IMG-LOGO
Fragmen
KH MUCHIT MUZADI

Mengapa NU Menerima Pancasila sebagai Asas?

Selasa 11 Maret 2014 3:46 WIB
Bagikan:
Mengapa NU Menerima Pancasila sebagai Asas?

Tokoh paling penting yang menjadi “arsitek” penerimaan NU terhadap Pancasila adalah KH Achmad Siddiq (Rais Aam PBNU 1984-1989). Berikut ini penuturan sesepuh NU, KH Muchit Muzadi (88), sekretaris Kiai Achmad Siddiq yang sama-sama pernah menjadi murid KH Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng. (*Red) <>

Bagi saya KH Ahmad Shiddiq itu adalah seorang ulama yang memiliki ilmu pengetahuan yang komplit. Komplit kenapa? Karena ia memiliki pemikiran-pemikiran yang cukup mendalam tentang agama, hubungan agama dengan kehidupan kemasyarakatan, hubungan agama dengan kehidupan berbangsa dan bernegara dan lain sebagainya.

Seperti contoh, dalam merumuskan hubungan Pancasila dan Islam dalam Nahdlatul Ulama. Umumnya orang hanya melihat bahwa Pancasila tidak ada yang bertentangan dengan Islam maka dibilang Islami. Namun tidak dengan KH Achmad Siddiq. Ia melihat bahwa pola hubungan dan posisi agama dan Pancasila dalam kehidupan bernegara adalah lebih dari itu.

Saya sendiri dahulu pernah bertanya masalah ini kepada Beliau. “Kiai, Mengapa kita harus menerima Pancasila sebagai asas NU ?.”

Ia menjawab: “Nahdlatul Ulama sendiri dalam Anggaran Dasarnya yang pertama diterangkan bahwa NU didirikan berdasarkan tujuan-tujuan, bukan asas.”

“Kita tidak usah mempertentangkan NU dengan asas negara. Karena NU tidak berbicara mengenai asas. Melainkan tujuan.”

Lalu sekarang apa tujuan NU? Ialah melaksanakan semua yang akan menjadikan kemaslahatan Ummat Islam.

Kiai Achmad Siddiq tidak setuju kalau Islam itu dijadikan asas sebuah organisasi atau partai. Adalah keliru jika menjadikan Islam sebagai asas, karena justru akan merendahkan Islam sendiri. Islam adalah agama ciptaan Allah, sedangkan organisasi ciptaan manusia. Islam jauh diatas asas, karena Islam adalah Din-Allah.

Seperti zaman dahulu, Masyumi yang mencantumkan Asas Islam adalah keliru karena justru memelorotkan Islam dengan menyamakannya dengan berbagai isme-isme yang lain.

Zaman dahulu, NU memusyawarahkan tentang hubungan Islam dan asas negara berjam-jam. Satu jam lamanya Kiai Shiddiq terdiam merenungkan masalah ini. Dan ketika mendapatkan hasilnya, langsung Ia memutuskan di depan rapat, dan terdiamlah semua hadirin yang berdebat.

Itulah salah satu kelebihan dari Kharisma Kiai Achmad, yang mana hal itu dikarenakan kedalaman Ilmunya. Saya menaruh hormat yang besar kepadanya akan hal ini. Meskipun Ia lebih muda dari pada saya 50 (lima puluh) hari lamanya. Karena saya lahir pada 24 Desember 1925, sedang Kiai Achmad lahir pada 24 Januari 1926. Akan tetapi karena keilmuan Beliau jauh di atas saya maka meskipun saya lebih tua saya harus hormat kepadanya.

 

*Ditranskrip oleh kontributor NU Online Malang, Ahmad Nur Kholis, dari pidato KH Muchit Muzadi yang disampaikan dalam acara Workshop Aswaja dengan tema “Revitalisasi nilai-nilai Aswaja di Tengah Ancaman Gerakan Transnasional di Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, 8 Februari 2014.

 

Bagikan:
Kamis 6 Februari 2014 10:1 WIB
Berpolitik Sambil Memegang Tasbih
Berpolitik Sambil Memegang Tasbih

Keluarnya NU dari Masyumi pada tahun 1952 bukan saja karena tidak mendapatkan jatah kursi dalam Kabinet Wilopo, terutama Menteri Agama yang selama ini menjadi andalan NU. Ada hal lain yang lebih menyakitkan dari itu. <>

Kira-kira dua tahun sebelumnya, dalam Kongres Masyumi tahun 1949 di Yogyakarta, Muhammad Saleh, Wali Kota Gudeg yang juga tokoh Mayumi menyindir para kiai dengan mengatakan bahwa urusan politik tidak bisa dibicarakan sambil memegang-megang tasbih. Katanya, masalah politik lebih luas dari pada sekeliling pondok pesantren.

Ucapan itu ditanggapi serius oleh para tokoh NU. Bahkan Delegasi NU pada saat itu sontak mengajukan protes dan mendesak ucapan itu ditarik kembali. Karena Muhammad Saleh berkelit, 30-an anggota delegasi NU pun keluar dari ruang Kongres.

Pelecehan terhadap ulama yang mewakili NU pada jabatan politik memang menyakitkan. Para lawan politik NU meremehkan para kiai dan santri yang berpolitik lantaran tidak mengenyam pendidikan formal warisan Belanda. Memang setelah diberlakukan Politik Etis dimana pemerintah kolonial “berpura-pura” memperhatikan pendidikan kaum pribumi, para kiai dan kaum pesantren tetap memerankan diri sebagai pihak oposisi dan lebih memilih jalur pendidikan pesantren.

Puncaknya pada tahun 1952 itu, KH Idham Chalid mengungkapkan kekesalannya atas seseorang berlatarbelakang pendidikan MULO (SLTP) Belanda. Orang tersebut mengataakan, seorang lulusan HIS (SD Belanda) masih unggul ketimbang lulusan Tsanawiyah (setara SLTP).

Di Masyumi sendiri dalam perkembangannya, setelah tahun 1949, kedudukan Majelis Syuro yang diisi oleh para kiai tadinya merupakan badan legislatif partai diubah menjadi sekedar penasihat saja. H Zainul Arifin yang dalam Muktamar NU di Palembang 1 Mei 1952 sebagai terpilih sebagai anggota Dewan Presedium PBNU dan kemudian memimpin Delegasi NU keluar dari Masyumi geram mengatakan: “Majelis syuro yang didominasi ulama NU ibarat cincin permata bagi Masyumi, yang hanya dikenakan jika pergi pesta, dan ketika tidak digunakan pasti disimpan lagi di laci terkunci.”

Orang-orang lulusan sekolah Belanda, termasuk kelompok Islam modernis melecehkan kemampuan para lulusan pesantren. Kelompok Natsir terang-terangan mengungkapkan ketidaksukaannya dengan gaya tradisional dari para kiai dengan menyebut kiai “tidak sejalan dengan ajaran Islam yang sebenarnya.”

Ketika resmi keluar dari Masyumi tahun 1952 itu dan menyiapkan “gerbong politik sendiri” para elit Masyumi gamang. Berbagai propaganda dilontarkan. NU dikatakan sebagai kelompok ekstrim kanan dan memecah-belah persatuan umat Islam.

Namun pada Pemilu 1955 NU tampil percaya diri sebagai perwakilan kelompok muslim tradisional, dan nyatanya suara NU sangat lumayan. NU menjadi salah satu pemenang Pemilu. (A. Khoirul Anam)

Jumat 6 Desember 2013 5:5 WIB
Cara Syekh Yasin Mengader Kiai Sahal
Cara Syekh Yasin Mengader Kiai Sahal

Tidak banyak kiai pesantren yang telaten menuangkan gagasannya secara rinci menjadi satu kitab berbahasa Arab. KH Sahal Mahfudh, Rois Aam PBNU adalah salah satu diantara yang tidak banyak itu. Syekh Yasin Al-Fadani adalah seorang gurunya yang tidak hanya mengajar dan menemaninya menulis, tetapi juga memberikan motivasi.<>

Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh adalah santri kelana biasa yang berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain, berdiskusi dengan banyak kiai. Saat mondok di Pesantren Bendo, Pare, ia seringkali bermalam di Kedunglo Kediri dan berdiskusi secara intensif dengan seorang kiai di sana. Ia juga sering menghabiskan waktu dengan Kiai Bisri Syansuri di Jombang.

Perkelanaannya dilanjutkan ke Pesantren Sarang, berguru kepada Kiai Zubair. Salah satu kitab yang didiskusikan adalah Ghoyatul Wushul karya Syekh Zakariya Al-Anshori ulama syafiiyah abad 9 Hijriyah. Diskusi berlangsung secara intensif. Di sela menerima tamu ia diajak berdiskusi. Saat bepergian keluar kota, mereka mengendarai dokar dan diskusi pun berlanjut. Kiai Zubair juga senang membuat pancingan. Terjadilah perbincangan dan Kiai Sahal pun rajin membuat catatan (ta’liqat) dalam bahasa Arab.

Hobi menulis dilanjutkan dengan mengirimkan surat (murosalah) kepada Syekh Muhammad Yasin Padang, seorang kiai pesohor dari Indonesia yang menjadi ulama besar dan menetap di Tanah Suci. Kiai Sahal mengomentari tulisan Syekh Yasin dalam satu kitab, membantahnya dengan argumentasi berdasarkan kitab yang beredar di Jawa. Satu surat berisi sekitar 3-4 lembar, berbahasa Arab.

Kiai Sahal terkejut, ternyata Syekh Yasin membalas surat secara serius. “Saya ini santri, berkirim surat, mengomentari pendapat beliau. Tidak dimarahi saja sudah untung,” katanya. Namun nyatanya surat Kiai Sahal dibalas oleh Syeh Yasin, dan Kiai Sahal pun mengirim surat lagi. Syekh Yasin membalas lagi. Terjadi dialog intensif jarak jauh. Surat-surat yang dikirimkan cukup panjang dan serius. Sepertinya ada perdebatan menarik dalam surat-surat itu. Dan saling kirim surat itu berlangsung sampai sekitar satu setengah tahun.

Syahdan, ketika turun dari kapal, saat Kiai Sahal menginjakkan kaki di Mekkah, seseorang tak dikenal langsung memeluknya dan menariknya ke sebuah warung. Seseorang itu tidak lain adalah Syekh Yasin sendiri. Mungkin dalam surat terakhir Kiai Sahal menuliskan bahwa dirinya akan menunaikan ibadah haji. Dan dalam pertemuan pertama itu pun mereka langsung akrab.

Kiai Sahal diminta tinggal di rumah Syekh Yasin. Setiap pagi ia bertugas berbelanja ke pasar membeli kebutuhan Syekh Yasin. Dan setelah itu Kiai Sahal berkesempatan belajar dengan seorang ulama besar yang diseganinya itu selama dua bulanan.

Dalam diskusi dan perdebatan, Syekh Yasin mendudukkan Kiai Sahal seperti teman diskusi. Barangkali ini tidak seperti kebiasaan kiai-santri di Jawa. Syekh Yasin sangat otoritatif tetapi pada satu sisi cukup egaliter.

Dua bulan pertemuan, Syekh Yasin mengijazahkan banyak kitab yang menginspirasi Kiai Sahal menulis banyak kitab. Dan ta’liqot yang ditulisnya saat belajar bersama Syekh Zubair dirapikan kembali. Terkumpul 500-an halaman dan belakangan dibukukan menjadi satu kitab bertajuk “Thoriqatul Husul”. Kitab ini sudah sampai ke Al-Azhar Mesir, menjadi rujukan para pengkaji ushul fiqih.

 

A. Khoirul Anam
Disarikan dari Gus Rozin, putra Kiai Sahal dalam satu sesi kajian kitab ulama Nusantara
di ruang redaksi NU Online, Kamis 21 November 2013

Selasa 12 November 2013 10:1 WIB
Gerakan Mujahadah Para Kiai Pun Aktif di Pertempuran Ambarawa
Gerakan Mujahadah Para Kiai Pun Aktif di Pertempuran Ambarawa

Bulan November 1945, di berbagai daerah bergejolak perang melawan tentara Sekutu, yang mencoba untuk kembali menjajah Indonesia. Perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan terjadi di Surabaya, Jakarta, Semarang dan daerah lainnya. Pekik “Merdeka” dan kumandang “Allahu Akbar” menggema, membangkitkan semangat para pejuang.
<>
Hingga suatu malam, 20 November 1945, tentara Sekutu mulai menduduki Magelang. Kota Magelang dalam keadaan mencekam. Sementara itu, para pejuang telah bersiap untuk menghadapi pertempuran.

Hal tersebut dikisahkan secara detil oleh salah satu pelaku sejarah, KH Saifuddin Zuhri, yang merupakan konsul dari Nahdlatul Ulama Kedu sekaligus pemimpin Hizbullah: “Kami anak-anak Hizbullah-Sabilillah, membuat pertahanan di belakang Masjid Jamik Kuman Magelang. Jarak antara masjid dengan markas sekutu  yang menggunakan gedung Seminari Katolik tidak lebih dari 300 meter. Malam itu sepi sekali, walaupun belum jam 10, radio pemberontakan, antara kedengaran dan sayup-sayup pidato menggelora dari Bung Tomo memberi instruksi, membakar semangat, dan sesekali diselingi oleh seruan Allahu-Akbar berkali-kali.”

Tiga  ratus kiai, malam itu berunding mengenai penyerbuan ke markas Sekutu. Dari hasil pertemuan rahasia itu, telah direncanakan penyerangan akan dilakukan dengan berbagai cara, ada yang ditugasi untuk mengitari markas musuh dengan suatu gerakan batin, ada pula para kiai yang melakukan gerakan mujahadah dengan diiringi Hizbul Bahar dan Hizbur Rifa’i.

Kira-kira pukul 04.00 menjelang subuh, para pejuang telah bersiap bertempur. Namun, sayang markas musuh ternyata telah kosong, mundur ke Ambarawa. Sudah kepalang tanggung, pagi harinya para pejuang mengejar musuh ke Ambarawa.

Dan terjadilah apa yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Palagan Ambarawa. Di mana para pejuang dari Hizbullah-Sabilillah bersama TKR yang dipimpin Jendral Soedirman, berhasil menyerbu pasukan Sekutu dan memukul mundur musuh.

Namun, beberapa minggu setelah pertempuran pertama, pada tanggal 12 Desember 1945 jam 04.30 pagi, pertempuran kembali berkobar di Ambarawa. Pertempuran Ambarawa berlangsung sengit. Pasukan pejuang kita menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan rangkap dari kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung.

Suplai dan komunikasi dengan pasukan induknya diputus sama sekali. Setelah bertempur selama 4 hari, pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa dan Sekutu dibuat mundur ke Semarang. Kemenangan pertempuran ini kini diabadikan dengan didirikannya Monumen Palagan Ambarawa. (Ajie Najmuddin/Red: Mahbib)

 

*) Disarikan dari buku : KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang Dari Pesantren. 1974

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG