Mahbub Djunaidi Mampu Ciptakan Solidaritas Sosial

Mahbub Djunaidi Mampu Ciptakan Solidaritas Sosial

Depok, NU Online
Kolom, esai, dan karya tulis lain Mahbub Djunaidi sangat menginspirasi dan mampu menciptakan solidaritas sosial sehingga sastrawan sekaliber Ahmad Tohari pun mengaku terinspirasi oleh karya-karya Mahbub Djunaidi.
<>
Demikian pendapat budayawan muda NU, Hamzah Sahal, dalam Bedah Novel “Dari Hari ke Hari” karya Mahbub Djunaidi di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Sabtu 19 April 2014 yang diselenggarakan Forum Alumni PMII UI.

Novel “Dari Hari ke Hari” menceritakan tentang kisah seorang anak kecil usia 12-13 tahun yang ikut ayahnya mengungsi ke Solo ketika ibukota Jakarta pindah ke Yogyakarta pada periode Revolusi Kemerdekaan 1945-1949.

Novel yang diterbitkan Pustaka Jaya ini pernah memenangkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta pada 1974, kini diterbitkan ulang oleh penerbit Surah. Menurut Kritikus Sastra Senja Bagus Ananda, sosok anak kecil dalam novel tersebut diduga adalah Mahbub sendiri.

Menurut Hamzah, Mahbub bukanlah tipe penulis yang terkagum-kagum pada budaya Barat seperti sejumlah penulis masa kini, bahkan Mahbub dengan percaya diri mengolok-ngolok budaya Barat. “Dalam novelnya tersebut, Mahbub menulis bahwa wanita Inggris yang akan melahirkan dengan terbirit-birit akan naik ke kapal Inggris yang sedang berlabuh agar anaknya tetap menjadi orang Inggris,” urai Hamzah.

Sementara itu, sejarawan UI Ivan Aulia Ahsan yang juga menjadi pembicara dalam bedah novel tersebut menambahkan, sebagai “pendekar pena”, Mahbub Djunaidi mempunyai ciri khas yang membedakannya dari penulis lainnya.

Menurut Ivan, Mahbub mampu menulis dengan kocak dan kelakar dengan menggunakan bahasa melayu pasar sebagai identitas khas kultur Betawi sehingga kolom “Asal Usul” di Harian Kompas yang ditulisnya menjadi kolom yang sangat dinantikan pembaca. Berbeda dengan esai karya Gus Dur yang serius, esai-esai karya Mahbub mampu memancing tawa pembacanya dengan sindiran yang satir dan menggelitik.

“Tidak berlebihan, bila saya katakan hanya ada dua esais di NU, Mahbub Djunaidi dan Non-Mahbub Djunaidi,” pungkas Ivan.

Mahbub, sosok Aktivis NU yang Multitalenta

Putra Mahbub, Isfandiari yang juga hadir dalam bedah novel tersebut memaparkan sejumlah kisah unik dan menggelitik seputar ayahnya, Mahbub Djunaidi. “Pak Mahbub pernah masuk penjara bersama-sama dengan Bung Tomo dan kemudian menggoda Bung Tomo yang pernah menjadi orator ulung Pertempuran 10 November 1945 ternyata harus bernasib masuk penjara di awal Orde Baru,” papar Isfandiari.

Pada acara tersebut, Isfandiari menceritakan bahwa ayahnya pernah menjadi ghostwriter bagi dirinya untuk mading di SMA-nya di Bandung. “Papa bilang ke saya, mau nggak lu jadi penulis mading sekolah, nanti gue yang nulis tapi atas nama-lu ya? Saya bilang oke dan akhirnya saya dikenal sebagai penulis top di sekolah saya,” kisah Isfandiari yang disambut tawa hadirin.

Isfandiari juga mengungkapkan kecintaan ayahnya terhadap PMII. “Suatu ketika saya bertanya pada Papa kenapa aktif di PMII, malah Papa balik bertanya kan lu sudah mahasiswa kenapa lu tidak masuk PMII?” kenang Isfandiari.

Dalam bedah novel yang dihadiri puluhan mahasiswa UI, aktivis PMII dan alumni PMII UI tersebut, Ketua Umum Forum Alumni PMII UI Alfanny menyampaikan bahwa sosok Mahbub sangat istimewa bagi keluarga besar PMII UI karena Mahbub adalah mahasiswa Fakultas Hukum UI di tahun 1960-an ketika mendirikan PMII dan menjadi ketua umum PB PMII yang pertama.

“Sosok Mahbub Djunaidi adalah sosok yang multitalenta. Beliau adalah penulis, wartawan, aktivis mahasiswa dan juga anggota DPR. Mahbub Djunaidi adalah sosok ideal aktivis PMII, walaupun beliau juga anggota DPR, beliau sosok yang bersih dari korupsi dan tidak akan nyasar dari “senayan” (gedung DPR) ke “kuningan” (gedung KPK) seperti sejumlah anggota DPR saat ini” urai Alfanny.

Alfanny menambahkan bahwa keluarga besar PMII UI menyelenggarakan acara ini untuk mengenang Mahbub Djunaidi salah satunya sebagai mahasiswa UI pendiri PMII. “Sejak PMII UI dibangkitkan kembali tahun 1990-an, baru kali ini keluarga besar PMII UI secara khusus mengenang almarhum Mahbub Djunaidi, kami sangat terinspirasi dan rindu sosok Mahbub Djunaidi, dengan acara ini kami bagaikan anak yang kembali menemukan God Father-nya,” pungkas Alfanny dalam acara bedah novel tersebut. (Red: Abdullah Alawi)

BNI Mobile