IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

LP Ma’arif Rumuskan Desain Pendidikan Masa Depan

Selasa 20 Mei 2014 9:2 WIB
Bagikan:
LP Ma’arif Rumuskan Desain Pendidikan Masa Depan

Kudus, NU Online
Guna menyiapkan generasi unggul menghadapi tahun 2030, Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif NU telah rumusan desain pendidikan masa depan. Rumusan itu fokus pada pendidikan budi pekerti dan peningkatan kompetensi peserta didik.
<>
Demikian disampaikan Ketua PP LP Ma’arif NU H Zaenal Arifin Junaidi dalam acara halaqoh pendidikan yang bertempat di Aula MANU Banat Kudus, Kamis (15/5). Halaqoh diikuti guru dan kepala Madrasah NU di bawah naungan naungan LP Ma’arif NU Kudus.

Lebih lanjut, Arifin mengatakan, budi pekerti adalah kekuatan batin yang tertanam dalam diri peserta didik. Menurut Ki hajar dewantara, kutipnya, budi pekerti terwujud dalam sikap prilaku, dan tindakan yang selaras dengan nilai agama, masyarakat (susila), dan alam.

“Budi pekerti ini menjadi landasan, pijakan dan basis nilai untuk tumbuh kembangnya kompetensi anak didik,”jelasnya.

Ia mencontohkan prilaku koruptif, hasrat menguasai dan menghegemoni kekayaan negara, serta pelanggaran norma lainnya adalah bentuk kegagalan pendidikan nasional dalam memajukan budi pekerti.

“Termasuk juga, tumbuh suburnya paham Islam garis keras merupakan kegagalan penanaman budi pekerti yang bersentuhan dengan ajaran Islam rahmatal lil alamin,” ujar Arifin.

Terkait peningkatan kompetensi anak didik, Arifin menyatakan, pekerjaan rumah bagi  praktisi pendidikan ke depan adalan bagaimana menciptakan penddikan yang mampu menghasilkan generasi yang memiliki kompetensi unggulan. Generasi  yang mampu menjawab tantangan dan peluang yang tersaji dalam kehidupan global dengan memperhatikan faktor intelegensia, informasi dan inovasi.

“Pendidikan yang dilaksanakan Ma’arif tidak hanya berorientasikan untuk meningkatkan jenis kemampuan (kecerdasan) sebagaimana yang kita pahami selama ini (intelectual capasity) tetapi harus mampu meningkatkan civic intelegncia yakni hidup bersama dalam masyarakatt yang majemuk,” paparnya.

Arifin menambahkan, dengan semakin terbukanya pergaulan dunia internasional dan kemajuan teknologi informasi, serta sistem komunikasi yang sangat cepat, LP Ma’arif NU harus mampu menjadikan peserta didik sebagai individu yang bisa menguasai dan memanfaatkan informasi yang tersaji tersebut.

“Pemanfaatan informasi membutuhkan kemapuan analisis dan ketajaman intelegensi. Sebab, tanpa dianalisa tidak akan bermanfaat bahkan berpotensi merugikan. Maka proses pembelajaran yang dijalankan harus sinergi dengan perkembangan teknologi dan komunikasi,”jelasnya.

Pendidikan Ma’arif, imbuhnya, harus mampu mendorong tumbuhnya budaya inovatif di kalangan anak didik. Harus disadari bahwa semakin terbukanya hubungan antarbangsa, maka dibutuhkan individu yang inovatif untuk memenangkan persaingan dengan bangsa lain.

“Kombinasi intelegensia dan informasi menjadi modal untuk menciptakan penemuan-penemuan yang kontemporer dan berguna bagi pembangunan bangsa Indonesia,” terang mantan sekretaris  Gus Dur ini.

Dalam acara yang diselenggarakan LP Ma’arif Kudus itu, Arifin menyatakan desain pendidikan unggulan tersebut telah dituangkan oleh PP LP Ma’arif dalam bentuk peta jalan yang relevan dengan tujuan yang ingin dicapai yakni terwijudnya peserta didik yang berbudi pekerti dan kompetitif.

"Untuk kepentingan itu dibutuhkan empat tujuan antara yang harus dicapai terlebih dahulu oleh satuan pendidikan Ma’arif, yakni manajemen madrasah berkualitas, tersedianya SDM (pendidik dan tenaga kependidikan) berkualitas, menjadi sekolah/madrasah unggulan dan menjadi sekolah/madrasah percontohan,” pungkasnya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Bagikan:
Selasa 20 Mei 2014 19:2 WIB
Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional
Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional

Jakarta, NU Online
Banyaknya persoalan yang mendera bangsa Indonesia mulai dari korupsi, suap, asusila, kekerasan rumah tangga, dan segudang persoalan lainnya, menuntut warga Indonesia yang mayoritas beragama untuk mengintrospeksi diri. Mereka perlu mempertanyakan kembali sejauh mana makna keberagamaan itu sendiri.
<>
Demikian dikatakan Katib Aam PBNU KH Malik Madani ketika ditanya NU Online perihal semangat harlah 91 tahun NU, Senin (19/5) malam.

Kiai Malik menilai perhatian umat beragama terfokus pada kesalehan ritual. “Umat beragama di Indonesia tampak hanya mengejar peribadatan formal. Mereka sudah merasa cukup beragama hanya dengan melakukan rutinitas ibadah formal.”

Padahal, tujuan puncak dari agama ialah kesalehan moral baik secara individu maupun sosial. Tujuan pengutusan Nabi Muhammad Saw dimaksudkan untuk membenahi moral masyarakat yang bobrok.

“Selain ‘makarimal akhlaq’, riwayat Ahmad menyatakan Rasulullah diutus untuk menyempurnakan 'shalihal akhlaq', kesalehan moral. Karena ritual itu wasilah, bukan tujuan,” terang Kiai Malik.

Kalau pengamalan beragama berhenti pada kesalehan ritual, maka tidak heran banyak orang yang tampak rajin ibadah tetapi terjerumus dalam kejahatan sosial seperti korupsi atau melakukan praktik suap.

Mereka yang tidak pernah absen dalam ibadah formal, justru di lain pihak melakukan kejahatan-kejahatan, penipuan, dan kekerasan, kata Kiai Malik memberi contoh. Ia mengajak segenap warga Indonesia yang terkenal sebagai umat beragama untuk menyoal keberagamaannya.

“Introspeksi ini bukan hanya ditujukan kepada para politikus dan pengusaha, tetapi juga masyarakat secara umum,” tandas Kiai Malik. (Alhafiz K)

Selasa 20 Mei 2014 18:30 WIB
PRA-MUNAS NU 2014
GP Ansor Usulkan Akreditasi Organisasi
GP Ansor Usulkan Akreditasi Organisasi

Wonosobo, NU Online
Dalam Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU Juni mendatang,  Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor akan mengusulkan adanya akreditasi terhadap organisasi NU di semua tingkatan. Dalam usulannya, Ansor mensyaratkan setiap tingkatan kepengurusan wajib memiliki sebuah lembaga pendidikan mulai TPQ hingga Perguruan tinggi.
<>
Pernyataan ini disampaikan Ketua Umum PP GP Ansor H Nusron Wahid saat menyampaikan pengarahan di hadapan peserta Konferensi Wilayah (Konferwil) GP Ansor Jawa Tengah di Kampus Unsiq Wonosobo, Sabtu (17/5).

Nusron menyatakan akreditasi ala Ansor ini akan diperuntukkan bagi Nahdlatul Ulama dan Muslimat NU di semua wilayah terutama di Jawa dan Lampung. Persyarataannya, setiap ranting NU wajib memiliki minimal satu Madrasah Ibtidaiyah atau Madrasah Diniyah yang berstatus milik Nahdlatul Ulama.

“Status MI atau Madin ini harus milik NU bukan milik pribadi tokoh NU. Bila tidak ada itu belum sah menjadi ranting NU,” kata Nusron.

Begitu pula, kata Nusron, Majlis wakil Cabang (MWC) NU harus sudah mempunyai  MTs/SMP atau Aliyah dan Pengurus Cabang (PC) wajib mempunyai minimal satu SMA/MA atau Perguruan Tinggi NU. Sementara ranting Muslimat wajib mendirikan satu Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

“Semuanya ini akan kita usulkan masuk dalam AD/ART pada Muktamar NU. Ansor akan kawal pada Konbes dan Munas NU hingga disahkan pada Muktamar nanti. Semoga bisa diterima,” tandasnya.

Nusron juga mengajak Pimpinan Cabang GP Ansor untuk mempersiapkan kader-kader muda berusia 30 tahun pada setiap pelatihan kader dasar atau lanjutan. Pasalnya, PBNU akan menurunkan usia pengurus Ansor menjadi 30 tahun. Namun, kata dia, Ansor menawar 35 tahun maksimal 37,5 tahun.

“Bila keputusannya 30 tahun, kita sudah siap tidak kehabisan stok kader muda usia di bawah 30 tahun,” imbuhnya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Selasa 20 Mei 2014 15:2 WIB
Imam Azis: Mbah Sahal Lakukan Terobosan Bahtsul Masail
Imam Azis: Mbah Sahal Lakukan Terobosan Bahtsul Masail

Yogyakarta, NU Online
Ketua PBNU H Imam Aziz mengaku kagum terhadap pemikiran Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfud yang wafat Januari lalu. Menurutnya, kiai yang tak pernah mengenyam pendidikan formal ini telah melakukan terobosan dalam bidang fiqih.
<>
H Imam Aziz yang pengurus pusat keluarga Mathali’ul Falah mengatakan, sosok Mbah Sahal tidak terlalu populer. Namun, Mbah Sahal mampu membuktikan kehebatannya, salah satunya dengan mendapatkan gelar doktor kehormatan untuk bidang fiqih pada tahun 2006.

“Karena sosok kiai, ia jarang tampil di publik. Namun, ia mengubah cara pandang dan cara kerja bahstul masail NU yang sering didasarkan hanya pada teks saja. Kiai sahal sudah memulai cara kerja ilmu dengan memecahkan masalah di masyarakat. Inilah yang perlu dikaji baik secara akademik dan nonakademik,” kata Ketua PBNU H Imam Aziz.

Imam mengatakan hal tersebut pada forum bedah buku “Belajar dari Kiai Sahal” oleh Pengurus Pusat Keluarga Mathali’ul Falah (KMF) Kajen bersama KMF Yogyakarta dan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di Convention Hall Center UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Senin (19/5) pagi. Buku ini memuat kumpulan tulisan perihal pemikiran keagamaan dan sosial Mbah Sahal.

“Acara bedah buku ini merupakan rangkaian peringatan 100 hari KH Ahmad Sahal Mahfudz. Pertama diselenggarakan di Sekolah Tinggi Mathaliul Falah, Pati,” kata ketua panitia Sarjoko yang juga alumni Mathaliul Falah.

Bedah buku ini menghadirkan pembicara Ulil Abshar Abdalla, Moch Nur Ichwan, H Waryono Abdul Ghafur. Forum yang dihadiri mahasiswa di Yogyakarta ini menghadirkan putra Mbah Sahal, H Abdul Ghaffar Rozin, sebagai pembicara kunci.

Secara pemikiran, menurut Abdul Ghaffar Rozin, Mbah Sahal banyak dikenal melalui tulisan-tulisannya. Ide-ide yang dikeluarkan Mbah Sahal, lanjutnya, banyak menginspirasi orang lain. (Nur Sholikhin/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG