IMG-LOGO
Daerah

Prabowo-Hidayah Pimpin IPNU-IPPNU Kudus

Sabtu 21 Juni 2014 17:8 WIB
Bagikan:
Prabowo-Hidayah Pimpin IPNU-IPPNU Kudus

Kudus, NU Online
Konferensi Cabang IPNU-IPPNU Kudus yang berlangsung 17-19 Juni di MANU Nahdlatul Muslimin Undaan, Kudus, Jawa Tengah, telah berhasil memilih Joni Prabowo dan Futuhal Hidayah sebagai ketua baru. Kedua kader ini akan memimpin PC IPNU dan IPPNU Kudus periode 2014-2016.
<>
Terpilihnya ketua PC IPNU-IPPNU ini mendapat apresiasi dari PCNU Kudus. Ketua NU Kudus H.Abdul Hadi mengharapkan ketua terpilih mampu membangun sinergi dengan NU dan badan otonom.

“Harapannya, IPNU-IPPNU mampu menjalin komunikasi dan bisa saling beriringan menyukseskan program-program NU,” katanya.

Dalam sidang pemilihan yang dipimpin ketua PW IPNU-IPPNU Jateng itu, Joni Prabowo (Kecamatan Mejobo) meraih 43 suara menggungguli calon lainnya Noor Said (Kecamatan Undaan) 34 suara dan Mohammad Romli (Kecamatan Kaliwungu) 21 suara.

Sementara Futuhal Hidayah (Kecamatan Gebog) terpilih secara aklamasi setelah sebelumnya Nila Chusniya (Kota Kudus) dan Fatchiyah (Kecamatan Kaliwungu) dinyatakan gugur sebagai calon ketua karena tidak memenuhi persyaratan.

Ketua terpilih Joni Prabowo menyatakan IPNU adalah organisasi milik kita bersama. Oleh karenanya, perjuangan IPNU ke depan harus memperkuat kerja sama dari semua komponen organisasi.

“Ke depan kita perkuat kaderisasi sehingga akan tumbuh kader-kader potensial dan penting di kalangan IPNU,” tegas Prabowo singkat saat pemaparan visi-misi sebelum pemilihan.

Pernyataan senada juga disampaikan ketua baru IPPNU, Futuhal Hidayah. Ia mengajak kader dan anggota untuk bisa meningkatkan kerja sama dalam upaya menopang kinerja menjadi lebih baik.

“Sebagai ketua baru, saya berharap dukungan, kritikan dan saran masukan dari semua kader maupun alumni sehingga kami bisa melaksanakan amanah ini dengan baik dan tanggung jawab,” harapnya usai pemilihan. (Qomarul Adib/Mahbib)

Bagikan:
Sabtu 21 Juni 2014 23:1 WIB
Jelang Ramadhan, Busana Muslim Laris Manis
Jelang Ramadhan, Busana Muslim Laris Manis

Rembang, NU Online
Bulan Ramadhan tinggal beberapa hari saja. Persiapan menyambut datangnya bulan suci sudah mulai terlihat. Salah satu tanda-tanda tersebut tampak pada busana muslim di pasaran yang diserbu banyak orang.
<>
Di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, misalnya, banyak toko busana muslim yang kebanjiran order menjelang Ramadhan, baik untuk pakaian pria maupun wanita. Sebut saja Robbani, toko busana muslim lengkap yang terletak di jalan pemuda Tawangsari, Rembang.

Manager Rabbani Jumiwiyati mengaku dalam satu hari toko yang ia kelola memperoleh omset sebesar sepuluh jutaan rupiah. Padahal, pada hari-hari biasa, ia hanya mendapatkan omset tiga sampai lima juta rupiah perhari. Belum lagi, Jumiyati juga menawarkan jasa jual beli online, perharinya ia bisa menjual lima belas pasang pakaian muslim.

Jumiyati menambahkan, hijab sudah menjadi tren masa kini. Sejak tanggal 10 Juni kemarin, ia mengaku sudah mulai banyak kebanjiran pesanan yang jumlahnya mencapai ratusan pakaian dari segala jenis, mulai dari baju koko, kerudung, hingga perlengkapan shalat.

Kondisi serupa juga dialami Ahsanul Faiza, pemilik toko busana di Jalan dr Soetomo, tepat sebelah utara alun-alun kota Rembang. Faiza menuturkan, omset yang ia dapatkan tak seperti biasanya. Mengenai berapa jumlah omsetnya perhari ibu rumah tangga berusia 30 tahun itu hanya mengatakan naik 80 persen, tanpa menyebut angka rupiah pasti.

Faiza membeberkan, biasanya masyarakat membeli perlengkapan busana muslim sebelum memasuki bulan buasa. Katanya, harganya masih murah. Dan toko busana dan pasaran belum terlalu banyak pengunjung.

Ia juga mengakui jika memasuki bulan suci, harga busana muslim mengalami kenaikan, apalagi ketika mendekati lebaran, harga akan melonjak lebih tinggi lagi.

Para pedagang di pasar kota Rembang juga sama. Sumadi, pedagang busana di kios no 78, saat ditemui mengaku sudah hampir kehabisan barang dagangan. Hanya tinggal beberapa saja yang tesisa, itu pun katanya sudah dipesan.

"Ini memang saya lagi kehabisan pakaian muslim mas, termasuk mukena, ini hanya tinggal songkoknya saja," tuturnya dalam bahasa Jawa.

Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Cabang Rembang Mizatujjauhar El-Katiem, berpendapat kebanyakan masyarakat Indonesia mengikuti tren yang ada, mulai dari gaya busana, tata bahasa, hingga gaya hidup. Tetapi, pihaknya berharap dalam berhijab masyarakat tak hanya karena mengikuti tren namun juga terdorong untuk menutup aurat karena Allah. (Ahmad Asmu'i/Mahbib)

Sabtu 21 Juni 2014 22:1 WIB
Ziarah ke Makam Wali sembari Menyambangi Pesantren
Ziarah ke Makam Wali sembari Menyambangi Pesantren

Demak, NU Online
Perjalan ziarah ke makam wali sambil berkunjung ke tempat wisata barang kali sudah biasa. Tetapi sembari menyambangi pesantren sepertinya jarang. Seperti yang dilakukan pelajar SMA NU 01 Hasyim Asy’ari Tarub Tegal, Jawa Tengah, Jumat (21/6).
<>
Sebanyak 175 santri dan 12 dewan guru SMA NU ini bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, Jawa Tengah sebagai bagian dari agenda ziarah ke makam waliyullah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ali Imron, pemimpin rombongan, menyampaikan, kegiatan ini penting dilakukan untuk memberi wawasan kepada siswa tentang pentingnya pondok pesantren dalam membentuk karakter anak bangsa yang berakhlakul karimah, di samping mengenalkan  sekaligus meneladani para Wali Allah.

Rombongan tesebut diterima Ahmad Dliyauddin Al Hafidz selaku wakil kepala Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, didampingi Imam Fitri Khosyi’i  Al Hafidz selaku pengurus dan pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak.

Pada pertemuan yang berlangsung di Masjid An-Nur di kompleks Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen itu, Ahmad Dliyauddin menjelaskan tentang profil singkat Pesantren Futuhiyyah.

Ia mengatakan, Pesantren Futuhiyyah yang didirikan sekitar tahun 1901 oleh KH. Abdurrohman bin Qosidil Haq, memegang peranan penting dalam memajukan dunia pendidikan masyarakat yang berdampak pada perubahan ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, dan bidang strategis lainnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Seiring dengan perkembangan zaman, terutama kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini Pondok Pesantren Futuhiyyah berkembang menjadi suatu lembaga pendidikan yang menggabungkan pola pendidikan formal dan nonformal.

Adapun sekolah formal yang ada antara lain adalah Pendidikan Anak Usia DIni (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), Madrasah Ibtidaiyyah (MI), MTs. Futuhiyyah 1 (khusus putra), MTs. Futuhiyyah 2 (Khusus putrid), SMP (putra-putri), MA Futuhiyyah 1 (khusus putra), MA Futuhiyyah 2, SMA, dan SMK. Untuk tingkat perguruan tinggi masih dalam rintisan, dan sampai saat ini ada sekitar 5000 lebih siswa yang belajar di Yayasan Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak.

Selanjutnya Ahmad Dliyauddin mengibaratkankan Yayaysan Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen seperti sebuah super market, yakni mencari sekolah apa saja disini tersedia. Dia mengajak kepada para tamunya, termasuk keluarga dan tetangganya, itu untuk meneruskan belajar di lembaga pendidikan Yayaysan Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen. (Abdus Shomad/Mahbib)

Sabtu 21 Juni 2014 21:30 WIB
Ragam Pagelaran Seni Semarakkan Pelantikan Lesbumi Jabar
Ragam Pagelaran Seni Semarakkan Pelantikan Lesbumi Jabar

Bandung, NU Online
Pengurus Wilayah Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Jawa Barat menggelar ragam pagelaran seni budaya di halaman kantor PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung, KOta Bandung, Jabar, Sabtu (21/6) malam ini.
<>
Ragam seni dalam rangka pelantikan Lesbumi Jabar ini, di antaranya menyajikan penampilan alat musik tiup khas Sunda, karinding, dari murid-murid SMP Ma'arif Bandung.

Turut memeriahkan juga aksi baca puisi oleh para seniman Bandung, di antaranya Iman Soleh, kemudian pidato kebudayaan oleh KH Maman Imanulhaq.
Kegiatan tersebut akan ditutup dengan pagelaran wayang golek dengan dalang Dede S Sunandar Sunarya. Ia akan membawakan lakon Budak Buncir diiringi dengan kacapai suling.

Sebelumnya, pagi, diadakan bedah buku Baban Kana karya Kh Zamzami Amin. Buku tersebut menceritakan peristiwa perang kedongdong di daerah cirebon. Selepas dhuhur diadakan upgrading seni budaya untuk menyamakan persepsi antara agama dan budaya.

Diskusi yang dipandu Ketua PW Lesbumi Jabar, Widodo Abidarda, tersebut mendaulat M Noh, mantan Rektor Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung, sebagai pembicara. Hadir pada kesempatan itu, Dinaldo, salah seorang pengurus PP Lesbumi. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG