IMG-LOGO
Nasional

Ulama Nusantara Dulu Lebih Terbuka soal Qira'ah Sab'ah

Ahad 15 Juni 2014 8:45 WIB
Bagikan:
Ulama Nusantara Dulu Lebih Terbuka soal Qira'ah Sab'ah

Jakarta, NU Online
Perbedaan antara Al-Quran zaman sekarang dan Al-Quran pada abad ke-16 dan ke-17 bukan hanya terlihat dari kualitas kertasnya. Perbedaan keduanya juga dapat dilihat dari ragam qira'ah (bacaan) yang ada di dalamnya.
<>
Hal ini diungkapkan Adib Misbachul Islam, Dosen Pascasarjana Program Magister (PPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta di Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Sabtu (14/6)

"Kalau Anda pergi ke Lajnah atau ke PNRI (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia), coba perhatikan naskah-naskah Al-Quran. Di naskah-naskah Al-Qur'an itu ada penjelasan di pinggirnya, menurut ulama ini bacaan ini dibaca ini, menurut ulama ini dibaca begini dan seterusnya," papar Dosen filologi itu.

Naskah Al-Quran itu, tambah Adib, dapat menunjukan bahwa ulama Nusantara pada zaman dahulu lebih terbuka terhadap qira'ah sab'ah (tujuh jenis riwayat bacaan al-Qur'an) dibandingkan dengan ulama zaman sekarang.

"Silahkan buktikan sendiri, coba lihat Al-Qur'an yang ada di rumah Anda, mau cetakan Depag, Kudus, atau yang lain pasti itu qiraah hafs dan tidak ada komparasi dengan qira'ah sab'ah yang lainnya," jelasnya

Adib pun tidak mau berspekulasi mengenai penyebab utama atas fenomena itu, namun yang pasti, menurutnya, ada beberapa variabel yang menyebabkan terjadinya perbedaan model Al-Qur'an zaman dulu dan sekarang.

"Ada banyak variabel, bisa jadi karena faktor pandangan keagamaan, kedekatan dengan kesultanan, politik dan lain-lain. Ini kemunduran atau kemajuan silahkan Anda menilainya sendiri," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Bagikan:
Ahad 15 Juni 2014 16:2 WIB
Sebarkan Pemikiran, Santri Harus Paham Jurnalistik
Sebarkan Pemikiran, Santri Harus Paham Jurnalistik

Jember, NU Online
Santri tidak boleh hanya terpaku pada dunia mengaji, namun juga harus mengembangkan wawasan di bidang lain, khususnya jurnalisme. Sebab, keahlian jurnalistik dan tulis-menulis menjadi bagian penting dari sistem informasi dewasa ini.
<>
Demikian dikemukakan salah seorang pengasuh Pesanten Nuris 1 Antirogo, Sumbersari, Jember, Lora Abdurahman, ketika membuka pelatihan jurnalistik di aula Pesantren Nuris, Sabtu (14/6).

Menurutnya, informasi sangat penting dikuasai sebagai akses ilmu pengetahun. “Sekarang ilmu apapun ada dan bisa didapat, dan kabar apapun di belahan dunia bisa kita akses dari sistem informasi yang ada,” ujarnya.

Ia mengakui salah satu kelemahan pesantren adalah minimnya sumber daya manusia (SDM) di bidang tulis-menulis dan jurnalistik. Padahal, begitu banyak pemikiran-pemikiran hebat yang muncul dari lingkungan pesantren yang belum terpublikasikan karena minimnya SDM jurnalistik sekaligus lemahnya jaringan informasi yang dimiliki  pesantren.

Menurutnya, para ulama salaf cukup menguasai dunia tulis-menulis meski hidup di masa yang sangat terbatas fasilitas dan sarananya. Mereka punya kemampuan menulis yang sangat mumpuni sehingga pikiran-pikirannya dapat dituangkan dalam bentuk buku atau kitab ilmiah, misalnya Imam al-Ghazali. “Jadi kalau kita lihat sejarah, umat Islam itu jago nulis,” ucapnya.

Pelatihan jurnalistik itu sendiri diikuti oleh 50 siswa SMK dan MA Nuris, dengan menghadirkan nara sumber dari media cetak dan online. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

Ahad 15 Juni 2014 9:55 WIB
Tahlilan Bukan Tradisi Hindu
Tahlilan Bukan Tradisi Hindu

Jakarta, NU Online
Salah satu tradisi keagamaan yang lekat dengan warga NU adalah Tahlilan, Selametan atau Kendurian. Ada sebagian yang menganggap bahwa tradisi itu berasal dari ajaran agama Hindu, padahal anggapan semacam itu adalah sebuah kekeliruan.
<>
Pernyaatan itu disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Pondok Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Sabtu (14/5). Menurut doktor dari Universitas Ummul Qura ini, sikap dan ritual orang Hindu terhadap orang mati berbeda.

"Orang kalau `nyerang` kita itu lho, (Tahlilan) ini warisan hindu ini. Salah itu, bukan dari Hindu. Itu dibawa Sunan Ampel dari Champa sana, dari Vietnam. Kalau Hindu mayatnya dibakar, udah selesai, kalau ini tidak, ini dari umat Islam Champa,” terang Kiai Said

Menurut Kiai Said, secara genealogis, ajaran Islam yang ada di Champa pada waktu itu adalah ajaran Islam yang dibawa dari Timur Tengah.

“Champa dari mana? ya dari Timur Tengah juga, hanya beda dikit, kalau Mesir 3 hari saja, di Mesir mendoakan orang meninggal pakai Al-Quran saja. Kalau tahlil seperti kita, dari Yaman tuh. Kenapa? Karena tidak semua orang bisa baca Al-Quran, yang ta`ziyah kan ingin mendoakan semua, ya udah qulhu, falaq binnas, dipilih yang gampang, dari pada baca Alquran nanti salah malah dapat dosa,” jelas Kiai Said.

Kiai Said mengatakan, tradisi 3, 7, 40 malah itu dari Syiah, namun demikian bukan berarti dengan hitungan itu membuat keyakinan dan aqidah kita ikut menjadi Syiah.

“Ya ga apa-apa, yang penting bukan aqidahnya yang kita ambil dari Syiah, bukan mempercayai Ali itu ma`sum, gak pernah dosa; mencaci Abu Bakar, Umar, Usman, Tidak. Hanya budayanya saja,” tuturnya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Ahad 15 Juni 2014 7:3 WIB
Kang Said: Dakwah Wali Songo Utuh
Kang Said: Dakwah Wali Songo Utuh

Jakarta, NU Online
Islamisasi di Nusantara yang dilakukan Wali Songo tidak hanya pada wilayah aqidah, akhlak dan syariat. Lebih dari itu, dakwah Wali Songo juga masuk pada wilayah sosial dan budaya.
<>
Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Pesantren Atstsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Sabtu (14/6).

"Harus dipahami bahwa metode dakwah Wali Songo itu gabungan antara syariat, hidayah, hakikat, syariat, akhlak, tasawuf, jadi utuh. Dakwahnya itu utuh walaupun kelihatannya sederhana," papar kiai yang akrab disapa Kang Said itu.

Menurutnya, bukti bahwa dakwah Wali Songo masuk pada ranah sosial dan budaya adalah adanya akulturasi dan asimilasi budaya pra-Islam dengan Islam. Para wali menggunakan jalan budaya, sosial, politik, ekonomi, mistik dan sebagainya untuk menyukseskan dakwahnya.

"Ini yang menjadikan Islam abadi ya begini ini, (Islam) disatukan dengan bahasa, disatukan dengan budaya, disatukan dengan tradisi. Maka, selama bahasa itu ada, tradisi itu ada, budaya itu ada, ya selama itu juga Islam masih ada," tegas kiai asal Cirebon itu

Kang Said menjelaskan, jika dakwah Islam dilakukan dengan cara-cara kekerasan, orang akan masuk Islam dengan perasaan terpaksa karena jiwanya merasa terancam dan ketika dirinya sudah merasa aman dari 'ancaman' itu, maka dia pasti akan melepaskan keislamannya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG