IMG-LOGO
Cerpen

Ajengan

Ahad 10 Agustus 2014 10:0 WIB
Bagikan:
Ajengan

Oleh Rahmatullah Ading Afandie Terakhir aku bertemu dengan ajengan* belum lama, sekitar dua tahun ke belakang. Aku bertemu lagi ketika naik mobil di sebuah jalan. Aku tersentak kaget ketika melihat ajengan di jalan itu dan langsung meminta sopir untuk berhenti.
<>
Bertahun-tahun tak bertemu, tapi aku tidak pangling pada kakek-kakek yang berjalan itu, bertarumpah, bertongkat waregu.

Ajengan sudah agak jauh terlewat ketika mobil berhenti. Buru-buru aku turun, setengah berlari.

Sebelum dia tahu siapa aku, aku menyalaminya, mencium tangannya, seperti dulu waktu di pesantren. Matanya mendelik berusaha mengenaliku. Tentu dia lupa sebab waktu di pesantren aku masih sangat kanak-kanak dan sekarang sudah jangkung.

“Sebentar, sebentar, ini siapa?” katanya.

Aku menyebutkan nama, tapi tetap sepertinya dia tidak ingat.

“Saya pernah mesantren dulu zaman Jepang di Ajengan...,”

Belum tamat aku menjelaskan, ia langsung berucap,”Laa ilaha ilallah, ini Aden?” Tentu, Den. Masya Allah, maaf Aden, maaf. Mama** lupa, maklum sudah tua. Masya Allah, dulu Aden masih kecil. Sekarang...., sebentar, dimana Aden? Bekerja apa? Sudah berapa putra?”

Aku menceritakan keadaanku. Ketika aku bercerita ajengan selalu berdecak, sambil tak henti masya Allah, alhamdulillah terus.

Setelah aku bercerita, ajengan menceritakan dirinya. Katanya, sekarang ia sudah tidak mempunyai pesantren sebab dibakar Belanda waktu zaman pendudukan. Ibu ajengan (istrinya) sudah setengah pikun serta sakit-sakitan. Nyi Halimah, putri tunggalnya dibawa suaminya. Tidak tahu kemana, kata orang dibawa ke gunung. Malahan ajengan juga pernah ditahan sama menantunya itu.

“Si Udin (menentunya) jadi pemimpin gerombolan***, Aden,” kata ajengan.

Menyesal aku tak bisa lama ngobrol dan tak bisa mengajak dia ke mobil sebab jalan yang kutuju berbeda dengannya.

Terus aku menyerahkan uang seratus rupiah. “Lumayan untuk membeli tembakau,” kataku.

Lama sekali dia berdoa setelah menerima uang itu. katanya, “Pak Aden, mama berdoa semoga dekat dengan rezeki, jauh dari balahi. Semoga menjadi orang yang diridoi Tuhan lahir batin. Mama titip jangan meninggalkan kewajiban agama karena buat apa manusia hidup di dunia kalau hanya meninggalkan perintah-Nya. Cuma amal saleh yang bisa dipakai untuk di alam kelanggengan. Harta benda tak akan bisa dibawa ke alam kubur...”

Aku terenyuh ketika melihat ke belakang. Ajengan masih berdiri tertegun menatap mobilku.
Meski sudah agak jauh, tapi jelas terlihat bibirnya masih komat-kamit berdoa.
Aku ingat ketika masiih di pesantren...

Ajengan tidak pernah sekolah, tak pernah mendapat didikan universitas. Tapi aku yakin, ajengan yang tinggal di kampung itu orang pintar, orang yang otodidak. Caranya dia mengajar, meski dia tidak mendapatkannya dari buku, tapi mudah dimengerti. Meski sering membentak, tapi disegani santri-santrinya. Malahan jadi payung bagi orang-orang kampungnya. Penemuannya asli, bukan dari buku orang lain. Meski begitu, tetap dalam dan mengandung kebenaran. Luas pemikirannya, luhur penemuannya. Singkkatnya, bukan orang mentah. Tidak banyak sekarang juga aku menemukan orang seperti ajengan. Pedoman dia, “Tafakur sejam, lebih berguna daripada shalat berjumpalitan enam puluh hari tanpa tafakur.”

Guyonannya, selintas seperti berlebihan, tapi kalau ditelaah, tidak keluar dari jalur agama. Malah sering mengandung pelajaran.

Tidak beda dengan guyonannya Nabi Muhammad. Pada suatu ketika, ada nenek-nenek menangis tersedu-sedu karena Nabi mengatakan, nenek-nenek tidak akan pernah ada di sorga. Nenek itu menangis karena merasa dia tidak akan pernah merasakan sorga.

Nabi tersenyum, katanya, “Jangan menangis, meski di dunia sudah nenek-nenek, kalau sudah masuk sorga akan muda kembali.”

Barulah nenek itu tidak menangis.

Begitu juga dengan guyonan ajengan.

Kalau mengajar dia sering berkata cawokah (mesum). Belakangan aku menemukan guru besar cawokah, Prof. Mr. Dr Hazairin di Fakultas Hukum. Kalau memberi contoh sengaja memilih contoh-contoh cawokah. “Dengan contoh-contoh semacam itu, mahasiswa tidak mudah lupa.”
Begitu juga dulu ajengan waktu mengajar sama dengan Hazairin. Padahal Hazairin profesor dengan banyak gelar, sementara ajengan sekolah juga katanya cuma sampai kelas dua sekolah desa.

Namanya manusia, ajengan juga memiliki banyak kesalahan. “Ana mah manusia, tempatnya salah dan lupa,” katanya.

Menyesal tadi aku tak melihat kepalanya. Dulu kepalanya selalu gundul. Katanya, “Kepala gundul itu sunah Nabi.”

Semoga di sini aku menceritakan ajengan, yang baik maupun buruk, tidak menyebabkan apa-apa, malah semoga menjadi rahmat untukku, juga untuk pembaca. Amin.


Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen Dongeng Enteng dar Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen otobiografis tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.      

*Ajengan= panggilan kiai di Sunda.

**Mama= bapak. Kemungkan berasal dari kata rama.

***Gerombolan=untuk menyebut pengacau keamanan DI/TII waktu itu

Tags:
Bagikan:
Ahad 6 Juli 2014 9:20 WIB
Menuju Hutan
Menuju Hutan

Oleh Hidayat Tf

-- Aku ingin pergi ke hutan. Hidup di sana. Lepas dari tradisi-tradisi yang ada. Lepas dengan hukum-hukum yang ada. Aku terlalu lelah berada di sini, begitu tertekan dengan keberadaan. Seakan-akan sedikit-sedikit tertekan bagaimana kesejahteraan orang-orang. Padahal, diriku sendiri tidak merasakan kesejahteraan. Bahkan aku tidak mengerti apa itu sejahtera? Apa itu kebahagian? Aku tidak mengerti. Tidak benar-benar mengerti. Aku ingin pergi ke hutan. Mendapati kesejukan pikiran.

<>

“Benarkah di hutan aku mendapatkan kesejahteraan?”

Aku harus mencoba. Seketika di sana. Bersama bayang-bayanganku.

Pohon tinggi menjulang. Tidak rapi. Serabutan pohon-pohon, entah apa itu namanya, aku tidak tahu, berlumut semrawut. Entah. Aku mau kemana. Aku tidak mempunyai tujuan pasti. Aku tidak tahu jalan pulang. Pikirku, untuk apa aku pulang, di kerumunan aku sering terpusingkan. Sangat terlelahkan.

Ia sudah membisu saja. Kalau berbicara sekedar dalam hati. Ia sandarkan tubuhnya di bawah pohon. Tidak ada yang ditunggu. Berupaya membuang pikiran-pikiran tentang kerumunan, tentang kekotaan. Ia berusaha damai tanpa pikiran-pikiran, tanpa bayang-bayang.  Ia berdiri. Melangkah. Tangannya membuka-buka belukar. Kakinya menjejeg-jejegnya, berupaya membuat jalan.

Aku tidak mempunyai tujuan. Pokoknya aku terus berjalan. Kalau lelah, aku istirahat. Begitu saja lah. Di kota pikiranku terlalu kacau. Tujuanku kerap sekali buram. Suram. Malah terkadang seakan-akan tatkala diriku berusaha mewujudkan lebih baik, di sana aku malah mendapati ketidakbaikan yang banyak. Tatkala aku berusaha menantang dan menterjuni karakterku, maka otakku merasa sangat terbodohkan akan kekurangan sesuatu dan bagaimana caranya mensejahterakan orang-orang. Ah pergilah pemikiran-pemikiran kekotaanku. Pergilah.

Ia masih berjalan. Cahaya matahari menerobos lewat pohon-pohon yang tinggi. Suara binatang beraneka ragam. Ia tidak mengenal suara hewan apa itu. Ia tidak hapal. Aku tidak perlu khawatir dengan hewan-hewan. Hutan adalah rumah liar binatang. Tujuanku sekarang adalah terus berjalan mendapati kelelahan. Kalau lelah istirahat. Kalau merasa lapar, aku akan makan. Apa-pun itu yang bisa aku gigit. Entah itu pucuk-pucuk dedaunan, syukur-syukur kalau menemukan buah-buahan.

“Kumohon, jangan lukai kami dengan tangan dan kakimu,” kata rumput merintih.

Robit menengok ke belakang. Bulu kuduknya merinding. Benarkah rumput mampu berbicara?

“Kau lihat bahwa kami hidup, Kawan,” balas rumput, yang kemudian suara itu menjelma suara yang banyak yang menjadi satu. Suara itu muncul dari jejak-jejak yang telah terinjak.

Robit menelan lidah susah. “Tatkala kau menyisihkan diantara kami,” rengek rumput lagi. Robit terharu. Berdirinya ragu.  “Kau memisahkan di antara kami,” tambah rengeknya. “Kau menjadikanku terluka, mengeluarkan darah-darahku. Kalau kau keluar darah, tidakkah kau merasa kesakitan.”

Robit berdiri penuh lelah. Lelah hati. Baru kali ini kurasakan benar, mendapati kata-kata dari rumput. Ia benar-benar tersakiti. Aku harus keluar dari suasana ini. Robit kembali lagi. mengabaikan suara demi suara yang merengek tak henti-henti. Ia memejamkan mata. Berusaha teguh melangkah. Mencari celah dimana ada jalan keluar tanpa menginjak dan memisahkan rumput yang belum tersentuh. Ia merasa bahwa kembali bakal menyakiti dua kali. Tapi itulah pilihannya. Pikirnya, kalau aku melangkah ke depan, maka bukan hanya kakiku yang menyakiti, tapi tanganku juga, terlebih lagi, aku bakal mendengar lebih banyak rumput-rumput merengek. Aku harus kembali ke tempat awal. Dimana tanganku tidak bekerja, dimana tanganku mulai memisahkan rumput.

Kakinya terus melangkah. Sekarang, terlalu jelas, dalam benaknya terbesit sebuah tujuan nyata. Yakni dimana ia bermula bersinggah. Dimana tangannya mulai melakukan perjalanan. Tapi sebelum itu, bakal menemukan pohon besar, dimana tubuhnya tadi bersinggah. Tapi sejauh ini ia melangkah. Belum tampak pohon besar itu. Seketika yang ada adalah belahan rumput, yang tingginya melampaui tubuhnya.

Sejauh mata memandang adalah jalanan belahan rumput. Apa-apaan ini! Mengapa aku bisa berada di antara rumput-rumput belaka. Persis berada di tembok rumput yang terbelah. Aku rasa, tadi tidak seperti itu. rumputnya tidak tinggi-tinggi. Mengapa sekarang rumput menjelma dinding?  Ia menengok ke belakang. Terkejut bukan main. Sejuah mata memandang adalah belahan rumput yang menjadi jalan. Kemana aku harus pergi? Akukah harus kembali, atau aku meneruskan perjalan, ke arah depan. Tapi sekarang, dimana arah depan yang pasti? Aku tidak melihat tanda-tanda selain belahan rumput. Bukankah tadi aku berharap berada di hutan, tapi mengapa sekarang berada di antara rerumputan?

“Ketahuilah, kawan, sebentar lagi mentari tenggelam. Kami sengaja menggiringmu menuju tempat aman,” kata rumput yang menjadi jalan.

“Jadi kalian yang menggiringku sampai di sini. Tapi, sekarang, aku harus kemana? Aku tidak mempunyai arah yang pasti. Kalian membawaku dalam kepusingan yang nyata. Aku harus bagaiamana?”

“Jalanlah sesukamu. Sampai kau terlelahkan. Ingatlah, kalau kau lelah, maka tubuhmu akan letih maka jadilah engkau tertidur.”

Robit tersenyum lega. Mendapat petunjuk tentang bagaimana ia berjalan. Ya, aku tidak mempunyai tujuan pasti sekarang. aku mengikuti dimana tubuhku mengarah. Aku tak ragu dengan jalan ini. aku harus terus berjalan. Pokoknya berjalan sampai diriku lelah, disini aku aman. Aku percaya rumput telah mengiring demi keamananku. Aku percaya itu.

Robit menundukan kepala. Terus melangkah. Berusaha menghapus ingatan dalam memori kepala. Sebab sekali pun dipikirkan, pohon besar itu tidak ada gunanya. Tujuan awal tangannya membuka rumput tak ada gunanya. Biarlah mereka menjadi kenangan dalam perjalanan. Sekarang, tatkala melakulan perjalanan yang ada adalah bentangan rumput yang terus-terusan. Aku menunggu lelah tubuh saja. Terus seperti itu. Tidak ada yang perlu dipikirkan. Tinggal melangkah dalam diam. Diamlah, kawan.

Ia melangkah dengan tenang. Mengamati tanah yang dilalui. Seketika terlihat daun-daun. Ia menegakkan kepala. Pohon besar. Ia tersenyum. Jadi, sampai di pohon pun aku belum terlelahkan. Bahkan aku tidak melihat tanda-tanda matahari, yang ada cuaca sekarang adalah siang yang terang, cuaca yang redup. Tidak panas. Tidak dingin. Aku tidak merasakan sengatan matahari. Ia melongok ke atas. Langit biru. Awan berarak pelan. Di sekitar pohon ia melihat bebatuan. Ia melangkahkah kaki di atas bebatuan. Mengarah ke bebatuan. kakinya mengindar dari menginjak rerumputan. Suara rumput tadi begitu sangat menyayat diri.

Perlahan-lahan bebatuan menggiring menuju tempat yang terang. Terkejut bukan main. Batu-batu menggiring menuju lingkungan masyarakat. Dimana manusia saling berinteraksi. Ia tersenyum. Aku lelah kalau berkumpul lagi bersama para manusia?

“Tapi hidup di hutan jauh lebih sulit, oh pemuda.”

“Siapa itu?” kata Robit begitu terharu. Melongok wajahnya agak takut. Tapi seketika terlihat kakek sedang berjalan membungkuk mengendong kayu bakar. Dia terlihat masih kecil.  Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku bakal menyambanginya. Membantunya membawa kayu bakar. Batin robit terus bertanya-tanya, tapi tubuhnya telah mengarah ke kakek. Tubuhnya secara otomatis bekerja membatu kakek.

“Sini, Kek, biar saya bantu,” kata Robit dengan renyahnya.

“Tak usah, Nak,” kata Kakek dengan suara terpatah-patah. “Aku sudah terbiasa dengan ini kok. Kalau tidak, maka diriku merasa terlelahkan. Kumohon jangan.” Tambah kakek membuat Robit semakin bingung. “Urus sendiri saja tujuanmu, Nak.” Lanjut kakek seraya melangkahkan kaki. Seakan-akan tak perduli dengan keberadaan Robit.

Ia semakin heran. Akan apa yang bakal diperbuatnya. Ia kembali menepi. Mengarahkan kakinya menuju hutan. Entah apa yang bakal diperbuatnya. Apa-pun itu kejadian yang ada di hutan, aku harus menerima. Agaknya, di hutan bagiku lebih baik, di banding kumpul dengan manusia.

**

Robit telah di hutan.

Aku masih di sini, tidak di hutan. Tapi sekarang, setidaknya pikiranku lebih tenang dari sebelumnya. Setidaknya aku bisa mengambil pelajaran. Pokoknya kehidupan ini perlu di jalani. Walau tidak sesimpel teks, ‘hidup perlu di jalani.’ Setidaknya, gelegatku menerima tentang apa yang terjadi, bahwa segalanya telah ditentukan alurnya. Begitu sajalah. Tak usah dipikir pusing. Walau sebenarnya, pusing pun masih menyelimuti.

Sekarang. Aku keluar dari teks.

2014


Hidayat  Tf,  penyuka sastra, tinggal di Lampung

Sabtu 14 Juni 2014 18:17 WIB
FIKSIMINI MUSLIMAT NU
Berebut Berbakti
Berebut Berbakti

Ketukan palu hakim menjadi putusan. Si pemenang putusan, Abdul, gemetar lemah. Aliran darahnya melambat, tetesan air mata tidak terbendung.
<>
Sementara itu Ahmad, adik kandung Abdul tidak dapat menyembunyikan kesedihan. Ia tak nyaman dengan kondisi saat itu, niatnya untuk membaktikan diri sebagai anak tidak dapat dipenuhi.

Di ruang pengadilan mengharukan dengan hujan air mata, sosok wanita tua, berbaju rapi, berkerudung lusuh, duduk tertunduk. Wajahnya polos, ingatannya pupus seiring kesenjaan usianya.

Saat itu saya heran, perkara apa yang menimpa kedua laki-laki dan juga wanita tua itu.

Teman di samping duduk saya berbisik, “Wanita tua itu adalah ibu dari Abdul dan Ahmad.”

Saya menanyakan, “Lantas apa perkaranya, sehingga harus dibawa ke meja hijau?”

“Abdul dan Ahmad adalah dua saudara kandung yang sama-sama ingin memiliki hak merawat ibunya.” (Yahya Afriandi)


Fiksimini berjudul Berebut Berbakti adalah karya Yahya Afriandi. Naskah tersebut juara dua pada lomba Fiksimini yang digelar PP Muslimat NU dan NU Online dengan tagar #MuslimatNUberkhidmat di Facebook. Juara pertama jatuh pada naskah Keringat Ibu karya Mega Herdina Al-Kandajany.

Selasa 10 Juni 2014 8:0 WIB
FIKSIMINI MUSLIMAT NU
Keringat Ibu
Keringat Ibu

PENGANTAR REDAKSI: Dalam rangka memeriahkan Rakernas dan Mukernas Muslimat yang berlangsung di asrama Haji Pondok Gede (28/5) sampa (1/6) NU Online bersama PP Mulimat NU menggelar tiga lomba, yakni Fiksimini bertema ibu, foto selfie bersama ibu di Facebook dan kuis tentang Muslimat NU di Twitter.
<>
Berdasarkan keputusan dewan juri, kami menetapkan pemenang Fiksimini adalah sebagai berikut:
Juara 1 atas nama Mega Herdina Al-Kandajany dengan judul “Keringat Ibu”. Juara 2 atas nama Yahya Afriandi dengan judul “Berbakti”. Juara 3 atas nama Sultan Agung Faruq Nitinegoro dengan judul “Saat Doa Ibu Diijabah”

Naskah para pemenang dan pilihan dewan juri akan dimuat di nu.or.id mulai hari ini dan beberapa naskah layak muat. Berikut fiksimini Mega Herdina Al-Kandajany dengan judul “Keringat Ibu.”

Sebelum senja, aku sering menyaksikan seorang ibu tua mengumpulkan keringat dari tubuh letihnya yang ia peras sendiri di belakang rumah, saat mencuci baju, celana dan sarung tenun merah. Keringat itu ia peras sendiri dengan kain handuk warna jingga. Lalu ia masukkan dalam botol kecil.

Dan sebelum ia simpan keringat itu dalam etalase waktu, aku sering dengar ibu itu melangitkan doa dengan suara tersedu-sedu “Tuhan, bila nanti anak-anak saya masuk neraka, mohon agar apinya dipadamkan dengan keringat ini saja. Amin”.
 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG