Ulama Nusantara Dulu Lebih Terbuka soal Qira'ah Sab'ah

Ulama Nusantara Dulu Lebih Terbuka soal Qira'ah Sab'ah

Jakarta, NU Online
Perbedaan antara Al-Quran zaman sekarang dan Al-Quran pada abad ke-16 dan ke-17 bukan hanya terlihat dari kualitas kertasnya. Perbedaan keduanya juga dapat dilihat dari ragam qira'ah (bacaan) yang ada di dalamnya.
<>
Hal ini diungkapkan Adib Misbachul Islam, Dosen Pascasarjana Program Magister (PPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta di Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Sabtu (14/6)

"Kalau Anda pergi ke Lajnah atau ke PNRI (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia), coba perhatikan naskah-naskah Al-Quran. Di naskah-naskah Al-Qur'an itu ada penjelasan di pinggirnya, menurut ulama ini bacaan ini dibaca ini, menurut ulama ini dibaca begini dan seterusnya," papar Dosen filologi itu.

Naskah Al-Quran itu, tambah Adib, dapat menunjukan bahwa ulama Nusantara pada zaman dahulu lebih terbuka terhadap qira'ah sab'ah (tujuh jenis riwayat bacaan al-Qur'an) dibandingkan dengan ulama zaman sekarang.

"Silahkan buktikan sendiri, coba lihat Al-Qur'an yang ada di rumah Anda, mau cetakan Depag, Kudus, atau yang lain pasti itu qiraah hafs dan tidak ada komparasi dengan qira'ah sab'ah yang lainnya," jelasnya

Adib pun tidak mau berspekulasi mengenai penyebab utama atas fenomena itu, namun yang pasti, menurutnya, ada beberapa variabel yang menyebabkan terjadinya perbedaan model Al-Qur'an zaman dulu dan sekarang.

"Ada banyak variabel, bisa jadi karena faktor pandangan keagamaan, kedekatan dengan kesultanan, politik dan lain-lain. Ini kemunduran atau kemajuan silahkan Anda menilainya sendiri," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

BNI Mobile