IMG-LOGO
Nasional

Abdullah Wong, Si Pembaca Pengemis dan Shalawat Badar

Senin 31 Maret 2014 5:0 WIB
Bagikan:
Abdullah Wong, Si Pembaca Pengemis dan Shalawat Badar

Jakarta, NU Online
“Pidato saya yang paling orisinil adalah pembacaan cerpen nanti. Itu yang sangat orisinil,” kata Ahmad Tohari. Ia mengatakan itu sebelum menyampaikan Pidato Kebudayaannya berjudul Membela dengan Sastra di gedung PBNU, Jakarta, Jumat malam (28/3).
<>
Hadirin mungkin bertanya-tanya, apa maksud penulis Ronggeng Dukuh Paruk yang diterjemahkan ke dalam belasan bahasa asing tersebut. Pembacaan cerpen tidak tercantum di spanduk dan buku Pidato Kebudayaan. Tetapi mereka tak sempat bertanya kepada panitia atau langsung ke Ahmad Tohari.

Suasana pada waktu itu sudah tidak lagi kondusif sebab hadirin menganggap acara usai. Sebagian mereka hendak meninggalkan ruangan lantai delapan di gedung yang dibangun KH Abdurrahman Wahid itu.

Setelah Ahmad Tohari bicara seperti itu, justru semangat salah seorang penghuni ruangan menggelegak seolah dipompa dan terpacu: semangat Abdullah Wong. ”Bayangkan, suasana sudah chaos. Hadirin bisa diam saja itu sudah untung. Hadirin diam saja sudah berhasil,” katanya selepas acara sambil ngopi di depan gedung PBNU.

Abdullah Wong, si penulis novel Mada, mengaku berat untuk membacakan cerpen itu. Tetapi kepercayaan luar biasa dari novelis luar biasa tak ingin disia-disiakannya.

Tak lama kemudian, pembawa acara, Hamzah Sahal, mengumumkan ada pembacaan cerpen yang disebutkan Ahmad Tohari tadi.

Kemudian pria berambut gondrong sebahu maju ke hadapan hadirin dari sebelah kanan ruangan. Ia berpakaian serba hitam longgar. Sementara kopiahnya sudah kemerahan lepek dan terkesan dipaksakan dengan ukuran kepalanya. Dia tak sendirian, diiringi dua anak muda peniup seruling, Asep Ashly, dan pemetika gitar, Eko Yudhi. Keduanya duduk di sebalah kiri Abdullah Wong.

Abdullah Wong beridiri di hadapan hadirin. Sebentar matanya menyapa seisi ruangan. Tatapannya seolah mengatakan, “Wahai, kalian dengarkan pidato Ahmad Tohari yang aku bacakan ini. Maka diamlah!”

Setelah uluk salam, Abdullah Wong mulai bersuara mengucapkan judul cerpen itu, Pengemis dan Shalawat Badar.

Selang beberapa detik, ia menghela napas. Diamnya ternyata mempersilakan seruling melengking. Seruling itu seperti menyeret hadirin pada keterpencilan. Meliuk-liuk membetot untuk terpaku pada tiga sosok di depan mereka. Kemudian gitar menyahut, menimpali. Suara keduanya saling bertindihan, nyaris kacapi suling Sunda yang mengabarkan jalan setapak, tepi jurang atau lamping gunung, sungai tenang menjelang muara, pada suasana sore menghadap maghrib.

Hadirin makin diam. Hanya sesekali bersuara karena tak kuasa menahan batuk atau mendehem. Selebihnya terdengar nafasnya sendiri. Tatapan mereka ke tiga sosok di hadapan. Abdullah Wong mulai membacakan paragraf pertama.

Bus yang aku tumpangi masuk terminal Cirebon ketika matahari hampir mencapai pucuk langit. Terik matahari ditambah dengan panasnya mesin disel tua memanggang bus itu bersama isinya.

Kini hadirin benar-benar diam. Mereka yang duduk di kursi tak menggeser pantatnya, yang duduk di lantai tak beringsut, yang berdiri tak memindahkan kakinya. Mereka diseret ke dalam cerpen itu. 

Sesekali mereka tergelak karena cerpen itu mengundang ketawa di bagian tertentu. Abdullah Wong yang lahir di Brebes begitu menghayati dialek Cirebonan yang ditulis orang Banyumas. Pada bagian tertentu, ia berhasil mendendangkan shalawat dengan jiwa seorang pengemis berlanggam tak umum, langgam yang bersumber dari kepasrahan tingkat tinggi.

Seruling yang ditiup Asep kadang menyentak hadirin, menjerit agak keras. Disusul petikan gitar  memekik. Pada saat itu pula suara Abdullah Wong meninggi.

Hingga cerpen itu habis, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi tetap di tempat. Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali dan pengurus PBNU yang lain tak kemana-mana. Begitu pula D Zawawi Imron, penyair celurit emas; para penerima anugerah Hadiah Asrul Sani 2014, serta segenap hadirin. Mereka seolah tak rela pertunjukkan harus usai. Seolah bocah yang tak rela dirampas mainannya.

Ahmad Tohari, yang sebelum menyampaikan Pidato Kebudayaan dikalungi sorban hitam oleh Kiai Masdar, segera memeluk Abdullah Wong ketika hendak meninggalkan pentas.

Bukan kali ini saja Abdullah Wong menghipnotis hadirin. Tanggal 22 Maret lalu, putri almarhum H. Mahbub Djunaidi terdiam bertopang dagu, menyimak tiap kata dari fragmen novel karya ayahandanya (Dari Hari ke Hari) yang dibacakan Abdullah Wong. (Abdullah Alawi)  
 

Bagikan:
Senin 31 Maret 2014 21:0 WIB
Sambut Harlah, Korp Dakwah Mahasiswa Lombakan Hadroh
Sambut Harlah, Korp Dakwah Mahasiswa Lombakan Hadroh

Yogyakarta, NU Online
Menyambut hari lahir yang ke 32, Korps Dakwah Mahasiswa (Kodama) menyelenggarakan festival hadroh s<>e-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Lapangan Patmasuri, Krapyak, Ahad (30/3).

Sejak kegiatan dimulai pukul 13.00, warga dan santri-santri pesantren Krapyak antusias menyaksikan festival hadroh tersebut. Mereka terlihat menikmati alunan shalawat yang dipadukan dengan musik hadroh yang disuguhkan oleh para peserta. Tak ketinggalan, sorak-sorai para supporter masing-masing peserta semakin menambah semarak acara tersebut.

Ketua Panitia Harlah Kodama, Dian, acara festival hadroh tersebut bertujuan untuk merangkul para anak muda yang cinta hadroh agar tidak minder ketika dikatakan bahwa shalawat itu bid'ah oleh golongan-golongan tertentu.

"Selain itu, acara ini bertujuan untuk menunjukkan salah satu bentuk kesenian Islam yaitu hadroh, kepada masyarakat luas," ungkap Dian saat ditemui NU Online di Kantor Kodama.

Festival Hadroh tersebut, diikuti 21 peserta yang berasal dari seluruh kabupaten di DIY. Para peserta tersebut, sebagian besar merupakan santri dari berbagai pesantren yang ada di DIY.

"Awalnya kami hanya ingin mengadakan lomba hadroh tersebut hanya se-kabupaten Bantul. Tapi setelah tanya-tanya, akhirnya kami pun memutuskan untuk meluaskan lingkupnya menjadi se-DIY. Dan kami tidak menyangka jika peserta yang ikut sebanyak itu. Itu pun pesertanya kami batasi, karena keterbatasan waktu," ujar Dian yang saat ini tercatat sebagai salah satu santri pesantren Krapyak.

Ditanya mengenai harapan dari acara tersebut, Dian mengungkapkan, agar kesenian Islam hadroh menjadi kesenian populer yang dikenal luas oleh masyarakat.  

"Saya pribadi juga berharap acara ini nantinya akan membawa berkah dan manfaat yang besar. Dengan acara ini juga, kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa hingga hari ini, Kodama masih eksis," tandas Dian. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)

Senin 31 Maret 2014 16:48 WIB
Pemerintah Sediakan Beasiswa Bidik Misi Untuk S2 dan S3
Pemerintah Sediakan Beasiswa Bidik Misi Untuk S2 dan S3

Semarang, NU Online
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh mengatakan bahwa program beasiswa bagi penerima Bidik Misi yang akan melanjutkan pendidikan ke pascasarjana, diluncurkan 2 April 2014.
<>
"Insya Allah nanti tanggal 2 April 2014, kami akan luncurkan beasiswa bagi adik-adik penerima Bidik Misi yang sudah lulus untuk melanjutkan ke strata 2 (S-2) maupun S-3," katanya di Semarang, Sabtu.

Hal itu diungkapkannya usai menyampaikan orasi ilmiah Dies Natalis Ke-49 Universitas Negeri Semarang (Unnes) di auditorium universitas konservasi tersebut.

Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu menjelaskan pemberian beasiswa Bidik Misi lanjutan itu dimaksudkan untuk mengapresiasi para penerima Bidik Misi S-1 yang berprestasi.

"Sekaligus kami ingin membuktikan bahwa orang-orang yang berasal dari keluarga tidak mampu, ternyata bisa (menempuh pendidikan, red.) sampai menjadi magister, bisa sampai doktor," katanya.

Pemberian beasiswa Bidik Misi untuk menempuh program pendidikan pascasarjana itu diberikan untuk mereka yang akan meneruskan kuliah ke perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri.

"Sehingga dalam lima tahun nanti akan ada ribuan anak-anak Indonesia yang bisa mengenyam pendidikan magister dan doktor, baik di perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri," katanya,

Untuk tahap awal, kata dia, kuota beasiswa Bidik Misi untuk melanjutkan ke pendidikan pascasarjana itu akan diberikan kepada sekitar 100 mahasiswa, dan setelah itu akan terus ditingkatkan.

"Ini bukan untuk mereka (mahasiswa, red.) sendiri. Namun, ini untuk bangsa. Kalau dilihat jumlah doktor di Indonesia memang mengalami kenaikan, sudah lumayan. Tapi masih kurang," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, pemerintah membuka akses beasiswa Bidik Misi lanjutan untuk mengafirmasi para penerima beasiswa tersebut yang berprestasi untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.

"Selain itu masih ada (beasiswa, red.) lagi. Jadi nanti ada tiga, pertama afirmasi untuk anak-anak Bidik Misi ini, lalu beasiswa bagi yang diterima di 50 perguruan tinggi top dunia," katanya.

Ketiga, kata Nuh, beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa yang diterima di perguruan tinggi mana pun yang memiliki nilai akreditasi bagus yang sekaligus bakal diluncurkan oleh Presiden. (antara/mukafi niam)

Senin 31 Maret 2014 15:59 WIB
Menag Ajak Amalkan Islam yang Ramah, bukan Marah
Menag Ajak Amalkan Islam yang Ramah, bukan Marah

Yogyakarta, NU Online
Menteri Agama Suryadharma Ali mingimbau agar umat Muslim dapat terus menerus mengkampanyekan secara konsisten ajaran rahmatan lil alamin, Islam ahlussunah wal jamaah, modern, ramah dan tidak menjadi Islam yang pemarah.<>

Kepada para guru madrasah dan siswa madrasah diharapkan juga menjadi teladan dan model yang baik di masyarakat dalam hal pemahaman, pemikiran dan akhlaq, kata Suryadharma Ali ketika memberi sambuan pada acara deklarasi madrasah tahfidz Al Quran di Gedung Amonraga Yogyakarta, Ahad.

Ia juga mengingatkan agar kepada tokoh agama dan ulama agar gerakan masyarakat mengaji yang sudah digulirkan dapat disukseskan ke depannya. Sebab, Al Quran tidak hanya perlu dibaca dan dihafal, tetapi lebih dari itu dikaji isi dan kandungannya agar dapat dijadikan landasan dan praktek dalam kehidupan masyarakat.

Ia menambahkan pula bahwa salah satu fenomena merosotnya moral dan karakter bangsa adalah karena masyarkat muslim terutama adalah anak-anak mulai enggan mengaji dan mengkaji Al Quran di masjid/mushola/surau. Akibatnya, Al Quran tidak dibaca lagi. Apa lagi dikaji ajarannya yang mengusung nilai kedamaian dan antikekerasan. Al Quran cenderung tidak lagi dijadikan pegangan hidup.

Menurut Suryadharma Ali, momentum deklarasi tahfidz tersebut memiliki makna dalam meneguhkan dan memperkuat komitmen dalam pemberantasan buta huruf Al Quran di kalangan umat Islam. Pengertian buta huruf Al Quran dalam konteks kekinian tidak hanya terbatas pada buta baca tulis Al Quran, melainkan juga dalam pengertian buta isi atau kandungan Al Quran. 

Pada akhir sambutannya Menag Suryadharma Ali minta kepada jajaran Pendis agar dapat mengkaji dari sisi anggaran bagaimana ke depan para penghafal Al Quran di seluruh Tanah Air dapat dibebaskan dari seluruh biaya pendidikan. Bukan hanya pada lapisan sekolah dasar, tetapi juga sampai perguruan tinggi.

Jika yang bersangkutan sudah mahasiswa, biaya pendidikannya pun diperhatikan hingga dapat menyelesaikan kuliahnya, kata Suryadharma Ali. (antara/mukafi niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG