IMG-LOGO
Nasional

Mahbub Djunaidi Mampu Ciptakan Solidaritas Sosial

Rabu 23 April 2014 20:0 WIB
Bagikan:
Mahbub Djunaidi Mampu Ciptakan Solidaritas Sosial

Depok, NU Online
Kolom, esai, dan karya tulis lain Mahbub Djunaidi sangat menginspirasi dan mampu menciptakan solidaritas sosial sehingga sastrawan sekaliber Ahmad Tohari pun mengaku terinspirasi oleh karya-karya Mahbub Djunaidi.
<>
Demikian pendapat budayawan muda NU, Hamzah Sahal, dalam Bedah Novel “Dari Hari ke Hari” karya Mahbub Djunaidi di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Sabtu 19 April 2014 yang diselenggarakan Forum Alumni PMII UI.

Novel “Dari Hari ke Hari” menceritakan tentang kisah seorang anak kecil usia 12-13 tahun yang ikut ayahnya mengungsi ke Solo ketika ibukota Jakarta pindah ke Yogyakarta pada periode Revolusi Kemerdekaan 1945-1949.

Novel yang diterbitkan Pustaka Jaya ini pernah memenangkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta pada 1974, kini diterbitkan ulang oleh penerbit Surah. Menurut Kritikus Sastra Senja Bagus Ananda, sosok anak kecil dalam novel tersebut diduga adalah Mahbub sendiri.

Menurut Hamzah, Mahbub bukanlah tipe penulis yang terkagum-kagum pada budaya Barat seperti sejumlah penulis masa kini, bahkan Mahbub dengan percaya diri mengolok-ngolok budaya Barat. “Dalam novelnya tersebut, Mahbub menulis bahwa wanita Inggris yang akan melahirkan dengan terbirit-birit akan naik ke kapal Inggris yang sedang berlabuh agar anaknya tetap menjadi orang Inggris,” urai Hamzah.

Sementara itu, sejarawan UI Ivan Aulia Ahsan yang juga menjadi pembicara dalam bedah novel tersebut menambahkan, sebagai “pendekar pena”, Mahbub Djunaidi mempunyai ciri khas yang membedakannya dari penulis lainnya.

Menurut Ivan, Mahbub mampu menulis dengan kocak dan kelakar dengan menggunakan bahasa melayu pasar sebagai identitas khas kultur Betawi sehingga kolom “Asal Usul” di Harian Kompas yang ditulisnya menjadi kolom yang sangat dinantikan pembaca. Berbeda dengan esai karya Gus Dur yang serius, esai-esai karya Mahbub mampu memancing tawa pembacanya dengan sindiran yang satir dan menggelitik.

“Tidak berlebihan, bila saya katakan hanya ada dua esais di NU, Mahbub Djunaidi dan Non-Mahbub Djunaidi,” pungkas Ivan.

Mahbub, sosok Aktivis NU yang Multitalenta

Putra Mahbub, Isfandiari yang juga hadir dalam bedah novel tersebut memaparkan sejumlah kisah unik dan menggelitik seputar ayahnya, Mahbub Djunaidi. “Pak Mahbub pernah masuk penjara bersama-sama dengan Bung Tomo dan kemudian menggoda Bung Tomo yang pernah menjadi orator ulung Pertempuran 10 November 1945 ternyata harus bernasib masuk penjara di awal Orde Baru,” papar Isfandiari.

Pada acara tersebut, Isfandiari menceritakan bahwa ayahnya pernah menjadi ghostwriter bagi dirinya untuk mading di SMA-nya di Bandung. “Papa bilang ke saya, mau nggak lu jadi penulis mading sekolah, nanti gue yang nulis tapi atas nama-lu ya? Saya bilang oke dan akhirnya saya dikenal sebagai penulis top di sekolah saya,” kisah Isfandiari yang disambut tawa hadirin.

Isfandiari juga mengungkapkan kecintaan ayahnya terhadap PMII. “Suatu ketika saya bertanya pada Papa kenapa aktif di PMII, malah Papa balik bertanya kan lu sudah mahasiswa kenapa lu tidak masuk PMII?” kenang Isfandiari.

Dalam bedah novel yang dihadiri puluhan mahasiswa UI, aktivis PMII dan alumni PMII UI tersebut, Ketua Umum Forum Alumni PMII UI Alfanny menyampaikan bahwa sosok Mahbub sangat istimewa bagi keluarga besar PMII UI karena Mahbub adalah mahasiswa Fakultas Hukum UI di tahun 1960-an ketika mendirikan PMII dan menjadi ketua umum PB PMII yang pertama.

“Sosok Mahbub Djunaidi adalah sosok yang multitalenta. Beliau adalah penulis, wartawan, aktivis mahasiswa dan juga anggota DPR. Mahbub Djunaidi adalah sosok ideal aktivis PMII, walaupun beliau juga anggota DPR, beliau sosok yang bersih dari korupsi dan tidak akan nyasar dari “senayan” (gedung DPR) ke “kuningan” (gedung KPK) seperti sejumlah anggota DPR saat ini” urai Alfanny.

Alfanny menambahkan bahwa keluarga besar PMII UI menyelenggarakan acara ini untuk mengenang Mahbub Djunaidi salah satunya sebagai mahasiswa UI pendiri PMII. “Sejak PMII UI dibangkitkan kembali tahun 1990-an, baru kali ini keluarga besar PMII UI secara khusus mengenang almarhum Mahbub Djunaidi, kami sangat terinspirasi dan rindu sosok Mahbub Djunaidi, dengan acara ini kami bagaikan anak yang kembali menemukan God Father-nya,” pungkas Alfanny dalam acara bedah novel tersebut. (Red: Abdullah Alawi)

Bagikan:
Rabu 23 April 2014 16:1 WIB
Indonesia Butuh 2 Juta Qur’an Per Tahun
Indonesia Butuh 2 Juta Qur’an Per Tahun

Jakarta, NU Online
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar menyatakan, Indonesia setiap tahun membutuhkan Al-Quran sebanyak dua juta dan kebutuhan yang demikian besar itu hingga kini belum juga dapat terpenuhi.
<>
Tingkat kerusakan sebuah buku, bergantung pada perawatan dan seringnya digunakan. Semakin sering dibaca, potensi sebuah buku akan rusak atau sobek akan semakin besar. Demikian halnya dengan Al-Quran, kata Nasaruddin Umar saat menerima perwakilan Komunitas One Day One Juz (ODOJ) di ruang kerjanya, Jakarta, Rabu (23/02).

Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, wajar jika kebutuhan Al-Quran di Indonesia sangat besar. Setidaknya dibutuhkan tidak kurang dari dua juta Al-Quran dalam setiap tahunnya.

Tingkat kebutuhan Al-Quran di Indonesia belum terpenuhi. Tidak ada buku atau produk cetakan yang bisa mengimbangi jumlah pencetakan Al-Quran, tegasnya. 

"Bahkan, di Amerika, best seller-nya adalah Al-Quran," ia mengatakan. 

ODOJ adalah komunitas yang bertujuan mengakrabkan umat Islam kepada Al-Quran dengan merutinkan tilawah satu juz per hari, dengan memanfaatkan teknologi informasi. Sekarang ini, komunitas ODOJ tercatat mempunyai anggota mencapai 92.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia, Australia, Hongkong, Qatar, USA, Jepang, Jerman, Turki, dan Singapura.

Setiap anggota ODOJ dikelompokkan dalam satu grup blackberry messenger (BBM) atau whatsapp messenger (WA) yang beranggotakan 30 orang. Dengan begitu, setiap hari mereka bisa berbagi juz antar anggota grup masing-masing untuk menghatamkan Al-Quran.

Tingkat kerusakan sebuah buku, bergantung pada sejauh mana keterpakaiannya. Semakin sering dibaca, potensi sebuah buku akan rusak atau sobek akan semakin besar, ia menegaskan lagi.

"Buku yang tidak dibaca itu tidak robek. Tapi buku yang robek adalah buku yang sering dibaca. Al-Quran banyak dibaca," terang Wamenag.

Dikatakan Wamenag, kebutuhan Al-Quran di Indonesia sangat tinggi karena banyak dibaca. Semakin sering dibaca, semakin banyak cetakan Al-Quran yang rusak, apakah karena sobek atau sebab lainnya.

"Perlu Al-Quran banyak karena semakin sering dibaca, tingkat kerusakan cetakan Al-Quran juga semakin tinggi. Itu yang membuat kita butuh Al-Quran 2 juta per tahun," kata Wamenag.

"Demikian juga dengan Al-Quran terjemahan. Sekarang ini seperti pisang goreng dijual di toko buku," imbuhnya sembari menambahkan bahwa dalam event Islamic Book Fair, buku yang paling digemari adalah Al-Quran.

Wamenag menyambut baik dan mengapresiasi inisiatif komunitas ODOJ. Wamenag menyarankan agar aplikasi yang dibuat tidak terbatas pada BBM dan WA, tetapi juga bisa memudahkan semua pengguna handphone.

Produk ini juga harus bisa masuk pada seluruh lapisan masyarakat, dari yang paling bawah sampai yang paling atas, bahkan sampai Presiden, saran Wamenag.

"Al-Quran itu bisa memberikan kepuasan bagi masyarakat bawah, dan pada saat yang sama juga bisa memberi kepuasan pada masyarakat tingkat khawasul-khawash," pungkasnya.

Oleh perwakilan ODOJ, Wamenag didaulat menjadi penasihat dan diharapkan kehadirannya pada launching ODOJ yang rencananya akan dilaksanakan pada awal Mei 2014 di Masjid Istiqlal. (antara/mukafi niam)

Rabu 23 April 2014 9:1 WIB
Munas Mundur 13-15 Juni 2014
Munas Mundur 13-15 Juni 2014

Jakarta, NU Online
Pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama diputuskan mundur dari rencana sebelumnya 9-11 Mei 2014. “Insyaallah Munas akan diselenggarakan pada tanggal 13, 14 dan 15 Juni,” kata Ketua PBNU H Arvin Hakim Thoha saat memimpin rapat perdana panitia Munas di kantor PBNU Jakarta, Selasa (22/4) malam.<>

Arvin yang juga Ketua Harian Munas-Konbes NU 2014 menyampaikan, agenda nasional ini akan dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Hamid Cilangkap, Jakarta Timur.

“Berdasarkan informasi dari Ketua Umum (KH Said Aqil Siroj) Munas-Konbes akan dibuka secara resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Jum’at 23 Juni pukul 14.30 WIB,” kata Arvin.

Agenda persidangan Munas akan dimulai pada Jum’at malam, dan akan berakhir atau ditutup pada Ahad sore atau malam.

Menurut Sekretaris Panitia Munas Enceng Shobirin Najd dan Wakil Sekretaris Sulthon Fathoni, mundurnya jadwal pelaksanaan Munas-Konbes 2014 ini berdasarkan pertimbangan kesiapan tuan rumah Pesantren Al-hamid serta kesiapan panitia pusat maupun daerah yang belum memadai.

Munas dan Konbes NU nanti akan diikuti oleh Pengurus Pleno PBNU yang terdiri dari terdiri dari Mustasyar, Pengurus Lengkap Syuriyah, Pengurus Lengkap Tanfidziyah dan Ketua Umum Badan Otonom tingkat pusat, beserta perwakilan dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), dan ditambah para kiai dari beberapa pondok pesantren di berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Sekretaris SC Munas-Konbes 2014 H Abdul Mun’im DZ, selain menyelesaikan beberapa pembahasan dalam Munas Cirebon 2012, Munas kali ini lebih khusus akan menyiapkan materi Muktamar 2015.

“Pada saat Muktamar nanti kita harapkan semua materi sudah mateng dan tinggal disahkan saja. Karena tidak mungkin muktamar akan secara serius membahas materi karena pasti kalah sama hiruk-pikuk itu (prosesi pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum baru: Red),” ujarnya. (A. Khoirul Anam)

 

Foto: Suasana Munas Cirebon 2012

Selasa 22 April 2014 15:32 WIB
PPWK LAKPESDAM
Said Agil Munawwar: Santri Harus Matang Ilmu Ushul Fiqh
Said Agil Munawwar: Santri Harus Matang Ilmu Ushul Fiqh

Jakarta, NU Online
Pemahaman agama secara instan adalah sebuah malapetaka. Doktrin agama yang begitu filosofis tidak bisa hanya dipahami secara tekstual, hanya sekedar melongok teks di al-Qur’an ataupun hadits. Jika hanya mengandalkan teks semata, maka yang diperoleh adalah pemahaman agama secara sempit, kaku, dan tidak kontektual. <>

Seharusnya, tidaklah begitu. Tapi, ada logika berfikir dan analisis yang mendalam, serta proses memadupadankan antar-teks dan konteks dalam kerangka metode pengambilan hukum. Demikian diungkapkan KH Said Agil Husein al-Munawwar, Mantan Menteri Agama RI, saat memberikan ceramah di hadapan peserta Program Pengembangan Wawasan Keualamaan (PPWK), yang diselenggarakan PP Lakpesdam NU, 17-20 April di Jakarta.  

Menurutnya, kemampuan untuk memahami pesan-pesan dalam teks agama secara utuh itu dapat diperoleh dengan bekal ilmu ushul fiqh. Berarti, ilmu ushul fiqh merupakan pra syarat penting dalam pengambilan keputusan hukum. “Apabila ushul fiqh dapat dikuasai dengan baik, maka ilmu-ilmu keislaman ikut di dalamnya,” tandasnya.      

Belajar ushul fiqh berarti mempelajari ulumul quran, ulumul hadits, ilmu kalam, dan mantiq. Tapi sayang, ia mengamati melakangan ini, santri-santri di pesantren tidak banyak yang menekuni secara serius dan mendalam ilmu ushul fiqh ini. Kebanyakan, mereka hanya mendalami kitab-kitab fikih, itu pun juga tidak tuntas.  

Supaya khazanah keilmuan keislaman ini dipahami dengan baik, ia menggalakkan kepada para santri untuk kembali menekuni secara serius dan mendalami  kajian ilmu ushul fiqh di pesantren. “Yang paham betul ushul fiqh itu ya hanya kiai-kiai NU, jadi kalau bukan kita-kita yang mempelajari, lalu siapa lagi yang mewarisi ilmu ini?,” pungkasnya. (Abdullah Ubaid/Anam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG