untuk menjaga ketertiban internal organisasi.
<>
“Minimal PP IPPNU mengeluarkan SP untuk cabang-cabang yang demikian,” terang Laeli kepada NU Online usai Konbes IPPNU 2014 di muka area konbes Gedung PP PON Kemenpora Cibubur, Jakarta Timur, Ahad (2/3) petang.

Usulan ini selanjutnya akan dimasukkan dalam Pedoman Pelaksanaan Organisasi dan Administrasi (PPOA) IPPNU yang akan dicetak kemudian.

Ketika ditanya untuk apa mengusulkan itu, Laeli menjawab bahwa pada sebagian wilayah terdapat sejumlah cabang IPPNU yang “nakal”.

“Sebut saja, ada cabang yang telah lewat masa baktinya, tetapi belum juga mengadakan konferensi karena pelbagai alasan dan kepentingan tentunya seperti nyaleg,” kata Laeli yang kini diamanahkan sebagai Wakil Ketua I IPPNU Jawa Tengah.

Usulan ini juga bertujuan jangka panjang. “Bahkan ke depannya, jangan sampai banyak cabang yang sudah tidak aktif tetapi hadir begitu saja dalam kongres. Kasus seperti ini yang kerap memicu keributan di arena kongres,” terangnya.

Adapun kita sebagai PW tidak memiliki wewenang untuk mengeluarkan SP itu, tandas Laeli. (Alhafiz K)

Rabu 5 Maret 2014 22:1 WIB
STAIN Jember Tahun Ini Jadi IAIN
STAIN Jember Tahun Ini Jadi IAIN

Jember, NU Online
Sekolah Tinggin Agama Islam Negeri (STAIN) Jember Jawa TImur tahun ini dipastikan berubah menjadi IAIN. Kepastian itu diperoleh menyusul terbitnya Surat Direktur Jenderal Direktur Pendidikan Tinggi Agama Islam Kemenag RI, nomor Dj.I/Dt.IV/PP.00.11/406/2014.
<>
Isi surat ditandatangani langsung oleh Dirjen Penidikan Agama Islam, Dede Rosyada. “Insyaallah tahun ini STAIN Jember berubah menjadi IAIN,” tukas Ketua STAIN Jember, Babun Suharto di sela-sela tasyakuran dosen STAIN Jember, Selasa (4/3).

Menurut Babun, STAIN Jember berada di urutan ke-7 dari 16 STAIN di seluruh Indonesia yang diproses perubahan statusnya menjadi IAIN secara bertahap.

Saat ini, katanya, pihak Kemenag RI  sedang berkoordinasi dengan Kementerian PAN-RB untuk finalisasi proses perubahan status kampusyangpendiriannya dipelopori oleh para kiai NU itu.

“Ini harus disyukuri, dengan cara kita, para dosen dankaryawan dapat meningkatkan kapasitas kemampuan kita sesuai bidang kita masing-masing. Sebab, dengan perubahan status itu,maka otomatis akan terjadi perubahan sistem dan tatanan administrasi,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Humas STAIN Jember, Minan Jauhari menegaskan, tahun ini pihaknya merekrut 1.700 mahasiswa baru. Angka tersebut lebih banyak dari jumlah mahasiswa baru tahun lalu yang”hanya” mencapai 1.500 orang. “Kalau statusnya nanti berubah, bisa jadi yamg berminat kuliahdi sini (kampus STAIN) semakin banyak,” ungkapnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)


Rabu 5 Maret 2014 19:2 WIB
NU Jayapura Bangun 9 Masjid
NU Jayapura Bangun 9 Masjid

Malang, NU Online
Sebuah kabar menggembirakan tentang dakwah Islam dari Indonesia Timur. Umat Islam di sana yang rata-rata kaum Nahdliyyin bergotong royong  membangun 9 masjid di Jayapura, ibu kota Provinsi Papua.
<>
Demikian ini penuturan Kiai Marzuqi Mustamar dalam sebuah acara ceramah yang disampaikan pada jamaah shalat maghrib Masjid Sabilillah Blimbing Malang, Jawa Timur, pada hari Selasa (4/3) kemarin.

Kiai Marzuqi menceritakan pengalamannya setelah kunjungan ke Jayapura beberapa hari yang lalu.
“Islam di Jayapura sudah membumi, dan ikatan persaudaraannya sangat kuat. Kabar terakhir yang kami dapatkan dari sana adalah, ada satu desa yang bersama-sama bergotong-royong mambangun 9 masjid,” katanya.

Kiai Marzuqi menambahkan pula bahwa, meskipun umat Islam di Jayapura rata-rata adalah Nahdliyin, akan tetapi masih tidak luput dari serangan Salafi Wahabi. Dan karena itulah, dirinya masih sering datang kesana untuk membentengi Aswaja mereka.

“Orang NU di Jayapura masih menjadi rebutan antara kita dan orang Wahabi. Namun alhamdulillah setelah menerima penjelasan dari kita, mereka bisa mengerti dan memahami. Masjid-masjid dan mushala-mushala sudah mengadakan slametan dan tahlilan,” tuturnya.

“Dan kami menggunakan kesempatan agar setiap tahlilan supaya Fatihahnya ditawasulkan pada Mbah Kiai Hasyim, Mbah Kiai Wahab dan pendirir-pendiri NU yang lain,” tambahnya lagi.

Kiai Marzuqi juga menambahkan, meskipun dalam setiap pemilihan kepala daerah yang terpilih selalu penduduk asli yang beragama non-Islam, namun umat Islam (NU) masih diberikan kesempatan untuk menduduki berbagai jabatan penting di pemerintahan.

Hal demikian ini karena penduduk asli non-Muslim di sana merasa bahwa umat Islam adalah saudaranya. Masih bersahabat dengan kita. Ini disebabkan karena dakwah Islam yang dibawa kesana adalah Islam yang ramah. Tidak arogan. (Ahmad Nur Kholis/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG