IMG-LOGO
Pesantren

Berkah Pesantren, Allah Mudahkan Rezeki Orang Tua

Jumat 22 Agustus 2014 21:1 WIB
Bagikan:
Berkah Pesantren, Allah Mudahkan Rezeki Orang Tua

Subang, NU Online
Allah akan memberikan kemudahan rezeki bagi orang tua yang sungguh-sungguh menyuruh anaknya mencari ilmu agama. Contohnya seorang warga Buntet, Astanajapura, Cirebon yang mempunyai enam anak.
<>
Hal ini disampaikan KH Tb. Ahmad Rifqi, Pengasuh Darussalam Buntet Pesantren Cirebon kepada NU Online melalui sambungan telepon, Jumat (22/8)

"Di Buntet itu, di Buntetnya bukan pesantrennya, ada orang tua yang mata pencahariannya mesantrenin anak,” terang putera KH Chowas Nuruddin itu.

Kiai yang akrab disapa Kang Tus itu mengisahkan tentang kondisi ekonomi orang tua yang cukup memprihatinkan, namun ketika anaknya dikirim ke pesantren untuk menuntut ilmu, perlahan, tapi pasti, kondisi ekonominya mulai merangkak naik.

"Orang tuanya tidak bekerja, serabutanlah, terus anak pertama dikirim ke pesantren Ploso, lho, kok rizqi jadi mudah. Anak kedua dipesantrenin lagi ke Sarang, malah tambah mudah rizqinya. Anak ketiga di pesantrenin lagi ke Kediri jadi haji itu orang. Jadi usahanya itu ya mesantrenin anak. Masya Allah, barokah Pesantren," paparnya.

Kang Tus melanjutkan, akhirnya keenam anak dari orang yang tidak disebutkan namanya itu semuanya dikirim ke Pesantren Ploso, Kediri dan Sarang untuk menuntut ilmu di sana. “Akhirnya tetangga-tetangganya ngikutin dia, anak-anaknya dipesantrenin," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Jumat 22 Agustus 2014 17:1 WIB
Kurikulum 2013 Ancam Pendidikan Madrasah Diniyah?
Kurikulum 2013 Ancam Pendidikan Madrasah Diniyah?

Rembang, NU Online
Kurikulum 2013 yang siap diterapkan disinyalir dapat mengancam kegiatan belajar pendidikan non formal, utamanya madrasah diniyah di Rembang. Pasalnya kurikulum ini mewajibkan kegiatan pembelajaran selama 46 jam dalam seminggu, ditambah 2 jam.<>

Total jam wajib belajar menjadi 48 jam dalam seminggu. Jika ini benar di terapkan di Rembang, proses kegiatan pembelajaran di sekolah akan selesai sampai jam dua siang dalam sehari.

Padahal, sebagian bangunan sekolah di Desa Babak Tulong Kecamatan Sarang Rembang, berfungsi ganda, pagi hingga siang untuk pembelajaran formal, sedangkan sore hari, di sebagai pendidikan non formal.

Hal itu dikatakan Ali Faesol, Kepala Sekolah MTS Al Madinah desa Babak Tulung Kec. Sarang, saat para kepala sekolah mengadakan pertemuan masalah ini menjadi topik pembahasan, Kamis (21/8) kemarin.

"Jika benar kurikulum ini diterapkan, maka proses pendidikan non formal di Rembang bisa sedikit terbengkalai jika tidak ter antisipasi dengan baik. Kalau tidak di terapkan akan merugikan para siswa didik, yang harus menggunakan kurikulum yang lama dan tertinggal dengan sekolah yang lain,” katanya

Ali Faesol menuturkan, keberadaan sekolah non formal seperti madrasah diniyah seusai pendidikan formal sangat penting adanya. Keberadaan madrasah itu sangat penting dalam tumbuh kembang pembentukan karakter generasi muda. Meski tenaga pengajarnya semuanya masih suka relawan tak mendapatkan bayaran.

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kab. Rembang, Djasim menanggapi hal itu mengungkapkan, kegiatan belajar mengajar dalam kurikulum baru, minimal 45 jam. Ia optimis waktu penggunaan gedung sekolah, bisa diatur antar pengelola lembaga pendidikan, tanpa harus mengurangi proses pembelajaran formal dan non formal.

"Sebetulnya mewajibkan proses pembelajaran pada kurikulum 2013 45 jam saja, seharusnya tidak di anggap berlebih-lebihan. Ini hanya masalah mekanisme pelaksanaan, untuk mengatur bagi sekolah formal dan non formal yang masih satu bangunan. Saya yakin jika para pengelola kedua lembaga pendidikan dapat membicarakan upaya menyikapi kurikulum 2013, tanpa merugikan siswa didik dan lembaga pendidikan.

Pelaksana Tugas Bupati Rembang, Abdul Hafidz mewacanakan regulasi di tingkat daerah, supaya pendidikan formal dan non formal tetap berjalan. Tentang kekhawatiran akan terganggunya aktifitas mengaji dirasa tidak akan terjadi, jika hal ini dapat dibicarakan dengan baik, katanya. (Ahmad Asmu'i/Anam)

Jumat 22 Agustus 2014 8:31 WIB
Pesantren Sullamul Hidayah Terapkan Kurikulum Sidogiri
Pesantren Sullamul Hidayah Terapkan Kurikulum Sidogiri

Probolinggo, NU Online
Usia Pesantren Sullamul Hidayah sudah mencapai 54 tahun. Lokasinya berada di Dusun Campuran, Desa Jorongan, Kecamatan Leces, Probolinggo, Jawa Timur. Sejak berdiri tahun 1960 silam, pesantren ini tetap konsisten dengan sistem pembelajaran dengan mengikuti kurikulum Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.
<>
Dari kejauhan pesantren ini sudah terlihat megah. Meskipun tidak terlihat mewah, namun bangunan kelas dua lantai dan masjid berdiri kokoh dan menjulang. Sangat mudah untuk dikenali. Hingga saat ini jumlah santri putra mencapai 156 orang dan 209 orang santri putri.

Sebelum berkembang dan dikenali masyarakat, pesantren ini bermula dari mushala kecil yang didirikan oleh Kiai Alawi. Menurut Pengasuh Pesantren Sullamul Hidayah Kiai Gufron Fath, kala itu Kiai Alawi merasa prihatin dengan kondisi sosial masyarakat sekitar yang kurang mengenal nilai-nilai Islam, terutama tata cara shalat.

“Akhirnya, Mbah membuat mushala sebagai tempat mengajari warga sekitar mengenai pendidikan agama,” kata suami dari Nyai Salma ini, Kamis (21/8) sore.

Pada tahun 1980, Kiai Alawi berpulang, tonggak kepemimpinan mushala itupun digantikan sang Kiai Maksum yang tak lain adalah menantu Kiai Alawi. Sejak saat itu, perkembangan mushala pun mulai berkembang. Saat itu, Kiai Maksum mulai memberikan nama mushala itu dengan nama Sullamul Hidayah.

Nama itu diambil dari nama kitab Fiqih yang artinya memberikan petunjuk. Selain itu, Kiai Maksum mulai membangun dua kamar sebagai tempat menginap santri. “Saat itu belum berbentuk pesantren, karena tidak ada pendidikan diniyah, hanya mengaji di mushala saja,” jelasnya.

Perkembangan santri terus bertambah, seiring dengan berjalannya waktu. Saat itu yang mengaji tidak hanya santri putra. “Sekitar tahun 1989 sudah ada santri putri,” katanya.

Sejak itu Kiai Maksum mulai berfikir untuk mendirikan pesantren. Hal itu dilatarbelakangi kekhawatiran kepada santri putri yang pulang malam setelah mengaji. “Hingga akhirnya pada tahun 1990 pembangunan pesantren dimulai,” terangnya.

Pada saat itulah pendidikan diniyah didirikan. Namun sebelum meluluskan santri hingga kelas VI, Kiai Maksum wafat pada tahun 1995. “Untuk selanjutnya perkembangan pesantren diserahkan kepada KH Fathur Rohman yang merupakan menantu Kiai Maksum,” bebernya.

Kiai Rohman yang merupakan alumnus Pesantren Sidogiri Pasuruan mengembangkan pendidikan diniyah. Kala itu ia meminta bantuan kepada teman sejawatnya di pesantren untuk mengajar di Pesantren Sullamul Hidayah tersebut.

Karena guru diniyah yang diambilnya alumnus Pesantren Sidogiri, maka seluruh kurikulum pendidikan sama persis dengan Pesantren Sidogiri. Sejak tahun 2000 lalu, pesantren tersebut dipimpin Kiai Gufron Fath. “Saat abah meninggal, maka saya pun melanjutkan perjuangan abah,” tambahnya.

Perkembangan pun terus dilakukan, kamar yang semula hanya 5 lokal menjadi 12 lokal untuk santri putri. Sementara untuk santri putra yang semula hanya 3 lokal menjadi 6 lokal. “Pembangunan terus dilakukan karena setiap tahun jumlah santri terus berkembang,” katanya.

Bahkan sejak dipimpin Kiai Gufron, Pesantren Sullamul Hidayah menjadi pesantren cabang sah Pesantren Sidogiri sejak tahun 2003 lalu. Dengan status itu, maka santri yang lulus pada jenjang pendidikan madrasah ibtidaiyah, bisa melanjutkan pendidikan di MTs Diniyah di Pesantren Sidogiri.

“Satu-satunya pesantren di Kabupaten Probolinggo yang berstatus cabang Pesantren Sidogiri cuma Pesantren Sullamul Hidayah,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Selasa 19 Agustus 2014 21:1 WIB
Pesantren Berperan Penting Perjuangkan Kemerdekaan
Pesantren Berperan Penting Perjuangkan Kemerdekaan

Klaten, NU Online
Pesantren memainkan peran penting dalam perjuangan meraih kemerdekaan negara Indonesia. Peran tersebut, menurut Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, diwujudkan melalui perjuangan langsung melawan penjajah kemudian perjuangan membentuk akhlak manusianya.
<>
“Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran pesantren. Para pejuang Laskar Hizbullah dan lainnya, itu kebanyakan juga dari pesantren,” terang Habib Muhammad saat mengisi ceramah di acara Haul pendiri pondok Ki Ageng Selo Tulung Klaten, Ahad (17/8) malam.

Tidak hanya itu, di pesantren pula, generasi  bangsa ini mendapatkan pendidikan moral, sehingga mereka menjadi generasi yang berakhlak baik. Oleh karena itu, menurut Habib Muhammad, apabila ingin bangsa ini maju, tak boleh meninggalkan pesantren. “Kalau kita ingin jaya, maka pesantren mesti diperhatikan,” tukas dia.

Cucu Habib Ali, muallif Simtuddurar itu juga menyayangkan minimnya perhatian pemerintah kepada pesantren. “Pesantren yang notabene cikal bakal perjuangan dan warisan pejuang, mengapa banyak dilupakan, sedangkan sekolah warisan kolonial malah diurus?” ujar dia.

Selanjutnya, Habib Muhammad juga mengajak para jamaah untuk senantiasa besyukur atas ni’mat kemerdekaan. “Kemerdekaan adalah nikmat yang wajib disyukuri. Anda hidup di daerah aman itu nikmat. Kalau hidup di daerah konflik mau ke masjid susah, ke pasar takut,” tuturnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG