IMG-LOGO
Cerpen
FIKSIMINI MUSLIMAT NU

Berebut Berbakti

Sabtu 14 Juni 2014 18:17 WIB
Bagikan:
Berebut Berbakti

Ketukan palu hakim menjadi putusan. Si pemenang putusan, Abdul, gemetar lemah. Aliran darahnya melambat, tetesan air mata tidak terbendung.
<>
Sementara itu Ahmad, adik kandung Abdul tidak dapat menyembunyikan kesedihan. Ia tak nyaman dengan kondisi saat itu, niatnya untuk membaktikan diri sebagai anak tidak dapat dipenuhi.

Di ruang pengadilan mengharukan dengan hujan air mata, sosok wanita tua, berbaju rapi, berkerudung lusuh, duduk tertunduk. Wajahnya polos, ingatannya pupus seiring kesenjaan usianya.

Saat itu saya heran, perkara apa yang menimpa kedua laki-laki dan juga wanita tua itu.

Teman di samping duduk saya berbisik, “Wanita tua itu adalah ibu dari Abdul dan Ahmad.”

Saya menanyakan, “Lantas apa perkaranya, sehingga harus dibawa ke meja hijau?”

“Abdul dan Ahmad adalah dua saudara kandung yang sama-sama ingin memiliki hak merawat ibunya.” (Yahya Afriandi)


Fiksimini berjudul Berebut Berbakti adalah karya Yahya Afriandi. Naskah tersebut juara dua pada lomba Fiksimini yang digelar PP Muslimat NU dan NU Online dengan tagar #MuslimatNUberkhidmat di Facebook. Juara pertama jatuh pada naskah Keringat Ibu karya Mega Herdina Al-Kandajany.

Bagikan:
Selasa 10 Juni 2014 8:0 WIB
FIKSIMINI MUSLIMAT NU
Keringat Ibu
Keringat Ibu

PENGANTAR REDAKSI: Dalam rangka memeriahkan Rakernas dan Mukernas Muslimat yang berlangsung di asrama Haji Pondok Gede (28/5) sampa (1/6) NU Online bersama PP Mulimat NU menggelar tiga lomba, yakni Fiksimini bertema ibu, foto selfie bersama ibu di Facebook dan kuis tentang Muslimat NU di Twitter.
<>
Berdasarkan keputusan dewan juri, kami menetapkan pemenang Fiksimini adalah sebagai berikut:
Juara 1 atas nama Mega Herdina Al-Kandajany dengan judul “Keringat Ibu”. Juara 2 atas nama Yahya Afriandi dengan judul “Berbakti”. Juara 3 atas nama Sultan Agung Faruq Nitinegoro dengan judul “Saat Doa Ibu Diijabah”

Naskah para pemenang dan pilihan dewan juri akan dimuat di nu.or.id mulai hari ini dan beberapa naskah layak muat. Berikut fiksimini Mega Herdina Al-Kandajany dengan judul “Keringat Ibu.”

Sebelum senja, aku sering menyaksikan seorang ibu tua mengumpulkan keringat dari tubuh letihnya yang ia peras sendiri di belakang rumah, saat mencuci baju, celana dan sarung tenun merah. Keringat itu ia peras sendiri dengan kain handuk warna jingga. Lalu ia masukkan dalam botol kecil.

Dan sebelum ia simpan keringat itu dalam etalase waktu, aku sering dengar ibu itu melangitkan doa dengan suara tersedu-sedu “Tuhan, bila nanti anak-anak saya masuk neraka, mohon agar apinya dipadamkan dengan keringat ini saja. Amin”.
 

Ahad 1 Juni 2014 17:7 WIB
Rahasia
Rahasia

Oleh Wahyu Noerhadi 

--Syahdan, di suatu tempat terdapatlah dua orang lelaki yang sedang menyusuri jalan.

“Muridku, aku takkan berhenti berjalan sebelum kita sampai pada pertemuan antara dua buah lautan. Aku akan berjalan terus meski harus menempuh waktu selama bertahun-tahun,” ujar salah seorang kepada seseorang di sampingnya. Si murid menatap airmuka sang guru, lantas dengan mantap ia menganggukan kepalanya.<>

Di bawah sengat matahari, di atas hamparan padang, mereka terus bercakap-cakap kesana-kemari. Tiap kali mata memandang, tiap itu pula mata tertumbuk pada fatamorgana. Bahkan, tak jarang mata mereka pun mungkin akan mendapati sebuah oasis yang menggiurkan di tengah kegersangan. Sesekali mereka berhenti sejenak untuk beristirah.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Hati senang bukan alang-kepalang. Setelah lama berjalan, tibalah mereka di tempat pertemuan dua buah lautan. Mereka masih menapaki padang sembari menikmati aroma lautan.

“Muridku, bawalah kemari makanan kita. Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan ini.”

“Maaf guru! Tatkala kita mencari tempat istirahat di batu tadi, maka sesungguhnya aku telah lalai bahwa, ikan yang kita bawa sebagai bekal telah mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh.” Murid itu menjawab dengan raut wajah bingung sekaligus merasa bersalah.

“Tak apa muridku. Kita akan kembali ke tempat tadi, karena di sana kita akan bertemu seseorang yang kita cari,” tegas sang guru.

Tanda tanya besar mencuat dari kepala si murid. Apa sesungguhnya yang ada di benak guru? Si murid membatin.

Mereka kembali ke tempat yang sudah dilalui. Dan benar, di sanalah mereka berjumpa dengan seorang asing. Maka sang guru berkata pada orang asing itu,

“Wahai orang asing, bolehkah kiranya saya mengikutimu? Supaya kamu bisa mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadamu.”

Orang asing itu pun menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

“Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun,” pinta guru itu. Dan, si murid hanya termangu memandangi keduanya.

“Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” Jelas si orang asing di hadapannya.

***

 

Suatu ketika, si orang asing dan guru itu berjalan, dan sampailah pada suatu negeri. Mereka merasa lelah dan memohon untuk dijamu oleh penduduk di negeri itu. Namun, ternyata tak seorang pun dari penduduk negeri itu mau menjamu mereka. Lantas mereka kembali berjalan menjelajahi negeri itu hingga keduanya mendapati rumah yang hampir roboh. Si orang asing tiba-tiba saja mendekati rumah itu dan membetulkan tiang-tiangnya hingga rumah itu berdiri tegak. Guru itu memandangi si orang asing seraya berkata,

“Jikalau kamu mau, niscaya kamu dapat mengambil upah ataupun jamuan atas apa yang telah kamu lakukan.”

Si orang asing bungkam dan kembali berjalan. Guru itupun tak berkata lagi, kemudian melangkah, membuntuti pikiran si orang asing.

Esok harinya, pagi-pagi sekali—ketika fajar mulai menyembul di ufuk barat: sedikit demi sedikit sinar keemasannya mulai menyepuh dan menghangatkan bumi—si orang asing dan guru itu pergi ke laut. Sesampainya di laut, kemudian keduanya menaiki perahu. Entah mengapa, tiba-tiba saja si orang asing melubangi perahu itu. Cepat saja guru itu menegur apa yang telah dilakukan oleh si orang asing,

“Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu dapat menenggelamkan penumpangnya?” Guru itu berpikir bahwa perbuatan si orang asing adalah suatu kesalahan besar.

“Bukankah aku telah berkata: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku.’ Bukankah kamu masih ingat perkataanku itu?” Si orang asing

“Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku,” pinta guru itu meski dirinya masih dibayangi keheranan.

 

***

Mereka berjalan ditemani cahaya senja: matahari hendak undur diri meninggalkan bumi untuk sejenak beristirahat dan mempersilakan rembulan untuk menghiasi malam. Di tengah perjalan mereka melihat seorang anak berjalan sendirian. Dan, si orang asing

“Kamu lihat seseorang lelaki kecil itu?”

“Benar, aku melihatnya dengan sesuatu pandang yang jelas.” Jawab guru itu.

“Aku akan membunuhnya.”

“Kamu akan membunuhnya? Apa dosa...”

Belum selesai guru itu bicara, si orang asing telah berlari ke arah anak kecil itu. Guru itu cepat saja berlari mengejar langkah si orang asing. Sesampainya di tempat, bolamata guru itupun terbelalak.

“Ya Allah, ini sesuatu dosa besar. Mohon ampun ya Allah. Aku tak mampu mencegah perbuatannya. Aku tak mengerti, apa yang harus aku lakukan?” Airmata guru itu menitik, melewati pipi, hingga jatuh ke bumi.

“Mengapa kamu membunuhnya? Apa alasan kamu membunuh jiwa yang bersih, jiwa anak kecil itu? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu kemungkaran yang teramat besar.” Protes guru itu masih dengan cucuran airmata yang bertambah deras.

            “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesunggunya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” Ujar si orang asing.

 

 

Semuanya menjadi lebih terang, ketika si orang asing

“Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Pertama, rumah yang aku tegakkan tiangnya itu adalah rumah kepunyaan dua orang anak yatim di negeri itu. Di bawah rumah itu terdapat harta-benda simpanan bagi mereka berdua. Sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Allah menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Allah. Kedua, peristiwa di lautan. Bahtera itu, kamu tahu, adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut. Aku merusak bahtera itu lantaran aku tahu, di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Ketiga, mengapa aku membunuh anak kecil itu? Anak itu adalah seorang anak dari kedua orangtua mu’min. Aku khawatir bahwa anak itu hanya akan mendorong kedua orangtuanya kepada jalan kesesatan dan kekafiran. Dan, aku menghendaki supaya Allah mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya kepada ibu bapaknya. Sesungguhnya aku melakukan semua itu bukan menurut kemauanku sendiri. Itu semua terjadi atas kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Demikianlah, tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.

Guru itu yang menamakan bahwa dirinya adalah Musa, terdiam dan memperhatikan dengan khidmat setiap butir kata yang keluar dari mulut si orang asing atau yang lebih dikenal dengan nama Khidhr.

 

Catatan:

Cerita ini dikutip dari kitab Al-Ibriz, surat Al-Kahfi Juz 15-16. Isi dari cerita ini sudah direkayasa ulang.

Pertemuan antara dua buah lautan itu, yaitu bertemunya laut Romani dan laut Persi.

Menurut para ahli tafsir, murid dari Nabi Musa a.s. itu ialah Yusya’ bin Nun.

Menurut kitab Al-Ibriz, ilmu yang diberikan kepada kedua Nabi (Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidhr a.s.) tersebut berbeda. Nabi Musa a.s. dengan ilmu syariatnya dan Nabi Khidhr a.s. dengan ilmu hakikatnya. Maka dari itu, Nabi Musa a.s. ingin berguru kepada Nabi Khidhr a.s.

Menurut riwayat, air laut tidak sampai menggenangi perahu yang dilubangi oleh Nabi Khidhr a.s.

Diriwayatkan pula bahwa Allah SWT benar-benar menggganti anak yang dibunuh oleh Nabi Khidhr dengan seorang anak perempuan, yang nantinya diperistri oleh seorang Nabi dan melahirkan seorang Nabi pula.

 

Wahyu Noerhadi, lahir di Bogor 21 Mei 1993, mahasiswa STAIN Purwokerto sekaligus santri di Pondok Pesantren Fathul Huda, Purwokerto.

Ahad 25 Mei 2014 9:1 WIB
Lelaki Ta’lim Muta’allim
Lelaki Ta’lim Muta’allim

Oleh: Umi Rahayu Fitriyanah
Matahari sore itu belum sepenuhnya kembali ke peraduan, ketika setiap santri khusyu mendengarkan penjelasan Pak Kiai tentang kitab Ta’limul Muta’allim. Kitab yang sudah sangat masyhur di kalangan pesantren dan mengkaji mengenai tata cara menuntut ilmu. Tidak hanya menuntut ilmu, tapi menuntut ilmu yang barokah dan bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.
<>
Dan Fatimah, gadis berjilbab putih dengan paras manis berada di antara ratusan santri tersebut yang sedang larut dalam kekhusyuan menyimak penjelasan Pak Kiai mengenai kitab itu.

Rabu itu hari sangat cerah, rutinitas pesantren berjalan dengan normal, dan seperti biasa Pak Kiai dengan penuh tawadhu memberikan penjelasan mengenai kitab Ta’lim Muta’allim, sesuai dengan jadwal pengajian kitab kuning setiap sore. Fatimah hanya menundukkan kepala, berusaha mencerna dengan baik setiap penjelasan Pak Kiai, mencernanya agar bisa menjadi asupan untuk akal dan hatinya.

Namun, usahanya menyimak penjelasan Pak Kiai sore itu tampaknya sia-sia, ada hal yang mengganggu konsentrasi Fatimah saat mengaji sore itu. Penjelasan Pak Kiai tidak terlalu dihiraukannya, penjelasan panjang itu hanya berputar-putar di otak Fatimah, terus memaksa masuk ke telinganya, tapi tidak ke pikirannya.

“Para penuntut ilmu dianjurkan untuk menghormati ilmu, namun tidak hanya ilmu yang harus dihormati, tapi orang-orang yang mengajarkan ilmu juga agar mendapat keberkahan ilmu. Sayidina Ali karamallahu wajhah pernah berkata,”Aku adalah sahaya (budak) orang yang mengajarku walau hanya satu huruf. Jika dia mau silahkan menjualku, atau memerdekakan aku, atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya. Itulah Sayidina Ali yang sangat menghormati ilmu”, tutur Pak Kiai.

“Bahkan dalam satu bagian dalam kitab ini ada penjelasan bahwa para penuntut ilmu jangan mengetuk pintu rumah guru, tapi sebaliknya menunggu sampai keluar, itu merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap guru, orang yang memberikan kita ilmu”, kembali Pak Kiai memberikan penjelasan dengan sangat bersahaja setelah mengharokati kitab gundul Ta’lim Muta’allim dan memberi arti dengan bahasa Jawa. Dan lagi-lagi hanya tertangkap oleh telinga Fatimah, tidak dengan pikirannya.  

Sosok itu, lelaki yang terpaut 2 tahun lebih tua dari usia Fatimah bermain dalam pikirannya. Pikiran yang entah datang dari mana, tapi penjelasan Pak Kiai sore itu memang mengingatkannya pada sosok Mas Ahmad, kakak kelasnya di sekolah dan di pesantren. Pikirannya tanpa diminta mengulang kejadian pagi itu. Fatimah teringat kejadian saat dia sedang mendapat giliran piket membersihkan halaman rumah Pak Kiai, ada sosok Mas Ahmad yang sedang berdiri di depan pintu rumah Pak Kiai, hanya berdiam. Tanpa mengucapkan sepatah katapun atau mengetuk pintu rumah Pak Kiai.

Setiap orang yang berlalu lalang di halaman depan rumah Pak Kiai pasti memiliki pertanyaan yang sama mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu, tak terkecuali Fatimah. Namun, dia tidak membiarkan pikirannya bertanya-tanya terlalu lama, disapunya sampah dedaunan yang berguguran dan sudah mulai mengering. Kurang lebih satu jam sudah, Fatimah telah rampung menyapu halaman dan beberapa kewajiban piket lainnya, dan Mas Ahmad... ah iya, Fatimah sengaja lewat depan rumah Pak Kiai sewaktu akan kembali ke kamarnya padahal jalan yang lebih dekat tidak melewati halaman depan rumah Pak Kiai, dan ternyata Mas Ahmad masih berdiri di sudut itu.

Rasa penasaran pun mau tidak mau kembali menyelimuti pikirannya, hingga sosok Bu Nyai dalam balutan jilbab bermotif bunga membuka pintu, dan mempersilahkan Mas Ahmad masuk.

Ya, penjelasan Pak Kiai Rabu itu menjawab teka-teki yang bermain dalam pikiran Fatimah mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu.

Ternyata Mas Ahmad sedang mengamalkan salah satu ajaran dalam kitab Ta’lim Muta’allim. Terbersit sebuah senyum manis di wajah ayu Fatimah menyadari Allah mengizinkannya menjadi saksi satu sosok orang yang mengamalkan kitab Ta’lim Mutallim. Mengagumkan. Fatimah membatin.

Tidak berhenti sampai situ, teman satu kamar Fatimah, Mba Zahra satu kelas dengan Mas Ahmad di sekolah. Mba Zahra pernah bercerita bahwa Mas Ahmad senantiasa menjaga wudhunya. Mas Ahmad selalu kembali berwudhu ketika merasa wudhunya batal.

Ah, lagi-lagi bagi Fatimah penjelasan Pak Kiai seolah menjadi pengiring tayangan ingatannya yang bergantian muncul mengenai Mas Ahmad.

“Imam Zarkhasi pernah sakit perut, namun beliau tetap mengulang-ulang belajarnya, dan berwudhu, sampai tujuh  belas kali pada malam itu, karena beliau tidak mau belajar kecuali dalam keadaan suci. Ilmu itu cahaya dan wudhu juga cahaya. Sedangkan cahaya ilmu tidak akan bertambah kecuali dengan berwudhu”, penjelasan Pak Kiai yang lagi-lagi Fatimah temukan dalam sikap Mas Ahmad. Cocok. Fatimah bersorak dalam hatinya.

Mas Ahmad putra sulung dari seorang Kiai besar di Cirebon, tapi dia tidak sombong. Sejauh yang Fatimah tahu, Mas Ahmad sangat baik. Tidak pernah membanggakan keturunan bahwa dirinya memang berasal dari keluarga Kiai yang notabene sangat dihormati oleh masyarakat. Diantara kebiasaan Mas Ahmad yang diketahui Fatimah adalah kenyataan bahwa Mas Ahmad sangat rajin, dia selalu menjadi orang pertama yang datang ketika akan mengaji. Mas Ahmad menyapu ruangan yang akan digunakan sebagai tempat mengaji para santri, menggelar karpet usang yang menjadi alas para santri mengaji, merapikan tempat duduk Pak Kiai, dan lain sebagainya. Alasannya sederhana, Mas Ahmad sangat menghormati ilmu, dan semua yang berkaitan dengan ilmu.

Mas Ahmad dengan gamblang mengaplikasikan setiap ilmu yang didapatnya dari kitab Ta’lim Muta’allim, dan hal-hal yang tadi terlintas dalam pikiran Fatimah mengenai Mas Ahmad yang selalu mengamalkan kitab Ta’lim Muta’allim, diyakini Fatimah baru sebagaian kecilnya saja yang Ia tahu. Batin Fatimahpun telah resmi menjulukinya sebagai “Lelaki Ta’lim Muta’allim”.

Dan kini... Mas Ahmad sedang melanjutkan mencari ilmu ke Madinah dengan beasiswa penuh, salah satu prestasi Mas Ahmad selain selalu menjadi juara kelas, selalu memenangkan banyak perlombaan mengenai agama ataupun ilmu umum, hafal Al-Qur’an, menjadi ketua pondok pesantren, dan masih banyak lagi prestasi Mas Ahmad yang selalu mengundang decak kagum siapapun yang mengetahuinya.

Fatimah percaya itu merupakan salah satu keberkahan yang Allah berikan kepada Mas Ahmad yang selalu menghormati ilmu dan mengamalkan kitab Ta’lim Muta’allim. Mas Ahmad... Sang Lelaki Ta’lim Muta’allim. Fatimah tersenyum lagi, dan kini dia kembali berkonsentrasi menyimak penjelasan Pak Kiai, pikirannya sudah kembali dari penjelajahan mengenai sosok Lelaki Ta’lim Muta’allim.       

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG