IMG-LOGO
Nasional

Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh di Bulan Ramadhan

Sabtu 5 Juli 2014 6:7 WIB
Bagikan:
Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan bukan semata sebagai rahmat dan terbukanya pintu ampunan. Bulan suci ini juga menjadi saksi sejarah tentang duka mendalam keluarga besar Pesantren Tebuireng, warga NU, serta bangsa Indonesia secara umum.
<>
Tidak banyak yang mengetahui bahwa Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari yang kemudian disebut Mbah Hasyim wafat pada hari ketujuh di bulan Ramadhan. Tepatnya tahun 1366 H. Ya, tidak terasa 69 tahun sudah peristiwa kewafatan sang kiai yang demikian dihormati ini.

Berbeda dengan meninggalnya sang cucu, yakni KH Abdurrahman Wahid yang demikian meriah diperingati, suasana Ramadhan membuat haul Mbah Hasyim serasa sepi tanpa acara yang spesial. Hal ini mungkin juga buah dari pandangan beliau yang menolak hari wafatnya diperingati secara khusus agar tidak ada kultus individu.

Seperti diketahui, Mbah Hasyim terlahir pada Selasa Kliwon 24 Dzul Qa’dah 1287 H yang juga bertepatan dengan 14 Februari 1871 M di Pesantren Gedang, Tambakrejo Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah.

Dari jalur ayah, nasabnya bersambung kepada Maulana Ishak hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir. Sedangkan dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng) yang berputera Karebet atau Jaka Tingkir, raja Pajang pertama (1568) dengan gelar Sultan Pajang atau pangeran Adiwijaya.

Dalam buku Profil Pesantren Tebuireng disampaikan bahwa pada 3 Ramadhan 1366 H yang bertepatan dengan tanggal 21 Juli 1947 M, jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Seperti biasa Hadratussyaikh baru saja selesai mengimami shalat tarawih. Beliau duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Tidak lama kemudian, datang seorang tamu utusan Jendral Sudirman dan Bung Tomo. Kiai Hasyim menemui utusan tersebut didampingi Kiai Ghufron yang juga pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya.

Sang utusan menyampaikan surat dari Jendral Sudirman yang berisi tiga pesan pokok. Kepada utusan kepercayaan dua tokoh penting tersebut Kiai Hasyim meminta waktu semalam untuk berpikir dan selanjutnya memberikan jawaban. Isi pesan tersebut adalah, pertama bahwa di wilayah Jawa Timur, Belanda melakukan serangan militer besar-besaran untuk merebut kota-kota di wilayah Karesidenan Malang, Besuki, Surabaya, Madura, Bojonegoro, dan Madiun.

Kedua, Hadratussyaikh dimohon berkenan untuk mengungsi ke Sarangan, Magetan, agar tidak tertangkap oleh Belanda. Sebab, jika tertangkap, beliau akan dipaksa membuat statemen mendukung Belanda. Jika hal itu terjadi, maka moral para pejuang akan runtuh. Pesan ketiga adalah jajaran TNI di sekitar Jombang diperintahkan untuk membantu pengungsian Kiai Hasyim.

Keesokan harinya, Kiai Hasyim memberikan jawaban bahwa beliau tidak berkenan menerima tawaran yang disampaikan.

Empat hari kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Ramadhan 1366 M, sekitar pukul 21.00 WIB datang lagi utusan Jendral Sudirman dan Bung Tomo. Kedatangan utusan tersebut dengan membawa surat untuk disampaikan kepada hadratus syaikh. Secara khusus Bung Tomo memohon kepada Kiai Hasyim mengeluarkan komando jihad fi sabilillah bagi umat Islam Indonesia, karena saat itu Belanda telah menguasai wilayah Karesidenan Malang dan banyak anggota Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi korban. Hadratus Syaikh kembali meminta waktu semalam untuk memberi jawaban.

Tidak lama berselang, hadratus syaikh mendapat laporan dari Kiai Ghufron selaku pimpinan Sabilillah Surabaya bersama dua orang utusan Bung Tomo, bahwa kota Singosari Malang yang juga merupakan basis pertahanan Hizbullah dan Sabilillah telah jatuh ke tangan Belanda. Kondisi para pejuang semakin tersudut, dan korban rakyat sipil kian meningkat. Mendengar laporan itu, Kiai Hasyim berujar: “Masya Allah, masya Allah…..” sambil memegang kepalanya. Lalu Kiai Hasyim tidak sadarkan diri.

Kala itu putra-putri beliau sedang tidak berada di Tebuireng. Tapi tidak lama kemudian mereka mulai berdatangan setelah mendengar sang ayahanda tidak sadarkan diri. Menurut hasil pemeriksaan dokter, Kiai Hasyim mengalami pendarahan otak (asemblonding) yang sangat serius.

Pada pukul 03.00, bertepatan dengan tanggal 25 Juli 1947 atau 7 Ramadhan 1366, hadratus syaikh KH M Hasyim Asy’ari dipanggil Sang Maha Kuasa. Inna lillahi wa inna ilahi raji’un.

Atas jasa-jasa beliau selama perang kemerdekaan melawan Belanda (1945-1947), terutama yang berkaitan dengan tiga fatwanya yang sangat penting: Pertama, perang melawan Belanda adalah jihad yang wajib dilaksanakan oleh semua umat Islam Indonesia. Kedua, kaum muslimin diharamkan melakukan perjalanan haji dengan kapal Belanda. Ketiga, kaum muslimin diharamkan memakai dasi dan atribut-atribut lain yang menjadi ciri khas penjajah, maka Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan bahwa KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai pahlawan nasional.

Kepergian Kiai Hasyim menjadi duka mendalam di awal bulan Ramadhan. Tidak hanya bagi keluarga besar Pesantren Tebuireng, tapi juga warga Nahdlatul Ulama (NU), masyarakat sekitar bahkan bangsa Indonesia.

Karena itu, sudah pada tempatnya bila malam ini kita menghadiahkan tahlil dan kalimat thayyibah kepada hadratus syaikh. Semoga amal baiknya diterima oleh-Nya dan besar harapan agar kita diberikan kekuatan meneruskan jariyah yakni eksistensi pesantren dan khidmat NU agar sesuai dengan cita awal pendirian.

Hiruk pikuk tahapan Pemilu, termasuk Pilpres semoga tidak melunturkan komitmen nahdliyin dalam mengabdi dan menyelamatkan khittah sesuai itikad awal pendirian jam’iyah diniyah ijtima’iyah ini. Bukan malah bisa diombang-ambing sejumlah kalangan atau orang perorang demi kepentingan pribadi maupun kelompok. Mampukah? Kita lihat saja kondisinya saat ini dan nanti. (Syaifullah)

Bagikan:
Sabtu 5 Juli 2014 18:21 WIB
Wamenag Ingatkan Penyebaran Radikalisme
Wamenag Ingatkan Penyebaran Radikalisme

Jakarta, NU Online
Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan kepada masyarakat Indonesia untuk tidak menganggap enteng fenomena penyebaran paham radikalisme yang menyalahartikan ayat-ayat Al-Quran untuk melakukan tindakan terorisme.
<>
"Jangan pandang enteng fenomena penyebaran paham radikal terorisme yang berkembang di masyarakat. Kepentingan kita satu, yaitu bagaimana caranya selamatkan bangsa kita dari terorisme," kata Wamenag Nasaruddin Umar di Jakarta, Jumat.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam konferensi pers program nasional pencegahan terorisme bertema "Peran Perguruan Tinggi dalam Pencegahan Penyebaran Paham Radikal Terorisme di Dunia Kampus".

Dalam kesempatan itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerja sama dengan institusi-institusi pendidikan tinggi Islam membentuk sebuah satuan tugas (satgas) penanggulangan penyebaran paham radikal yang dapat melahirkan tindak terorisme. 

Satgas tersebut dipimpin oleh Wamenag, dan salah satu programnya adalah meyinergikan peran perguruan tinggi dengan BNPT dalam menanggulangi penyebaran paham radikal.

Satgas BNPT mengadakan pertemuan dengan para pimpinan perguruan tinggi agama Islam seluruh Indonesia pada 4-6 Juli.

"Tujuan bertemunya para rektor perguruan tinggi Islam ini untuk berbagi wawasan dan mempertemukan persepsi. Diskusi yang dikembangkan akan digunakan untuk meluruskan makna ayat-ayat Al-Quran yang sering disalahartikan untuk pembenaran kegiatan terorisme," ujar Nasaruddin.

Ia meminta para ulama dan para pengajar di institusi pendidikan ikut berperan dalam menjelaskan kepada masyarakat bahwa deradikalisasi yang dilakukan BNPT dan Kementerian Agama bukanlah kegiatan "deislamisasi". 

"BNPT juga tidak akan melakukan pembatasan kegiatan dakwah atau kegiatan majelis taklim. Jadi, kalau ada yang bilang deradikalisasi sebagai deislamisasi, itu tidak benar," tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah bersama dengan para ulama dan pendidik perlu melakukan langkah-langkah agar masyarakat tercerahkan dengan pemahaman agama yang benar.

"Para ulama dan pemimpin perguruan tinggi Islam yang benar harus berani speak up agar para islam minoritas yang garis keras ini jangan asal mengatasnamakan Islam untuk membenarkan perbuatan salah mereka," katanya. (antara/mukafi niam)

Jumat 4 Juli 2014 17:31 WIB
Cara Mudah Mengakses NU Onlne dari HP
Cara Mudah Mengakses NU Onlne dari HP

Untuk memudahkan pembaca dalam mengakses NU Online, beberapa waktu lalu kami telah meluncurkan aplikasi android versi ke-2 yang telah mendapat beberapa penyempurnaan dari berbagai kekurangan yang ada pada versi sebelumnya. Berikut ini cara mengaplikasikannya:<>

Aplikasi android NU Online versi ke 2 ini dapat didownload melalui menu google play store. Ketik NU Online, atau klik link berikut:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.NUonline.NUmobile2

Setelah didownload, NU Online versi android akan tampil sebagai menu tersendiri berupa logo NU yang bisa dengan mudah diakses sewaktu-waktu.

Pada aplikasi android yang baru ini, NU Online sudah dapat menyesuaikan ukuran tampilan layar pada berbagai versi android pengguna seperti ginger bread, honeycomb, Ice Cream Sandwidch, bahkan Jelly Bean. Pada ukuran huruf (fonts) juga sudah diperbesar, sehingga memudahkan pengakses utuk dapat membaca konten website serta bernavigasi di dalamnya.

Cara yang sama juga bisa dipakai untuk mengakses Radio NU (radio.nu.or.id) dan mengikuti Pengajian Ramadhan live dari beberapa pesantren. Bagi yang belum mendownload Radio NU Online, buka play store, lalu ketik Radio NU. Selanjutnya ikuti perintahnya.

Selain versi android, versi mobile NU Online juga sudah diluncurkan sebelumnya. Tanpa harus mendownload versi android, ketika mengetikkan nu.or.id di HP yang terkoneksi dengan internet secara otomatis akan langsung mengarah pada http://m.nu.or.id.  Selanjutnya nikmati versi mobile NU Online dengan tampilan yang lebih sederhana. Di bagian bawah juga tersedia pilihan jika ingin kembali ke tampilan utama atau versi dekstop. (Puji Utomo/Ardyan Novanto Arnowo)

Jumat 4 Juli 2014 14:0 WIB
Ini Pesan Gus Mus untuk Pilpres 9 Juli 2014
Ini Pesan Gus Mus untuk Pilpres 9 Juli 2014

Rembang, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A. Mustofa Bisri menyampaikan pesan khusus untuk masyarakat Indonesia yang akan melaksanakan hajat pemilihan presiden dan wakil presiden 9 Juli 2014. Pesan suara berdurasi 3 menit 29 detik itu diunggah di situs youtube.com diiringi lagu "Padamu Negeri".<>

Pesan diunggah oleh Radio Mataair yang bertajuk “Pesan Gus Mus Untuk Pilpres 9 Juli 2014”. Ini linknya http://www.youtube.com/watch?v=hxhkPqEC3Wk dan berikut ini pesannya:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya Ahmad Mustofa Bisri
Saudara-saudaraku di manapun Anda berada
Marilah kita memilih, mendukung calon presiden dan wakil presiden;
yang kita pilih, yang kita yakini
Namun tidak usahlah kita bersikap berlebih-lebihan

Kita harus ingat bahwa calon-calon itu semuanya adalah putra-putra Indonesia...
Yang mempunyai kepentingan untuk kebaikan Indonesia
Yang mendukung masing-masing adalah saudara kita;
juga orang Indonesia yang ingin kebaikan Indonesia lima tahun ke depan,
LIMA TAHUN ke depan, bukan sampai hari kiamat

Mari kita dukung pilihan-pilihan kita dengan tetap pikiran yang jernih
sebagai warga negara Indonesia yang menghendaki kebaikan Indonesia
Dengan memohon kepada Allah SWT
Mudah-mudahan Allah meridlai apa yang kita lakukan

Mudah-mudahan dibantu dengan suasana khusu’ Ramadhan,
kita dihindarkan oleh Allah Ta’ala dari perilaku berlebihan
yang tidak disukai oleh Allah dan Rasul-Nya

Semoga kita dapat melaksanakan acara rutin pemilihan presiden
dan wakil presiden nanti dengan tertib damai aman
dan kita tetap sebagai saudara apapun nanti yang terjadi

Terima Kasih
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

(Ahmad Asmu’i/Anam)

 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG