IMG-LOGO
Nasional

NU-Muhammadiyah Jadi Primadona di Pilpres

Jumat 27 Juni 2014 12:28 WIB
Bagikan:
NU-Muhammadiyah Jadi Primadona di Pilpres

Jakarta, NU Online
Dua ormas Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah masih menjadi primadona dalam ajang pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) 2014. Beberapa lembaga survei memberikan perhatian khusus pada dua ormas ini. Namun hasil survei menunjukkan kecenderungan yang berbeda di kalangan warga dua ormas ini.<>

Hasil survey yang dilakukan oleh Lingkaran Survey Indonesia (LSI) menemukan kecenderungan berbeda antara komunitas NU dan Muhammadiyah dalam menentukan calon presidennya. Dalam hal ini, Jokowi menang di komunitas NU (46.20% versus 40.20%). Prabowo menang di komunitas  Muhammadiyah (48.60% vs 42.90%).

Demikianlah salah satu analisis riset Lingkaran Survei Indonesia. Survei dilakukan di awal Juni 1-9, 2014. Metode penelitian dijalankan  secara standard dengan teknis multistage random sampling. Total responden sebanyak 2400 pemilih di 33 propinsi. Responden diwawancari tatap muka. Margin of error plus minus 2%. Survei ini juga dilengkapi riset kualitatif melalui FGD, depth interview dan media analisis, seperti dilansir oleh situs lsi.co.id.

Menurut lembaga survey ini, tiga belas hari menjelang pemilu presiden  9 Juli 2014, total pemilih yang “GALAU” masih 32.2%.  Istilah galau mengacu kepada jumlah pemilih yang belum menentukan pilihannya, ditambah dengan pemilih Jokowi-Jusuf Kalla yang masih ragu dan pemilih Prabowo-Hatta yang juga masih ragu. Sementara selisih kemenangan dua calon presiden itu hanya 6.3% saja. Siapa yang menang dan kalah dalam pemilu presiden adalah pasangan yang paling berhasil memenangkan hati dan pikiran 32.2% pemilih galau ini.

Dari hasil survei ini, Jokowi dipilih oleh 45% responden. Namun sebanyak 8.1 % dari 45% itu yang masih ragu, dan masih mungkin berubah pandangan. Sementara Prabowo didukung oleh 38.7% publik. Namun sebesar 7.8% dari 38.7% itu juga dihinggapi ragu dan masih mungkin “pindah ke lain hati.” Sedangkan massa mengambang sebesar 16.3%.  Dalam momen 13 hari ini mereka akan mengambil sikap

Jika  pemilih dipilah ke dalam aneka segmen masyarakat, Jokowi-Jusuf Kalla dan Prabowo-Hatta saling mengalahkan.  Pasangan Jokowi menang di pemilih perempuan  ( 48.10% versus 33.8%). Sementara pasangan prabowo menang di pemilih pria (43.20% versus 42.70%)). Jokowi menang di pemilih dengan tingkat pendidikan menengah dan rendah ( 45-48% versus 34-42%). Prabowo menang di pendidikan tinggi (43.70% vs 38.10%). 

Prabowo mengimbangi Jokowi dalam  pemilih muslim (40.90% versus 43.30%). Namun untuk  non-muslim, pemilih lebih banyak di  Jokowi (67.60% versus 15.50%).  Jokowi juga masih menang di pemilih Jawa (47.60% versus 35.20%). Namun Prabowo menang di pemilih Sunda (51.60% versus 40.90%). Kini Prabowo menang di propinsi Jabar (51.20% vs 42.60%). Tapi Jokowi menang di 6 propinsi besar lainnya: Banten, DKI, jatim, Jateng, Sumut dan Sulsel, dengan selisih sekitar 5%-10%.

Jokowi dianggap lebih peduli dengan rakyat (84.6% versus 64.2%) dan lebih jujur (76.5% versus 61.3%). Namun  Prabowo dianggap pemilih lebih pintar (85.2% versus 81.1%) dan lebih tegas (78% versus 69.7%).

Dalam dua bulan terakhir, pendukung Jokowi banyak yang lari dari kandangnya. Jumlah dukungan Jokowi menurun mencolok di kantong besar suara: di komunitas NU, berpendidikan tinggi, beragama Islam, pemilih lelaki, propinsi Jawa Barat.  Prosentase pemilih Jokowi yang “pindah ke lain hati” sebesar sekitar 5_10 persen. Di komunitas itu, Prabowo mengalami kenaikan sekitar  5-10% juga.

Bagaimana akhir pertarungan dua pasang capres yang semakin ketat ini? Kedua pasangan masih mungkin saling mengalahkan. Jokowi akan tetap menang jika ia bisa mengambi kembali pendukungnya yang “pindah ke lain hati,” pindah ke Prabowo. Sebaliknya Prabowo akan menyalip Jokowi jika ia bisa menaikkan dukungannya sekitar 5-15 persen lagi segmen pemilih besar yang kini ia masih kalah: segmen perempuan, wong cilik, komunitas NU,  pemilih  berpendidikan rendah, pemilih muslim, dan pemilih di propinsi Jawa Timur.

Tiga belas hari menuju 9 Jui 2014, kedua pasangan capres-cawapres harus menyiapkan pendukungnya untuk menerima baik kemenangan ataupun kekalahan. Dengan membaca trend petumbuhan dukungan capres dan cawapres, selisih kemenangan pada 9 Juli 2014 potensil hanya kecil saja,. Sangat mungkin selisih kemenangan itu hanya di bawah 5%, siapapun pemenangnya. Jika Jokowi tetap menang, atau jika ia dilewati Prabowo, selisih dukungan capres-cawapres potensial  dibawah 5% saja, antara 51-53%   versus 47-49. (mukafi niam) 

Bagikan:
Jumat 27 Juni 2014 19:50 WIB
Hilal Tak Tampak, PBNU Ikhbarkan 1 Ramadhan 29 Juni
Hilal Tak Tampak, PBNU Ikhbarkan 1 Ramadhan 29 Juni

Jakarta, NU Online
Dalam rangka penentuan awal Ramadhan, 1435 H tim rukyatul hilal PBNU melalui Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama, telah melakukan rukyatul hilal di berbagai lokasi rukyat yang telah ditentukan pada Jumat 27 Juni. Tim rukyat tidak berhasil melihat hilal. Dengan demikian bulan Sya’ban berumur 30 hari atau istikmal. <>

Atas dasar istikmal tersebut dan sesuai dengan pendapat Imam Empat Madzhab (madzahibul arba'ah), maka Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui surat keputusan 3257/C.I.55/06/2014 memberitahukan bahwa awal Ramadhan 1435 H jatuh pada hari Ahad, 29 Juni 2014.

Dengan demikian, keputusan PBNU selaras dengan pengumuman resmi pemerintah yang menetapkan hari Ahad sebagai permulaan Ramadhan, seusai mendengarkan berbagai pandangan dari para pakar astronomi dan utusan ormas-ormas Islam, termasuk NU, dalam sidang Itsbat di kantor Kemenag, sore tadi.

Almanak PBNU sejak awal sudah memprediksi hasil rukyat ini. Hasil hisab Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) menyebutkan, tanggal 1 Ramadhan 1435 H jatuh pada Ahad Wage dengan tinggi hilal 00 25’ 47’’ selama 2 menit 33 detik di atas ufuk. Ijtima’ atau konjungsi berlangsung hari ini, Jumat Pahing, pukul 15:07:41 WIB.

Oleh karena itu, warga NU baru akan menunaikan shalat tarawih pada Sabtu (28) malam. Jadwal ini berbeda dengan Muhammadiyah yang memulai tarawih Jumat malam ini karena mereka akan memulai puasa Ramadhan Sabtu esok berdasarkan metode hisab (penghitungan astronomis).

Kepada warga NU dan umat Islam pada umumnya, PBNU menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan keyakinan, dan menjadikan bulan Ramadhan, sebagai momentum kerohanian untuk menyucikan diri dengan meningkatkan ketakwaan, dan memperbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir, serta beribadah dengan penuh kekhusyukan dan berbagai aktifitas sosial yang bermanfaat. (mukafi niam)

Jumat 27 Juni 2014 19:47 WIB
Pemerintah Resmi Tetapkan 1 Ramadhan Ahad
Pemerintah Resmi Tetapkan 1 Ramadhan Ahad

Jakarta, NU Online
Pemerintah melalui Kementerian Agama RI menyatakan secara resmi 1 Ramadhan 1435 H jatuh pada Ahad, 29 Juni 2014. Penetapan tersebut disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin setelah menggelar sidang itsbat di Jakarta, Jumat (27/6).
<>
Lukman menjelaskan, keputusan tersebut dikemukakan setelah pemerintah mendengarkan berbagai pandangan dari para pakar dan perwakilan ormas Islam pada sidang yang berlangsung secara tertutup. Kemenag telah menyebar tim rukyat di 63 lokasi dan tak satupun yang melaporkan telah berhasil melihat hilal karena hilal berada di bawah 1 derajat.

“Maka sidang itsbat menyepakati istikmal, melengkapi, menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Maka dengan demikian, disepakati 1 Ramadhan 1435 Hijriah jatuh pada hari Ahad tanggal 29 Juni tahun 2014,” ujarnya.

Lukman mengakui, keputusan tentang awal puasa oleh pemerintah ini tidak memaksa siapapun untuk mengikuti, tapi pihaknya merasa perlu untuk memberi pegangan hukum. “Namun demikian pemerintah punya tanggung jawab memberi arahan untuk memberikan pedoman kapan Ramadhan itu diawali,” tuturnya.

Dari sidang itsbat, Lukman juga mengemukakan salah satu pokok pikiran peserta sidang. Ke depan, katanya, harus lebih banyak pembahasan yang melibatkan tokoh-tokoh ormas Islam dan para pakar untuk menyamakan kriteria imkanur rukyat. Ia juga menekanan perlunya menyamakan persepsi soal definisi hilal.

Dalam kesempatan itu Kemenag juga mengimbau warga untuk menjaga kondisivitas bulan suci dengan saling menghormati. Ia menolak adanya sweeping atau aksi kekerasan selama Ramadhan. (Mahbib Khoiron)

Jumat 27 Juni 2014 16:29 WIB
PBNU Dukung Aksi Warganya Tolak Perusakan Hutan dan Lahan Garapan
PBNU Dukung Aksi Warganya Tolak Perusakan Hutan dan Lahan Garapan

Jakarta, NU Online
Rais Syuriyah PBNU Kiai Saifuddin Amsir mengimbau warga NU untuk bersuara terhadap upaya-upaya pribadi atau korporasi besar yang cenderung merusak hutan dan lahan garapan. Warga NU diharapkan terlibat aktif melaporkan bahkan melakukan aksi penolakan terhadap suatu kejahatan yang akan merusak ekosistem dan merugikan negara.
<>
Demikian dikatakan Kiai Saifuddin dalam rapat persiapan Munas-Konbes NU 2014 di gedung PBNU lantai lima jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Kamis (26/6) siang.

“Orang NU yang hidup di pinggir hutan dan di lahan pertanian tidak bisa berdiam terus mendengarkan laporan kerugian negara dan laporan kerusakan alam. Dalam urusan pelaporan, kita yang mestinya lebih berhak sesuai komiten warga NU, membela negara,” terang Kiai Saifuddin yang baru pulih dari sakit.

Adapun tugas pengurus cabang maupun wakil cabang NU mengalkulasikan seberapa jauh kerugian itu termasuk juga penyusutan lahan sawah dan hutan.

“Masak kepentingan umum dikalahkan hanya untuk penambangan dan usaha property?” tegas Kiai Saifuddin menunjuk aksi penolakan warga NU terkait PT Semen Indonesia belakangan ini.

“Pengurus cabang NU perlu mendeteksi semua kerugian lalu melaporkan ke pihak berwajib. Di samping itu segenap pengurus NU juga berkewajiban mendampingi warga NU dan membuat solusi-solusi khas cara kita guna mencegah kerugian umum yang lebih jauh,” tandas Kiai Saifuddin. (Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG