Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Partai Sekuler Turki Diperkirakan Kalah Dalam Pilpres

Partai Sekuler Turki Diperkirakan Kalah Dalam Pilpres

Kairo, NU Online
Mata dunia kini sedang tertuju pada pemilihan presiden Turki yang akan berlangsung pada Ahad depan. Kelompok sekuler Turki diperkirakan akan mengalami kekalahan di tengah ekspektasi kemenangan menentukan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan yang mengusung politik Islam. 
<>
"Saya akan memboikot pemilu ini," Ibrahim Hakverdi, 37 tahun, selama kunjungannya bersama istri dan dua anak perempuan kecilnya ke makam di puncak bukit yang dibangun untuk memperingati Ataturk, yang meninggal hampir delapan dekade lalu, mengatakan kepada Wall Street Journal pada Kamis, 7 Agustus.

"Tidak ada kandidat penerus Atatur yang benar," katanya. 

"Erdogan akan menang lagi dan ia berusaha untuk memfitnah citra Ataturk." 

Hakverdi adalah salah satu Kemalis, sebuah orde lama yang tergabung dalam CHP (Partai Rakyat Republik) yang menjadi oposisi dalam tiga masa pemerintahan Erdogan. 

Perdana Menteri populer tersebut telah mampu menundukkan militer, yang telah menggulingkan empat pemerintahan sejak tahun 1960 dan menanam sekutu ideologis di sejumlah posisi kunci di lembaga yang sebelumnya dipenuhi dengan Kemalis. 

Saingan utama Erdogan dalam pemilihan Agustus ini adalah mantan pemimpin Organisasi Kerjasama Islam (OKI) Ekmeleddin Ihsanoglu yang dinominasikan oleh partai oposisi utama yang sekuler. 

Ihsanoglu, seorang sarjana kelahiran Kairo dan mantan sekretaris jenderal Organisasi Kerjasama Islam, yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk mempelajari Islam, menandai sebuah langkah pertama oposisi untuk bergerak dari kiri ke kanan-tengah, bidang yang paling subur dalam politik Turki, yang lama didominasi oleh AKP. 

Namun, pilihannya telah membuat beberapa pendukung oposisi berpaling karena tiadanya calon sekuler sejati. 

"Saya akan memilih Ihsanoglu, tapi saya masih berharap sesuatu yang berbeda, seseorang yang sudah kita kenal," kata Sevgi Onder, 65, seorang ibu rumah tangga pensiun di Ankara, yang terkejut oleh gambar kandidat dengan nuansa Islam. 

"Saya sekarang lebih yakin ia sekuler tapi kita tidak bisa tahu 100%, karena kita tidak mengenalnya." 

Kandidat yang membuntuti di urutan selanjutnya adalah Selahattin Demirtas, seorang Kurdi Turki yang mewakili Partai Rakyat Demokratik Liberal yang telah menarik dukungan dari Alevi, Syiah Turki yang merupakan kelompok minoritas. 

Meskipun Alevi biasanya memilih Kemalis atau partai-partai sekuler-kiri, mereka tidak senang dengan pilihan Ihsanoglu serta Erdogan. 

Relokasi 

Berkuasa sejak tahun 2002, pemerintah Erdogan berhasil meningkatkan status agama di sekolah tinggi, universitas dan sebagian besar kantor-kantor publik, mengakhiri pemisahan antara masyarakat dan agama yang dilakukan oleh para Kemalis. 

"Pemisahan antara agama, pemerintahan dan pendidikan yang dibuat oleh Kemalis telah runtuh," kata Soner Cagaptay dari The Washington Institute for Near East Policy, sebuah lembaga think tank. 

"Kemalisme mengajarkan Turki bahwa mereka adalah bagian dari Eropa karena itu adalah takdir mereka, tapi Erdogan telah menempatkan Turki kembali di Timur Tengah," katanya. 

Meskipun pendukung Kemalis masih aktif dan vokal, kritikus mengatakan mereka terjebak di masa lalu, mengabaikan perubahan sosial dan politik dan gagal untuk menyesuaikan pandangan mereka pada kelompok minoritas di Turki, khususnya Kurdi. 

AKP Erdogan juga telah memperoleh dukungan dari kelompok minoritas yang paling penting, yaitu Kurdi, dengan mulai pembicaraan damai dengan Kurdistan Workers Party yang dilarang, atau PKK.

Erdogan, yang mencapai prestasi ekonomi yang besar bagi Turki, telah menghadapi sejumlah ujian baru-baru ini. 

Pada bulan Mei dan Juni 2013, ibukota Ankara diguncang dengan adanya protes di Taman Gezi yang menewaskan puluhan orang dan ribuan lainnya terluka. 

Ketegangan meningkat setelah tuduhan adanya skandal korupsi besar-besaran oleh AKP yang meletus Desember lalu. Tuduhan yang ditolak keras oleh Erdogan, yang mengatakannya sebagai plot asing terhadap Turki. 

Beberapa sekularis percaya oposisi melakukan kesalahan dalam strategi pertarungan ini. 

Suheyl Batum adalah salah satu dari 21 anggota parlemen dari oposisi, Partai Republik Rakyat yang menolak untuk mendukung pencalonan Ihsanoglu. 

"Jika kita memilih calon presiden yang terlihat seperti AKP ... itu seperti mengatakan bahwa kami sudah kalah perang," kata Batum dalam sebuah wawancara di kantor parlemen di Ankara. 

"Kita harus melihat apa yang memberi Erdogan suara: kemiskinan, kurangnya pendidikan dan reformasi kesehatan. Kita harus menawarkan sesuatu untuk mengatasi ini. Orang-orang berpikir, 'Apa yang telah diberikan oleh sekularisme kepada kita?' "katanya. (onislam.net/mukafi niam)

BNI Mobile