IMG-LOGO
Daerah

Kuatkan Lembaga, PCNU Depok Studi Banding ke Cabang-Cabang NU

Kamis 15 Mei 2014 15:2 WIB
Bagikan:
Kuatkan Lembaga, PCNU Depok Studi Banding ke Cabang-Cabang NU

Jakarta, NU Online
Pengurus baru PCNU Kota Depok yang dilantik hari ini Kamis (15/5) di masjid Dian Al-Mahri, mengagendakan studi banding ke cabang-cabang NU di Jawa Tengah dan Jawa Timur akhir Mei. Studi banding ini merupakan tindak lanjut dari musyawarah kerja NU Kota Depok di kampus STIH IBLAM pada Sabtu (17/5).
<>
Sekretaris PCNU Kota Depok Idham Darmawan menyampaikan, pengurus baru NU Depok akan konsolidasi spiritual dengan ziarah ke makam Walisongo dan makam para pendiri NU pada Selasa-Kamis (27-29/5).

“Untuk pengayaan dan memberikan nilai tambah bagi rumusan program kerja, kita akan melakukan studi banding ke pengurus cabang-cabang NU di Jawa Tengah dan Jawa Timur berbarengan dengan ziarah Walisongo itu,” tambah Idham dalam rilisnya.

Idham berharap, musyawarah kerja dan studi banding ini menghasilkan acuan kerja bagi pengurus baru untuk menggarap bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan yang dibutuhkan warga NU. (Alhafiz K)

Bagikan:
Kamis 15 Mei 2014 17:4 WIB
Perkembangan Islam dalam Bentuk Kebudayaan Nusantara
Perkembangan Islam dalam Bentuk Kebudayaan Nusantara

Sukoharjo, NU Online
Islam berkembang dalam berbagai bentuk kebudayaan dengan karakter khas antara satu dengan lainnya tanpa mengurangi orisinalitas Islam. Demikian halnya kebudayaan Islam Jawa yang juga merupakan bagian dari kebudayaan Islam Nusantara.
<>
Demikian diterangkan Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Klaten, Syamsul Bakri dalam seminar bertajuk “Transformasi Islam dan Budaya” di kampus Institut Agama Islam Negeri Surakarta, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (13/5) lalu.

Menurut Syamsul, bentuk-bentuk akulturasi Islam dengan kebudayaan Jawa mengambil bentuk tradisi Jawa seperti Sekaten, Grebeg Syawal, Grebeg Mulud, dan lain-lain. “Ini membuktikan Islam masuk di masyarakat Jawa, menggunakan pola adaptif dan kompromis,” ungkap Syamsul.

Syamsul menambahkan, kala itu para Walisongo yang menjadi penyebar Islam di Nusantara menyelami kebudayaan masyarakat untuk melakukan dakwah. Misal dengan penggubahan dan pemberian nama-nama Islam dalam pewayangan, seperti Arjuna menjadi Janaka, Bima menjadi Werkudara, dan lain sebagainya.

“Islam beradaptasi dengan kebudayaan Jawa, dan tidak berkonfrontasi,” terang dosen IAIN Surakarta itu. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Kamis 15 Mei 2014 14:2 WIB
Lulusan Sekolah Kejuruan Teknik Ma'arif NU Tunjukkan Akhlaq Terpuji
Lulusan Sekolah Kejuruan Teknik Ma'arif  NU Tunjukkan Akhlaq Terpuji

Kudus, NU Online
Wakil Rais Syuriyah PCNU Kudus KH Hadziq ZU berpesan kepada lulusan sekolah kejuruan Ma'arif NU agar selalu mengedepankan akhlakul karimah dalam meraih sukses di masa depan. Sebab menurutnya, penerapan akhlaq terpuji di mana pun menjadi kunci keberhasilan di dunia dan akhirat.
<>
"Pendidikan akhlaqul karimah di sekolah Ma'arif NU menjadi nomor satu di samping pengetahuan. Makanya harus selalu tertanam pada diri pelajar sepanjang masa," katanya dalam pelepasan siswa kelas XII SMKNU Ma'arif Kudus di Gedung JHK Kudus, Rabu (14/5).

KH Hadziq juga mengingatkan para lulusan memerhatikan kepentingan akhirat di samping kepentingan duniawi. Ia mengajak alumni selalu menjalankan amalan yang disukai Allah seperti sembahyang tepat waktu, bakti orang tua, berjuang mensyiarkan agama Islam.

Bakti kepada orang tua menjadi kewajiban bagi seorang anak. Sebab, Allah menggantungkan ridho-Nya pada ridho kedua orang tua. “Jangan harap jadi orang sukses kalau durhaka kepada kedua orang tua,” terang KH Hadziq yang juga Ketua Pengurus Badan Pelaksana Pendidikan Ma’arif NU Sekolak Kejuruan di SMKNU Ma'arif Kudus.

Mengenai perjuangan, Kiai Hadziq mengajak para lulusan sekolah ini selalu mendatangi forum pengajian guna menambah bekal ilmu agama. “Dengan sembahyang, birrul walidain, dan syiar Islam, saya yakin kalian semua akan sukses,” katanya di depan siswa dan wali murid kelas XII.

Dalam pelepasan itu, sebanyak 468 siswa lulusan tahun ajaran 2013/2014 dibaiat dan diserahkan kembali kepada orang tuanya. Mereka itu terdiri dari beberapa kelas XII jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Teknik Industri, Teknik Permesinan, Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Sepeda Motor, dan Teknik Komputer dan Jaringan. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Kamis 15 Mei 2014 9:2 WIB
Membantu Orang Lain itu Tidak Pandang Agamanya
Membantu Orang Lain itu Tidak Pandang Agamanya

Jombang, NU Online
Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Perwujudan dari pemuliaan tahadap Tuhan adalah pemuliaan terhadap ciptaan-Nya. Tidak semestinya pihak tertentu bersikap keras kepada pihak lain hanya karena perbedaan paham dan agama.
<>
Pandangan ini mencuat dalam seminar toleransi beragama di auditorium Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Jombang, Jawa Timur, Senin (12/5). Salah seorang pembicara, KH Abdul Muhaimin, mengisahkan pengalamannya mengahdapi intoleransi yang terjadi di Yogyakarta.

Pengasuh Pondok Pesantren Putri Nurul Ummahat Yogyakarta tersebut bercerita, setelah menampung pengungsi gempa Jogja yang mayoritas Muslim dalam gereja-geraja mereka, umat Katolik dihadang oleh Front Jihad Islam (FJI). Menurutnya, ulah kelompok garis keras ini sangat tidak sesuai dengan ide-ide Islam sendiri.

Ia mengatakan, membantu orang lain tidak dibatasi oleh agama. “Membantu anjing saja orang bisa masuk surga, menganiaya kucing orang bisa masuk neraka. Itu hewan. Bagaimana dengan manusia?” ungkap penggagas Jogjakarta The City of Tolerans itu.

Seminar yang digelar mahasiswa Pascasarjana Unhasy Program Studi Hukum Islam bersama Pusat Kajian Pesantren dan Demokrasi Pesantren Tebuireng ini dihadiri sejumlah narasumber, antara lain Dr KH Ahmad Zahro, Rektor Universitas Islam Darul Ulum (Unipdu) yang juga Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya; Pendeta Romo Purhastanto, lulusan Universitas Tokyo Jepang; dan Ketua Gusdurian Jombang, Aan Anshori.

Zahro menyampaikan bahwa umat Islam itu terlau banyak membahas ayat-ayat qital (peperangan) dan memahaminya secara tekstual. Padahal ayat-ayat tasamuh atau toleransi sangat banyak dijelaskan dalam al-Qur’an maupun sejarah Rasulullah, termasuk dalam beberapa hadist.

“Wajar saja kita mengaku benar. Tapi kalau ngaku benar dewe yo iku seng dadi masalah (kalau mengaku benar sendiri itu yang menjadi masalah),” ungkapnya.

Direktur Pascasarjana Unhasy Makinuddin juga bercerita tentang pengalamannya dalam bertoleransi. Ia mengaku sejak kecil telah bersinggungan dengan umat Katolik. Makinudin juga mengatakan bahwa toleransi adalah hal yang tidak asing di Tebuireng.

“Sudah biasa Tebuireng berhubungan dengan non-muslim, para pendeta, biksu. Wes biasa,” tegasnya.

Romo Anto, panggilan akrab Romo Purhastanto memaparkan survei tingkat beragama masyarakat Jepang. Pria yang 14 tahun tinggal di Negeri Sakura itu memaparkan bahwa di Jepang, lebih dari 60% warganya mengaku tidak beragama, 36% mengaku Budha, dan sisanya adalah Shinto, Kristen, Islam dan lainnya.

Survei tingkat beribadah pula menunjukkan bahwa sebagian besar warga Jepang beribadah setahun sekali. Tapi, meski mayoritas tak beragama, masyarakat di sana bisa menunjukkan moralitas yang tinggi. Sebaliknya, masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama justru menunjukkan moralitas yang rendah dalam hal toleransi. (Anwar Muhamad/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG