IMG-LOGO
Trending Now:
Internasional

Lansia Jeddah Rindukan Suara Gelegar Meriam Iftar

Jumat 4 Juli 2014 2:26 WIB
Bagikan:
Lansia Jeddah Rindukan Suara Gelegar Meriam Iftar

Jakarta, NU Online
Penduduk lanjut usia (lansia) Jeddah ingin melihat kembali meriam yang dulu digunakan untuk mengumumkan waktu berbuka dan sahur selama Ramadhan bertahun-tahun yang lalu.
<>
"Meriam itu salah satu pilar di bulan Ramadhan, tidak hanya di Kerajaan tapi di seluruh pelosok dunia Islam. Kami merindukan kembalinya meriam iftar. Untuk mendengarnya lagi akan mengingatkan pada zaman nenek moyang kami dan kakek serta kenangan-kenangan indah, "kata Mohammed Al-Amari (60), warga lingkungan Al-Amaria di Jeddah.

"Di masa lalu, penembakan meriam di dekat lingkungan kami di pusat kota Jeddah akan memberitahu kita tentang awal Ramadhan," katanya. 

"Kami akan mengunjungi satu sama lain untuk mengucapkan selamat dan menyampaikan berkat-berkat kita, sebelum menyiapkan untuk melakukan shalat Tarawih."

Al-Amri mengatakan hilangnya meriam telah mengurangi spiritualitas dan tradisi dunia Islam.

Hussein Al-Zahrani (70) mengatakan dia bertanggung jawab untuk menembakkan meriam di bulan Ramadhan lebih dari 40 tahun yang lalu. 

"Itu cukup menarik bagi kita untuk menembakkan meriam empat kali sehari selama bulan Ramadhan, pertama di saat maghrib, lalu sekali pada jam 02.00 dini hari, dan dua kali tepat 15 menit sebelum shalat Fajar," demikian laman berita Arab.(antara/mukafi niam)

Bagikan:
Jumat 4 Juli 2014 11:2 WIB
NU Turki Siarkan Pengajian Kitab secara Langsung Online
NU Turki Siarkan Pengajian Kitab secara Langsung Online

Jakarta, NU Online
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama (PCINU )Turki mempunyai program khusus untuk menyemarakkan bulan suci kali ini. Selain tadarus al-Qur’an, warga NU Turki juga akan menggelar kajian kitab kuning setiap menjelang buka puasa.
<>
Rilis yang diterima NU Online, Jumat (4/7), menyebutkan, kitab-kitab yang dikaji di antaranya adalah kitab Tanqihul Qaulil Hatsis, Nasholhul Ibad, Marah al-Labid, serta Bidayatul Hidayah. Kajian kitab dilaksanakan pukul  17.00 waktu Turki (21.00 WIB), sementara tadarus al-Quran berlangsung menjelang sahur, pukul 01.00 waktu Turki (05.00 WIB).

PCINU Turki memfasilitasi pagi masyarakat di luar Turki untuk ikut menyimak melalui radio streaming NU Turki. Para pengguna internet di berbagai belahan dunia dapat menikmati siaran langsung program-program tersebut dengan mengklik radio.pcinuturki.com selama bulan Ramadhan.

Ketua Tanfidziyah PCINU Turki Ulin Nuha berharap, program ini mampu meningkatkan kualitas pribadi warga NU yang mengikuti agenda organisasinya.

“Kami mengadakan program khusus Ramadhan ini dengan tujuan meningkatkan ukhuwah, iman dan taqwa,“ katanya. (Red: Mahbib Khoiron)

Jumat 4 Juli 2014 10:0 WIB
Siqaya, Tradisi Saudi Menjamu Air yang Coba Dihidupkan
Siqaya, Tradisi Saudi Menjamu Air yang Coba Dihidupkan

Jakarta, NU Online
Sebuah organisasi amal Saudi berniat menghidupkan kembali layanan Siqaya, sebuah tradisi lama yang telah  usang oleh waktu di mana peziarah, tamu dan pengunjung Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah ditawari air selama bulan suci Ramadhan sebagai isyarat kehendak baik oleh penduduk asli.
<>
Sistem Siqaya dilakukan terutama selama bulan Ramadhan. Siqaya adalah pelayanan terhadap tamu dengan air yang ditaruh di dalam panci yang diikat ke belakang pembawahnya yang disebut Saqqa. 

Saqqa (orang yang melayani air) di hari tua menikmati rasa hormat yang besar dari para pengunjung untuk layanan yang ditawarkan kepada mereka saat memuaskan dahaga mereka.

"Kami menyediakan air Zam Zam, air dingin, jus dan kopi untuk pengunjung di Dua Masjid Suci," kata Abdullah Al-Marghani, koordinator program Siqaya.

Abdullah menambahkan bahwa air  disimpan dalam wadah yang sehat dan higienis, "yang dibawa oleh para relawan kami yang akan tur di Dua Masjid Suci."

Lebih dari 100 relawan telah dikerahkan untuk melayani para tamu Allah, katanya, menambahkan bahwa para relawan akan mengenakan seragam hijau dan dapat dengan mudah terlihat di dalam masjid suci dan juga di pintu masuk utama masjid dan tempat berkumpul lainnya membawa wadah air di punggung mereka.

Dia mengatakan kontainer secara seksama dilengkapi untuk mengawetkan air agar tetap dingin atau panas selama mungkin karena pengunjung dapat memilih jenis minuman yang mereka inginkan.

Al-Marghani mengatakan layanan baru ini bertujuan untuk membawa kembali kenangan tradisi baik yang diterapkan secara luas oleh nenek moyang yang mengerahkan upaya besar dalam pelayanan pengunjung masjid suci selama musim suci, demikian laman berita Arab.(antara/mukafi niam)

Kamis 3 Juli 2014 23:59 WIB
Merasakan Keramahan Buka Puasa di Brasilia
Merasakan Keramahan Buka Puasa di Brasilia

Brasilia, NU Online
Sekitar 40 orang, semuanya laki-laki, duduk-duduk sambil mengobrol di halaman Mesquita do Centro Islamico do Brasil (Masjid Pusat Islam Brazil) di Brasilia, Rabu sore (Kamis dinihari WIB).
<>
Di masjid yang berdiri di lahan seluas tiga hektare yang hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari Stadion Nasional Mane Garrincha itu mereka menunggu waktu berbuka puasa yang jatuh pada pukul 17.52 waktu setempat.

Dengan ramah beberapa anggota jemaah menyapa Antara dan beberapa wartawan yang hendak berbuka puasa di satu-satunya masjid di ibu kota Brasil itu.

"Anda dari Jepang atau Korea?" kata salah seorang anggota jemaah berusia sekitar 50 tahun yang berwajah Timur Tengah sambil menyodorkan gelas berisi beberapa buah korma untuk membatalkan puasa.

Warga Brasil memang sangat familiar dengan wajah orang Jepang dibanding wajah Asia lainnya. 

Saat ini ada sekitar 1,5 juta orang keturunan Jepang di Brasil, populasi terbesar keturunan Jepang yang berada di luar negeri Matahari Terbit itu.

Ketika waktu berbuka tiba, imam masjid, Sheikh Muhammad Zidan yang mengenakan jubah serba putih, berdiri di antara mereka yang sedang duduk-duduk dan mengumandangkan adzan magrib, tanpa pengeras suara.

Sejenak, semua terdiam, khusyuk mendengarkan adzan magrib yang tidak dikumandangkan di dalam masjid, tapi di halaman yang tampak asri dengan berbagai jenis pohon.

Setelah mencicipi buah korma dan minuman segar, tibalah saatnya untuk shalat magrib berjemaah. Dari wajahnya, kelihatannya kebanyakan anggota jemaah berasal dari Timur Tengah. 

Usai shalat, jemaah menikmati hidangan gratis yang sudah disiapkan di sebuah aula cukup besar di belakang masjid. 

Di ruangan sebelah yang berukuran lebih kecil, sekitar 20 perempuan yang rata-rata berwajah Arab juga sedang menikmati hidangan berbuka puasa.


Mulai Berkembang

Meski populasi penduduk Islam masih sangat kecil, hanya sekitar satu juta dari total 200 juta penduduk Brasil, namun gema Ramadhan juga terasa di negara Katolik terbesar dunia itu.

Suasana Ramadhan utamanya bisa dirasakan di masjid-masjid di kota besar seperti Sao Paulo dan Rio de Janeiro yang sedang menerima tamu Piala Dunia 2014.

Sebagian pendukung pesta bola terbesar sejagat itu berasal dari negara berpenduduk mayoritas muslim seperti Iran, Bosnia Herzegovina dan Aljazair.

Sheikh Muhammad Zidan, imam masjid yang berasal dari Mesir, mengatakan, di Brasilia hanya ada sekitar 3.500 warga muslim dan 200-an di antaranya adalah penduduk lokal yang jadi mualaf, dan selebihnya keturunan Timur Tengah seperti Lebanon, Mesir, Aljazair dan Palestina.

"Tapi sekarang terjadi perkembangan yang menggembirakan karena banyak kaum muda, termasuk dari penduduk lokal yang mulai tertarik untuk mendalami Islam," katanya.

Menurut Zidan, dari tahun ke tahun, terjadi peningkatan jumlah orang Brasil yang memeluk agama Islam dan jumlahnya sekarang sudah mencapai sekitar 1,7 juta. Komunitas muslim terbesar terdapat di Sao Paulo dan Rio de Janeiro.

"Brasil adalah negara paling tenang dengan toleransi beragama yang tinggi. Tidak akan terjadi pertengkaran jika ada di antara anggota keluarga yang menjadi mualaf," kata pria berusia sekitar 70 tahun yang sudah 23 tahun menetap di Brasilia itu.

Apa yang disampaikan Muhammad Zidan memang benar, ketika Antara bersiap meninggalkan mesjid, seorang wanita muda berkulit putih berkerudung hitam sedang duduk di halaman depan.

Menurut Ali Murtado, seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brasilia yang menjadi penerjemah, gadis asli Brasil itu sedang belajar agama Islam dan dalam proses menjadi mualaf.

Namun perempuan berusia sekitar 25 tahun yang wajahnya mirip penyanyi Shakira itu menolak untuk diwawancarai atau pun diajak berfoto bersama.

Tidak lama kemudian, datang lagi seorang perempuan muda, juga warga asli Brasil, dan sedang belajar agama Islam. Ia juga mengenakan kerudung hitam, tapi dipadu dengan rok mini. (antara/mukafi niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG